.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}
Tampilkan postingan dengan label retasanhati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label retasanhati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Desember 2011

Ijinkan yaaa...

Assalamu'alaykum....


Saat ini, ijinkan aku termangu. Diam sambil membaca segala hal yang telah terlewati. Jalanan dan jalinan ini yang membuat kita sedikit menepi tuk kemudian bertukar nama, sapa, dan peristiwa. Kemudian, kita pun kembali berjalan dengan deru dan tunggangan yang berbeda. Kadang kau yang menyepat dan kadang aku yang melambat. hehehe... Serupa tanpa beda ya... biarlah aku tak cemburu untuk yang satu itu, namun pastinya aku makin cemburu saat kamu melesat di satu selain itu.

Saat ini, ijinkan aku terdiam. Mencoba memamah peristiwa tuk coba hadirkan makna. Makna yang muncrat dari hasil repihan bodohku. Semoga hanya kebenaran saja yang keluar dan bilapun kesalahan yang keluar, semoga itu hal yang mudah tuk terhapuskan. Jalanan dan jalinan ini mengajarkanku sebuah arti. Arti yang mungkin hanya berarti untuk diriku sendiri. Yang mungkin terlihat remeh ataupun lebay dari pandangan selain aku. Kamu, anda, situ... bisa saja termasuk didalamnya. Tapi santai saja, ku takkan melakban mulutmu bila kau bersuara seperti itu. Ku mungkin malahan akan berterima kasih padamu. Karena kau telah memberi warna baru dalam bentukan artiku, yang mungkin masih sangat lemah saat ku pertama kali menggulirkannya.

Saat ini, ijinkan aku terpesona. Kau mungkin bertanya, apa yang telah membuatku terpesona. Maka tak raguku menjawab, salah satunya karena kamu, anda, situ... Kalian semualah yang membuatku terpesona. Cinta, sayang, perhatian, dan doa keluar begitu saja, tanpa sebelumnya kuminta, paksa, dan tekan. Semua hal itu mengalir lembut, perlahan namun pasti membasahi dan menghangatkan jiwa ini. 

Saat ini, ijinkan aku tuk gagu. Sebab tak mampu kuurai rasa lagi. Hatiku penuh tersebab (sepertinya) banyak cinta yang terperangkap di hatiku. Mestikah kujatuhkan cinta itu satu persatu? Tidak, tak akan kusia-siakan pemberian gratisan ini. Mungkin kucoba tata dan letakkan sesuai porsinya saja. Biar semuanya menjadi terlihat lebih indah dan terkesan mewah...

Ijinkan saja semuanya ya... percayalah, kutakkan hamburkan ijinmu itu tuk hal-hal yang tidak guna. Misalpun ku melanggarnya, cabut saja ijinmu dan berilah ku sangsi. Agar aku sadar diri. Kalau berdiri ku masih tidak sadar, tampol saja aku hingga ku tersungkur, mungkin itu kan membuat ku tersadar... atauuu malah tersandar untuk selamanya 


Jakarta, 21 Desember 2011
Sang Pemohon Ijin,



lussysf


cc. semua sahabat hatiku

sumber gambar: mutiara-t-t.blog.ugm.ac.id

Rabu, 16 November 2011

bulir hujan

1. Dia menatapku malu di ujung sana. Sebentar-bentar mengerjap tuk tandakan ada #bulirHujan
2. Ku tak hirau, awalnya. Namun, akhirnya ku pun berhasil digoda. Dan tatapan matakupun berhasil dijemputnya #bulirHujan
3. Kuedar pandangan nakalku. Coba ganti usiknya, tapi ku gagal. Malah kutemui senja diwajahnya #bulirHujan
4. Memoriku cepat melesat menjauh. Lampau. Ingat saat #bulirHujan sempat membersamai tubuh kecilku
5. Ingat saat berela hati dimandikan langit secara berjamaah, walau diantaranya ada hati yang gelisah #bulirHujan
6. Aaahhh... Romansa itu kerap hadir dan sontak membuatku nyengir #bulirHujan
7. Betapa ku seperti menantang #bulirHujan tuk adu nyali, siapa yang kuat bertahan
8. Lagi lagi dan lagi seringnya ku yang kalah, meski kadang kupun suka mengalah demi melihat #bulirHujan nan menggagah
9. Setelahnya ku lebih memilih berpelukan bersama kain tebal, sambil sesekali kubuang pandangku demi tuk lihat paduan canda #bulirHujan dan angin
10. Ingin ku berlari hingga kau sembunyi... Lirih lirik lagu Sherina menari di antara jubelan memoriku #bulirHujan
11. Memang selalu ada romansa dan nostalgia tercipta kala #bulirHujan mulai menari di titik-titik hari
12. Dan pastinya #bulirHujan selalu berhasil memaksaku tuk mengingat akan satu rindu... ;)


>> @lussysf

Sabtu, 17 September 2011

Apalah Arti Menanti

Apakah ada nikmat dari menanti?
Bila selalu terdengar kisah keluh dan serapah yang mengiringinya

Apakah ada nikmat dari menanti?
Bila selalu tersempil ketidaksabaran dan keburu-buruan tuk mengurainya

Apakah ada nikmat dari menanti?
Bila selalu terdengar ocehan yang dapat mempersempit hati

Apakah ada nikmat dari menanti?
Bila yang dilakukan hanya mengatai-ngatai dan berdiam memaku diri terhadap apa yang dinanti

Apakah ada nikmat dari menanti?
Bila hanya sekedar menanyai siang kapan malam datang dan menanyai malam kapan siang hadir

Dan deret tanya itupun terjawab:

Sesungguhnya, selalu ada nikmat dalam sebuah penantian
Kala cemas beradu muka dengan harap
Kala resah beriringan dengan buncahan gembira
Kala galau bergandengan dengan cericitan kicau
: kesulitan selalu bersama kemudahan

Apalah arti menanti bila sejatinya semua sudah tercatat di diri. Semua ada masanya. Semua ada waktu yang tepat tuk terurai. Perlukah meminta dipercepat ataupun diperlambat, jika sejatinya tiap detak yang berdetik itu adalah waktu belajar tuk bertumbuh. Mungkin akan lebih cantik bila yang diminta adalah yang terbaik dan sesuai.

Dan sejatinya penantian adalah waktu pemenuhan diri sebelum mati...


*diantara menanti air di ember penuh tuk segera diangkut: kala air PAM mati*

sumber gambar: r-dy-loves.blogspot.com

Selasa, 13 September 2011

Terjemput Senja

Ku berdiri menghadang angin
Hanya dengan bermodalkan ingin
Tapi apalah jadi bila yang kudapat hanyalah masuk angin

Kulempar pandangku jauh
Kulihat ornamen hidup tanpa setitikpun sepuh
Rapuh, melusuh, melepuh, akibat sedikit yang terbasuh

Dan kaki ini pun tetap berdiri
Dengan tidak berakomodasi, yang tentu saja bukan karena dikebiri
Karena ku hanya sedang tunggui
Sejumput senja yang kan membawaku kembali ke hadirat Illahi Rabbi

Salam cinta dan sayangpun tertitipkan
Untuk jiwa-jiwa yang sempat kutitipkan angan
Sekarang tinggal kutitipkan kalian kepada Maha Rahmaan
Tempat sejatinya labuhan segala angan
: Selepas ku melesat ke pusaran nisan

 

sumber gambar: menulis-senja.blogspot.com

Jumat, 03 Juni 2011

Pikiran yang Ternoda: Sebuah Fragmen Kehidupan

Dalam remang cuaca ku berjalan. Coba telusur waktu dengan sedikit kernyitan di dahi. Mengapa?

Kudiam sejenak, coba tuk lihat, dengar, dan rasakan. Adakah potongan peristiwa yang sanggup termamah.

Kenyal, tak sanggup langsung ku menelan. Potongan ini begitu reaktif. Cepat meloncat dari satu sisi ke sisi lain. Padahal belumlah banyak usaha ku tuk mengunyahnya. Mana yang salah? Aku yang merasa sudah berusaha keras ataukah memang potongan ini terlalu kenyal dan besar untuk sekali hap?

Kembali ku berjalan. Tetap dalam remang cuaca. Coba cari padanan peristiwa yang sekiranya otakku mudah mengolahnya. Ternyata banyak. Melolonglah hatiku melihatnya. Bagaimana tidak, bila semakin banyak kutemukan padanannya semakin kenyal dan lebar saja potongannya. Dan lagi-lagi ini baru sebuah potongan, bukan sebuah keutuhan. Bila ini kumuntahkan apakah kan habis perkara? Potongan ini sudah membaui mulutku dan terselip di antara gigi geligiku. Namun tertelan pun susah. Kukeluarkan saja akhirnya tuk sementara waktu. Kutata dan taruh sampai tak ada satu orangpun yang tahu. Mouthwash pun kulirik. Dental floss kutarik. Kembali tertatih dengan hati yang mulai menjadi batik.

Ini semua belum titik. Ku terus berjalan. Mencoba tuk terus gagah tak melemah. Mencoba tak melenguhkan keluh. Mencoba segera menepis peluh yang mulai jatuh dan ku tak ingin karena ini semua jadi gaduh.

Langkahku pun terseret dalam sebuah ruang. Hiruk pikuk, buatku jadi kikuk walaupun tuk sekedar sedikit membungkuk. Bagaimana tidak, di sana ku lihat semua berjalan dengan membusung, duduk dengan membusung, berbicara dengan membusung, dan diampun dengan membusung. Padahal di segarisan matanya, ada varian busung lainnya. Ya, cuma lapar yang bisa mereka busungkan. Dalam bungkuk ku, hatiku pun rusuh. Adakah dalam bungkukku ini tercangkok kebusungan?

Pandanganku kini dihampari banyak kata, tiada rupa. Anehnya, semua kata itu berkoar bagai sebuah repertoar ambruk. Sumbang. Saling menambah kata tuk bisa dipercaya. Menambah tanda baca tuk bisa saling menegaskan. Berebut menambah sejumput data tuk bisa melenggangkan. Entah data darimana yang tercomot? Tak jelas sumbernya. Masih kulihati barisan huruf ini. Semakin kulekat pandangi, semakin terlihat bercerai saja huruf-huruf ini. Tidak lagi harmonis. Apakah ku sedang terkena sindrom tipuan mata? Terus kutarik sampai bawah, anehpun semakin menggilai otakku. Mengapa kontrol x tak berfungsi? Mengapa tuts delete tak ada? Mengapa tuts backspace sirna? Apakah di masa ini semua sudah jadi benar, sehingga tidak perlu ada pencucian terhadap dosa? Pembenarankah jadinya? Ataukah irreversible dipegang sebagai paradigma? Buat apalah disediakan penghapus jikalau apa yang sudah tertuang tak bisa hilang begitu saja. Masih ada bekas. Makin gila saja aku.

Belumlah usai yang menggilai otakku, kini ku lihat ada satu hal yang tidak biasa. Mengapa jari-jari ini melayang terbang dan semakin memanjang. Dan anehnya lagi hanya satu jari yang bekerja di sini. Ahhh, kekuatan satu jaripun berkuasa di sini. Jari-jari itu saling menunjuk, tak peduli apakah yang ditunjuk lebih busuk daripada yang menunjuk. Semua berlomba-lomba menyalurkan hasrat. Hasrat kepongahan. Hasrat ke-elu-an. Akupun dapat jatah tertunjuk? Aku?? Bagaimana bisa?? Hampir saja hasrat itu tertular padaku, tapi entah kenapa saat jari ini ingin terangkat ku sudah dibawa ke tempat dengan nuansa yang lain. Terselamatkan...

Ingin muntah saja aku. Muntah untuk apa? Karena apa? Pastinya muntah dengan kebodohan, ketidakberdayaan, dan kesombonganku. "Ke-gue-an" aku. Semakin malu saja saat kali pertama kutempelkan kakiku di tempat ini.

Tempat ini begitu harum, indah, cerah. Tidak sepi aktifitas. Ada yang lantang bicara. Ada yang rantang langsung bicara. Pahlawan di jalan yang sepi. Ada yang berkoar lewat tulisan. Ada yang berkoar via repertoar. Ada yang menggunakan kepalan untuk menyampaikan. Ada yang mengelus lembut. Di sinipun telunjuk nyaris tak sepi. Riuh. Kulihat dia teracung untuk mengesakan Illahi. Teracung tuk membenahi jiwa-jiwa yang masih terpasung. Terlihat variatif. Hampir pikirku terkabur, bukankah sejatinya kebenaran itu hanya satu?

Dari berdiri, jongkok, dan sekarang sampai ku duduk bersila. Ku masih mencerna semua ini. Bingung. Kesenjangan intelektualku bekerja. Makin membenggang saja otakku. Sampai mataku tidak sengaja melihat suatu hal. Ternyata mereka semua memiliki tangan-tangan semu yang saling terkait. Walau jauh jarak, beda ruang, beda tampilan, beda gaya, dan beda cara. Ternyata tangan mereka terikat oleh dua sumber yang sama. Quran dan Sunnah.

Semakin penasaran saja ku dibuatnya. Rasa penasaranku telah menemukan medium tumbuhnya di tempat itu.

Kembali ku amati. Mereka ternyata seperti membuat lingkaran tak berbatas. Dengannya, mereka mencoba merangkul semampu yang mereka bisa. Mencoba menggandeng yang masih di semesta untuk masuk ke dalam himpunan. Dan lama kelamaan merekapun bergenggaman, kuat, seperti tiada pernah kan terhempas dan terlepas.

Rasanya penasaranku sudah tertunaikan jawab. Ku mulai berdiri, namun baru saja ku setengah berdiri. Posisi ruku'. Kulihat tak semua tangan tergenggam kuat, bahkan bahu pun saling digesekkan. Senyumpun ada yang sempat hilang. Tapi di antara itu semua, satu yang masih membuatnya sama, rujukan yang tergenggam di tangan dan hati mereka. Dan satu lagi yang membuatku semakin melayang decak kagum. Di antara ketidakrekatan dan kegesekan itu, masih ada lagi yang tidak berubah. Ternyata di dalam dada mereka tetap tersemat senyum, kepulan doa, dan grafiran kerinduan. Ternyata hati kecil dari setiap mereka, masih mau dan sanggup tuk menangkup wajah-wajah saudaranya. Kuambruk dan tak sanggup berdiri. Lunglai. Rebah. Tergugu hebat ku membaca semua ini...



Tak terasa air meleleh dari mataku, nafasku tersengal, keringat membanjir, dingin mulai mengibas kaki hingga ubun-ubunku. Lelah sangat ku rasa. Lunglai. Astaghfirullah... Sejurus kemudian mataku menghampiri deretan angka digital penunjuk waktu, 2.30am. Ya ALLAH, ternyata aku bermimpi.

Kuseka paksa air mata ini dengan punggung tanganku. Kuhanyutkan paksa pula sengalan nafas ini dengan seteguk air. Dari kran. Terguncang-guncang kembali bahuku. Ya ALLAH, apakah ini jawaban dari ketidakmampuanku dalam memamah potongan segala peristiwa?

Kuambil potongan peristiwa yang pernah kusimpan. Perlahan kumasukkan kembali ke dalam mulut. Rasa masih sama, namun ada yang beda. Barang lama rasa baru. Kini, potongan ini tak lagi begitu kenyal dan melawan saat dikunyah. Tak terlalu reaktif.

Ku hela nafas akhirnya. Ternyata hanya butuh pemahaman lebih. Menahan ucap, bilapun ingin berucap ku harap tak ada kata yang asal ngecap. Irreversible... Ahhh, kata-kata yang sempat mampir di mimpiku tadi kembali menemukan mediumnya...


------------
*) Selagiku masih bisa berkata: Ampuni segala khilaf yang terpancar dari pikir, kata, dan rasaku. Baik yang kalian ketahui ataupun tidak. Semoga kekhilafanku itu tidak menjadi terus menggulung bagai bola salju dan mengefek domino. Maaf atas khilaf. Maaf...

 

 

sumber gambar: jfkoernia.wordpress.com

 

Kamis, 19 Mei 2011

Dimana Jodohku?

Banyak yang bilang jodoh itu gak bakal lari kemana-mana. Terus banyak juga yang bilang kalau jodoh itu datangnya gak jauh dari dimana kita "bermain". Ada juga yang bilang, kalau jodoh itu adalah yang mukanya mirip sama kita. Ada juga yang bilang, jangan sekolah tinggi-tinggi ntar susah jodohnya. Ada juga yang bilang, jangan ngejar karir aja, ntar jodohnya bakal takut buat mendekat. Benar begitu gak sih? Yang sudah berpengalaman menemukan jodohnya, cobalah dibagi-bagi di sini. Siapa tahu aja banyak yang menjadi tercerahkan dan bersemangat kembali buat menjemput "impian"nya... 



Jodoh Gak Bakal Lari Kemana-mana

Bener banget nih kalau dibilang jodoh itu gak lari kemana-mana, secara kalau tuh jodoh sampai lari kemana-mana bakalan tambah susah aja buat nemuin plus nangkapnya. Dapetin kagak, ngos-ngosan mah iye... hehehe Atau tuh jodoh emang gak bakal lari kemana-mana karena sang jodoh emang lagi keseleo, jadilah dia nggak bisa lari-lari 


Gak makna ya penjelasannya? tenang sodara-sodara, tadi itu cuma candaan aja kok yang versi seriusnya begini. Pada dasarnya nih, apa yang kita jalanin di dunia ini (apapun itu) sudah tertulis dalam Lauhul Mahfuzh (coba deh cek di Al Quran Surat Al Hadiid ayat 22 dan 23) jauh sebelum kita ada. Dengan demikian, sejatinya apa yang kita alami sekarang sebenarnya merupakan pengejawantahan dari apa yang sudah tertulis tersebut. Baru tahu ini takdir, kalau sudah kejadian. Jadi kalau pengen segera tahu apa yang tertulis di Lauhul Mahfudz, buruan deh buat ngejemputnya, yaitu dengan cara usaha yang maksimal, doa yang optimal, dan berserah diri pada ALLAH secara total. Nah, tinggallah rasakan sensasinya betapa ALLAH begitu cinta dan sayang pada kita, hamba-hambaNYA. Cuma terkadang kita aja yang suka sotoy buat ngerancang, pas gak terwujud langsung deh menyalahkan ALLAH: "Ya ALLAH, apa salah dan dosaku hinggaku begini?" (sok-sokan nanya begini, padahal kalau langsung dikasih tahu jawabannya mah prosentasenya akan lebih besar dari kebaikannya) Dan pertanyaan itu kalau mau dijawab ala anak-anak gaol akan begini kejadiannya: "hellooooooo... ALLAH itu lebih tahu lagi yang terbaik buat hamba-hambaNYA, dan yang terbaik menurut kita itu belum tentu terbaik menurut ALLAH"


Dari itu semua intinya begini, kita gak pernah tahu bahwa itu takdir kalau belum kejadian. Begitu juga dengan jodoh, mau yang dah pacaran sampe 15 tahun, mau pacaran yang baru sedetik, mau yang pacaran sekejap, kalau bukan jodoh ya gak bakalan sampai nikah juga. Jadi gak ada garansi kalau pacaran itu pasti berujung nikah, buktinya ada yang gak pake pacaran tapi malah nikah tuh, langgeng malahan. Dan jodoh itu emang gak lari kemana-mana karena sejatinya sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Yang mesti berlari itu kitanya, dengan cara berusaha secara maksimal (mesti baik dan benar nih), berdoa secara optimal, dan berserah diri pada ALLAH secara total. 


Kalau kita dah lari-lari, tapi jodohnya belum kepegang juga gimana? Kalau yang kayak begini, bahasa matematikanya adalah asimptotik. Dah deket tapi gak nyampe-nyampe. Jodoh itu udah ada di dekat kita, berhubung kita belum tahu secara lugas siapanya, jadilah gak kepegang juga. Tapi tenang aja gak usah khawatir dengan hal ini, semuanya pasti akan kepegang. Kalau gak kepegang di dunia, ya kepegang di akhirat 



Main yang Jauuuhhh

Semakin jauh kita mainnya, maka akan semakin luas yang jadi populasi bakal jodoh kita... hehe


Kalau dibahas pake statistika ya bakalan begitu kejadiannya. Tapi jodoh itu gak bisa dikalkulasi secara statistika. Skenario ALLAH itu begitu indah, buktinya kita gak pernah tahu tuh ujung dari cerita kehidupan yang kita jalani ini. Yang kita tahu cuma satu the end atau mati, dan model matinya kayak gimana kita juga gak tahu. Semua tergantung apa yang udah kita kerjain di dunia. Kalau selalu berbuat baik, insyaALLAH berujung baik pula, dan sebaliknya.


Nah sekarang apa kaitannya main yang jauh dengan jodoh kita gak jauh dari tempat kita "bermain"? Meluaskan pertemanan sama aja dengan memperluas jejaring silaturahim. Semakin luas jejaring silaturahim, maka akan semakin memperluas rezeki (nah, jodoh adalah salah satu dari rezeki itu). Semakin rekat jejaring tersebut, maka akan semakin timbul rasa untuk saling berbagi beban. Dampaknya, kita gak akan pernah ingin melihat teman kita galau, tidak terkecuali karena hal yang satu ini. Dengan serta merta, pastilah mereka berusaha untuk berela hati menjadi mak comblang-mak comblang dadakan... hehehe. Jadi bila mau dirunut, jodoh kita emang gak jauh-jauh dari tempat kita "bermain", paling nggak ada pengaitnyalah antara kita dengan jodoh kita.


Terus, kalau udah main yang jauh teteup gak dapat-dapat jodoh gimana? itu mah delon (derita lo sendiri) kaleee... hehe. Nggak ding, balik lagi ke bahasan awal, bahwa skenario ALLAH pasti yang terbaik dan gak ada cerita kalau ALLAH itu ingin menyusahkan hambaNYA. Dan bila kita merasa ALLAH telah menyusahkan kita, pastilah itu muncul karena ulah kesombongan, kebodohan, dan kesotoyan kita dalam membaca skenario yang terjalani. Padahal bila kita mau membacanya lebih seksama dan lebih dekat, pastilah kan tersimpul kata: "tidak ada skenario yang lebih indah dan hebat selain skenario besutan ALLAH". Subhanallahu...



Mirip Apaannya ya??

"Kayaknya lu jodoh deh, abis mirip sih?" -- "mirip apanya dah? mukanya aja beda jauh, warna kulitnya beda, sifatnya beda" -- "hobinya yang mirip, sama-sama demen ditraktir... hehe"


Boleh percaya, boleh nggak. Kalau orang yang berjodoh itu pasti ada kemiripannya (walaupun cuma sama-sama suka ditraktir itu tadi :D), entah itu sikap, sifat, hobi, dll. Tapi sebenarnya hal tersebut didasari ini, setiap orang akan betah untuk masuk ke suatu komunitas karena dia sadar siapa dirinya dan siapa orang di luar dirinya. Semakin dia sadar siapa dirinya, dia akan semakin sadar untuk mencari orang atau komunitas yang "klik" dengan dirinya. Nah, orang yang tidak terlalu paham siapa dirinya akan merasakan yang namanya gagap komunitas. Jadi tidaklah heran jika orang yang baik-baik pasti akan mencari pasangan yang baik-baik juga, dan sebaliknya.


Tapi ada kok ditemukan pasangan yang gak ada mirip-miripnya? -- Hmmm... masasih begitu? coba cek ulang, pasti adalah satu kemiripan atau kesamaannya. Kalau sekarang belum ketemu juga, sabar saja menanti dan biarlah waktu yang kan memunculkan kemiripannya kelak  Toh, interaksi yang intens dapat melebur hal-hal yang berbeda. Memahami perbedaan untuk menebalkan persamaan dalam rangka memuluskan jalan ke surga.


Wuidiiihhhh... mangtabs nian gak tuh bila kemiripan ini dibangun dengan berlandaskan karena cinta pada ALLAH. Subhanallah, surga sebelum surga bukanlah hal yang mustahil terwujud sepertinya.



Sekolah Tinggi-Tinggi, Jodohnya Susah

Setuju gak sama kata-kata itu? Kalau saya mah setuju, mau tahu alasannya? Kalau sekolah tinggi-tinggi jodohnya susah, yaiyalah, secara tuh jodoh kan harus punya keberanian dan tenaga ekstra buat manjat-manjat. Gimana gak jadi nyusahin tuh jodoh coba  Dan akhirnya, banyak yang berpikiran untuk urung sekolah tinggi-tinggi biar gak nyusahin jodohnya. Terus kalau sekolahnya gak tinggi-tinggi, emang jodohnya jadi gampang gitu? Siapa yang berani ngasih garansi untuk ini hayoooo...


Pikiran-pikiran kayak gini nih yang biasanya mampir di kepala perempuan. Takut sekolah karena takut susah jodoh dan parahnya hal ini semakin dipertegas dengan akronim ngasal berikut, PKI (Perempuan Korban Ilmu). Wuidih... serem banget gak sih? kalau serem, tutup mata aja... hehehe. Tidak hanya untuk bersekolah tinggi, bahkan ada juga yang sampe gak mau buat berangkat haji karena takut susah jodohnya. Khawatir para lelaki takut untuk meminang karena kehajjahannya itu. 


Kenapa bisa begitu ya? Tanpa disadari sepertinya kita sudah membuat orang lain untuk bersikap seperti itu deh. Kok bisa? Iya. Sekarang begini, disadari atau nggak, kita suka secara serampangan menuduh bahwa orang yang membangun karir dan sekolah tinggi itu pasti hanya memikirkan dunia aja dan gak pernah kepikiran buat menikah, apalagi akhirat. Padahal kita belum pernah ngobrol secara mendalam tuh dengan dia. Kita mengambil kesimpulan tentang mereka, lebih karena berlandaskan pada diri kita sendiri yang sudah disegerakan menikah oleh ALLAH. Dan kita gak pernah coba berusaha lebih tahu, seberapa besar usaha dia, sekuat apa doa mereka, dan keberserahan diri mereka (bisa saja) jauh lebih besar daripada keberserahan diri kita pada ALLAH. Bila kita sudah tahu itu semua, tidak mustahil kita malah menyalutkan sikapnya. Menyalutkan untuk apa? Menyalutkan bahwa ia masih mau bergerak dengan memanfaatkan segala fasilitas yang ALLAH berikan untuknya. Sekarang coba bayangkan apa jadinya jika dia hanya sekedar menunggu tanpa melakukan apa-apa, sekolah gak dapat, jodohpun belum tentu teraih. Karena lagi-lagi kita baru tahu ini merupakan takdir, jika segala sesuatunya itu sudah kejadian. Memanfaatkan sisa usia untuk yang lebih makna...


Sekarang pointnya yang perlu dicermati adalah lebih kepada alasan mengapa dia bersekolah tinggi-tinggi dan masih adakah keinginannya untuk menikah. Jika kedua pertanyaan ini masih terjawab secara baik dan benar, mestinya respons yang akan keluar dari bibir kita adalah seperti ini: "jika tidak mau menerima kelebihan, bagaimana mungkin mau menerima kekurangan?" Dengan catatan, jika sekolah tinggi-tinggi dan sejenisnya dianggap sebagai sebuah kelebihan lho ya. Kalau nggak, ya maap dah... hehe



Jangan Ngejar Karir, tapi Kejar Aja Kadir

Untuk yang point ini, gak beda jauhlah sama yang sekolah tinggi-tinggi itu. Ini juga lahir dari asumsi orang, bahwa kalau udah keenakan cari duit bakalan lupa (bahkan ogah) buat nikah. Nah lho, beneran gini gak sih?


Ayo sama-sama kita cermati bersama, karena terkadang yang terlihat nggak bisa menggambarkan hal yang sesungguhnya. Ada orang yang pergi pagi pulang malam untuk bekerja, ada yang pergi malam pulang pagi hanya untuk banting tulang (tukang daging nih ), ada yang pergi tapi nggak pulang-pulang walau dah 3 kali lebaran (kalau ini bang toyib... hehe). Dan semua mereka lakukan tidak semata-mata hanya membangun karir. Kalaupun terlihat karirnya meroket, itu sesungguhnya adalah efek dari sebuah proses. Tahukah sesungguhnya mereka melakukan itu sebagai salah satu bentuk tanggung jawab mereka kepada keluarga. Lalu di antara itu semua, dengan sotoynya kita langsung bilang "kawin woy kawin... kerja mulu... kiamat dah dekat tuh". Kira-kira apa yang mereka rasakan saat kita berceloteh kayak gitu? (merekapun menjawab, biasa-biasa aja tuh, tetep asyik )


Kalimat yang di dalam kurung akan menjadi sebuah respons, kala sudah terjadi imunitas dalam diri mereka. Ini kejadian karena mereka sering ditanya dan dicandai dengan hal-hal serupa, lama-lama jadi kebal. Tapi, tahukah kita bila pada titik tertentu pertahanan mereka pecah juga? Tahukah kita, bila di sujud panjangnya mereka malah mendoakan kita? dan mungkin saja salah satu doa merekalah yang membuat kita lebih dahulu bertemu jodoh daripada mereka. Tahukah kita, bila hati mereka teriris karena beban yang sudah ada, malah diperberat dengan celotehan tidak makna kita? Jawabannya pasti tidaklah tahu, karena mereka menuangkan itu semua hanya pada Kekasih Sejatinya. Kekasih yang lebih ingin dia temuinya dibandingkan dengan kekasihnya di dunia. Kekasih yang sudah memberikan cinta dan sayangNYA, hingga membuatnya mampu menapak sampai detik ini.



Lalu sekarang bagaimana kita? Layakkah kita menilai mereka lebih dalam, padahal yang kita tahu hanya permukaannya saja. Alangkah lebih indah dan bijaksananya, bila kita ikut membantu memaksimalkan usahanya, mengoptimalkan doanya, dan mentotalkan keberserahan diriNYA pada ALLAH. Dan pastinya salah satu tugas kita adalah mengingatkan mereka agar tidak pernah berputus asa dari rahmat ALLAH dan tidak pernah tergesa-gesa dalam berdoa. Ya, karena sesungguhnya hanya ALLAH yang Maha Tahu segala kesudahan dan hanya ALLAH yang Paling Tahu apa yang terbaik untuk hamba-hambaNYA. Sesungguhnya hanya karena cinta dan kasih sayang ALLAH sajalah kita bisa berada sampai di titik ini.




---------------------------------

*) Untuk yang sedang menanti cinta, berusaha dan berdoalah, karena ALLAH tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha dan doa hamba-hambaNYA :) 



sumber gambar: nur-aqlili-liana-c.blogspot.com


Sabtu, 01 Januari 2011

Remember Me This Way

Every now and then
We find a special friend
Who never lets us down
Who understands it all
Reaches out each time you fall
You're the best friend that I've found
I know you can't stay
But part of you will never ever go away
Your heart will stay


I'll make a wish for you
And hope it will come true
That life will just be kind
To such a gentle mind
If you lose your way
Think back on yesterday
Remember me this way
Remember me this way

I don't need eyes to see
The love you bring to me
No matter where I go
And I know that you'll be there
Forever more a part of me
You're everywhere
I'll always care

I'll make a wish for you
And hope it will come true
That life will just be kind
To such a gentle mind
If you lose your way
Think back on yesterday
Remember me this way
Remember me this way

And I'll be right behind your shoulder watching you
I'll be standing by your side in all you do
And I won't ever leave
As long as you believe
You just believe

I'll make a wish for you
And hope it will come true
That life will just be kind
To such a gentle mind
If you lose your way
Think back on yesterday
Remember me this way
Remember me this way
This way

(Ost. Casper The Movie)

-----------------------------------
Dulu kita berjalan sendiri-sendiri hingga pusaran takdir menarik kita untuk berjalan bersisian. Tidak hanya bersisian, bergandengan tanganpun juga tak luput dari penyemaian kebersamaan. Sejak saat itu, sepertinya kata perpisahan tidak boleh bermain dalam kamus kita. Tidaklah aneh bila selalu saja ada waktu yang kita gunakan untuk mengangankan suatu hal dan pastinya selalu saja ada celah yang coba kita kikis untuk membentuk impian. Karenanya, setiap hari selalu saja tambah satu warna. Warna-warna yang terus memancar dari setiap derap nafas kita. Warna perbedaan yang kemudian tersketsa dalam indahnya sebuah kebersamaan.
 

Namun sudahlah menjadi tabiat hukum alam, bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Segala hal yang sudah terhimpun, bisa saja suatu saat bakal terserak, bahkan musnah sama sekali. Yang dulunya berjalan bersisian, pada titik tertentu menjadi terpisahkan. Yang dulunya bersatu menjadi mendua. Yang awalnya mencinta berubah menjadi mencela. Terlalu banyak alasan yang menyutradarainya, mulai dari jarak, waktu, kepentingan, sampai dengan pemikiran. Kemudian menyeruaklah kalimat-kalimat di pikiran: Bila sudah berpisah, hilangkah sudah jejak yang pernah terlangkah? 

Sesuatu yang pernah lekat terus tercerabut, bohong rasanya bila tidak meninggalkan bekas. Entah sedikit atau berlimpah, entah cerita manis atau sendu, sebuah kebersamaan akan meninggalkan residu dengan aromanya yang khas. Selalu ada debar dan getar kala memaknai kebersamaan yang sudah tanggal. Selalu ada ulasan senyum kala mengenang pertama kali batu kebersamaan itu dipancangkan. Selalu ada ringisan perih dan lelehan air mata kala membaca kembali cerita yang sudah tercecer dari bukunya. Dan selalu-selalu lainnya yang terus menari-nari meningkahi napak tilas hati...

Kali ini dan selagi ku mampu, izinkan ku melantunkan doa terbaik yang ku tahu. Doa terbaik yang khusus kuhaturkan untukmu. Dengan suatu harapan, agar Sang Maha Cinta selalu menjagamu dalam kebaikan diselepasan waktuku bersamamu. Bilapun nantinya takdir tak mengizinkan kita kembali bertemu, satu hal yang perlu kau tahui, selaksa syukurku pada Illahi karena sudah diizinkan tuk bisa mengenal dan menjalin kebersamaan denganmu. Bilapun nantinya kupergi mendahuluimu, ku ingin tak ada air yang mencair dari matamu. Cukuplah senyummu mengiringi kepergianku.

Sebelum kuterhempas, mungkin kata ini yang nantinya akan kutitipkan dihatimu... ingatlah jalan ini... jalan yang pernah kita lalui dengan berjingkat, menapak, dan bahkan sedikit melayang karena kita telah berlarian diatasnya... Sahabat, ingatlah aku di jalan ini...



Love,



lussysf


:: sumber gambar: jawaban.com ::

Selasa, 23 November 2010

Cerita dalam Rona Sephia

Membincangi masa lalu bagaikan melihat gambaran hidup dengan efek sephia. Terlihat lama dan usang, namun tetap sedap dan indah tuk dipandang. Cerita yang dahulu terasa pedih menjadi terasa indah saat diputar dalam nuansa nostalgia. Cerita yang dulu sempat membuat air mata mengalir karena getir menjadi cerita yang membuat air mata menyembur lebih karena rasa syukur. Yang akhirnya di setiap ujung etape peristiwa semakin meyakinkan diri betapa Sang Maha Cinta begitu dahsyatnya mendidik hamba-hambaNYA agar dapat bertumbuh.

Setiap orang memiliki cerita yang tak persis sama meskipun mereka berada dalam lingkaran tahun yang sama. Ada ceruk beda yang merupakan residu dari sebuah perjalanan hidup. Ceruk yang terpampang dalam guratan wajah, ketidakhalusan tangan, ataupun grafiti-grafiti laten yang tersimpan di hati. Dan tanpa disadari, akhirnya mural-mural yang sudah tertoreh tersebut sedikit banyaknya mempengaruhi seseorang dalam memaknai hidup yang akan dia titi selanjutnya.

Begitupun dengan saya, tidak sedikit kisah yang sudah saya tato di kehidupan ini. 31 tahun rasanya bukanlah waktu yang singkat bagi seorang manusia untuk melenggang di dunia ini dan bukan waktu yang sebentar pula untuk dapat mengenyam menu-menu kehidupan. Mulai dari asam, manis, hambar, bahkan pahit sekalipun sudah pernah dirasakan. Mulai dari peristiwa yang memiliki daya ledak rendah sampai dengan yang tinggi sudah pernah dicicipi. Sampai akhirnya tersketsalah sebuah kata-kata: semua hal kan menjadi indah dan nyaman terasa kala dibalut dengan sebuah rasa syukur dan sabar, toh keluhan hanya menimbulkan kelelahan, layaknya menggali lubang kematian secara perlahan.

Tidak banyak yang percaya bahwa saya berasal dari keluarga yang minim secara finansial. Mungkin fakta itu terblurkan dengan pembawaan dan gaya saya yang cenderung santai tanpa beban. Ditambah lagi dengan ujaran-ujaran kecil saya "jangan kayak orang susah kenapa sih", yang semakin memperkuat asumsi mereka bahwa saya terlahir dari orang yang berlebih secara finansial. Barulah mereka percaya, kala mereka terus menyelidik tanya dari jawab yang terkembang.

Bukanlah perkara mudah bagi saya untuk bersekolah. Penuh perjuangan ekstra mulai dari dahulu hingga kini. Bila mau dirata-ratakan modal saya untuk sekolah dari dulu hingga sekarang adalah nekad plus "belas kasihan" orang, selain tentu saja karena kemurahan ALLAH. Saya merasakan bagaimana harus mendatangi rumah seseorang ataupun menunggu di pelataran masjid untuk bertemu seseorang yang berminat menukar nilai dalam rapot saya dengan bayaran untuk sekolah. Bagaimana saya mesti mengeluarkan air mata yang deras kala disuguhkan kata-kata sarkas saat mesti mengambil dana untuk sekolah tersebut. Bagaimana saya mesti merelakan kaki saya berjalan menyusuri kampus - rumah, pergi pulang. Bagaimana saya mesti meniti jalan tanpa berkendara apapun, mulai dari Senen hingga Kota hanya untuk mengais beasiswa. Bagaimana tidak tahunya saya dengan menu-menu yang disediakan di kantin. Bagaimana saya tidak mengenal les-les penggenap kompetensi yang betebaran dimana-mana. Yang lebih saya tahu adalah bagaimana caranya memutar uang 20 ribu rupiah agar hidupnya jadi lebih panjang dalam era krismon saat itu.

Idealis yang realistis, akhirnya itu yang menggurat pikiran saya. Dan itu tampak jelas pengejawantahannya saat saya memutuskan tempat untuk kuliah. Saya harus memilih universitas yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Jadi persetan dengan jurusan yang saya sukai, toh manusia bisa beradaptasi pikir saya. Dengan bermodalkan uang yang saya punya, yang hanya cukup untuk membeli formulir, saya beranikan mendaftar UMPTN. Alhamdulillah ALLAH mengabulkan dan melancarkan semuanya dengan diterimanya saya disebuah PTN dengan kriteria yang saya sebutkan sebelumnya. Namun, masalahpun kembali menghinggapi kala pengumuman diterima karena kami tidak punya uang sepeserpun untuk bayar biaya masuknya, yang pada jaman itu senilai 500 ribu rupiah. Dan kondisi inipun berulang pada kuliah-kuliah selanjutnya, walaupun tidak persis sama

Untuk bisa berkuliah setinggi mungkin memang sudah saya ingini dan rencanai dalam hati saat saya masih bersekolah, hanya berawalkan satu alasan pendidikan adalah salah satu cara untuk mengubah kehidupan kami. Dan kadang terkait hal ini pulalah banyak timbul pertanyaan dari berbagai kalangan, mulai dari anggapan yang mengesankan hanya mengejar dunia, apa yang sebenarnya mau dicari dari semua ini, ataupun respons tidak suka lainnya. Terkadang timbul sedih dan perih di hati, tapi biarlah toh setiap orang bebas beropini. Akhirnya saya anggap semua ini sebagai romantika pemanis perjuangan. Biarlah ALLAH saja yang tahu apa yang sesungguhnya tersembunyi di balik dinding niat ini.

Saat kami berdiri di posisi sekarang ini, sungguh tiada pernah diangankan. Seorang yang dulu mesti "mengiba" bayaran sekolah bisa sampai merasakan bangku kuliah dan seorang penjaja koran akhirnya mendapat anugerah ALLAH untuk bisa berangkat ke Tanah Suci. Subhanallah... maka nikmat Rabbmu manakah yang dapat terdustakan?

Terakhir, tiada surut kata alhamdulillah mesti terlontar dari mulut saya karena sudah ditempatkan ALLAH dengan orang-orang yang kuat dan pantang menyerah. Orang-orang yang selalu mengingatkan bahwa semua harus dilakukan karena ALLAH. Orang-orang yang selalu mengingatkan agar rajin bekerja, agar lebih banyak dapat beramal dari uang yang ada, dan masih banyak lagi yang lain. Dialah ibu dan kakak saya. Orang-orang hebat yang mengajarkan tidak hanya dengan kata tapi juga dengan laku. Biarlah orang menilai beda, namun sejatinya sayalah yang merasa dan ALLAH yang menyaksikannya.

 




Sabtu, 20 November 2010

Badai disimbah pelangi

Kuhantarkan kata ini sampai ke pelupuk matamu
bukan untuk memberatkan matamu
tidak pula untuk menggada kepalamu
hanya ingin sedikit mengabarkan, aku ada di sisimu

silahkan pejamkan matamu
atau kau delete kata-kataku
itu takkan menjadi suatu masalah bagiku
karena kata-kataku sudah kuikhlaskan untukmu
jadi sudah menjadi hakmu lah akan kau apakan kata-kata itu

ku bukan pahlawan
ku juga bukan relawan
ku hanya seorang kawan yang tak rela melihat kau berawan
bila kau tak suka, ku pun akan mundur secara perlahan
tapi ku tetap takkan meninggalkan
doaku, kan kutabur walau dengan pelan

Kuhantarkan kata ini sampai ke pelupuk matamu
bukan untuk memberatkan matamu
tidak pula untuk menggada kepalamu
hanya ingin sedikit mengabarkan, aku ada tuk coba balut resah hatimu

bukannya ku belagu ataupun tak tahu malu
mungkin ini salah satu caraku untuk membuktikan bahwa pertemanan kita tidak semu

kawan,
sendumu lukaku
ceriamu bahagiaku
terlantunkan doa mungil dari bibirku
tuk kebahagiaanmu selalu
: semoga ALLAH segera mengganti badai itu dengan pelangi



Senin, 04 Oktober 2010

Selalu Ada Hikmah Di balik Cerita

Di pojok sebuah ruangan kudapati seseorang sedang duduk sambil menelungkupkan wajah di antara kedua belah kakinya. Badannya tampak agak bergetar. Seiring dengan itu, lamat-lamat ku dengar suara rintih yang tertahan. Dengan rasa penasaran yang menghinggapi diri, kucoba untuk mendekatinya. Perlahan ku menghampirinya, merendahkan tubuhku, dan mendaratkan sebelah telapak tanganku di bahunya. "Ada apa?" cuma dua kata ini yang akhirnya berhasil kuserahkan padanya. Hanya sebentar dia menatap wajahku dan kembali ke kegiatannya semula. Cuma sekarang, semakin dalam saja ia menyembunyikan wajahnya dan semakin kuat saja getaran tubuhnya. Bila getar itu diukur dengan seismograf, entah angka berapa yang akan keluar, yang jelas getaran itu sudah mampu menggetarkan hatiku, walau ku belum mengenalnya.

Cukup lama kami mendiami pojok ruang itu. Hanya diam. Tak kutambahkan kata-kataku, hanya dua kata di muka. Ku hanya duduk merendenginya sambil mengusap-usap bahunya. Kuangsurkan tissue yang ada.  Kubiarkan dia hempaskan pedihnya. Kubiarkan dia membersihkan galaunya, seiring keluarnya derai air dari matanya. Kucoba merasakan apa gerangan yang membuatnya demikian. Dan kucoba setia menemaninya hingga akhirnya semua keterdiaman itu terlunasi dengan dia letakan lingkaran tangannya di tubuhku. "Mba...."

Tidak ada kata yang kutambahkan, kuhanya menganggukkan kepala sambil mengedipkan mata sebagai tanda bahwa aku bersiap menjadi tong sampahnya. Tanpa kukomandoi, beberapa menit selanjutnya mengalirlah cerita yang membuatnya terpojok seperti itu. Kami berhadapan. Kupegang tangannya seraya dia bercerita. Kuhanya menggangguk dan mengedipkan mata saja. Terlalu minimalis memang. Namun bagiku, itulah respons paling tepat yang harus kuberikan padanya saat itu. Setengah jam berlalu. Dia bercerita mulai dari suara dengan getaran hebat, terisak, sampai dengan hilang sama sekali. Hanya meninggalkan suara parau, serta bengkak dan merah di kelopak dan matanya.

Setelah agak mereda, kuberanikan diri untuk menambahkan kata untuknya "kamu muslim? kita ke masjid yuk. Kita shalat bareng di sana. Kita ngadu sama ALLAH..." Diapun mengangguk tanda setuju. Kubantu tubuh lemasnya tuk berdiri. Kurangkul bahunya selama perjalanan ke masjid. Sebelum masuk ke dalam masjid kamipun berwudhu untuk menghilangkan segala hadas yang masih melekat. Kamipun shalat berjama'ah.

Secara perlahan namun pasti, sejuk mulai mendera jiwaku dan (mungkin) juga jiwanya. Itu terasakan setelah cukup lama jiwa kami ngelangut dalam doa yang panjang. Doa yang membuat bahu dan hati kami tergetar. Doa yang membuat mata dan hati kami basah. Doa yang membuat kami semakin yakin bahwa kami adalah hambaNYA yang lemah. Dan semakin menyadarkan kami bahwa sesungguhnya doa adalah bukti penghambaan kami padaNYA, dan bilapun terkabulkan itu adalah bonus dari rahman dan rahimNYA.

Cukup lama kami mendiami masjid. Masih ada cerita di sana. Lagi-lagi akupun hanya melebarkan telinga dan membuka ruang hati untuk menangkup segala ceritanya. Di pojok hati ini, ada kata yang terselip di sana "Ya ALLAH, sesungguhnya KAU menguji kami tidak lain adalah agar kami semakin "dewasa" sebagai hambaMU. Agar kami tidak menjadi hamba yang bisanya hanya menuntutMU. Hamba yang bisanya hanya menghujatMU. Hamba yang hanya mampu melihat doa yang tidak KAU kabulkan sesuai inginku. Hamba yang terlalu sombong dengan sering mengatakan "ini adalah hasil jerih payahku" di setiap ujung hasil kerja. Hamba yang terlalu sering mengobral air mata untuk hal-hal yang tidak semestinya..."

Kamipun keluar masjid berjalan sampai di suatu tempat dimana kami mesti berpisah. Kulihat mendung di wajahnya sudah agak tersurutkan. Mulai ada mentari yang mencorong di sana. Kamipun berpelukan. Lama. Erat. Saat pelukan itu merenggang, semakin kulihat senyum lebar yang mengulas di wajahnya dan perlahan diapun mengeja kata "terima kasih mba..." Kembali cuma anggukan dan kedipan mata yang bisa kuberikan padanya, tanpa kata-kata. Sebab, kutak ingin suara yang keluar adalah getar tertahan hasil dari hatiku yang tergenang basah. Kulirik hatiku saat ada sebuah kibaran kata besar yang berhasil tersingkap di sana "subhanallah... begitu banyak cara yang ALLAH berikan untuk mendidik hamba-hambaNYA... sentuhan indah dalam kotak skenario hidupku... ALLAHU AKBAR..."



---------------------
Jangan pernah menangisi segala kegetiran yang terjadi, sesungguhnya itulah cara ALLAH untuk menyentuh hati-hati kita. Seberat apapun ujian yang mendera pasti dapat terlewati dan tersenyumlah dalam syukur saat kita sudah berhasil melewatinya. Masalah ada untuk diselesaikan, bukan untuk diratapi, ditangisi, ataupun dibenci. Menikmati setiap penggal cerita kehidupan dengan berbagai aroma yang mengiringinya adalah sebuah kebijkasanaan. Menggulirkan usaha dan mengembangbiakan doa adalah sebuah kekuatan. Menyerahkan dan hanya berharap pada ALLAH adalah sebuah keharusan. Saksikanlah betapa nikmat dan indahnya hidup ini. Jangan pernah berniat untuk mengakhiri karena tanpa dimintapun itu akan terjadi. Cepat atau lambat...



sumber gambar: kaskus.us

Jumat, 23 Juli 2010

Merindumu

Bercanda dengan sepi bukanlah jalan keluar untuk menepis rindu
Bercerita dengan keramaian pun tidak membantu untuk mengungsikan kangen
Semakin ku menyepi, semakin panjang deretan slide itu terpajang
Semakin ku mencebur di keramaian, semakin menebal saja sketsa cerita yang pernah terajut bersama


Ahhh...
Ternyata historis itu tak jua menipis, meski sering ku tangkis sampai meringis
Ternyata sketsa itu benar-benar tak bisa habis
Malah terus berspektrum membentuk rona yang manis, sehingga membuatku menjadi puitis dan romantis

Ahhh...
Bilakah kebersamaan itu kembali datang?
Bilakah kesempatan itu kan terpampang?
Bilakah keceriaan itu kan tersandang?
Pastilah semua sekat rasa ini akan terbang dan hilang
: saatku merindumu


*satu hal yang bisa menuntaskan rindu, yaitu bertemu *

Jumat, 18 Juni 2010

Perkuliahan Bermutasi Menjadi Persaudaraan

Saya bukanlah guru yang baik karena saya memang bukan guru. Saya tidak bisa mengajar dengan baik, karena saya memang tidak pernah mengajari mereka. Saya cuma saudara (paling tidak ini yang saya rasakan) yang sedang berkunjung ke rumah saudaranya yang lain. Saudara yang rindu ingin bertemu dan berbagi. Layaknya temu keluarga besar, kami saling mendengar, saling menimpali, saling bercanda. Semuanya agak sama, yang berbeda hanya isi pembicaraannya saja (agak lebih terarah... hehe). Saya banyak menemukan kehangatan dan kebersamaan di sini... Dan mungkin kalimat inilah yang layak menggambarkan rasa yang tercoret disetiap akhir semester: "Perkuliahan yang bermutasi menjadi persaudaraan..."



Selalu saja ada cerita manis di setiap akhir semester. Cerita yang timbul dari sebuah kebersamaan. Kebersamaan yang awalnya karena sebuah kewajiban dan kebutuhan terhadap proses pemenuhan gelar saja, yang pada akhirnya bersimpul pada proses kehangatan batin. Begitulah kira-kira yang sering saya rasakan. Mungkin ada yang menilainya sebagai satu kelebayan, tetapi memang itulah sesungguhnya yang saya rasakan.

Semakin berinteraksi dengan mereka, semakin terkoneksi dan larut saja hati saya dengan mereka. Jadi bukanlah suatu hal yang asing tergelar, bila di luar kelas kami sering bercanda, ngobrol ngalor-ngidul, atau hanya sekedar rujakan aja. Nah, kalau yang tersebut ini biasanya saya yang nebeng. Secara mereka suka rujakan siang-siang dan rujaknya pun berhasil memanggil saya untuk segera mencicipinya. Oiya, ada yang belum terjalani sampai sekarang, yaitu balapan lari (maaf Ya belum kesampaian) hehe...

Bila melihat sampai titik ini, sudah sepatutnya kata syukur mesti terus mengalun dari lisan ataupun batin saya. Begitu kagumnya saya dengan skenario kehidupan yang ALLAH buatkan dan bagaimana pula cara ALLAH membelajarkan saya dengan menghantarkan saya kepada mereka. Subhanallahi walhamdulillah wala illaha illallahu wallahu akbar...

Inilah salah satu ruang pembelajaran yang ALLAH persiapkan untuk saya. Ruang yang sebelumnya pernah saya ogahi dalam hati apalagi lisan. Namun, ternyata dari sanalah ruang-ruang hati saya mulai bertumbuh. Saya belajar bertumbuh dari mereka.

Mereka yang mengajarkan bagaimana menata hati jika sedang kesal. Mereka yang mengajarkan untuk ceria di tengah himpitan rasa. Mereka mengajarkan untuk ikhlas walaupun yang didapat tak melulu berbekas. Mereka banyak mengajarkan berbagai hal kepada saya, walaupun mereka tidak merasakannya. Merekalah sejatinya guru saya, bukan sebaliknya.

Terima kasih Ya ALLAH, terima kasih teman-temanku, terima kasih saudara-saudaraku... Kalianlah salah segerombol orang yang bisa memacu senyum saya untuk terus berkembang. Dan maaf sekali karena saya belum bisa memberikan apa-apa untuk kalian...


Kamis, 10 Juni 2010

Sebenarnya ini nasehat untuk siapa?

Blog walking mungkin bukan istilah yang aneh terdengar di telinga para blogger. Wara-wiri di blog orang lain untuk coba memunguti hikmah yang berserakan, mungkin ini bahasa mudahnya kala mesti mendefinisikan arti blog walking secara bebas. Dan ternyata memang banyak hikmah yang dapat dipungut dari aktivitas blog walking tersebut. Baik hikmah yang ditampilkan secara eksplisit ataupun secara implisit. Bahasa yang ditampilkanpun luar biasa variatifnya, mulai dari yang crunchy sampai yang heavy. Mulai dari yang gampang diolah otak sampai dengan yang ribet diolah otak. Mulai dari yang nyaman di hati sampai dengan yang ngajak berantem. Semuanya tersaji lengkap dengan satu tujuan dan semangat, yaitu menyampaikan kebaikan walaupun hanya secuil kadarnya.

Belum lama ini saya pun melakukan wara-wiri tersebut, tetapi tidak di blog orang lain, melainkan di blog saya sendiri. Saat itu, saya seperti sedang melakukan napak tilas atau perjalanan nostalgia atas hal-hal yang pernah saya tuliskan. Awalnya jari dan mata ini saja yang bermain, sampai akhirnya berujung dengan larutnya saya dalam jalinan kata yang telah sukses saya titipkan di media maya ini. Dan tanpa dinyana-nyana sebelumnya, sejurus kemudian timbul rasa berbeda di hati saya. Suatu rasa yang membuat dada ini agak begah dan air di mata ini sedikit tergenang. Semua itu keluar tanpa dikomando. Secara reflek, semua itu keluar karena rasa malu yang begitu membuncah hingga ke ubun-ubun saya... ya malu... saya teramat sangat malu dengan apa yang telah saya tulis... Malu bukan karena ada kata-kata yang tidak senonoh tertempel di sini, tapi sebaliknya, justru karena begitu banyak kata manis yang berbaris disini. Kata manis yang membuai, kata manis yang mungkin akan mengerucut pada sebuah kesimpulan bahwa "tulisan yang dibuat adalah representasi keadaan dan keimanannya". Ya ALLAH... apakah ini termasuk pembohongan publik?

Kala saya menulis tentang menjaga hati, mungkin saat itu saya malah sedang diporakporandakan akibat asyik bermain dengan hati. Kala saya menyampaikan agar melebarkan perpsektif berpikir, mungkin saat itu saya sedang terjebak dengan pendapat "saya yang benar". Kala saya mengutip kata-kata hikmah, baik dari quran, hadis, atau tokoh... seakan-akan saya sudah menjelma sebagai sosok yang wah, bijaksana, dan seperti sudah mengamalkan apa yang tertulis tersebut. Rasanya "kayak orang bener" saja saya saat itu.

Saya malu... benar-benar malu... Pun saat saya menulisi kata-kata ini, rasa itu belum hilang.  Tetap terpatri di sini, dalam dada ini. Dilema terjadi. Satu sisi saya malu, namun di belahan hati yang lain, ada rasa ingin berbagi. Ingin belajar menyampaikan setetes rasa, setetes informasi, dan setetes katarsis (kadang pula beralih jadi narsis) yang mungkin tak berguna bagi orang kebanyakan (jika tidak mau dibilang tanpa makna sama sekali). . Yaa karena isinya memang hanya kata-kata asal goblek yang terkadang jauh dari makna...

Kembali coba saya susuri hati dan coba saya baca ulang niat yang pernah tertuang, tentang apa sebenarnya yang membuat saya mesti meletakkan batu pertama di dunia maya ini. Biar merasa wah di mata orangkah?, murni ingin patungan kebermanfaatan di dunia mayakah?, sebagai media komplementer pekerjaankah? belajar untuk "menasehati" orangkah? atau hanya sekedar ingin mengobral rasa yang sesak dalam dada? Aaahhh... rasanya saya mesti berusaha keras untuk menjawab semua ini...

Malu... saya benar-benar malu... dan akhirnya rasa yang sedang berkalut ini mengerucut pada sebuah pertanyaan batin: "sebenarnya ini nasehat untuk siapa?" Dan kata yang terjalin berikut ini, murni sebagai nasehat untuk diri saya sendiri...


"Ya ALLAH, jadikan daku lebih baik dari yang mereka sangka. Jangan hukum daku lantaran ucapan mereka dan ampuni daku karena ketidaktahuan mereka"
(Do'a Abu Bakar Shiddiq saat disanjung)

"Alangkah bodoh kamu percaya kepada sangka baik orang kepadamu, padahal engkau tahu betapa diri kamu jauh dari kebaikan itu"
(Syaikh Harits Almuhasibi dan Ibnu Athai'llah)







Jumat, 04 Juni 2010

Ruang Kosong: Sampai Ketemu di Gaza

Saudaraku...
Bila kau longok jiwa kami saat ini, pasti kau kan temukan rona yang nyaris sama di sana. Pucat dan bahkan hampir tak berona.

Saudaraku...
Bila kau sentuh hati kami saat ini, pasti kau kan dapatkan termal yang nyaris sama di sana. Dingin dan mungkin nyaris beku.

Saudaraku...
Bila kau menyambangi hati kami saat ini, pasti kau kan dapatkan pemandangan ruang yang nyaris sama pula. Kosong, tak berisi.

Saudaraku, sebenarnya lebih dari itu yang kami rasakan untuk menggambarkan kehengkanganmu dari sisi kami. Terlalu banyak rasa yang bisa menyodok mata kami untuk mengeluarkan buliran air. Mungkin hal ini yang sempat kami sembunyikan kemarin di hadapanmu. Air mata...

Kami menyuarakan ini bukan karena kami tidak rela kau pergi. Tidak sama sekali. Bahkan kami bangga dan salut karenanya. Sekarang izinkan kami untuk belajar menggambarkan dan memprasastikan keberadaanmu, wahai saudaraku...

Saudarakau, banyak cerita yang sudah kita perjuangkan bersama. Mulai dari "makar" kecil sampai "makar" raksasa. Dan setiap fase yang terlewat itu semakin mengokohkan seperti apa sosokmu. Ikatan ukhuwah islamiyah ini semakin ranum dengan adanya dirimu. Pun bila selama ini ada riak-riak kecil di antara kita, itu murni karena kamus yang kita gunakan dalam mengartikan suatu hal agak berbeda.

Sekarang ruang ini benar-benar kosong untuk waktu yang cukup lama. Kau akan berjihad di belahan bumi ALLAH yang lain. Dan kini kami baru benar-benar merasakan bagaimana keberartian seseorang benar-benar terlihat. Ruang kosong yang ditinggalkan setelah dia pergi. Semakin besar ruang kosong yang tertinggal, akan semakin besar keberartian orang tersebut di sisi. Dan coba kau lihat sekarang, berapa besar ruang kosong yang kau tinggalkan di lubuk hati kami? Sangat besar saudaraku...

Cuma doa yang bisa kami sematkan untuk merendengi jalanmu. Semoga ALLAH selalu melururskan niatmu dan selalu mengokohkan langkah-langkahmu di jalanNYA. Selamat berjihad di belahan bumi ALLAH yang lain saudaraku...

Sampai ketemu di Gaza... ALLAHU AKBAR.


"Pertemuan kita di suatu hari
Menitikkan ukhuwah yang sejati
Bersyukurku ke hadirat Illahi
Di atas jalinan yang suci

Namun kini perpisahan yang terjadi
Dukaan yang menimpa diri
Bersabarlah di atas suratan
Kau tetap pergi jua

Kan kuutuskan salam ingatanku
Dalam do'a kudusku sepanjang waktu
Ya ALLAH bantulah hambamu
Mencari hidayah dari padaMU
Angan didikkan kesabaranku
Ya ALLAH tabahkan hati hambamu
Di atas perpisahan ini
(Teman betapa pilunya hati menghadapi perpisahan ini. Pahit manis perjuangan telah kita rasa bersama. Semoga ALLAH meridhoi persahabatan dan perpisahan ini. Teruskan perjuangan...)

Senyuman yang tersirat di bibirmu
Menjadi ingatan setiap waktu
Tanda kemesraan bersimpul padu
Kenangku di dalam do'amu
Semoga Tuhan berkatimu...."

(doa perpisahan by Brother)



*sumber gambar: hijrahcintaku.blogspot.com

Senin, 15 Maret 2010

Duhai kekasih

Kupandangi lembar ini
Mataku menerawang
Tanpa gambar apa-apa
Kosong
Lalu kucoba ikat makna
Makna yang terulas sebelum akhirnya bermuara di lembar ini

Jibunan dosa memberatiku
Entah sudah berapa tahun dia bersarang
Karena dosa ini sudah busuk dan bau
Ohhhh... sudah lupakah aku tuk bertobat?
Atau memang sudah hilangkah kata tobat dari kamus jajaran hidupku?
Sudah terlalu banyakkah varian sombong yang bertahta di dalamnya?


Duhai Kekasih
Tolong peluk aku
Usaikanlah getaran hati ini
Ku tak mau melemah dan melemas karenanya

Duhai Cinta
Tolong bawa aku berkelana
Usaikanlah kesakitan raga ini
Ku tak mau meresah karenanya

Duhai Sayang
Tolong tunjukkan padaku selurusnya jalan
Usaikanlah kebimbangan jiwa ini
Ku tak mau terombang-ambing karenanya

Duhai KAU kasih, cinta, dan sayangku...


Jumat, 11 Desember 2009

Cuma Satu yang Kuminta

Harus berapa lamakah ku harus berkamuflase?
Kala kumesti sembunyikan galauku direntetan candaku
Kala kumesti selipkan raguku diantara puing sabarku
Kala kumesti susupkan tangisku di rombongan ceriaku
Harus berapa lama???

Siang ini kupandangi langit
Terpampang jelas gumpalan awan sedang menari sambil saling mentransfer kesyahduan rasa
Terus kupandangi sambil kutersenyum diantaranya
Karena dia telah berhasil mengolok kesendirianku
: Getir

Sore ini kutatap hijaunya hamparan daun
Yang bergoyang-goyang manja dirayu sang angin
Masih saja kudibuatnya tersenyum
Karena lagi-lagi kesendirianku berhasil digodanya

Malam ini kusebar arah pandangku... Jauh
Indahnya langit menggandeng bintang
Mereka bercengkarama dan berpelukan mesra membentu rasi... Entah apa
Senyum... Hanya senyum yang bisa kutarik kembali
Karena lagi-lagi kesendirianku berhasil disudutkannya

Mengapa?
Mengapa semua berkonspirasi untuk menggunjingkan kesendirianku?
Mengapa mereka begitu satu suara untuk menggoda kesendirianku?
Ahhh... sebegitu pesakitankah aku???

Kubalik arah
Kususuri air dan kucoba rebahkan dia ditubuhku
Kuhamparkan seulas kain ini
Kusiap tindihi dia dengan berbagai gerakku
Hanya untuk satu tujuan
: bermusyawarah dengan Kekasihku

Di sini ku tak bisa lagi berkamuflase
Di sini ku telanjangi diriku
Kubanjiri pipi ini dengan air kealpaanku
Bahuku bergetar
Tak kuat menahan energi resah yang kian terus memanah

Ya ALLAH malam ini bukanlah kali pertamaku menemuiMu
Bukan kali pertama pula ku menangis untuk ini
Bukan kali pertamaku bergetar untuk masalah ini
Sampai ku malu karena kusering menangis cuma untuk ini
Cuma untuk meminta yang satu ini
: belahan jiwa

Ya ALLAH, untuk masalah ini biarlah Kau yang memilah dan memilihkannya untukku
Dan kulapangkan dada ini untuk menyambutnya
Dan kulebarkan hati ini untuk mencintanya
Dan kusiap saling bergandengan dengannya untuk merengkuh cinta sejatiMu



*memncoba memperpanjang kata dan mengulas makna dari sebuah status di YM. Status siapakah itu??? *

Selasa, 01 Desember 2009

Cacat

Begitu indah jika membayangkan diriku bersamamu
Memadu cinta dan rasa sampai puncaknya
Menganakpinakan sayang sampai klimaks mendera
Mengalunkan lagu nuansa yang kita ramu bersama
Mulai dari titik ini
Titik dimana seutas kata itu terlantun dari bibirmu
Saat tanganmu menyatu dengan tangan waliku

Tapi sebelum itu terlompati
Kukan coba tepis sampai hati ini meringis
Karena
Ku tak mau jadi orang cacat
Ku enggan menjadi orang yang maladaptif cinta
: Orang yang salah dalam merasa dan merasai cinta

Ku kan coba gelar cinta ini seluasnya
Biar dia menggembung, meranum, dan berbuah untuk hal yang semestinya
Kan kurelakan itu semua terpungut oleh seseorang yang dipilihkanNya
Dan kuhadapkan, kulayangkan, dan kulantunkan itu semua padaNya
: Kusiap menanti tuk merasakan keindahan cinta bertahtakan keagungan cinta kepadaNya



*kala membaca status yang berindikasikan prematurisasi cinta

Minggu, 22 November 2009

Sebuah Analog

Pernahkah kau tau apa yang kupikirkan saat termangu?

Saat kuingin berkalut dengan pikiran usang dan baruku

Saat kuingin menyendawakan segala pikiran yang berjejal di sudut-sudut masa

Masa yang tak pernah luput dari mimpi yang mengerucut jadi cita dan akhirnya mewujud setets nuansa

Ah... Semuanya telah mewujud jutaan varian mural di dinding-dinding jiwaku

Pernahkah terbersit di hatimu keinginan untuk mengetahui apa yang tengah lengket di kepalaku?

Jika iya, ku kan menjawabnya dengan sekali hempasan nafas saja

Bila tidak, ku kan coba merasuki hati dan kepalamu hingga kutemukan apa yang tengah lengket di kepalamu

Ku takkan egois untuk hal semacam ini

Ku kan bermusyawarah dengan hatimu untuk bisa memufakati langkah berpikirmu

Ternyata cuma 3 spot yang suka terpampang dalam slide lamunku

Setelah nanti kuujarkan

Mungkin kau akan menyoraki dan lantas mencapku dengan orang yang berpikiran sederhana

Ya, memang begitulah aku

Cara berpikirku memang sederhana

Tapi satu hal yang bisa kau gambar, ku tidak suka melihat hal secara analog

Mengeja, menata, dan menyeka

Hanya sekali nafas dalam penyebutannya bukan???

Namun, bila kau ingin tau lebih dalam tentang ketiga hal tersebut

Kurelakan beberapa kali nafasku terhempas untuk menebalkan itu semua

Dalam diam, kucoba mengeja segala hal yang telah melayang di lingkaran hidupku

Kucoba baca dan maknai hal yang belum tersembul secara nyata

Dengan mengeja, ku coba memahami ujung hingga pangkal dari sebuah cerita

Mengeja cerita untuk meretas makna

Makna yang sejatinya sudah tersangkut di lauhul mahfudz

Dalam kesendirian renung, ku coba menata

Menata langkah yang sudah terkocar-kaciri oleh tarikan berbagai kepentingan

Mencoba menelanjangi diri

Mencoba mengobyektifi rasa

Mencoba mensubyektifi pikir

Semua formula kucoba sampai mendekati seleraNya

Karena sejatinya, Dialah muara segala penataan ini

Dalam kesoliteran raga, kucoba untuk menyeka

Menyeka segala ego kemanusiaanku

Menyeka segala emosi yang telah mengacaukan jarak pandangku dalam menelusuri kilometer hati orang lain

Menyeka segala sangka yang sudah beranak pinak di lembaran hari hidupku

Menyeka segala rasa yang sudah terhipnotis kesemuan warna

Kucoba seka walau ku yakin pasti masih banyak sisa

Namun cuma satu yang membuatku tida berputus asa karenanya

Kuingin sekali merebut cintaNya

Sudah kunarasikan semuanya

Dan memang hanya hal sesederhana itu yang ku punya

Ku bukan orang yang luber ilmu

Tapi jika diizinkan, biarlah kucoba memewahkan itu semua dengan kata: "aku dilahirkan ke dunia bukan sebagai penjaja kepandaian dan pengasong kesombongan"

Walau kata yang tersebut terakhir ini membuatku terpeleset dalam sumur beraroma kesombongan

Ku beringsut dari ruang diam ke ruang gerak

Ku gelar selembar kain di sudut ruang

Ku basah, ku banjir, ku tenggelam di atasnya

Eranganpun keluar saat kutemukan hatiku yang kelam

Jiwaku yang hampir karam

Parauku menyurut

Kesadarankupun tersundut

Ternyata memang belum ada hal yang telah kulakukan hingga cintaNya bisa terpungut

: Allahumma a inni 'alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatika ( Ya ALLAH berikanlah kami kekuatan untuk selalu mengingatMu, mensyukuriMu, dan perbaikilah segala ibadahku kepadaMu)

Jumat, 13 November 2009

Akhirnya Cintakupun Menemukan Tambatannya

Aku memasuki dunia ini tanpa cinta. Benar-benar tanpa cinta, karena memang aku tidak suka. Tak pernah tertuliskan secara nyata di rencana hidup untuk memasuki dunia ini, walaupun kusering menyebutnya. Ku menyebutnyapun bukan karena ketertarikanku padanya, namun lebih karena banyak orang yang bertanya akan kemanakah togaku nanti bermuara. Mungkin aku terlalu sombong. Mungkin pula aku terlalu ego, sehingga ku sering memandang lemah dunia ini. Entah mengapa, sampai saat inipun aku belum bertemu dengan jawabannya.

Aku memasuki dunia ini dengan penuh air mata. Guncangan yang maha dahsyat. Layaknya seekor semut yang diterpa gempa bumi 15 SR. Tidak mati ditempat saja sudah syukur. Hanya bisa diam sejenak sambil mengeja kondisi yang sedang bergerak. Kemudian merangkak setapak demi setapak, sampai akhirnya ku mulai bisa sedikit mendongak dan tegak. Walaupun untuk itu semua terkadang kumasih perlu tonggak.

Aku memasuki dunia ini dengan jiwa yang penuh tremor. Terlalu besar timpukan dari multiarah yang menancap kuat di jiwa mudaku. Aku memang bukan makhluk kesohor yang bisa melenggang secara gratisan di karpet hijau. Akupun bukan pula makhluk berkapasitas besar yang bisa mendorongku masuk secara longgar. Tidak. Aku hanya makhluk lemah yang cuma bermodal memo dariNya. Dan kupikir, tak ada cerita dalam kamus hidupku untuk meletakkan memo selain memo dariNya.

Aku berdiri di depan mereka tanpa rasa. Hanya keterpaksaan. Jadi tambah terpaksa dan sengsara karena pemandatan tak jauh dari waktu tayangnya, sedangkan aku sudah tidak berkawan dengannya sejak lama. Butuh pengenalan instan yang luar biasa. Gagu seketika bukanlah sebuah fenomena yang ragu untuk tercipta. Mungkin saat itu, cuma itulah yang sanggup kutemukan untuk menertawai suasana. Gila. Sempat terpikir untuk berhenti dan bergeser ke dunia yang lain. Jawaban itu terlintas benar dan sudah mewujud menjadi aksi. Beginilah kiranya hasil rembukan antara fisik dan psikisku yang sudah begitu teraniaya. Benar-benar gila... Predator. Kala manusia sudah begitu nikmatnya untuk memakan manusia. Semoga ku tak menjadi salah satu diantaranya.

Waktupun terus berjalan. Senyumku sudah mulai mengembang. Air mataku sudah mulai menyurut. Tremorkupun sudah mulai menipis. Secara perlahan tapi pasti suasana ini sudah bergeser ke kuadran positif. Apa yang membuatnya menjadi demikian??? Mereka... ya mereka... mereka yang duduk berderet di hadapanku. Melalui mereka aku belajar bagaimana berbicara. Dengan mereka aku belajar tersenyum dan bercanda. Dari mereka aku belajar bagaimana mentransfer kasih dan sayang. Lewat mereka aku belajar menempatkan dan mentato diri dengan kebaikan. Berawal dari mereka ku belajar memposisikan makhluk-makhlukNya di belantara hatiku. Semua melalui mereka. Aku telah belajar banyak dari mereka. Merekalah yang secara tidak langsung telah menguatkanku saatku mulai lelah dan rapuh. Merekalah yang secara tidak langsung melecutkan motivasiku saat semangat ini sudah mulai mengendur dan terjepit di antara belatara aktivitas remehku. Ahhh... semua memang karena mereka...

Sekarang kusudah bisa tertawa terbahak, bergandengan, bercerita, dan menyelipkan kegilaan-kegilaan diantaranya. Terlalu banyak cerita berkaitan dengan mereka. Terlalu indah. Disaat suka dan dukaku mereka selalu ada. Dan ku mulai menyukai dunia inipun karena mereka. Kebersamaan bersama merekalah yang selalu memacu rinduku untuk berada disitu...

 

 Mungkin ini sedikit dari sekian banyak cerita yang makin membuat cintaku tertambat di sini...

 

Pas Sakit

"Mba, maaf nih kita cuma bisa bawa ini doang" (Dengan senyuman dan cengiran khasnya dia membawa sebuah chocolatos, sebuah chuba (keripik kentang keju) ke RS pada saat saya dirawat karena tipes). Dan merekalah yang mendorong kursi roda saat saya akan pindah kamar. Merekapun datang silih berganti. Kita bercanda dan tertawa bareng sampai pasien di sebelahpun bingung. Apakah saya benar sedang sakit atau tidak? hehehe

"Mbae, untuk kelas ini biar saya yang bantu handle. Yang penting mba sehat dulu. Pokoknya selama nafas yang masih berhembus ini menggerakkan ukhuwah, slama itu yang bisa ana perbuat. Semoga bermanfaat"... Subhanallah, saya seperti ditonjok palu godam karena belum pernah rasanya saya mengumbar kata-kata seperti ini pada saudara-saudara saya.

"Mbaku sayang... syafakillah ya... semoga cepat sembuh"... Sebelumnya saya sulit untuk mengucap kata sayang, mungkin lingkaran hidup saya terlalu keras untuk mengucap itu dan dari merekalah saya belajar melantunkan kata-kata sejenis itu.

...

 

Pra Kelas

Bercandaan dan nongkrong bareng sering tercipta. Melihat serunya mereka sarapan sambil bercanda/i. Mendekatinya dan ikut bergabung di dalamnya adalah sebuah kenikmatan, apalagi setelahnya dikasih juga... hehehe *ngarep

"Kak, maaf terlambat. Aku terjebak hujan. Kuyup nih, tapi aku masuk kok. Kakak masuk ya" Subhanallah... yang seperti ini yang kadang membuat saya rela menerobos hujan.

"Kak, besok masuk nggak? fansmu dah pada menanti nih... hehehe... ternyata ada yang ngipas angin juga sama saya. Tapi, dengan itulah saya belajar bagaimana mengungkapkan rasa yang terasa melalui struktur kata.

...

 

Pas Kelas

Dodol-dodolan mungkin sering tercipta secara tidak sengaja. Sampai pernah kita makan kerupuk di kelas sambil menyaksikan yang presentasi... ampun dah... bahan buat praktek di makanin juga...

Pernah saya langsung diberikan obat batuk oleh 2 orang di kelas, secara saya lagi batuk berat tapi tetap masuk. Dan akhirnya, kedua obat batuk itu saya minum secara langsung demi untuk menghormati mereka. Memberi secara langsung tanpa pamrih, sayapun belajar dari mereka.

Ini salah satu cerita yang gak pernah akan lupa dari ingatan saya. Gimana cerita dan caranya suara lagi hilang, tapi tetap harus mengisi di kelas. Solusinya adalah instruksi semua ditulis di papan dan kuis... hehehe. Mereka memahami akan hal tersebut dan itupun saya belajar dari mereka.

...

 

Pasca Kelas

Mulai ngobrol, curhat-curhatan, ngerujak bareng, sampai dengan poto2an semua tergelar di sini. Dan paling asoy kalo sambil dipijitin... Uenak nian... besok-besok lagi ye... hihi

 

Pokoknya semua alur yang terlewati semua membekas di sini. Kado secara fisik dan psikis yang telah kalian berikan sejauh ini akan tetap tertanam di sini. Namun akupun menjadi sangsi, bagaimana caranya ku bisa membalas segala kebaikan dan ketulusan hati kalian. Semoga ALLAH membalasnya dengan lipatan kebaikan untuk kalian, itu yang bisa terucap dari bibirku. Terima kasih dan sayang teman-teman untuk semuanya...

 

 

 

*for all civitas academica: I Love You Full

 

 

 

 

 

Sabtu, 31 Oktober 2009

Singgasana Mimpiku

kurobek tabir gelap yang merusak singgasana mimpiku
kutarik semua belukar yang coba menutupi mimpiku
kutampar segala resah yang membuatku gelisah
ku terus berlari... berlari dan terus berlari
karena ku yakin mimpiku takkan terwujud seorang diri
tangan lemahku
kaki gontaiku
kepala retakku
dan hati remangku
kan mencoba menjemputnya
kan kutarik dan kududukkan mimpiku
kan kuletakkan doa diantaranya
Semoga mimpiku kan berbuah dan bernilai indah disisiNya...




*ayo guck, lussy bisa... hehehe *tak jelas, siapa menyemangati siapa ;D* ==> dua langkah lagi menuju profesor... hahaha