Senin, 04 Oktober 2010

Selalu Ada Hikmah Di balik Cerita

Di pojok sebuah ruangan kudapati seseorang sedang duduk sambil menelungkupkan wajah di antara kedua belah kakinya. Badannya tampak agak bergetar. Seiring dengan itu, lamat-lamat ku dengar suara rintih yang tertahan. Dengan rasa penasaran yang menghinggapi diri, kucoba untuk mendekatinya. Perlahan ku menghampirinya, merendahkan tubuhku, dan mendaratkan sebelah telapak tanganku di bahunya. "Ada apa?" cuma dua kata ini yang akhirnya berhasil kuserahkan padanya. Hanya sebentar dia menatap wajahku dan kembali ke kegiatannya semula. Cuma sekarang, semakin dalam saja ia menyembunyikan wajahnya dan semakin kuat saja getaran tubuhnya. Bila getar itu diukur dengan seismograf, entah angka berapa yang akan keluar, yang jelas getaran itu sudah mampu menggetarkan hatiku, walau ku belum mengenalnya.

Cukup lama kami mendiami pojok ruang itu. Hanya diam. Tak kutambahkan kata-kataku, hanya dua kata di muka. Ku hanya duduk merendenginya sambil mengusap-usap bahunya. Kuangsurkan tissue yang ada.  Kubiarkan dia hempaskan pedihnya. Kubiarkan dia membersihkan galaunya, seiring keluarnya derai air dari matanya. Kucoba merasakan apa gerangan yang membuatnya demikian. Dan kucoba setia menemaninya hingga akhirnya semua keterdiaman itu terlunasi dengan dia letakan lingkaran tangannya di tubuhku. "Mba...."

Tidak ada kata yang kutambahkan, kuhanya menganggukkan kepala sambil mengedipkan mata sebagai tanda bahwa aku bersiap menjadi tong sampahnya. Tanpa kukomandoi, beberapa menit selanjutnya mengalirlah cerita yang membuatnya terpojok seperti itu. Kami berhadapan. Kupegang tangannya seraya dia bercerita. Kuhanya menggangguk dan mengedipkan mata saja. Terlalu minimalis memang. Namun bagiku, itulah respons paling tepat yang harus kuberikan padanya saat itu. Setengah jam berlalu. Dia bercerita mulai dari suara dengan getaran hebat, terisak, sampai dengan hilang sama sekali. Hanya meninggalkan suara parau, serta bengkak dan merah di kelopak dan matanya.

Setelah agak mereda, kuberanikan diri untuk menambahkan kata untuknya "kamu muslim? kita ke masjid yuk. Kita shalat bareng di sana. Kita ngadu sama ALLAH..." Diapun mengangguk tanda setuju. Kubantu tubuh lemasnya tuk berdiri. Kurangkul bahunya selama perjalanan ke masjid. Sebelum masuk ke dalam masjid kamipun berwudhu untuk menghilangkan segala hadas yang masih melekat. Kamipun shalat berjama'ah.

Secara perlahan namun pasti, sejuk mulai mendera jiwaku dan (mungkin) juga jiwanya. Itu terasakan setelah cukup lama jiwa kami ngelangut dalam doa yang panjang. Doa yang membuat bahu dan hati kami tergetar. Doa yang membuat mata dan hati kami basah. Doa yang membuat kami semakin yakin bahwa kami adalah hambaNYA yang lemah. Dan semakin menyadarkan kami bahwa sesungguhnya doa adalah bukti penghambaan kami padaNYA, dan bilapun terkabulkan itu adalah bonus dari rahman dan rahimNYA.

Cukup lama kami mendiami masjid. Masih ada cerita di sana. Lagi-lagi akupun hanya melebarkan telinga dan membuka ruang hati untuk menangkup segala ceritanya. Di pojok hati ini, ada kata yang terselip di sana "Ya ALLAH, sesungguhnya KAU menguji kami tidak lain adalah agar kami semakin "dewasa" sebagai hambaMU. Agar kami tidak menjadi hamba yang bisanya hanya menuntutMU. Hamba yang bisanya hanya menghujatMU. Hamba yang hanya mampu melihat doa yang tidak KAU kabulkan sesuai inginku. Hamba yang terlalu sombong dengan sering mengatakan "ini adalah hasil jerih payahku" di setiap ujung hasil kerja. Hamba yang terlalu sering mengobral air mata untuk hal-hal yang tidak semestinya..."

Kamipun keluar masjid berjalan sampai di suatu tempat dimana kami mesti berpisah. Kulihat mendung di wajahnya sudah agak tersurutkan. Mulai ada mentari yang mencorong di sana. Kamipun berpelukan. Lama. Erat. Saat pelukan itu merenggang, semakin kulihat senyum lebar yang mengulas di wajahnya dan perlahan diapun mengeja kata "terima kasih mba..." Kembali cuma anggukan dan kedipan mata yang bisa kuberikan padanya, tanpa kata-kata. Sebab, kutak ingin suara yang keluar adalah getar tertahan hasil dari hatiku yang tergenang basah. Kulirik hatiku saat ada sebuah kibaran kata besar yang berhasil tersingkap di sana "subhanallah... begitu banyak cara yang ALLAH berikan untuk mendidik hamba-hambaNYA... sentuhan indah dalam kotak skenario hidupku... ALLAHU AKBAR..."



---------------------
Jangan pernah menangisi segala kegetiran yang terjadi, sesungguhnya itulah cara ALLAH untuk menyentuh hati-hati kita. Seberat apapun ujian yang mendera pasti dapat terlewati dan tersenyumlah dalam syukur saat kita sudah berhasil melewatinya. Masalah ada untuk diselesaikan, bukan untuk diratapi, ditangisi, ataupun dibenci. Menikmati setiap penggal cerita kehidupan dengan berbagai aroma yang mengiringinya adalah sebuah kebijkasanaan. Menggulirkan usaha dan mengembangbiakan doa adalah sebuah kekuatan. Menyerahkan dan hanya berharap pada ALLAH adalah sebuah keharusan. Saksikanlah betapa nikmat dan indahnya hidup ini. Jangan pernah berniat untuk mengakhiri karena tanpa dimintapun itu akan terjadi. Cepat atau lambat...



sumber gambar: kaskus.us

14 komentar:

  1. nice....yups...hanya bisa ingat dan ingat semuanya karena Allah

    BalasHapus
  2. semua bermula dan berujung karena ALLAH...

    BalasHapus
  3. irisan kisah yang diperhalus begitu lebih tepatnya... :)
    makasih sangat ya

    BalasHapus
  4. asal jangan sampai overdosis dan kontraindikasi aja dalam pengkonsumsiannya :)

    BalasHapus
  5. wehee iyap betul sekali mbak. bisa bengkak2 matanya. bisa depresif juga ya.
    sfs ^^b

    BalasHapus
  6. bentooollll sekali, dua kali, tiga sungai, empat danau... :)

    sfr ya des :)

    *perasaan waktu itu dah janjian gak pake mba2an deh ya :D*

    BalasHapus
  7. hihi.. lima laut dah.

    *ho iya ya Lus. lupa2maap. kebiasaan soalny.

    BalasHapus
  8. :D

    seps dah... kalo kebiasaan soalnya gitu, terus kebiasaan jawabannya gimana? hehe

    BalasHapus
  9. apa aja boleeeee.... pokoknya yang rasanya enak dan gak bikin eneg gitu deh :D

    BalasHapus

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas