Selasa, 04 November 2008

Motto Saya Lagi-Lagi Diuji.... Ini Jarang Sekali Terjadi !!!

Makan di tempat gelap, mungkin dah pernah denger karena ada restonya [kalo gak salah] di Bandung. Muhasabah atau merenung di tempat kegelapan dah lumrah kayaknya. Tapi cuap-cuap atau "ngisi" di tempat gelap pernah gak kepikiran ???

Kalau pertanyaan itu dilontarkan ke saya, pasti akan saya jawab gak sama sekali dan gak kepengen hal itu terjadi. Kenapa bisa begitu ? Karena gelap adalah salah satu mimpi buruk bagi saya yang suka vertigo-an.

Tapi apa mau dikata bila yang diangankan tak terwujud jadi kenyataan. Nikmati dan bawa asyik aja [motto saya nih] adalah hal terindah untuk meredam galau yang ada. Mencoba memutar mindset, sehingga kepahitan dapat dinilai sebagai romansa kehidupan, bukan sebagai cobaan ataupun ujian pemberat langkah.

Dan motto saya itu lagi-lagi diuji. Apakah saya masih bisa menikmati dan bisa asyik-asyik saja saat dibenturkan kepada sebuah kondisi yang benar-benar membuat kepala saya tidak nyaman. Akibat banyaknya pikiran yang berkeliaran di kepala : bagaimana cara menyurutkan reaksi diri, bagaimana memulai kembali aksi, dan mampukah menekan "rasa" yang bergelayut di kepala ?

Cilember 31 Oktober 2008, 8.30an malam rasanya tidak akan pernah saya lupakan dari memori saya, karena sayang banget untuk dilupakan. Gimana nggak sayang, kalau di tempat, tanggal, dan waktu itu kali pertama saya dihadapkan dengan kondisi semacam itu.


Ini Jarang Sekali Terjadi Sodara-Sodara... !!!


Ceritanya pada tanggal 31 Oktober 2008 - 2 November 2008 teman-teman Psikologi Pendidikan mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Jurusan [PKMJ] di Cilember dan ceritanya [lagi] saya kebagian ngisi disalah satu sesinya. Kami kesana bertronton ria dari kampus, jalan sekitar 13.30-an dan nyampe sana sekitar 16.00an. Dibantu jalan segala nih [sekitar 20 menitan], karena tronton gak bisa masuk ke lokasi. Semua dilalui dengan bercanda-candi, berpoto-poto ria, sampai dengan ngobrol-ngobrol gak jelas ujung pangkalnya . Bisa dikatakan sejauh itu nggak ada yang bisa dijadikan sebagai sebuah batu sandungan pengubah mood. Pokoknya gila-gilaan bersama teman-teman deh [pinjam lirik lagunya The Changcuters]. Sampai tiba giliran saya manggung...


Gak ada firasat atau apalah namanya yang berkembang di diri saya sebelum hal ini terjadi. Semua biasa-biasa saja. Moderator membacakan CV, lancar. Dan selanjutnya dialihkan ke saya. Berjalan pelan... senyum... mengucap salam... semua gak ada halangan yang berarti. Tibalah waktunya untuk mencoba meng"hancurkan es". Baru setengah jalan kalimat terucap, tiba-tiba... teppp... mati listrik sodara-sodara. Sontak saya langsung bilang ke moderator "aduh... saya gak bisa kena gelap nih", setelahnya lewat pancaran sinar dari hape wajah saya tersinari. "Gimana nih bu" -- "kita tunggu dulu aja ya"...

Ditunggu-tunggu listrik gak nyala-nyala juga dan di luar hujan lebat. Suasana saat itu benar-benar gak bisa diajak kompromi. Tadinya mau tetap bertahan menunggu listrik menyala, tapi kami tidak dapat garansi kapan listrik nyala, sedangkan agenda masih banyak. Akhirnya dengan kenekadan plus doa dalam hati, saya iyakan untuk melanjutkan "ngisi" dalam kegelapan, asal ada toa dan senter pastinya.

Satu yang membuat saya kuat untuk mencoba melanjutkan [walau kepala dah mulai terasa nyut-nyutan], yaitu perkataan Katrin sang moderator. Beliau mengingatkan kalimat yang pernah saya lontarkan di kelas "Media bukan tujuan, tapi media adalah sarana untuk mempercepat mencapai tujuan". Dalam kegelapan saya menjawab "wah, kualat gak sih saya... hehehe"

Sudah bisa diduga, akhirnya saya menyelesaikan perjuangan itu hanya dengan bermodalkan toa dan senter. Lupakan slide yang udah saya rancang dengan pernik lagu, film, dan gambar di dalamnya. Lupakan skenario yang hinggap sebelumnya. Lupakan skenario dalam keadaan normal [abisnya emang dah lupa sih ]. Yang kepikiran saat itu cuma gimana caranya menyampaikan, tapi yang diajak tek-tok nggak tidur. Karena hujan dan gelapkan pasangan serasi yang bisa mempercepat tertutupnya mata.  Jadilah nyanyi-nyanyi, ngerjain anak orang dalam gelap, plus ngider-ngider [sekalian buat mastiin, gak ada mata yang secara suka rela terpejam]. Kegelapan ini terus berlanjut sampai saya selesai dan baru kembali nyala sekitar 23.00an.

Saya pulang pagi itu juga [jam 1.30an lah], dijemput Mas Uguck, Mba Yuli, dan Pak Dani [temannya mamas]. Bela-belain pulang jam segitu karena, sekitar jam 10 saya ada acara lagi. Jadilah pagi-pagi buta kami cabut dari Cilember menuju Jakarta.

Oiya, berhubung cuaca dingin, akhirnya sebelum nyampe rumah, kami nyangkut dulu ke Bakso Kota Cak Man di Cawang [karena tuh tempat buka 24 jam]. Uenak tenan dan mantabs abis deh pokoknya....  bakso dan es teler memang paduan yang sempurna untuk mengisi perut. Setelah ngisi bensin di Cak Man, kami lanjutkan untuk meluncur ke rumah. Dan semua aktivitas seharian itu berhasil ditutup dengan happy ending, yaitu tidur berjama'ah... hehehe


Pesan moral yang bisa saya tarik dari peristiwa ini adalah :

Walau habis terang, walau kenyataan tak seindah angan, dan mimpi tak lagi seindah realitas, bukan berarti menjadikan kita sah untuk mengkambinghitamkan kondisi. Toh, yang terbaik belum tentu yang terindah bukan ??? Justru di titik inilah kedewasaan kita dipacu untuk dapat mewarnai dan memaknai "ketidakberesan" hidup menjadi keindahan. Dan sayang rasanya bila kita melalui peristiwa tanpa mau memunguti makna serta hikmah yang berceceran di sekitarnya.

Badai tidak akan pernah berlalu, bila kita asyik memikirkan kenapa badai bisa datang menerpa. Tetapi badai pasti berlalu, bila kita mau berperang buat melaluinya. Walaupun kita harus compang-camping, berdarah-darah, atau pingsan terlebih dahulu, tapi kita bisa keluar sebagai pemenang... misalnya kalahpun, paling nggak kita dah mempunyai jiwa ksatria dan bermental juara buat melawannya...



Thanks to :
  1. Uya yang telah setia menyoroti saya dengan lampu hapenya sampai senter datang,
  2. Katrin buat motivasi dan pengingatnya biar saya bisa lanjut, dan
  3. Teman-teman PP yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu di sini

6 komentar:

  1. ketergantungan manusia dgn teknologi sudah hampir 100% ya mbak, namun diatas semua itu ada yang Maha Kuasa yaitu Alloh SWT.

    kebayang gak sih jika suatu saat seluruh teknologi yang ada di muka bumi ini musnah dan manusia harus kembali ke jaman tradisional?

    Thanks for sharing :)

    BalasHapus
  2. iya mas setuju banget... yang kebayang dipikiran saya sekarang adalah, pasti banyak yang kalang kabut... akibat dah keenakan dan dimanja teknologi...

    Thanks for reading and commenting... hehehe

    BalasHapus
  3. Orang-orang dulu malah lebih kuat-kuat ya, kayak di film 300.

    para Ulama dulu juga gak pakai teknologi tetapi hasil karya mereka berguna utk ummat dan manusia pada umumnya. makanya, jgn sampai kita yang difasilitasi dan didukung teknologi kalah sama mereka.

    *soktahu.com*

    BalasHapus
  4. hehehe... mental juara anak2 yang lahir di dunia teknologi [kayaknya] masih kalah dengan mental juara anak2 yang lahir di dunia lampu petromak... ;D

    BalasHapus
  5. kalau begitu yang lebih beruntung orang jaman dulu atau jaman sekarang mbak?

    BalasHapus
  6. disini gak ada untung dan rugi mas, karena ini bukan taruhan... hehehe

    pastinya gak ada jaman sekarang kalau gak ada jaman dulu, karena parameter jaman sekarang kan ya jaman dulu itu, dan sebaliknya... hihihi

    BalasHapus

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas