Senin, 26 Oktober 2009

Nenek Manis dalam M21

"Minum bu" -- "terima kasih neng" 

Sebuah kata singkat yang berhasil saya luncurkan dalam rangka menawari seorang ibu paruh baya yang duduk tak jauh dari tempat saya berada. Setelahnya tak ada pembicaraan lanjutan yang merangkainya. Akhirnya, kamipun asyik dengan urusan kami masing-masing. Saya asyik memberi makan hape cdma saya dengan voucher yang baru saja dibeli sebelum naik kendaraan tadi. Lalu apa yang dilakukan ibu tadi? Saya tidak tahu pasti, yang terlihat dari ekor mata saya beliau sedang memegang tasnya. Sampai akhirnya ibu paruh baya tersebut membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan.

"Neng, tadi ibu dapat surat dari BNI coba tolong dilihat. Kayaknya alamat saya kok tidak seperti ini ya. Apa salah?" (sambil menunjukkan surat BNI yang beliau keluarkan dari tasnya)

(bergeser saya mendekati beliau. kebetulan penumpang yang ada di mikrolet itu hanya bertiga. Ibu paruh baya itu, seorang wanita pekerja (sepertinya), dan saya sendiri) "Oh, ini kode dari banknya bu. Kalau alamat ibu yang ini (sambil saya menunjuk ke kertas tersebut)"

"Ogtu ya. Maaf neng. Abis ibu lagi pusing di sini ini (sambil menunjuk keningnya)"

"Pusingnya gimana bu? pusingnya cuma sebelah gitu rasanya?"

"iya, makanya buat ngeliat jadi gimana gitu"

"Ooo. Itu biasanya sih migrain bu namanya. Memang ibu darimana? dari senam ya bu?"

"iya, dari gatot subroto"

Hening sejenak. Saya perhatikan ibu itu mengaduk-aduk isi tasnya kembali, seperti mencari sesuatu.

"Aduh, PINnya dimana ya? kok nggak ada" (sambil mengeluarkan kertas-kertas dan amplop yang ada di tasnya)

(kemudian saya dekati beliau kembali) "ini dia bu. Nomor PINnya ada di sini (saya menyingkap kertas yang biasa buat meletakkkan PIN sambil menunjuk ke nomernya). Bu, buka amplop-amplopnya nanti di rumah aja khawatir nanti surat-suratnya tertinggal di mikrolet"

"iya"

Keadaan hening kembali, ibu itu kemudian merapikan kertas yang sudah dikeluarkan untuk dimasukkan kembali ke dalam tasnya. Ibu itupun berbicara kembali.

"Neng, kerja dimana?" -- "*** bu" -- "ooo"

Tak seberapa lama dari beliau mengatakan itu, beliau meminta sopir untuk memberhentikan laju mikrolet. "Stop bang, dua ya sama neng itu" beliaupun langsung ngeloyor turun.

Dan bodohnya saya masih belum tersadar, sampai beliau turun. Kaget aja, saya tidak kenal siapa beliau, tapi beliau membayarkan saya ongkos mikrolet.

(akhirnya dari dalam mikrolet dengan setengah teriak saya berkata) "ibu makasih banyak ya. Aduh kok jadi dibayarin. Makasih bu"

Beliaupun menyunggingkan senyum dan senyum manispun berbalas dari bibir saya untuknya. Dan cuma doa terkulum saja yang pantas untuk membalas segala kebaikan beliau...

-----------------------------------------

Bermimpi, berkhayal, atau apalah namanya tidak sempat terparkir di kepala saya untuk hal yang satu ini, di hari ini. Tak pernah pula saya coba menjejalkan kepala saya dengan harapan-harapan seperti itu, walau dalam kondisi dompet sedang sepi penghuni sekalipun.  

Hari ini, ALLAH telah mengetuk hati saya secara manis. Betapa Maha Luas rezekiNya dan ia bisa datang dari pintu-pintu yang tidak kita duga sebelumnya. Satu hal lagi, saya mesti banyak belajar bagaimana cara memberi tanpa harus bersyarat. Dan pastinya, secuil apapun yang kita beri ke orang lain akan bermakna sebaliknya bagi orang yang kita beri.

Subhanallah... fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzi dzibaan ... 

4 komentar:


  1. itu nenek kelakuannyeh kayak ane tuh ... ( pamer mode on )
    ane kan bawa motor, pokoknyeh, kalo ade ibu2 berjilbab, ane bonceng deh ..
    malahan, ade yang mau kasih duit,... ee ... mang ane ojeg .. he hee ......

    BalasHapus
  2. subhanallah... baik nian mba kita yang satu ini... Kalo naek motor lewat mana mba? lumayan kan tuh saya bisa nebeng *ngarep... hehe

    BalasHapus

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas