.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}

Minggu, 13 Juni 2010

Belajar untuk Bertumbuh

Tidak pernah ada kata berhenti untuk belajar. Kenapa demikian? karena melalui belajarlah kita bisa terus bertumbuh. Tumbuh kadar intelektualitasnya, tumbuh kadar emosionalnya, dan lebih-lebih tumbuh kadar spiritualnya. Jadi bisa dikatakan, belajar adalah salah satu cara untuk memupuk diri kita agar tidak kering dan lantas mati.

Belajar adalah harga mutlak bagi seseorang agar tidak mau dikatakan sebagai mayat hidup. Hanya berkembang secara kuantitas, tetapi secara kualitas stag. Jadi tidak ada alasan lagi untuk mengeyampingkan pernyataan ini, "selagi masih tercatat sebagai manusia, siapapun berhak dan perlu untuk belajar, baik yang masih bocah ataupun yang sudah bangkotan sekalipun".

Dari pernyataan di atas, kemudian timbullah sebuah pertanyaan: "apakah sama belajarnya orang dewasa dengan anak-anak?" Bila belajar secara individual, akan relatif terlihat sama. Namun hal ini akan jelas terlihat jika mereka didudukkan pada sebuah aktivitas pembelajaran. Dimana ada pembelajar (yang mensharing informasi) dan pebelajar (yang menangkap sharing). Apakah yang membedakannya? ya, yang membedakannya adalah masalah pendekatan bila kita ingin memberikan pembelajaran kepada mereka. Dan pendekatan yang dilakukan ini terkait dengan ciri-ciri atau karakteristik si pebelajar.

Mendekati seorang dewasa pasti akan berbeda kala kita mendekati seorang anak-anak. Semua memiliki kekhasan dan kompleksitas tersendiri. Karena sama-sama kompleks dan berada dikuadran yang berbeda, maka selanjutnya yang akan disampaikan berikut ini adalah lebih tentang bagaimana orang dewasa belajar (andragogie).

Orang dewasa sudah memiliki konstruk pemahaman yang telah dia bangun selama ini dari berbagai peristiwa, dan ini yang terkadang menimbulkan keegoan kala mereka menerima suatu hal yang baru. Walaupun sesungguhnya yang baru diterima itu adalah suatu hal yang benar. Untuk mengatasi hal ini, maka sebelumnya perlu diketahui bagaimana sih ciri-ciri belajar orang dewasa. Dengan mengetahui ciri-ciri belajar mereka, diharapkan kita menjadi tahu "senjata" apa yang bisa kita gunakan untuk membuat mereka bisa menelan informasi baru secara nyaman. Berikut ciri-ciri belajar orang dewasa:

  1. Motivasi belajar berasal dari dirinya sendiri
  2. Orang dewasa belajar jika bermanfaat bagi dirinya
  3. Orang dewasa akan belajar jika pendapatnya dihormati
  4. Perlu adanya saling percaya antara pembimbing dan peserta didik
  5. Mengharapkan suasana belajar yang menyenangkan dan menantang
  6. Orang dewasa belajar ingin mengetahui kelebihan dan kekurangannya
  7. Orientasi belajar orang dewasa terpusat pada kehidupan nyata
  8. Sumber bahan belajar bagi orang dewasa berada pada diri orang itu sendiri
  9. Mengutamakan peran orang dewasa sebagai peserta didik
  10. Belajar adalah proses emosional dan intelektual sekaligus
  11. Belajar bagi orang dewasa adalah mengalami sesuatu
  12. Belajar adalah hasil kerja sama antara manusia
  13. Mungkin terjadi komnukasi timbal balik dan pertukaran pendapat
  14. Belajar bagi orang dewasa bersifat unik
  15. Orang dewasa umumnya mempunyai pendapat, kecerdasan, dan cara belajar yang berbeda
  16. Belajar bagi orang dewasa kadang-kadang merupakan proses yang menyakitkan
  17. Belajar adalah proses evolusi
Dari sekian panjang ciri-ciri belajar orang dewasa yang telah disampaikan, maka perlu kiranya ditegaskan kembali bahwa tujuan mengetahui ciri-ciri belajar di atas adalah sebagai pertimbangan untuk menentukan dan menciptakan suasana belajar yang kondusif bagi orang dewasa. Bila suasana belajar sudah terbangun secara kondusif, maka tidak ada hasil yang akan diraih selain semakin mempermudah dan memperlancarnya aktivitas pembelajaran. Semakin lancar dan mudahnya aktivitas pembelajaran, maka akan semakin dahsyat kita bisa bertumbuh.

So, siaplah bertumbuh sebab bertumbuh adalah sebuah keniscayaan, dan kita akan bisa terus bertumbuh kalau kita masih memiliki kemauan dan kesungguhan untuk terus bertumbuh. Seperti kata Ibnu Qutaibah "Siapa yang punya keinginan kuat untuk bertumbuh, maka jiwanya tidak menginginkan kecuali capaian yang tinggi. Seperti kobaran api, kita ingin mematikannya, tapi justru terus meninggi"


Dicuplik dan diramu dari:
Anon. "Ujian Kesungguhan". Tarbawi, Edisi 230 Th. 11 Rajab 1431, 17 Juni 2010
Suprijanto. Pendidikan Orang Dewasa: Dari Teori Hingga Aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas