Jumat, 30 Juli 2010

Sepucuk Surat dari Seorang Ayah

Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang laki-laki kepada seorang laki-laki; surat seorang ayah kepada seorang ayah.

Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.

Nak, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog  seorang ayah dengan anak-anaknya. Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan Nya, hingga saat usia senja ini.

Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua.Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata: "TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.

Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh-penuh air mata di hadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena  kau dan ibumu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan. Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Tuhan. Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit. Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapat kau rasakan perjalanan ruhaniah yang sebenarnya. Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir  putus asa.Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya.

Dari ayah yang senantiasa merindukanmu.__._

13 komentar:

  1. *dicomot dari milis alumni 31 angkatan 97_ from indo*

    Ayah aku rindu...

    BalasHapus
  2. Ayah mb lussy sdg tersenyum bahagia dan merasa bangga melihat mb lussy hari ini...

    BalasHapus
  3. Ayah mb lussy sdg tersenyum bahagia dan merasa bangga melihat mb lussy hari ini...

    BalasHapus
  4. Amin ya rabbal'alamin... Sy tetap merindunya dan merasakan kasih sayangnya, walaupun blm pernah memahami getaran rasa kasih sayang n cinta itu scr sadar...

    Aku nggak punya papaa... :D

    BalasHapus
  5. Cinta itu lbh sering kasat mata kan?lebih syahdu dan abadi... Allah yg tak tampak wujudNya,qt rasakan cintaNYA...

    *banyakorangygmenyayangimu,mbak.. :)

    ayo berdoa bt papa mb lussy,berdoa mulai..

    BalasHapus
  6. Iya bener banget... Sepatu (sepakat n setuju) n baju (buanget2 setuju)

    *semoga... Bilapun tdk ada yg menyayangi, maka sdh menjd kewajiban sy n hak mereka utk disayangi saya :)*

    Makasih sangat mba an... *Sy gak punya papa, tp punyanya bapak :D*

    BalasHapus
  7. Yuni:
    Me too :)

    *bos indo emang mangtabs postingannya :)*

    BalasHapus
  8. ade:
    tapi kangen kan de? *atau sapaan k bliau bukan ayah, tapi papa, dsb*

    BalasHapus
  9. ah,tidak mbak
    dia bukan org yg bs membuat saya rindu

    BalasHapus
  10. Kok iso? Apapun bentukan ceritanya, bliaulah perantara dr ALLAH utk menghadirkan kita ke dunia :)

    BalasHapus

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas