.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}

Sabtu, 13 September 2008

Pagar Semu Dunia Pendidikan

"Ilmu itu tidak murah, jadi jangan heran kalau pendidikan mahal"
"Setuju banget kalau biaya pendidikan naik, biar pada tau kalo ilmu itu gak murah"

Saat mendengar kalimat itu dari mulut beberapa orang, terus terang terjadi ambigu rasa di benak saya. Ingin rasanya langsung mengkonfrontir, namun sayangnya sikon menyurutkan bibir saya untuk memuntahkan semua ambiguitas rasa yang berhasil tercipta. "Bila saat itu pendidikan semahal sekarang, mungkin saat ini saya akan "berbentuk" beda". Intinya saya ingin menyampaikan bahwa pendidikan itu milik semua kalangan. Jadi, tolong jangan bentengi pendidikan dengan beton-beton berlabelkan "finansial langit".



Saya setuju bahwa ilmu tidak murah, karena tidak ada satu mata uangpun yang mampu menakarnya. Jikapun ada mata uang yang mampu menakarnya, siapa pula yang sanggup membayarnya ??? Kalkulasi saja berapa yang harus dibayar, bila tiap detik selalu saja ada ilmu yang ALLAH aliri pada sendi-sendi kehidupan kita [baik secara eksplisit ataupun implisit]. Dalam Surat Al Mujaadilah ayat 11 ALLAHpun menegaskan tentang ketinggian derajat orang yang berilmu :

"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu : "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah, niscaya ALLAH akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan : "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya ALLAH akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan ALLAH Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."


Dunia pendidikan identik dengan sarang ilmu. Dimana ilmu dan ilmuwan berjibaku untuk meregenerasi dan memproduksi ilmu dan ilmuwan baru. Tetapi, bisakah daur ini terus bergulir bila pisau-pisau ketidakmampuan finansial terus menguntit dan kapan saja siap menjadi algojo pemenggal daur tersebut ?

Kala pendidikan hanya bisa dimasuki oleh mereka yang memiliki finansial memadai dan ogah dimasuki mereka yang ingin mempertaruhkan niatnya untuk merubah hidup namun minim finansial. Kala pendidikan telah bisa bebas memilih dan memilah kalangan mana yang boleh memasukinya. Kala pendidikan sudah menjadi barang mewah atau jangan-jangan pendidikan sudah menjadi sebuah realitas cita yang terperangkap sangkar angan ??? Na'udzubillah min dzalik...

Badan Usaha Milik Negara (BHMN) adalah salah satu yang mengubah perwajahan perguruan tinggi (PT) secara finansial. Dengan menjadi BHMN, sebuah PT menjadi bersifat nirlaba (yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah) sebagai badan layanan umum yang bertugas menyelenggarakan tridharma PT (pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat) secara mandiri. Konsekuensinya, PT boleh mengelola keuangannya secara mandiri dan didorong untuk bisa "menghidupi" dirinya sendiri. 

Secara selintas, memang tidak menimbulkan efek yang tidak terlalu besar. Tapi, bila dilihat secara berlintas-lintas dan bolak-balik, maka tidak sedikit yang akan terkorbankan.

Berikut adalah sedikit cerita nyata yang berkaitan dengan hal tersebut, bagaimana kepongahan finansial telah membabat hak seseorang untuk mempertebal kecerdasannya di PT.

Bunga [sebut saja demikian] merupakan teman saya semasa di SMA. Walau saya sekelas dengan beliau hanya kelas 1 saja, namun saya bisa dikatakan dekat. Karena walau sudah tidak sekelas kita masih berinteraksi dengan cukup intens.

Bunga adalah sosok yang cerdas, pandai, tawadhu, dan sholehah abis [kontras dengan saya yang masih urakan]. Beliau adalah tempat yang paling enak untuk bertanya. Bila ada pelajaran yang masih belibet di kepala dengan sabar beliau menguraikannya. Bila saya malas membaca materi yang akan diujiankan, beliau ikhlas membagi hasil bacaannya pada saya [sebelum ujian berlangsung lho]. Ini salah satu kebiasaan saya waktu SMA, suka bilang ke teman kayak gini "omongin dong, apa yang udah loe pelajarin semalem"

Karena saking pinternya, angka 10 sering bertengger di rapornya [terutama matematika], dan karenanya pula dia berhasil diterima di salah satu PTN jurusan matematika. Semua lancar-lancar saja, itu yang beliau ceritakan saat rohis 31 mengadakan reunian di Kebun Raya Bogor. Lama tidak berkirim kabar, sampai akhirnya berita ini yang saya dapat : "Bunga, dah gak bisa ngelanjutin kuliahnya lagi karena tempat dia kuliah dah berubah status jadi BHMN. Jadi, biayanya naik dan beliau gak sanggup lagi buat menuhin biaya kuliahnya."

Innalillah... perih hati ini, bagaimana kecerdasan "guru" saya harus termutilasi dan mandul secara paksa karena ketidakmampuan finansial saja.

Sayapun akhirnya menilik diri sendiri. Mungkin hal tersebut bisa sama kejadiannya dengan saya dan saat ini saya akan "berbentuk" beda bila tempat saya nguli ilmupun berubah menjadi BHMN juga.

Dunia pendidikan bagai memiliki pagar semu, yang bisa mempelantingkan kalangan yang tidak dia ingini. Jangan jadikan pendidikan sebagai salah satu produk kapitalis. Bagaimana sebuah kaum bisa merubah nasib intelektualnya, jika pipa untuk masuk kedalamnya sudah diganjal plang besar yang bertuliskan : "hanya untuk kaum berduit"

Dunia pendidikan selalu berharap menghasilkan outcomes yang unggul. Itu harus. Namun, semua itu akan menjadi hal yang lumrah atau biasa saja bila inputnya juga unggul. Akan menjadi suatu hal yang manis, bila inputnya biasa saja namun di akhir perjalanannya menghasilkan outcomes yang unggul dan luar biasa.

Semoga peningkatan kualitas tidak menjadi selimut yang membaui finansial untuk dapat melambung tinggi.







14 komentar:

  1. iya.. miris... :(
    makanya, yuuk.. kita bagi-bagi ilmu GRATIS (salah satunya via MP). ;)
    kita lakukan apa saja yang kita bisa.
    semua bermanfaat untuk semua. aamiin..

    BalasHapus
  2. "Pendidikan hanya untuk orang berduit!" Sungguh tidak adil memang! Semoga adik-adik, saudara-saudara, teman-teman dan anak-anak kita bisa terus sekolah...

    BalasHapus
  3. @mba sovi
    Hayuukkkkssssss... ^_^

    @satriyatirta
    Amiinn...

    Semoga pendidikan untuk semua tidak macet kumandangnya... ;)

    BalasHapus
  4. hu uh
    apa sih yg bikin mahal sebenernya??
    biaya operasonal kayaknya gak gitu2 amat
    buku2 bukannya beli sendiri?

    BalasHapus
  5. satu yang kurang saya mengerti.........
    kenapa belajar harus selalu diidentikkan dengan lembaga pendidikan
    gak sekolah artinya gak belajar.........

    BalasHapus
  6. @mba siska
    Hmmm... Apa ya kira2, secara tiap komponen yg "menghidupkan" pendidikan pd suka minta "jajan"...
    Hehehe

    @mba aqla
    Krn negara kita msh seneng ngeliat "kertas" sbg bukti belajar mba. Walaupun terkadang isi "kertas" tsb krg merepresentasikan kepenuhan ilmu orang tersebut... ;D

    BalasHapus
  7. itu cuma sisitem mbak...kalo sistem gak bener untuk apa diterusin?

    BalasHapus
  8. Dan yg bisa merubah sistem adalah org yg berada di dalam sistem tsb plus yg mempunyai peran strategis jg.

    Jd, sulit rasanya buat ngubah kondisi itu, selagi kita hanya bermain dan teriak2 di luar sistem. Itu realitasnya mba...

    BalasHapus
  9. miris dan sedih jadinya
    mengingat banyak orang yang mesti terpenggal keinginannya untuk tetap bersekolah karena alasan keuangan
    mudah2an mimpi untuk bisa menyebar-ratakan pendidikan bagi seluruh anak Indonesia bisa terwujud
    ammiiinnnn

    BalasHapus
  10. Pendidikan untuk semua bukan berarti harus gratis bukan juga tak bermutu.. Biaya yang wajar dan terjangkau untuk semua kalangan.. Semoga sistem yang mengatur hal-ikhwal pendidikan yang tlah ada trus berangsur-angsur membaik memberikan perannya..
    Hidup PENDIDIKAN!

    BalasHapus
  11. seps... setuju... lebih bijak lagi kalo dijalankan subsidi silang ya...

    BalasHapus
  12. iya...sayang realitas dan moralitas sekrang sudah gak sepaham lagi....


    *au ah gelap...hehehe

    BalasHapus
  13. Iya ah terang...

    Krn habis gelap kan terbitlah terang

    Hihihi

    BalasHapus

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas