Pernah dengarkan nama Kampung Naga ? Kalo belum mungkin ini sedikit oleh-oleh yang bisa saya bagi saat penelitian kesana bersama teman-teman.
Kampung Naga merupakan perkampungan yang berisi suku sunda asli di daerah Tasikmalaya. Untuk menghampirinya kita harus menuruni sekitar 300an buah anak tangga .Percaya atau tidak kampung tersebut hanya memiliki satu RT (jumlah tepat penghuninya saya kurang hafal, ntar lihat catatan dulu y
).
Masyarakat Kampung Naga dibilang terbelakang juga tidak, dibilang maju juga tidak. Dibilang tidak terbelakang karena mereka menerima secara terbuka segala masukan dari luar, walaupun tidak semuanya mereka ikuti (karena mereka masih memegang teguh adat). Sebaliknya saya bilang terbelakang, kampung naga sampai saat ini belum termasuki listrik. Sumber kehidupan hanya dari ladang dan air yang mengaliri lembahnya (dari sungai Ciwulan).
Kalo mau dibicariin disini bakal panjang banget dan tentu aja bakal pegel banget nulisnye (hehehehe). Jadi, pembicaraan disini saya kerucutkan seperti yang telah saya coretkan di titlenya.
Di atas segala hal keterbatasan masyrakat kampung naga, satu hal yang membuat saya SALUT yaitu KEBERSAMAAN. Jargon "All for One, One for All", kayaknya dianut banget disana. Bila ada warga yang kekurangan (finansial contohnya), tanpa harus dipaksa warga yang lain urunan untuk membantunya. Mereka sering melakukan sharing finansial buat membiayai pendidikan, makanya mereka rata-rata (bahkan bisa dikatakan semuanya) hanya lulusan SD. Bayangin coba ????
Asumsi saya sampai saat ini yang membuat fenomena itu terjadi adalah karena biaya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya tak terjangkau dengan cara patungan tadi
. Gimana mau jumlah patungannya besar, kalo mata pencaharian mereka hanya dariberjualan sayur hasil dari kebun dan sedikit kerajinan tangan.
Untuk point kebersamaan tersebut (benar-benar) saya salutkan, apalagi untuk zaman sekarang yang punya potensi lebih buat memproduksi makhluk-makhluk yang buta lingkungan sosialnya. Yang bisanya cuma cihuy-cihuyan doang...
Ternyata "All for One, One for All" bukan hanya milik Three Museteers di pilem y ?? 
"All for One, One for All"
BalasHapuscoba satu Indonesia mempraktekkan ini ya mbak?
iya dan pastinya kita bisa ngirit karena segalanya bisa patungan... hehehe
BalasHapusiya...dan paling penting saya gak usah pontang panting nyari kerja...tinggal belajar setel muka memilukan...pasti banyak yang tergerak u nyumbangin duitnya...hehe
BalasHapushalah... untung gak kejadian... hehe
BalasHapusiya...niatnya sudah buruk duluan ya mbak...
BalasHapus;D
BalasHapus