.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}

Minggu, 10 Oktober 2010

Resume Filsafat Ilmu #3


ILMU/ILMU PENGETAHUAN

Ilmu pengetahuan mempunyai ciri yang sistematis, sistemik, teratur, mempunyai objek tertentu, universal, progresif, dan dapat ditentukan kebenarannya. Tidak semua pengetahuan disebut ilmu, sebab pengetahuan lebih berdasarkan pendapat pribadi saja. Pengetahuan dapat berubah atau bisa disebut ilmu jika sudah ada unsur “kemengapaan” atau “kenapa begitu?” didalamnya.

           Filsafat ilmu (FI) adalah cabang ilmu dari filsafat. FI sebagai kajian lanjutan dari setiap perkembangan ilmu. FI adalah secondary order criteriology. Persamaan filsafat, filsafat ilmu, dan ilmu adalah ketiganya mempelajari objek materi yang sama yaitu manusia, alam, dan akhirat/ketuhanan.


ASUMSI

Asumsi dalam ilmu sama dengan ide, pertanyaan, atau pernyataan yang masih bersifat sementara atau tentatif. Dikatakan tentatif karena tidak ada/tanpa kajian lebih lanjut, atau masih perlu dibuktikan lebih lanjut. Mempelajari ilmu harus bertolak dari asumsi/sesuatu yang diduga-duga/diperkirakan.

            Ilmu modern pada dasarnya mempunyai asumsi yang sama, yaitu memahami alam dan  sistem yang teratur, lalu dilanjutkan dengan penelitian, yang kemudian menghasilkan ilmu. Semua ilmu modern bersifat tentatif, oleh karenanya perlu dilakukan observasi. Observasi adalah mengamati gejala yang dikaji dengan panca indra dan rasio. Selain itu, observasi merupakan proses empiris dan juga proses ilmiah yang paling mendasar.

            Perilaku ada yang bisa diobservasi dan ada pula yang tidak. Perilaku yang tidak bisa diobservasi akan diterjemahkan secara berbeda-beda dari internal condition (interference) oleh setiap pengamat/peneliti. Hal ini menimbulkan apa yang disebut dengan arousal. Dari sejumlah inference yang muncul, dapat diambil kesimpulan oleh si peneliti, yang darinya kemudian dikonstruk oleh si peneliti, constructed. Perilaku nyata berbentuk perilaku fisik, intangible behavior(IB)/observable >< perilaku yang tidak dapat diamati, unobservable/private behavior.


KONSTRUK

            Konstruk tidak sama dengan fakta. Fakta adalah sesuatu/kejadian apa adanya, yang langsung  secara empiris teramati. Kita tidak menyimpulkan fakta, yang disimpulkan adalah pikiran si peneliti/pengamat. Kadang-kadang terdapat perbedaan hubungan antara fakta dan hal yang diamati. Konstruk hasil penarikan kesimpulan dari observasi, digunakan untuk meramalkan yang akan datang. Jadi penggunaan konstruk menjelaskan hubungan. Perilaku – interference – konstruk – meramalkan yad – konstruk lagi (untuk memperhalus). Konstruk juga dimaksudkan untuk menjelaskan hubungan di antara perangkat yang dapat diamati dan yang diinferensikan. Interference harus dibuktikan secara nyata. Selain itu, konstruk juga harus bisa dibuktikan. Kegunaan konstruk adalah untuk menjelaskan: (1) kenyataan, (2) apa yang disimpulkan dari kenyataan; hasil korelasi, dan signifikan/tidaknya, (3) kejadian yang diamati.

 

FAKTA

            Fakta adalah suatu struktur psikologi tertentu, sementara observasi adalah menggunakan rasio, panca indra atau hal-hal yang tidak dapat diamati. Konstruk adalah jembatan/interference dari kondisi internal yang tidak dapat diamati. Ini yang disebut proses berpikir. Konstruk adalah internal arousal yang diterjemahkan oleh pikiran kita. Konstruk selalu terkait dengan fakta, yang dijabarkan dari observasi untuk membuat asumsi yang akan datang. Peneliti membuat konstruk melalui rasional abstraknya. Penelitian ilmiah dibangun dari fakta penelitian yang dikonstitusi oleh observasi empiris. Dalam bidang psikologi, fakta adalah: (1)struktur psikologi subjek, (2) kondisi fisik yang menyelenggarakan, dan (3) perilaku organism. Observasi yaitu proses empiris menggunakan alat dria >< inteligensi, sikap, kreativitas (bukan fakta) = kejadian yang tidak teramati.

            Setiap gejala bisa direpresentasikan oleh model kenyataan. Model berasal dari kata modules, yang artinya ukuran besar/kecil sesuatu, representasi miniatur dari kenyataan, dan disposisi atau analogi, memahami yang kompleks >< yang tidak kelihatan. Model merepresentasikan kenyataan, bukan menduplikasikan. Model diperoleh dari mengkaji dan mengkonstruk model atau merepresentasi kenyataan pengetahuan, yang kemudian diorganisir dan darinya dapat diajukan hipotesa.

 

TEORI, MODEL DAN ILMU

Tujuan ilmu adalah untuk (1) tes hipotesis, (2) mengembangkan/ memahami, dan          (3) mengembangkan teori. Untuk mengembangkan teori harus: (1) berbasis empiris kenyataan (bukti) + konstruk + logika,  (2) deduktif dan induktif, (3) mengelola, meramalkan + menjelaskan gejala alam sebagai tujuan dari ilmu. Mengembangkan teori sama dengan membangun perangkat konsep yang mengelola observasi + inference + menjelaskan gejala.   

            Apa tujuan dari Penelitian Ilmiah? Pada tingkat doktoral, tujuan penelitian adalah menjelaskan, sedangkan pada S1, tujuan penelitian adalah deskriptif. Ilmu dipecah-pecah, akan menghasilkan tujuan khusus, yang gunanya untuk mengetahui bagaimana berlangsungnya sekumpulan gejala, umpamanya Kemengapaan: (1) gerakan planet melingkari matahari yang disebut elipsi, (2) bagaimana berlangsungnya revolusi, dan (3) kebiasaan- perkembangan dalam masyarakat tertentu.

            Untuk menjawab pertanyaan di atas diperlukan daya pemahaman tinggi, yang bersifat eksplikatif: memahami, mendalami, menjelaskan gejala alam >< deskriptif,  mencatat gejala yang saling berhubungan, bukanlah penjelasan terakhir, dan dapat berubah atau bersifat sementara.        


-------

Dibuat dan disajikan oleh Lussy Dwiutami Wahyuni dan Yovi Bathesta dalam Mata Kuliah Filsafat Ilmu: 1 Oktober 2010

sumber gambar: degoblog.wordpress.com

 

7 komentar:

  1. ck, ck, ck, mba, mba, sumber pengambilan Islam yo quran dan hadits, koq gak ada ? apa manusia sudah sedemikian hebat tidak membutuhkan keduanya ?

    BalasHapus
  2. itu mah pasti atuh bah, segala ilmu sumbernya ya dari Al Quran dan Hadits... manusia mana bah yang hebat? jadi kepengen tahu...

    BalasHapus
  3. orang yang gak berpegang pada keduanya akan kelihatan pada saat dia berasumsi dan mengkonstruk bah. Contoh noh di Grand Design-nya Stephen Hawking...

    BalasHapus
  4. asumsi berubah, teori berubah. Saat orang sudah berasumsi maka dia akan nyari-nyari teori yang bisa membenarkan asumsinya tersebut (apologetic gitulah). Silahkan dikaitkan aja dengan komeng aye sebelum ini, secara aye ilmunya masih nol.

    BalasHapus
  5. asumsi berubah dan terori berubah, hal ini terkait erat sekali dengan teori evolusi darwin, kenapa ini menjadi penting? karena mereka (kaum kuffar) ingin memasarkan konsep bahwa tidak ada sesuatu yang pasti di dunia ini, semuanya relatif. kebenaran dapat berubah sesuai dengan kondisi, kebenaran saat ini bukan berarti kebenaraan saat nanti.

    contoh dalam sistem demokrasi, kebenaran adalah yang sesuai dengan yang banyak. untuk bisa dianggap benar, maka harus menjadi mayoritas. kebenaran adalah sesuatu yang relatif, hanya diukur dari banyak sedikitnya dukungan.

    di sisi lain Allah telah mempersiapkan sarana dan prasarana untuk menentukan kebenaran. yaitu quran dan hadits, sebagai bahan dasar, yang diolah melalui pendengaran, penglihatan dan hati. sedang teori, metode, dan segalanya dicontohkan oleh para salafus shalih generasi awal ummat Islam.

    berikut sedikit kutipan dari buku mizanul muslim buku 1, hlm. 80

    "filsafat, yaitu suatu konsep berfikir yang dibangun di atas landasan rasio semata dan kekuatan daya pikir manusia. mereka yang berprinsip dengan filsafat ini memandang bahwa akal adalah segalanya dalam menentukan sesuatu. segala yang dipandang baik oleh akal adalah kebenaran, walaupun bertentangan dengan syari'at. dan segala sesuatu yang diberikan syari'at belum bisa dipandang benar selama akal belum menyetujuinya. dasar pemikiran seperti ini ditentang oleh ahlus sunnah wal jama'ah.

    filsafat masuk ke dalam Islam pada masa penterjemahan buku-buku filsafat yunani kuno dan romawi kuno di era khilafah abbasiah, dan percobaan sebagian umat Islam mengawinkan filsafat dengan ajaran Islam telah melahirkan 'bayi haram' bernama ilmu kalam.

    ilmu kalam atau ilmu mantik, julukan ilmu ini ditujukan kepada firqah mutakallimin, seperti mu'tazilah, asy'ariyah, matrudiyah dan orang-orang yang menempuh jalan mereka. ilmu kalam sangat bertentangan dengan akidah, karena ia termasuk hal yang baru, sekaligus perbuatan bid'ah. mereka memperbincangkan hakikat dzat Allah dengan landasan akal yang tidak berdasar dalil-dalil al-Qur'an dan hadits shahih. dan ini sangat bertentangan dengan manhaj salaf dalam menentukan masalah akidah. sebagian ulama salaf mengaramkan mempelajari ilmu kalam (mantiq) ini."

    jadi bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim terkait hal filsafat ini, mengambilnya, mendukungnya, mengajarkannya, menjadikan standar kehidupan, atau seperti apa ? atau menggambil quran sunnah sebagai rujukan utama ? mempelajarinya, mengimaninya, mengamalkannya, menyebarluaskannya, mengajarkanya, menjadikannya sebagai tolak ukur segala sesuatu dalam hidup ini atau hanya sebagai bidang keilmuan yang sama dengan keilmuan lainnya ?

    madu murni itu top abis, madu campur racun dikit aja, kalaw orang udah tahu pasti gak bakalan mau meminumnya.

    maap ye mba lussy, agak sedikit bersemangat, soalnya kemarin baru baca-baca metode belajar salafus shalih, sekedar share saja, silahkan baca buku mizanul muslim jilid 1, buah karya abu ammar dan abu fatiah al-adnani, yang benar dari Allah yang salah dari pribadi, wallahualam :)

    BalasHapus
  6. mabanyak bah buat ilmunya... Saya menulis asumsi berubah, teori berubah itu salah satunya utk mengaitkan bagaimana bahayanya org yg terlalu mendewakan asumsi pribadi, yg mrpkan hasil olah indra dan rasionya, pdhal kedua instrumen itu ada batasnya. Untuk hal ini situ lebih paham sepertinya.

    Dan untuk hal inipun sempat saya pertanyakan dengan dosen di kelas. Menurut saya kebenaran itu cuma satu, selainnya hanya kebetulan saja.

    Silahkan diluruskan bila pemikiran saya melenceng, secara abah ustadz lebih paham mengenai hal ini :)

    BalasHapus
  7. saya jadi teringat sama guru biologi waktu sma, ketika mengajarkan teori evolusi darwin, beliau berkata, "kita belajar teori darwin sebagai pengetahuan saja ya, jangan meyakininya, karena sudah jelas dalam agama Islam manusia itu diciptakan oleh Allah swt, sedangkan dalam teori ini dikatakan bahwa manusia berasal dari kera."

    saya berkata dalam hati udah tahu begitu koq masih diajarin ya, menjadi pokok pembahasan tersendiri, ada ujiannya juga, kalaw jawab salah bisa-bisa gak lulus.

    ya, itulah fakta di lapangan, promosi pemahaman pemikiran relatif sudah sedemikian derasnya, sehingga setiap pelajar yang belajar dalam sistem pendidikan mau tidak mau harus mempelajarinya, mengamalkannya (menjawab soal harus benar), dengan sendirinya akan mempengaruhi cara berfikir para pelajar tersebut, bahwa segala sesuatu itu sifatnya relatif.

    lantas, apa daya kita, apa kita mampu mengubah sistem yang sudah ada dari sononya ? mengatakan bahwa kita memiliki sebuah sistem yang lebih baik dari yang ada sekarang ? atau terus memperpanjang kehidupan sistem yang ada sekarang, karena kita tidak akan mampu mengubahnya. dengan bermodal prinsip "if you can't beat them, you join them." ?

    mari sama-sama kita ingat lagi firman Allah, "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Ali Imron:139)

    ini komentar terakhir saya, semoga berkah dan manfat, wallahualam :)

    BalasHapus

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas