Rabu, 08 Oktober 2008

Kala Kita Semua Telanjang

Temans... Ingatkah kau saat kita duduk bersila berpayung nuansa malam dan sesekali ditingkahi kedipan nakal lampu taman kampus ?

Kita semua tertunduk, menafakuri tanah, menenggelamkan keakuan, menjerembabkan kealhphaan. Rasanya, saat itu "tidak" telah minggat dari perbendaharaan kata kita. Hanya garisan ranting yang menghujam tanahlah menjadi saksi bahwa ada badai yang melabrak jiwa kita.

Saat itu kita semua telanjang dan memang mesti telanjang, Tanpa secarik kertas, seutas benang, dan sehelai daun yang menutupi hati. Kita saling memploroti dan menelanjangi segala khilaf yang telah tergarap. Semua kita lakukan agar perjalanan ke depan akan jauh lebih sedap...

Anehnya, segala tamparan, tendangan, jitakan, cubitan yang mendarat di diri kita tidak membuat kita menjadi naik pitam, rusuh, ataupun resah. Tapi, meringis sudah pasti. Air matapun bukan hal yang haram untuk diobral.

Setelahnya, hati-hati mungil kita bagai terjumput jadi satu. Kita semua tidak berangkulan dan tidak pula bergandengan, karena memang tidak mungkin dan tidak sah untuk dilakukan. Namun, rasanya kala itu kepala dan hati kita sudah bisa tersulam jadi satu dengan benang bermerk persahabatan.

Sekarang semua itu sudah terperangkap dalam lembaran buku. Buku dalam perpustakaan hatiku. Indah, lucu, haru, seru, gokil adalah hal yang nemplok dalam cover buku tersebut.

Semua orang boleh membaca, meminjam, dan memakai buku ini, namun kan kupastikan bahwa buku ini takkan pernah hilang, walaupun waktu pastinya sudah membuat perwajahannya menjadi usang....



*Menginngat momen "pencatatan dan pengkuan dosa" setelah shooting film untuk memenuhi makul Pengembangan Media Pendidikan III"

Hey temansku... masih ingatkah masa-masa ini ???

Ternyata, kita memang mesti telanjang dulu untuk bisa mengacai diri secara jujur

3 komentar:

  1. Tanpa disadari saat kita berinteraksi, ternyata banyak peristiwa yang memaksa, mendorong, dan menyeret kita menjadi orang yang merasa sok. Merasa sok benar, sok pintar, sotoy, dan sok-sok lainnya. Mungkin kadang berguna untuk mengecoh "musuh", namun tidak jarang merasa sok bisa menjadi simpul konflik. Adu mulut sampai adu fisik adalah hal-hal yang bisa membackdropi itu semua.

    Berdebat dengan hati dan diri, itu ujung-ujungnya. Gak mau mengakui kekhilafan, ogah mengakui kealphaan, gak sudi untuk mengakui keminusan yang telah terlontar. Bila rasa ini tidak segera dipugar, maka akan dapat menimbulkan gangren atau borok di hati. Dan bila terlambat diterapi, maka amputasi hati mungkin tindakan yang akan terjadi. Tetapi, apakah kita masih bisa tersebut sebagai manusia jika sudah tidak mempunyai hati ?

    Berdamai dengan hati, jiwa, dan kepala, mungkin itu kuncinya. Sama-sama merendahkan hati, jiwa, dan juga masing-masing kepala. Kembalilah ke titik nol dengan saling menelanjangi kesalahan masing-masing dengan jujur dan bijak, tanpa disinggahi kata "bukan begitu maksudnya" atau "eh kok gitu sih... lho kok marah" ;D

    Biarlah semuanya mengalir terlebih dahulu. Biar semua ketidakenakan rasa bisa tertumpas dan mati bersamaan. Setelahnya, mari bangun dan beranjak bersama mulai dari nol kilometer hingga imajiner. Mulai dari telanjang sampai berselimutkan kain emas. Mulai dari menggunakan sepeda kumbang sampai menggunakan sepeda tandem. Mengais langkah untuk penebalan cita dan butuh teman sejati untuk meramu itu semua...



    "Selama ini ku mencari-cari teman yang sejati buat menemani perjuangan suci..."

    BalasHapus
  2. Hay temans? apa kabarmu hari ini ? :)

    BalasHapus
  3. Hay juga sista... Alhamdulillah dah membaik ;D

    BalasHapus

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas