

.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}
Setiap peristiwa selalu memiliki lebih dari satu sudut pandang. Baca, resapi, maknai, dan kaupun kan temukan sisi lain yang berbeda....


. Kuedar pandangan nakalku. Coba ganti usiknya, tapi ku gagal. Malah kutemui senja diwajahnya #bulirHujan
Apakah ada nikmat dari menanti?
Ku berdiri menghadang angin
Hanya dengan bermodalkan ingin
Tapi apalah jadi bila yang kudapat hanyalah masuk angin
Kulempar pandangku jauh
Kulihat ornamen hidup tanpa setitikpun sepuh
Rapuh, melusuh, melepuh, akibat sedikit yang terbasuh
Dan kaki ini pun tetap berdiri
Dengan tidak berakomodasi, yang tentu saja bukan karena dikebiri
Karena ku hanya sedang tunggui
Sejumput senja yang kan membawaku kembali ke hadirat Illahi Rabbi
Salam cinta dan sayangpun tertitipkan
Untuk jiwa-jiwa yang sempat kutitipkan angan
Sekarang tinggal kutitipkan kalian kepada Maha Rahmaan
Tempat sejatinya labuhan segala angan
: Selepas ku melesat ke pusaran nisan
sumber gambar: menulis-senja.blogspot.com
Dalam remang cuaca ku berjalan. Coba telusur waktu dengan sedikit kernyitan di dahi. Mengapa?
Kudiam sejenak, coba tuk lihat, dengar, dan rasakan. Adakah potongan peristiwa yang sanggup termamah.
Kenyal, tak sanggup langsung ku menelan. Potongan ini begitu reaktif. Cepat meloncat dari satu sisi ke sisi lain. Padahal belumlah banyak usaha ku tuk mengunyahnya. Mana yang salah? Aku yang merasa sudah berusaha keras ataukah memang potongan ini terlalu kenyal dan besar untuk sekali hap?
Kembali ku berjalan. Tetap dalam remang cuaca. Coba cari padanan peristiwa yang sekiranya otakku mudah mengolahnya. Ternyata banyak. Melolonglah hatiku melihatnya. Bagaimana tidak, bila semakin banyak kutemukan padanannya semakin kenyal dan lebar saja potongannya. Dan lagi-lagi ini baru sebuah potongan, bukan sebuah keutuhan. Bila ini kumuntahkan apakah kan habis perkara? Potongan ini sudah membaui mulutku dan terselip di antara gigi geligiku. Namun tertelan pun susah. Kukeluarkan saja akhirnya tuk sementara waktu. Kutata dan taruh sampai tak ada satu orangpun yang tahu. Mouthwash pun kulirik. Dental floss kutarik. Kembali tertatih dengan hati yang mulai menjadi batik.
Ini semua belum titik. Ku terus berjalan. Mencoba tuk terus gagah tak melemah. Mencoba tak melenguhkan keluh. Mencoba segera menepis peluh yang mulai jatuh dan ku tak ingin karena ini semua jadi gaduh.
Langkahku pun terseret dalam sebuah ruang. Hiruk pikuk, buatku jadi kikuk walaupun tuk sekedar sedikit membungkuk. Bagaimana tidak, di sana ku lihat semua berjalan dengan membusung, duduk dengan membusung, berbicara dengan membusung, dan diampun dengan membusung. Padahal di segarisan matanya, ada varian busung lainnya. Ya, cuma lapar yang bisa mereka busungkan. Dalam bungkuk ku, hatiku pun rusuh. Adakah dalam bungkukku ini tercangkok kebusungan?
Pandanganku kini dihampari banyak kata, tiada rupa. Anehnya, semua kata itu berkoar bagai sebuah repertoar ambruk. Sumbang. Saling menambah kata tuk bisa dipercaya. Menambah tanda baca tuk bisa saling menegaskan. Berebut menambah sejumput data tuk bisa melenggangkan. Entah data darimana yang tercomot? Tak jelas sumbernya. Masih kulihati barisan huruf ini. Semakin kulekat pandangi, semakin terlihat bercerai saja huruf-huruf ini. Tidak lagi harmonis. Apakah ku sedang terkena sindrom tipuan mata? Terus kutarik sampai bawah, anehpun semakin menggilai otakku. Mengapa kontrol x tak berfungsi? Mengapa tuts delete tak ada? Mengapa tuts backspace sirna? Apakah di masa ini semua sudah jadi benar, sehingga tidak perlu ada pencucian terhadap dosa? Pembenarankah jadinya? Ataukah irreversible dipegang sebagai paradigma? Buat apalah disediakan penghapus jikalau apa yang sudah tertuang tak bisa hilang begitu saja. Masih ada bekas. Makin gila saja aku.
Belumlah usai yang menggilai otakku, kini ku lihat ada satu hal yang tidak biasa. Mengapa jari-jari ini melayang terbang dan semakin memanjang. Dan anehnya lagi hanya satu jari yang bekerja di sini. Ahhh, kekuatan satu jaripun berkuasa di sini. Jari-jari itu saling menunjuk, tak peduli apakah yang ditunjuk lebih busuk daripada yang menunjuk. Semua berlomba-lomba menyalurkan hasrat. Hasrat kepongahan. Hasrat ke-elu-an. Akupun dapat jatah tertunjuk? Aku?? Bagaimana bisa?? Hampir saja hasrat itu tertular padaku, tapi entah kenapa saat jari ini ingin terangkat ku sudah dibawa ke tempat dengan nuansa yang lain. Terselamatkan...
Ingin muntah saja aku. Muntah untuk apa? Karena apa? Pastinya muntah dengan kebodohan, ketidakberdayaan, dan kesombonganku. "Ke-gue-an" aku. Semakin malu saja saat kali pertama kutempelkan kakiku di tempat ini.
Tempat ini begitu harum, indah, cerah. Tidak sepi aktifitas. Ada yang lantang bicara. Ada yang rantang langsung bicara. Pahlawan di jalan yang sepi. Ada yang berkoar lewat tulisan. Ada yang berkoar via repertoar. Ada yang menggunakan kepalan untuk menyampaikan. Ada yang mengelus lembut. Di sinipun telunjuk nyaris tak sepi. Riuh. Kulihat dia teracung untuk mengesakan Illahi. Teracung tuk membenahi jiwa-jiwa yang masih terpasung. Terlihat variatif. Hampir pikirku terkabur, bukankah sejatinya kebenaran itu hanya satu?
Dari berdiri, jongkok, dan sekarang sampai ku duduk bersila. Ku masih mencerna semua ini. Bingung. Kesenjangan intelektualku bekerja. Makin membenggang saja otakku. Sampai mataku tidak sengaja melihat suatu hal. Ternyata mereka semua memiliki tangan-tangan semu yang saling terkait. Walau jauh jarak, beda ruang, beda tampilan, beda gaya, dan beda cara. Ternyata tangan mereka terikat oleh dua sumber yang sama. Quran dan Sunnah.
Semakin penasaran saja ku dibuatnya. Rasa penasaranku telah menemukan medium tumbuhnya di tempat itu.
Kembali ku amati. Mereka ternyata seperti membuat lingkaran tak berbatas. Dengannya, mereka mencoba merangkul semampu yang mereka bisa. Mencoba menggandeng yang masih di semesta untuk masuk ke dalam himpunan. Dan lama kelamaan merekapun bergenggaman, kuat, seperti tiada pernah kan terhempas dan terlepas.
Rasanya penasaranku sudah tertunaikan jawab. Ku mulai berdiri, namun baru saja ku setengah berdiri. Posisi ruku'. Kulihat tak semua tangan tergenggam kuat, bahkan bahu pun saling digesekkan. Senyumpun ada yang sempat hilang. Tapi di antara itu semua, satu yang masih membuatnya sama, rujukan yang tergenggam di tangan dan hati mereka. Dan satu lagi yang membuatku semakin melayang decak kagum. Di antara ketidakrekatan dan kegesekan itu, masih ada lagi yang tidak berubah. Ternyata di dalam dada mereka tetap tersemat senyum, kepulan doa, dan grafiran kerinduan. Ternyata hati kecil dari setiap mereka, masih mau dan sanggup tuk menangkup wajah-wajah saudaranya. Kuambruk dan tak sanggup berdiri. Lunglai. Rebah. Tergugu hebat ku membaca semua ini...
Tak terasa air meleleh dari mataku, nafasku tersengal, keringat membanjir, dingin mulai mengibas kaki hingga ubun-ubunku. Lelah sangat ku rasa. Lunglai. Astaghfirullah... Sejurus kemudian mataku menghampiri deretan angka digital penunjuk waktu, 2.30am. Ya ALLAH, ternyata aku bermimpi.
Kuseka paksa air mata ini dengan punggung tanganku. Kuhanyutkan paksa pula sengalan nafas ini dengan seteguk air. Dari kran. Terguncang-guncang kembali bahuku. Ya ALLAH, apakah ini jawaban dari ketidakmampuanku dalam memamah potongan segala peristiwa?
Kuambil potongan peristiwa yang pernah kusimpan. Perlahan kumasukkan kembali ke dalam mulut. Rasa masih sama, namun ada yang beda. Barang lama rasa baru. Kini, potongan ini tak lagi begitu kenyal dan melawan saat dikunyah. Tak terlalu reaktif.
Ku hela nafas akhirnya. Ternyata hanya butuh pemahaman lebih. Menahan ucap, bilapun ingin berucap ku harap tak ada kata yang asal ngecap. Irreversible... Ahhh, kata-kata yang sempat mampir di mimpiku tadi kembali menemukan mediumnya...
------------
*) Selagiku masih bisa berkata: Ampuni segala khilaf yang terpancar dari pikir, kata, dan rasaku. Baik yang kalian ketahui ataupun tidak. Semoga kekhilafanku itu tidak menjadi terus menggulung bagai bola salju dan mengefek domino. Maaf atas khilaf. Maaf...
sumber gambar: jfkoernia.wordpress.com
Banyak yang bilang jodoh itu gak bakal lari kemana-mana. Terus banyak juga yang bilang kalau jodoh itu datangnya gak jauh dari dimana kita "bermain". Ada juga yang bilang, kalau jodoh itu adalah yang mukanya mirip sama kita. Ada juga yang bilang, jangan sekolah tinggi-tinggi ntar susah jodohnya. Ada juga yang bilang, jangan ngejar karir aja, ntar jodohnya bakal takut buat mendekat. Benar begitu gak sih? Yang sudah berpengalaman menemukan jodohnya, cobalah dibagi-bagi di sini. Siapa tahu aja banyak yang menjadi tercerahkan dan bersemangat kembali buat menjemput "impian"nya... 
Jodoh Gak Bakal Lari Kemana-mana
Bener banget nih kalau dibilang jodoh itu gak lari kemana-mana, secara kalau tuh jodoh sampai lari kemana-mana bakalan tambah susah aja buat nemuin plus nangkapnya. Dapetin kagak, ngos-ngosan mah iye... hehehe Atau tuh jodoh emang gak bakal lari kemana-mana karena sang jodoh emang lagi keseleo, jadilah dia nggak bisa lari-lari 
Gak makna ya penjelasannya? tenang sodara-sodara, tadi itu cuma candaan aja kok yang versi seriusnya begini. Pada dasarnya nih, apa yang kita jalanin di dunia ini (apapun itu) sudah tertulis dalam Lauhul Mahfuzh (coba deh cek di Al Quran Surat Al Hadiid ayat 22 dan 23) jauh sebelum kita ada. Dengan demikian, sejatinya apa yang kita alami sekarang sebenarnya merupakan pengejawantahan dari apa yang sudah tertulis tersebut. Baru tahu ini takdir, kalau sudah kejadian. Jadi kalau pengen segera tahu apa yang tertulis di Lauhul Mahfudz, buruan deh buat ngejemputnya, yaitu dengan cara usaha yang maksimal, doa yang optimal, dan berserah diri pada ALLAH secara total. Nah, tinggallah rasakan sensasinya betapa ALLAH begitu cinta dan sayang pada kita, hamba-hambaNYA. Cuma terkadang kita aja yang suka sotoy buat ngerancang, pas gak terwujud langsung deh menyalahkan ALLAH: "Ya ALLAH, apa salah dan dosaku hinggaku begini?" (sok-sokan nanya begini, padahal kalau langsung dikasih tahu jawabannya mah prosentasenya akan lebih besar dari kebaikannya) Dan pertanyaan itu kalau mau dijawab ala anak-anak gaol akan begini kejadiannya: "hellooooooo... ALLAH itu lebih tahu lagi yang terbaik buat hamba-hambaNYA, dan yang terbaik menurut kita itu belum tentu terbaik menurut ALLAH"
Dari itu semua intinya begini, kita gak pernah tahu bahwa itu takdir kalau belum kejadian. Begitu juga dengan jodoh, mau yang dah pacaran sampe 15 tahun, mau pacaran yang baru sedetik, mau yang pacaran sekejap, kalau bukan jodoh ya gak bakalan sampai nikah juga. Jadi gak ada garansi kalau pacaran itu pasti berujung nikah, buktinya ada yang gak pake pacaran tapi malah nikah tuh, langgeng malahan. Dan jodoh itu emang gak lari kemana-mana karena sejatinya sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Yang mesti berlari itu kitanya, dengan cara berusaha secara maksimal (mesti baik dan benar nih), berdoa secara optimal, dan berserah diri pada ALLAH secara total.
Kalau kita dah lari-lari, tapi jodohnya belum kepegang juga gimana? Kalau yang kayak begini, bahasa matematikanya adalah asimptotik. Dah deket tapi gak nyampe-nyampe. Jodoh itu udah ada di dekat kita, berhubung kita belum tahu secara lugas siapanya, jadilah gak kepegang juga. Tapi tenang aja gak usah khawatir dengan hal ini, semuanya pasti akan kepegang. Kalau gak kepegang di dunia, ya kepegang di akhirat 
Main yang Jauuuhhh
Semakin jauh kita mainnya, maka akan semakin luas yang jadi populasi bakal jodoh kita... hehe
Kalau dibahas pake statistika ya bakalan begitu kejadiannya. Tapi jodoh itu gak bisa dikalkulasi secara statistika. Skenario ALLAH itu begitu indah, buktinya kita gak pernah tahu tuh ujung dari cerita kehidupan yang kita jalani ini. Yang kita tahu cuma satu the end atau mati, dan model matinya kayak gimana kita juga gak tahu. Semua tergantung apa yang udah kita kerjain di dunia. Kalau selalu berbuat baik, insyaALLAH berujung baik pula, dan sebaliknya.
Nah sekarang apa kaitannya main yang jauh dengan jodoh kita gak jauh dari tempat kita "bermain"? Meluaskan pertemanan sama aja dengan memperluas jejaring silaturahim. Semakin luas jejaring silaturahim, maka akan semakin memperluas rezeki (nah, jodoh adalah salah satu dari rezeki itu). Semakin rekat jejaring tersebut, maka akan semakin timbul rasa untuk saling berbagi beban. Dampaknya, kita gak akan pernah ingin melihat teman kita galau, tidak terkecuali karena hal yang satu ini. Dengan serta merta, pastilah mereka berusaha untuk berela hati menjadi mak comblang-mak comblang dadakan... hehehe. Jadi bila mau dirunut, jodoh kita emang gak jauh-jauh dari tempat kita "bermain", paling nggak ada pengaitnyalah antara kita dengan jodoh kita.
Terus, kalau udah main yang jauh teteup gak dapat-dapat jodoh gimana? itu mah delon (derita lo sendiri) kaleee... hehe. Nggak ding, balik lagi ke bahasan awal, bahwa skenario ALLAH pasti yang terbaik dan gak ada cerita kalau ALLAH itu ingin menyusahkan hambaNYA. Dan bila kita merasa ALLAH telah menyusahkan kita, pastilah itu muncul karena ulah kesombongan, kebodohan, dan kesotoyan kita dalam membaca skenario yang terjalani. Padahal bila kita mau membacanya lebih seksama dan lebih dekat, pastilah kan tersimpul kata: "tidak ada skenario yang lebih indah dan hebat selain skenario besutan ALLAH". Subhanallahu...
Mirip Apaannya ya??
"Kayaknya lu jodoh deh, abis mirip sih?" -- "mirip apanya dah? mukanya aja beda jauh, warna kulitnya beda, sifatnya beda" -- "hobinya yang mirip, sama-sama demen ditraktir... hehe"
Boleh percaya, boleh nggak. Kalau orang yang berjodoh itu pasti ada kemiripannya (walaupun cuma sama-sama suka ditraktir itu tadi :D), entah itu sikap, sifat, hobi, dll. Tapi sebenarnya hal tersebut didasari ini, setiap orang akan betah untuk masuk ke suatu komunitas karena dia sadar siapa dirinya dan siapa orang di luar dirinya. Semakin dia sadar siapa dirinya, dia akan semakin sadar untuk mencari orang atau komunitas yang "klik" dengan dirinya. Nah, orang yang tidak terlalu paham siapa dirinya akan merasakan yang namanya gagap komunitas. Jadi tidaklah heran jika orang yang baik-baik pasti akan mencari pasangan yang baik-baik juga, dan sebaliknya.
Tapi ada kok ditemukan pasangan yang gak ada mirip-miripnya? -- Hmmm... masasih begitu? coba cek ulang, pasti adalah satu kemiripan atau kesamaannya. Kalau sekarang belum ketemu juga, sabar saja menanti dan biarlah waktu yang kan memunculkan kemiripannya kelak
Toh, interaksi yang intens dapat melebur hal-hal yang berbeda. Memahami perbedaan untuk menebalkan persamaan dalam rangka memuluskan jalan ke surga.
Wuidiiihhhh... mangtabs nian gak tuh bila kemiripan ini dibangun dengan berlandaskan karena cinta pada ALLAH. Subhanallah, surga sebelum surga bukanlah hal yang mustahil terwujud sepertinya.
Sekolah Tinggi-Tinggi, Jodohnya Susah
Setuju gak sama kata-kata itu? Kalau saya mah setuju, mau tahu alasannya? Kalau sekolah tinggi-tinggi jodohnya susah, yaiyalah, secara tuh jodoh kan harus punya keberanian dan tenaga ekstra buat manjat-manjat. Gimana gak jadi nyusahin tuh jodoh coba
Dan akhirnya, banyak yang berpikiran untuk urung sekolah tinggi-tinggi biar gak nyusahin jodohnya. Terus kalau sekolahnya gak tinggi-tinggi, emang jodohnya jadi gampang gitu? Siapa yang berani ngasih garansi untuk ini hayoooo...
Pikiran-pikiran kayak gini nih yang biasanya mampir di kepala perempuan. Takut sekolah karena takut susah jodoh dan parahnya hal ini semakin dipertegas dengan akronim ngasal berikut, PKI (Perempuan Korban Ilmu). Wuidih... serem banget gak sih? kalau serem, tutup mata aja... hehehe. Tidak hanya untuk bersekolah tinggi, bahkan ada juga yang sampe gak mau buat berangkat haji karena takut susah jodohnya. Khawatir para lelaki takut untuk meminang karena kehajjahannya itu.
Kenapa bisa begitu ya? Tanpa disadari sepertinya kita sudah membuat orang lain untuk bersikap seperti itu deh. Kok bisa? Iya. Sekarang begini, disadari atau nggak, kita suka secara serampangan menuduh bahwa orang yang membangun karir dan sekolah tinggi itu pasti hanya memikirkan dunia aja dan gak pernah kepikiran buat menikah, apalagi akhirat. Padahal kita belum pernah ngobrol secara mendalam tuh dengan dia. Kita mengambil kesimpulan tentang mereka, lebih karena berlandaskan pada diri kita sendiri yang sudah disegerakan menikah oleh ALLAH. Dan kita gak pernah coba berusaha lebih tahu, seberapa besar usaha dia, sekuat apa doa mereka, dan keberserahan diri mereka (bisa saja) jauh lebih besar daripada keberserahan diri kita pada ALLAH. Bila kita sudah tahu itu semua, tidak mustahil kita malah menyalutkan sikapnya. Menyalutkan untuk apa? Menyalutkan bahwa ia masih mau bergerak dengan memanfaatkan segala fasilitas yang ALLAH berikan untuknya. Sekarang coba bayangkan apa jadinya jika dia hanya sekedar menunggu tanpa melakukan apa-apa, sekolah gak dapat, jodohpun belum tentu teraih. Karena lagi-lagi kita baru tahu ini merupakan takdir, jika segala sesuatunya itu sudah kejadian. Memanfaatkan sisa usia untuk yang lebih makna...
Sekarang pointnya yang perlu dicermati adalah lebih kepada alasan mengapa dia bersekolah tinggi-tinggi dan masih adakah keinginannya untuk menikah. Jika kedua pertanyaan ini masih terjawab secara baik dan benar, mestinya respons yang akan keluar dari bibir kita adalah seperti ini: "jika tidak mau menerima kelebihan, bagaimana mungkin mau menerima kekurangan?" Dengan catatan, jika sekolah tinggi-tinggi dan sejenisnya dianggap sebagai sebuah kelebihan lho ya. Kalau nggak, ya maap dah... hehe
Jangan Ngejar Karir, tapi Kejar Aja Kadir
Untuk yang point ini, gak beda jauhlah sama yang sekolah tinggi-tinggi itu. Ini juga lahir dari asumsi orang, bahwa kalau udah keenakan cari duit bakalan lupa (bahkan ogah) buat nikah. Nah lho, beneran gini gak sih?
Ayo sama-sama kita cermati bersama, karena terkadang yang terlihat nggak bisa menggambarkan hal yang sesungguhnya. Ada orang yang pergi pagi pulang malam untuk bekerja, ada yang pergi malam pulang pagi hanya untuk banting tulang (tukang daging nih
), ada yang pergi tapi nggak pulang-pulang walau dah 3 kali lebaran (kalau ini bang toyib... hehe). Dan semua mereka lakukan tidak semata-mata hanya membangun karir. Kalaupun terlihat karirnya meroket, itu sesungguhnya adalah efek dari sebuah proses. Tahukah sesungguhnya mereka melakukan itu sebagai salah satu bentuk tanggung jawab mereka kepada keluarga. Lalu di antara itu semua, dengan sotoynya kita langsung bilang "kawin woy kawin... kerja mulu... kiamat dah dekat tuh". Kira-kira apa yang mereka rasakan saat kita berceloteh kayak gitu? (merekapun menjawab, biasa-biasa aja tuh, tetep asyik
)
Kalimat yang di dalam kurung akan menjadi sebuah respons, kala sudah terjadi imunitas dalam diri mereka. Ini kejadian karena mereka sering ditanya dan dicandai dengan hal-hal serupa, lama-lama jadi kebal. Tapi, tahukah kita bila pada titik tertentu pertahanan mereka pecah juga? Tahukah kita, bila di sujud panjangnya mereka malah mendoakan kita? dan mungkin saja salah satu doa merekalah yang membuat kita lebih dahulu bertemu jodoh daripada mereka. Tahukah kita, bila hati mereka teriris karena beban yang sudah ada, malah diperberat dengan celotehan tidak makna kita? Jawabannya pasti tidaklah tahu, karena mereka menuangkan itu semua hanya pada Kekasih Sejatinya. Kekasih yang lebih ingin dia temuinya dibandingkan dengan kekasihnya di dunia. Kekasih yang sudah memberikan cinta dan sayangNYA, hingga membuatnya mampu menapak sampai detik ini.
Lalu sekarang bagaimana kita? Layakkah kita menilai mereka lebih dalam, padahal yang kita tahu hanya permukaannya saja. Alangkah lebih indah dan bijaksananya, bila kita ikut membantu memaksimalkan usahanya, mengoptimalkan doanya, dan mentotalkan keberserahan diriNYA pada ALLAH. Dan pastinya salah satu tugas kita adalah mengingatkan mereka agar tidak pernah berputus asa dari rahmat ALLAH dan tidak pernah tergesa-gesa dalam berdoa. Ya, karena sesungguhnya hanya ALLAH yang Maha Tahu segala kesudahan dan hanya ALLAH yang Paling Tahu apa yang terbaik untuk hamba-hambaNYA. Sesungguhnya hanya karena cinta dan kasih sayang ALLAH sajalah kita bisa berada sampai di titik ini.
---------------------------------
*) Untuk yang sedang menanti cinta, berusaha dan berdoalah, karena ALLAH tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha dan doa hamba-hambaNYA :)
sumber gambar: nur-aqlili-liana-c.blogspot.com
Every now and then 
Membincangi masa lalu bagaikan melihat gambaran hidup dengan efek sephia. Terlihat lama dan usang, namun tetap sedap dan indah tuk dipandang. Cerita yang dahulu terasa pedih menjadi terasa indah saat diputar dalam nuansa nostalgia. Cerita yang dulu sempat membuat air mata mengalir karena getir menjadi cerita yang membuat air mata menyembur lebih karena rasa syukur. Yang akhirnya di setiap ujung etape peristiwa semakin meyakinkan diri betapa Sang Maha Cinta begitu dahsyatnya mendidik hamba-hambaNYA agar dapat bertumbuh.
Di pojok sebuah ruangan kudapati seseorang sedang duduk sambil menelungkupkan wajah di antara kedua belah kakinya. Badannya tampak agak bergetar. Seiring dengan itu, lamat-lamat ku dengar suara rintih yang tertahan. Dengan rasa penasaran yang menghinggapi diri, kucoba untuk mendekatinya. Perlahan ku menghampirinya, merendahkan tubuhku, dan mendaratkan sebelah telapak tanganku di bahunya. "Ada apa?" cuma dua kata ini yang akhirnya berhasil kuserahkan padanya. Hanya sebentar dia menatap wajahku dan kembali ke kegiatannya semula. Cuma sekarang, semakin dalam saja ia menyembunyikan wajahnya dan semakin kuat saja getaran tubuhnya. Bila getar itu diukur dengan seismograf, entah angka berapa yang akan keluar, yang jelas getaran itu sudah mampu menggetarkan hatiku, walau ku belum mengenalnya.
*
Saudaraku...
*
Pernahkah kau tau apa yang kupikirkan saat termangu?
Saat kuingin berkalut dengan pikiran usang dan baruku
Saat kuingin menyendawakan segala pikiran yang berjejal di sudut-sudut masa
Masa yang tak pernah luput dari mimpi yang mengerucut jadi cita dan akhirnya mewujud setets nuansa
Ah... Semuanya telah mewujud jutaan varian mural di dinding-dinding jiwaku
Pernahkah terbersit di hatimu keinginan untuk mengetahui apa yang tengah lengket di kepalaku?
Jika iya, ku kan menjawabnya dengan sekali hempasan nafas saja
Bila tidak, ku kan coba merasuki hati dan kepalamu hingga kutemukan apa yang tengah lengket di kepalamu
Ku takkan egois untuk hal semacam ini
Ku kan bermusyawarah dengan hatimu untuk bisa memufakati langkah berpikirmu
Ternyata cuma 3 spot yang suka terpampang dalam slide lamunku
Setelah nanti kuujarkan
Mungkin kau akan menyoraki dan lantas mencapku dengan orang yang berpikiran sederhana
Ya, memang begitulah aku
Cara berpikirku memang sederhana
Tapi satu hal yang bisa kau gambar, ku tidak suka melihat hal secara analog
Mengeja, menata, dan menyeka
Hanya sekali nafas dalam penyebutannya bukan???
Namun, bila kau ingin tau lebih dalam tentang ketiga hal tersebut
Kurelakan beberapa kali nafasku terhempas untuk menebalkan itu semua
Dalam diam, kucoba mengeja segala hal yang telah melayang di lingkaran hidupku
Kucoba baca dan maknai hal yang belum tersembul secara nyata
Dengan mengeja, ku coba memahami ujung hingga pangkal dari sebuah cerita
Mengeja cerita untuk meretas makna
Makna yang sejatinya sudah tersangkut di lauhul mahfudz
Dalam kesendirian renung, ku coba menata
Menata langkah yang sudah terkocar-kaciri oleh tarikan berbagai kepentingan
Mencoba menelanjangi diri
Mencoba mengobyektifi rasa
Mencoba mensubyektifi pikir
Semua formula kucoba sampai mendekati seleraNya
Karena sejatinya, Dialah muara segala penataan ini
Dalam kesoliteran raga, kucoba untuk menyeka
Menyeka segala ego kemanusiaanku
Menyeka segala emosi yang telah mengacaukan jarak pandangku dalam menelusuri kilometer hati orang lain
Menyeka segala sangka yang sudah beranak pinak di lembaran hari hidupku
Menyeka segala rasa yang sudah terhipnotis kesemuan warna
Kucoba seka walau ku yakin pasti masih banyak sisa
Namun cuma satu yang membuatku tida berputus asa karenanya
Kuingin sekali merebut cintaNya
Sudah kunarasikan semuanya
Dan memang hanya hal sesederhana itu yang ku punya
Ku bukan orang yang luber ilmu
Tapi jika diizinkan, biarlah kucoba memewahkan itu semua dengan kata: "aku dilahirkan ke dunia bukan sebagai penjaja kepandaian dan pengasong kesombongan"
Walau kata yang tersebut terakhir ini membuatku terpeleset dalam sumur beraroma kesombongan
Ku beringsut dari ruang diam ke ruang gerak
Ku gelar selembar kain di sudut ruang
Ku basah, ku banjir, ku tenggelam di atasnya
Eranganpun keluar saat kutemukan hatiku yang kelam
Jiwaku yang hampir karam
Parauku menyurut
Kesadarankupun tersundut
Ternyata memang belum ada hal yang telah kulakukan hingga cintaNya bisa terpungut
: Allahumma a inni 'alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatika ( Ya ALLAH berikanlah kami kekuatan untuk selalu mengingatMu, mensyukuriMu, dan perbaikilah segala ibadahku kepadaMu)
Pas Sakit
Pra Kelas
*for all civitas academica: I Love You Full 