Rabu, 17 September 2008

Petikan Hikmah dari 306

"Bu, saya tuna netra... jadi tolong kalau mau ujian beri tahu saya jauh-jauh hari, biar saya bisa mencari teman yang bisa bantu saya buat menuliskan jawabannya. Hal ini memang selalu saya sampaikan, apalagi untuk yang baru "ketemu" dengan saya..."

"Iya, saya juga udah memperhatikan kamu dari tadi. Maaf ya... Kalau masalah ujian gampanglah bisa secara lisan atau saya juga mau kok bantuin buat nulis jawabannya. Saya mohon kamu terbuka aja ya sama saya, jika ada hal-hal yang belum dipahami, karena terus terang saya baru pertama kali menemui orang seperti kamu di kelas. Jadi, kita sama-sama belajar aja ya..."

Di atas adalah petikan "obrolan" yang terjadi sesaat setelah perkuliahan berakhir. Hari itu, Selasa, adalah hari pertama kami melaksanakan perkuliahan. Seperti perkuliahan pada umumnya, pertemuan pertama diisi dengan orientasi perkuliahan, penjabaran tata tertib, dan biasanya saya tambah dengan memberikan pertanyaan tentang "apa yang kamu ketahui tentang mata kuliah dan tujuan ngambil mata kuliah (makul) bersangkutan (disamping karena wajib)". Saya lakukan ini salah satunya adalah untuk mengukur entry behavior mereka terhadap makul.

Karena jumlah mahasiswa yang cukup banyak, terus terang awalnya saya belum bisa menangkap bahwa (sebut saja) Dewi memiliki keterbatasan dalam pengelihatan. Secara penampilan fisik matanya tidak seperti tuna netra yang biasa saya lihat. Sampai akhirnya, saya memberikan pertanyaan untuk mengukur entry behavior itu. Kok Dewi diam saja, tidak melakukan apa-apa, selintas saya lihat buku catatannya berisi titik-titik timbul (yang saya pikir Dewi memang sengaja melakukannya untuk memberitahukan kondisinya). Ohhhh.... saya paham ternyata Dewi mempunyai keterbatasan dalam pengelihatannya...

Astaghfirullahal'adzim... Subhanallah... kata-kata ini yang keluar pertama kali di hati saya. Istighfar karena merasa bersalah, mengapa saya baru menyadarinya belakangan dan subhanallah karena saya kagum pada beliau. Kagum pada semangatnya untuk mencari ilmu di tengah keterbatan pengelihatan yang dimilikinya.

Langsung terbayang pada diri sendiri yang terkadang (bisa disebut sering malahan ) masih suka berleha-leha dalam mencari ilmu dan mengerjakan tugas keilmuan atau apapun itu namanya. Yah... nasib orang yang menderita prokrastinasi (suka menunda-nunda pekerjaan) akut. Padahal, indera yang ada pada diri lengkap dan masih bisa diakses secara normal.

Astagfirullahal'adzim... Ya ALLAH, jangan jadikan aku hambaMu yang lupa bersyukur atas segala nikmat yang telah Kau berikan.


fabiayyi alaairobbikumaa tukadz dzibaan...
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?" (Qs. Ar Rahmaan : 13)



10 komentar:

  1. Hmmmm... nyem... nyem... nyem... nyem... ^_^

    BalasHapus
  2. Salut untuk mahasiswinya! Jadi ingt buku The Power of Blind-nya Rama.

    BalasHapus
  3. Makasih...

    Tp, ngomong2 emang mahasiswinya siapa ya ??? ;D

    BalasHapus
  4. hm...bu dosen baik amat sih...mau dong hjadi mahasiswinya....hehehhe


    TFR sama TFC apaan sih...yang kutau cuma THR....

    BalasHapus
  5. Saya jg mau dong jadi mahasiswinya mba aqla dlm makul weleh2 n matreisme... Hehehe

    Lah... Waktu ntukan dah diksh tau bkn ???

    Iye sih... Enakan THR (TUNJANGAN HARI REBO)

    BalasHapus
  6. lupa...hehehe...selain duit...yang lain gak nyantol di otakku...hehehe

    BalasHapus
  7. Sama... Kita kan sdh mulai satu aliran n mba aqla adlh suhu utk bidang ini

    hahaha

    BalasHapus

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas