Menjajari waktu memang bukan pekerjaan yang mudah. Karena selalu saja ada alasan yang kita buat untuk mempersilahkan waktu jalan duluan. Bukan karena kebaikan hati kita melakukan demikian, tetapi lebih karena kita memang ogah berrival dengan waktu.
Kemalasan, keputusasaan, dan kelemahan diri lainnyalah yang membuat penggembosan emisi diri terjadi. Hingga langkah kaki kitapun tidak terasa makin lama makin mengkorosi karena semakin minimnya kapasitas pelumas yang dapat melicinkan motivasi. Terpuruk mungkin rangking yang tidak aneh untuk disandang.
Sesungguhnya apa yang membuat hal ini terjadi ??? disorientasi tujuan, dimanja keadaan, ditikam kenestapaan, atau malahan karena minimnya pengakuan sekitar.
Coba kita tapaki keempat hal ini bersama-sama. Apakah memang benar keempat hal ini yang bisa menggemboskan emisi diri ?
Disorientasi Tujuan
Tujuan adalah makhluk imut yang selalu bersarang di setiap diri manusia, entah di kepala, hati, atau sudah dimuntahkan dari mulut. Yang jelas tujuan akan tergelar sesuai dengan rencana yang terkembang [mestinya]. Dan [mungkin] bisa dikatakan rencana yang kita buat sesungguhnya tujuan yang sejatinya ingin kita raih atau harapkan.
Bila seseorang mempunyai tujuan hidup syahid, maka secara tidak langsung dia sudah memikirkan rencana strategis apa sehingga kesyahidan akan diperoleh.
Namun, apakah semudah itu ???
Manusia adalah makhluk dinamis dan makhluk sosial. Dengan kata lain manusia bersosialisasi agar hidupnya lebih berdinamika. Positifnya, kebutuhan aktualisasi kita sebagai manusia jadi semakin terbaca oleh orang lain. Negatifnya, tidak selamanya kita bersosialisasi dengan orang-orang yang sesuai atau mendukung tujuan kita. Niatnya mewarnai jadilah terwarnai. Kelunturan. Akhirnya, disorientasi tujuan tidak bisa terelakkan. Siapa yang salah ???
Tidak ada yang perlu disalahkan, karena hanya akan membuang energi saja. Kenapa tidak memikirkan bagaimana cara membenarkan langkah yang sudah melenceng dari garis. Seperti dalam sebuah ungkapan : "jika ingin menyelesaikan masalah, jangan lihat masalahnya tetapi lihatlah bagaimana mencari jalan keluarnya. Karena sibuk dengan masalah hanya membuat pikiran kita terpenjara dan akhirnya sulit rasanya untuk mencari solusi. Buntu"
Dimanja Keadaan
Banyak orang yang mempunyai tekad baja saat berada dalam keminiman kondisi, namun saat mereka diumbar dengan kemaksimalan, mereka langsung bereuforia menikmati kesenggangan. Tidak heran dan wajar. Siapa sih orang yang tidak suka menikmati kenyamanan ???
Namun menjadi suatu hal yang kebablasan jika rasa itu terus ditimang-timang dibuaian. Dimanja keadaan. Segala hal menjadi mudah didapat, diraih, dan dipegang. Tanpa bersusah-susah sudah terwujud dengan indah. Jika hal ini tidak dinikmati sesuai porsinya, tidak heran bila nantinya akan terjadi degradasi semangat, motivasi, dan rencana dalam "bertarung".
Anak mami kehidupan bukan hanya timbul dari kaum kebanyakan, tapi juga bisa timbul dari kaum kekurangan yang sedang mendapatkan sedikit AC berhawakan kebanyakan. Na'udzubillah min dzalik...
Ditikam Kenestapaan
Manusia lahir dalam keadaan menangis, lalu mengapa setelah kita terwujud menjadi manusia dewasa kita ingin menjauhi diri dari yang namanya "menangis" ??? Apakah menangis itu haram, agar kita bisa terbilang menjadi makhluk yang tegar ???
Air mata adalah bentuk reflek dari kelemahan diri kita sebagai manusia. Kala diri sudah tidak mampu memberikan respons yang tepat dalam menjawab sebuah stimulus yang datang. Air mata bukan inhibitor. Dia tidak akan menutup mata kita dalam meneropong panjangnya dunia. Justru dengan adanya air mata, kita tahu bahwa kita adalah makhluk lemah yang masih butuh rangkulan orang lain untuk bisa terus berjalan dan masih butuh wiper bernafas untuk bisa memunculkan pelangi setelah air mata turun.
Jangan pernah merasa jadi orang susah sendirian. Jangan pernah merasa bahwa kitalah yang paling banyak ditikam kenestapaan. Karena pada dasarnya problem hadir disetiap diri manusia, hanya bentuk dan konsentratnya saja yang berbeda. Jangan terlalu mengasihani diri sendiri, karena hal ini bisa memandulkan mimpi-mimpi liar kita.Toh, tidak ada suatu hal yang mustahil terwujud, jika kita masih mau berusaha dan berdo'a.
Minimnya Pengakuan Sekitar
Aktualisasi merupakan harga mati yang harus dibayar mahal oleh manusia dewasa. Jungkir balik hingga babak belur dilakoni, hingga aktualisasi diri terwujud secara sempurna. Biasanya, semakin diakui, seseorang semakin memompa dirinya untuk menjadi lebih baik lagi. Lalu apa jadinya bila hal yang sudah diusahakan mati-matian tidak mendapat pengakuan sama sekali dari sekitar ???? Menurunnya produktivitas sampai stres bisa saja terjadi. Tapi perlukah ???
Terminal yang sama belum tentu diisi oleh orang-orang yang akan pergi ke tempat yang sama. Sama halnya saat kita beraktivitas. Sama aktivitasnya, belum tentu sama tujuannya. Ada yang hanya karena memohon ridho dariNya, ada yang karena ingin menafkahi keluarganya, atau hanya sekedar untuk aktualisasi saja. Semua tujuan boleh dan sah-sah saja terkembang tapi tetap saja : "aktualisasi diri bukan tujuan, tapi aktualisasi diri adalah katalisator untuk mempercepat reaksi kebermaknaan kita sebagai makhlukNya".
Sekarang mari sama-sama kita buka tangki emisi diri kita. Masihkah terisi dengan iman, syukur, sabar, dan ikhlas ? Masihkah mengeluarkan bau yang khas ? Masihkah penuh, setengah, atau sudah kopong ? Kapankah kita harus mulai mengisinya ? Perlukah kita mengisinya dari angka nol ?
Apapun itu ceritanya, yang jelas jangan sampai diri mogok karena habisnya emisi diri di tengah perjalanan. Karena banyak tempat dan celah untuk mengisi emisi diri, jika memang mau bersungguh-sungguh mencarinya.
Wallahu'alam....
*nasehat untuk diri sendiri
Subhanallah.. Pengingat diri sy juga. Thanks mba.. Nice review.
BalasHapusMakasih apresiasinya...
BalasHapusSama2 dek... Saling mengingatkan saja yey... :)
bagus nasehatnya...TFS
BalasHapusMakasih banget bunda atas apresiasinya... Lebih untuk menasehati diri sendiri kok bunda ... :)
BalasHapuskalau emisi habis pertanda harus cepat diisi kembali...semoga tidak harus menunggu nol untuk mengisinya...
BalasHapustfs, mbak...
:)
Sepokats mba anni...
BalasHapustfr n tfc yey...
:)