Kamis, 10 Juni 2010

Sebenarnya ini nasehat untuk siapa?

Blog walking mungkin bukan istilah yang aneh terdengar di telinga para blogger. Wara-wiri di blog orang lain untuk coba memunguti hikmah yang berserakan, mungkin ini bahasa mudahnya kala mesti mendefinisikan arti blog walking secara bebas. Dan ternyata memang banyak hikmah yang dapat dipungut dari aktivitas blog walking tersebut. Baik hikmah yang ditampilkan secara eksplisit ataupun secara implisit. Bahasa yang ditampilkanpun luar biasa variatifnya, mulai dari yang crunchy sampai yang heavy. Mulai dari yang gampang diolah otak sampai dengan yang ribet diolah otak. Mulai dari yang nyaman di hati sampai dengan yang ngajak berantem. Semuanya tersaji lengkap dengan satu tujuan dan semangat, yaitu menyampaikan kebaikan walaupun hanya secuil kadarnya.

Belum lama ini saya pun melakukan wara-wiri tersebut, tetapi tidak di blog orang lain, melainkan di blog saya sendiri. Saat itu, saya seperti sedang melakukan napak tilas atau perjalanan nostalgia atas hal-hal yang pernah saya tuliskan. Awalnya jari dan mata ini saja yang bermain, sampai akhirnya berujung dengan larutnya saya dalam jalinan kata yang telah sukses saya titipkan di media maya ini. Dan tanpa dinyana-nyana sebelumnya, sejurus kemudian timbul rasa berbeda di hati saya. Suatu rasa yang membuat dada ini agak begah dan air di mata ini sedikit tergenang. Semua itu keluar tanpa dikomando. Secara reflek, semua itu keluar karena rasa malu yang begitu membuncah hingga ke ubun-ubun saya... ya malu... saya teramat sangat malu dengan apa yang telah saya tulis... Malu bukan karena ada kata-kata yang tidak senonoh tertempel di sini, tapi sebaliknya, justru karena begitu banyak kata manis yang berbaris disini. Kata manis yang membuai, kata manis yang mungkin akan mengerucut pada sebuah kesimpulan bahwa "tulisan yang dibuat adalah representasi keadaan dan keimanannya". Ya ALLAH... apakah ini termasuk pembohongan publik?

Kala saya menulis tentang menjaga hati, mungkin saat itu saya malah sedang diporakporandakan akibat asyik bermain dengan hati. Kala saya menyampaikan agar melebarkan perpsektif berpikir, mungkin saat itu saya sedang terjebak dengan pendapat "saya yang benar". Kala saya mengutip kata-kata hikmah, baik dari quran, hadis, atau tokoh... seakan-akan saya sudah menjelma sebagai sosok yang wah, bijaksana, dan seperti sudah mengamalkan apa yang tertulis tersebut. Rasanya "kayak orang bener" saja saya saat itu.

Saya malu... benar-benar malu... Pun saat saya menulisi kata-kata ini, rasa itu belum hilang.  Tetap terpatri di sini, dalam dada ini. Dilema terjadi. Satu sisi saya malu, namun di belahan hati yang lain, ada rasa ingin berbagi. Ingin belajar menyampaikan setetes rasa, setetes informasi, dan setetes katarsis (kadang pula beralih jadi narsis) yang mungkin tak berguna bagi orang kebanyakan (jika tidak mau dibilang tanpa makna sama sekali). . Yaa karena isinya memang hanya kata-kata asal goblek yang terkadang jauh dari makna...

Kembali coba saya susuri hati dan coba saya baca ulang niat yang pernah tertuang, tentang apa sebenarnya yang membuat saya mesti meletakkan batu pertama di dunia maya ini. Biar merasa wah di mata orangkah?, murni ingin patungan kebermanfaatan di dunia mayakah?, sebagai media komplementer pekerjaankah? belajar untuk "menasehati" orangkah? atau hanya sekedar ingin mengobral rasa yang sesak dalam dada? Aaahhh... rasanya saya mesti berusaha keras untuk menjawab semua ini...

Malu... saya benar-benar malu... dan akhirnya rasa yang sedang berkalut ini mengerucut pada sebuah pertanyaan batin: "sebenarnya ini nasehat untuk siapa?" Dan kata yang terjalin berikut ini, murni sebagai nasehat untuk diri saya sendiri...


"Ya ALLAH, jadikan daku lebih baik dari yang mereka sangka. Jangan hukum daku lantaran ucapan mereka dan ampuni daku karena ketidaktahuan mereka"
(Do'a Abu Bakar Shiddiq saat disanjung)

"Alangkah bodoh kamu percaya kepada sangka baik orang kepadamu, padahal engkau tahu betapa diri kamu jauh dari kebaikan itu"
(Syaikh Harits Almuhasibi dan Ibnu Athai'llah)







10 komentar:

  1. :)
    banyak hal tlh terjadi,dibagi dan di pelajari..tfs,mba..

    BalasHapus
  2. sami2 mba ani... semoga sampah yg sudah saya serakkan ini, masih bisa didaur ulang... terutama untuk saya sendiri... :)

    makasih sangat juga ya utk pembelajaran yang tlh disampaikan slama ini :)

    BalasHapus
  3. huwaa... aku juga mba.. kemarin2 abis napak tilas..

    tapi yg mba tulis ada benarnya loh..
    jazakillah khayr for posting this..

    BalasHapus
  4. Saya ngerasa saya berubah?menurut mb lussy?huff,dan saya kebingungan.. :D. Sbg saudari seiman,ingatkan saya kalau saya mulai aneh y..

    BalasHapus
  5. Like this mba. Aku juga merasa keimananku terbaca lewat tulisan2 yg telah lalu :(

    BalasHapus
  6. jika ada kebenaran terselip di sana, itu datangnya pasti dari ALLAH hay... sami2 hay...
    Jazakillah khoyr... :)

    BalasHapus
  7. hmmm... saya ndak berani menilainya, terlalu prematur... ntar kalau kita sudah gaul breng secara intens baru saya agak berani utk hal tsb :)

    insyaALLAH... saling mengingatkan juga ya... tegur saya juga, sekeras apapun insyaALLAH saya akan terima dengan lapang dada

    BalasHapus
  8. makasih sangat ai...

    iya, sepertinya sedikit banyaknya hal tersebut akan terbaca melalui tulisan kita... walaupun tidak selamanya jg demikian, krn bisa saja tulisan2 baik yg kita tampilkan adalah kamuflase dari apa yg sdg terjadi saat itu... wallahu'alam...

    BalasHapus

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas