Berselendangkan awan
Berkipaskan angin
Berdandankan aura indah dari tetangga sebelah
hehehe...
Sebuah kamuflase dan modal propaganda yang indah
Melongok dari singgasini
Kulihat ada secuil cahaya yang selalu mencorong kuat
Entah darimana...
Yang ku tau hanya, dia begitu setia
Bagaimana kubilang dia tidak setia
Bila tiap malam dia rela menemaniku begadang
Bila tiap kubosan dia ikhlas mengalunkan sejumlah lagu penenang jiwa... ku...kuk...ku...kuk
Bila kumulai pucat, tanpa pamrih dia mengingatkanku tuk segera istirahat dalam sebaskom cat biru...
Met istirahat ya...
Beberapa malam leher kupegal
Salah tidur...
Kutak bisa langak-longok tuk beberapa saat
Ada yang hilang
Ada yang kurang
Ada yang kurang terang di singgasini
Ahh... mengapa... ???
Pokoknya setelah pulih,
Kutekadkan tuk mencarimu di luar shiftku
mampukah... ?????
adakah dia... ????
Menyurutkan niat
mengganti kiat
Ya sudah... biar kucari dirimu dalam shift kerjaku saja...
Horee... akhirnya tiba juga...
Siap-siap... mematut diri... bergegas menyingkap kelambu...
Huppp...
Kulongokan kepala ini
kusebarkan pandang ke setiap sela peta bumi alami
belum kutemukan dirimu...
Kutarik kepalaku
istirahat sejenak...
Kuplesetkan lagi kepalaku ke bawah
Tak menemukan juga
dimanakah kau bersembunyi ???
tak berasakah bahwa aku mencarimu...
Gontai...
Wajahku tambah pasi
Pegal leherpun makin mengkombinasi
Usaha yang nyaris basi
Pulang...
Karena shiftku hampir usang
Namun, sebelumku rebah sempat kusebarkan titik-titik kata ini untukmu :
"Pernah kudengar pepatah, bahwa pungguklah yang merindukan bulan. Tapi, entah mengapa semua itu menjadi teori terbalik, karena sekarang akulah yang merindumu. Entah... alasan apa yang bisa kudendangkan bila ada yang menanyaknnya mengapa bisa demikian ??? Hmmm... mungkin lirik lagu ini bisa mewakilkan semuanya :
"... masih disini menunggumu, menanti jawab atas sikapmu..."
Dan biarkan semua kata itu menetes bagai hujan, dan kubiarkan saja hingga semua kata-kata itu menemukan sendiri muaranya... dan lagi-lagi... entah dimana muaranya, akupun tak tahu"
"... masih disini menunggumu, menanti jawab atas sikapmu..."
Dan biarkan semua kata itu menetes bagai hujan, dan kubiarkan saja hingga semua kata-kata itu menemukan sendiri muaranya... dan lagi-lagi... entah dimana muaranya, akupun tak tahu"
kenapa ya, bila ngomongin masalah keinginan pasti identik dengan sesuatu hal yang selalu di atas kita posisinya [apapun itu bentuknya]. Salah satu alasannya, [mungkin] karena sudah fitrahnya manusia ingin selalu ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tapi sah gak sih, kalau apa yang kita inginkan ada kalanya bertolak belakang dengan teori "bagai pungguk merindukan bulan".
BalasHapusMengapa saya menanyakan demikian, landasan pemikirannya adalah : jika semua orang selalu menginginkan yang derajatnya ada di atasnya... lalu siapa yang kan merangkul dan mendaur ulang yang posisinya ada di bawahnya..."
...kuingin disini
ingin tetap disini
bila kupulang nanti
panggil aku lagi...
*Padahal seseorang dianggap di atas karena ada yang dibawah, dengan demikian seseorang berada di atas tidak lain adalah hasil patungan atau sokongan dari orang-orang yang ada di bawah dan sekitarnya.
BalasHapusJadi, masih haruskah dan adakah ruang untuk membanggakan diri ??? Jika kebesaran kita adalah merupakan tempelan gambar hasil dari jepretan fenomena dan rasa orang lain. Baju kebesaran yang kita kenakan tidak permanen, jadi jangan heran [apalagi sampai depresi tingkat tinggi] bila sewaktu-waktu tempelan itu menjadi kusam dan mengelupas satu persatu. Musnah...
"Katakanlah, 'Wahai ALLAH yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki. Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki kepada siapa saja yang Engkau kehendaki tanpa hisab." (Ali Imran : 26 - 27)
Ya ALLAH dengan tidak bosan-bosannya kumohon, bantulah aku dengan cara-cara terindahMu agar kuselalu sadar bahwa aku masih berada di bumi... dan izinkan aku tuk terus dapat melenggang di jalanMu, walaupun dengan amunisi yang jauh dari sempurna.... sampai kelopak mata ini tertutup... sampai jantung ini sudah tidak berderit lagi...
Izinkan aku...
Ridhoilah aku ya Rabb...
Ya Rabb... dengan ini semua, sombongkah aku dengan segala kemiskinanku. Kemiskinan imanku. Kemiskinan amalku. Kemiskinan akalku. Kemiskinan sabarku. Kemiskinan hatiku. Kemiskinan rasa kemanusiaanku. Bila selalu saja kata-kata ini terumbar dari mulutku ???
BalasHapusIni prasasti dan plakat... saksi mati kehidupanku... dan Kau Maha Tahu Segala Isi Hatiku... dan Aku Teramat Sangat Yakin itu... Semoga terjaga...
ALLAHU AKBAR...
hmmm....
BalasHapushmmm... nyem...nyem...nyem... :)
BalasHapusnyari apa sih mbak?
BalasHapusada yang bisa ku bantu?
;)
nyari duit mba anni... bantuannya bisa dikirim ke nomor rekening di bawah ini ya :
BalasHapus0108250979
;D
ya ampyun...jadi yang jauh di mata dekat di jendela tuh BULAn!!!!!!!
BalasHapuskirain mas..ooooo....ppppp....iiii......(lanjutin ndiri dah)
aduh...saingan nih!!!
BalasHapusbulan... kurindu hadirmu... iya ya... iklannya Lidya Kandau ;D
BalasHapusemang terinspirasi dan belajar dari mba aqla saya... kita bersaing dengan sport ya... bersaing sambil olah raga maksudnya ^_^
BalasHapuscie...ngeles..lanjutin tuh...ooo...ppp..iii...apa lagi hayo..hehe
BalasHapus*wew ada yang merah merona..
hush... mau puasa bikin kapal hantu [ghostship]... ayo sungkem... dan "salam tempel"nya yang penting ;D
BalasHapusweleh..semakin matang aja sebagai mahluk bermata ijo!!!
BalasHapusabis kalo setengah matang, khawatir masih ada kumannya ;D
BalasHapus*kan pake softlens ijo