Selasa, 23 November 2010

Cerita dalam Rona Sephia

Membincangi masa lalu bagaikan melihat gambaran hidup dengan efek sephia. Terlihat lama dan usang, namun tetap sedap dan indah tuk dipandang. Cerita yang dahulu terasa pedih menjadi terasa indah saat diputar dalam nuansa nostalgia. Cerita yang dulu sempat membuat air mata mengalir karena getir menjadi cerita yang membuat air mata menyembur lebih karena rasa syukur. Yang akhirnya di setiap ujung etape peristiwa semakin meyakinkan diri betapa Sang Maha Cinta begitu dahsyatnya mendidik hamba-hambaNYA agar dapat bertumbuh.

Setiap orang memiliki cerita yang tak persis sama meskipun mereka berada dalam lingkaran tahun yang sama. Ada ceruk beda yang merupakan residu dari sebuah perjalanan hidup. Ceruk yang terpampang dalam guratan wajah, ketidakhalusan tangan, ataupun grafiti-grafiti laten yang tersimpan di hati. Dan tanpa disadari, akhirnya mural-mural yang sudah tertoreh tersebut sedikit banyaknya mempengaruhi seseorang dalam memaknai hidup yang akan dia titi selanjutnya.

Begitupun dengan saya, tidak sedikit kisah yang sudah saya tato di kehidupan ini. 31 tahun rasanya bukanlah waktu yang singkat bagi seorang manusia untuk melenggang di dunia ini dan bukan waktu yang sebentar pula untuk dapat mengenyam menu-menu kehidupan. Mulai dari asam, manis, hambar, bahkan pahit sekalipun sudah pernah dirasakan. Mulai dari peristiwa yang memiliki daya ledak rendah sampai dengan yang tinggi sudah pernah dicicipi. Sampai akhirnya tersketsalah sebuah kata-kata: semua hal kan menjadi indah dan nyaman terasa kala dibalut dengan sebuah rasa syukur dan sabar, toh keluhan hanya menimbulkan kelelahan, layaknya menggali lubang kematian secara perlahan.

Tidak banyak yang percaya bahwa saya berasal dari keluarga yang minim secara finansial. Mungkin fakta itu terblurkan dengan pembawaan dan gaya saya yang cenderung santai tanpa beban. Ditambah lagi dengan ujaran-ujaran kecil saya "jangan kayak orang susah kenapa sih", yang semakin memperkuat asumsi mereka bahwa saya terlahir dari orang yang berlebih secara finansial. Barulah mereka percaya, kala mereka terus menyelidik tanya dari jawab yang terkembang.

Bukanlah perkara mudah bagi saya untuk bersekolah. Penuh perjuangan ekstra mulai dari dahulu hingga kini. Bila mau dirata-ratakan modal saya untuk sekolah dari dulu hingga sekarang adalah nekad plus "belas kasihan" orang, selain tentu saja karena kemurahan ALLAH. Saya merasakan bagaimana harus mendatangi rumah seseorang ataupun menunggu di pelataran masjid untuk bertemu seseorang yang berminat menukar nilai dalam rapot saya dengan bayaran untuk sekolah. Bagaimana saya mesti mengeluarkan air mata yang deras kala disuguhkan kata-kata sarkas saat mesti mengambil dana untuk sekolah tersebut. Bagaimana saya mesti merelakan kaki saya berjalan menyusuri kampus - rumah, pergi pulang. Bagaimana saya mesti meniti jalan tanpa berkendara apapun, mulai dari Senen hingga Kota hanya untuk mengais beasiswa. Bagaimana tidak tahunya saya dengan menu-menu yang disediakan di kantin. Bagaimana saya tidak mengenal les-les penggenap kompetensi yang betebaran dimana-mana. Yang lebih saya tahu adalah bagaimana caranya memutar uang 20 ribu rupiah agar hidupnya jadi lebih panjang dalam era krismon saat itu.

Idealis yang realistis, akhirnya itu yang menggurat pikiran saya. Dan itu tampak jelas pengejawantahannya saat saya memutuskan tempat untuk kuliah. Saya harus memilih universitas yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Jadi persetan dengan jurusan yang saya sukai, toh manusia bisa beradaptasi pikir saya. Dengan bermodalkan uang yang saya punya, yang hanya cukup untuk membeli formulir, saya beranikan mendaftar UMPTN. Alhamdulillah ALLAH mengabulkan dan melancarkan semuanya dengan diterimanya saya disebuah PTN dengan kriteria yang saya sebutkan sebelumnya. Namun, masalahpun kembali menghinggapi kala pengumuman diterima karena kami tidak punya uang sepeserpun untuk bayar biaya masuknya, yang pada jaman itu senilai 500 ribu rupiah. Dan kondisi inipun berulang pada kuliah-kuliah selanjutnya, walaupun tidak persis sama

Untuk bisa berkuliah setinggi mungkin memang sudah saya ingini dan rencanai dalam hati saat saya masih bersekolah, hanya berawalkan satu alasan pendidikan adalah salah satu cara untuk mengubah kehidupan kami. Dan kadang terkait hal ini pulalah banyak timbul pertanyaan dari berbagai kalangan, mulai dari anggapan yang mengesankan hanya mengejar dunia, apa yang sebenarnya mau dicari dari semua ini, ataupun respons tidak suka lainnya. Terkadang timbul sedih dan perih di hati, tapi biarlah toh setiap orang bebas beropini. Akhirnya saya anggap semua ini sebagai romantika pemanis perjuangan. Biarlah ALLAH saja yang tahu apa yang sesungguhnya tersembunyi di balik dinding niat ini.

Saat kami berdiri di posisi sekarang ini, sungguh tiada pernah diangankan. Seorang yang dulu mesti "mengiba" bayaran sekolah bisa sampai merasakan bangku kuliah dan seorang penjaja koran akhirnya mendapat anugerah ALLAH untuk bisa berangkat ke Tanah Suci. Subhanallah... maka nikmat Rabbmu manakah yang dapat terdustakan?

Terakhir, tiada surut kata alhamdulillah mesti terlontar dari mulut saya karena sudah ditempatkan ALLAH dengan orang-orang yang kuat dan pantang menyerah. Orang-orang yang selalu mengingatkan bahwa semua harus dilakukan karena ALLAH. Orang-orang yang selalu mengingatkan agar rajin bekerja, agar lebih banyak dapat beramal dari uang yang ada, dan masih banyak lagi yang lain. Dialah ibu dan kakak saya. Orang-orang hebat yang mengajarkan tidak hanya dengan kata tapi juga dengan laku. Biarlah orang menilai beda, namun sejatinya sayalah yang merasa dan ALLAH yang menyaksikannya.

 




3 komentar:

  1. SUBHAANALLOH ...

    Baarokallohu fiykuna... aamiin...

    BalasHapus
  2. wa fiika barakallahu... Mabanyak mba, jazakillah khoyr :)

    BalasHapus
  3. ”... haadza min fadhli rabbi liyabluwani a’asykuru am akfur wa man syakara fainnamaa yasykuru linafsih. wa man kafaro fa inna robbi ghoniyyu kariimun"

    "ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmatNYA). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia" (An Naml ayat 40)

    ;)

    *tambahan dari mas uguck :D*

    BalasHapus

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas