.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}
Tampilkan postingan dengan label cuplikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cuplikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Agustus 2010

Picture Intelligence

Pernah dengar kecerdasan yang satu ini? Kalau sudah, ya anggap saja tulisan ini sebagai nostalgia keilmuan. Kalau belum, ya anggap saja lagi nambah-nambah folder di kepala...

Picture Intelligence dikembangkan oleh Dan Roam, seorang konsultan Google, General Electric, dan HBO. Yang mendasari konsep ini adalah bahwa sebenarnya banyak masalah yang bisa diselesaikan dengan menggunakan gambar, karena gambar bisa membuat segala sesuatunya menjadi lebih mudah dan sederhana. Selain itu dia juga beranggapan bahwa setiap orang dianugerahi kemampuan berpikir secara visual sejak lahir, meskipun orang tersebut sama sekali tidak memiliki keahlian menggambar.

Pertanyaan berikutnya adalah tertarikkah untuk nyicipin picture intelligence ini? Kalau iya, berikut tahapan-tahapannya.

Ternyata hanya butuh 4 langkah atau tahapan yang mesti kita lalui dalam proses berpikir visual, yaitu: melihat, mengenal, membayangkan, dan memperlihatkan.


Melihat = mengumpulkan dan menyaring

Adalah proses yang semipasif dalam mengambil informasi visual di sekitar kita. Melihat berarti mengumpulkan input dan membuat penilaian awal secara kasar tentang apa yang terjadi di luar sana, sehingga kita tahu bagaimana meresponsnya. Melihat disini termasuk melakukan penyaringan terhadap lingkungan untuk membangun pemahaman terhadap gambaran menyeluruh di awal, ketika dalam waktu yang bersamaan juga menjawab berbagai pertanyaan yang dapat membantu kita membuat penilaian apa yang ada di depan kita.

Pertanyaan melihat:
  • Ada apa disana? apakah sesuatu tersebut ada dalam jumlah yang banyak? mengapa sesuatu itu tidak ada disana?
  • Seberapa jauh saya bisa melihatnya? apa yang membatasi saya untuk dapat melihat situasi ini jauh ke depan?
  • Apa yang bisa saya ketahui dengan cepat, dan apa yang tidak saya perhatikan?
  • Apakah hal-hal yang ada di depan saya adalah apa yang saya harapkan akan saya lihat? apakah saya bisa "mendapatkan" apa yang saya inginkan dengan cepat? atau, apakah saya perlu menggunakan waktu ekstra untuk menggambarkan apa yang saya lihat?
Kegiatan melihat:
  • Perhatikan keseluruhan lanskap. Buatlah sebuah gambar besar: catat bahwa di sana ada empat hutan dan pohon... serta daun.
  • Temukan tepian-tepiannya dan tentukan jalan mana yang di atas. Buat batasan dari pandangan kita dan koordinat dasar dari data di hadapan kita.
  • Buatlah penilaian awal saat melakukan penyaringan, pisahkan bagian yang akan diambil dan yang tidak diperlukan.

Mengenal = memilih dan mengelompokkan
Kegiatan ini membutuhkan keaktifan indera pengelihatan kita secara sadar. Ketika kita hanya melihat, kita memerhatikan semua yang kita lihat dan mengumpulkan input-input awal. Saat kita mengenal, maka kita memilih input mana yang layak untuk diperiksa secara rinci, berdasarkan pol-pola yang diketahui - terkadang disadari, namun seringkali tidak.

Pertanyaan mengenal:
  • Apakah saya tahu apa yang saya kenal? apakah saya telah mengetahui hal ini sebelumnya?
  • Apakah ada pola-pola yang muncul? adakah sesuatu khusus yang muncul?
  • Apakah ada yang dapat saya ambil dari apa yang saya kenal - pola apa, prioritas apa, interaksi apa - sehingga saya bisa cukup peka terhadap lingkungan da mempunyai dasar untuk mengambil keputusan tentang hal ini?
  • Apakah saya punya cukup input visual agar apa yang saya kenal bisa bermanfaat, atau apakah saya perlu untuk kembali dan terus melihat?
Kegiatan mengenal:
  • Menyaring relevansi: secara aktif memilih input-input visual, mana ynag diperlukan dan mana yang bisa dibuang. (lalu, kemudian kembali dan periksa lagi)
  • Mengelompokkan dan membuat perbedaan untuk masing-masing kelompok: pisahkan gandum ke dalam beberapa kategori berdasarkan jenisnya.
  • Perhatikan pola dan buat kelompok informasi secara kreatif, identifikasi persamaan visual di antara input-input dan persamaan yang lebih besar diantar berbagai kategori.

Membayangkan = melihat apa yang tidak tampak
Adalah tahapan untuk mengolah input-input visual yang telah dikumpulkan dan dipilih. Proses membayangkan daapat dilakukan melalui salah satu dari dua cara berikut: melihat dan mengenal dengan mata yang tertutup atau dengan melihat apa yang tidak tampak.

Pertanyaan membayangkan:
  • Dimana saya melihat ini sebelumnya? dapatkah saya membuat analogi terhadap hal-hal yang telah saya lihat di masa lau?
  • Apakah ada cara yang lebih baik untuk membangun pola-pola yang saya lihat? dapatkah saya mengatur kembali pola-pola tersebut agar membuatnya lebih bermakna?
  • Dapatkah saya memanipulasi pola-pola tersebut sehingga sesuatu yang tidak nyata menjadi nyata?
  • Adakah kerangka tersembunyi yang menghubungkan segala sesuatu yang pernah saya lihat? Dapatkah saya menggunakan kerangka pikir sebagai sebuah tempat untuk meletakkan hal-hal lain yang telah saya lihat?
Kegiatan membayangkan:
  • Tutup mata anda untuk melihat lebih banyak: dengan semua input visual yang segar dalam pikiran saya, lihatlah dengan mata tertutup dan lihat apakah muncul koneksi-koneksi baru.
  • Temukan analogi: tanyakan, "di manas saya telah melihat ini sebelumnya" dan kemudian bayangkan betapa solusi analogi bisa berhasil dalam situasi baru ini.
  • Memanipulasi pola: balikkan gambar-gambar, pindahkan gambar dari kiri ke kanan, pindahkan koordinat untuk membalikkan gambar-gambar dari dalam ke luar. Lihat apakah muncul sesuatu yang baru.

Memperlihatkan = membuat lebih jelas
Begitu kita telah menemukan pola dan makna dari gambar-gambar tersebut, lalu gambarkan sebuah cara untuk memanipulasi semua yang teah kita lihat, temukan kerangka terbaik untuk merepresentasikan ide secara visual, tetapkan semua hal di atas kertas, fokuskan pada apa yang telah kita bayangkan, dan kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan audiens.

Pertanyaan memperlihatkan:
  • Dari semua yang telah saya bayangkan, sebutkan tiga gambar terpenting yang muncul - baik bagi saya maupun bagi audiens saya?
  • Apa cara terbaik untuk menyampaikan ide saya secara visual? kerangka visual mana yang paling cocok untuk berbagi tentang apa yang telah saya lihat?
  • Ketika saya kembali ke awal yang saya lihat, apakah yang sekarang saya tunjukkan ada artinya?
  • Katakan, "inilah yang telah saya lihat" lalu tanyalah pada audiens anda, "apakah ini berarti bagi anda? apakah anada melihat hal yang sama, atau apakah ada hal berbeda yang anda lihat?
Kegiatan memperlihatkan:
  • Klarifikasi ide-ide terbaik anda: prioritaskan semua ide visual anda sehingga yang paling relevan akan menempati urutan teratas.
  • Pastikan sesuatu: ambil kerangka visual yang tepat dan tuliskan ide-ide anda di atas kertas atau pada papan tulis.
  • Cakup semua pertanyaan "W": pastikan bahwa siapa/apa, berapa banyak, dimana, dan kapan selalu tampak; biarkan bagaimana dan mengapa muncul sebagai bagian pokok yang visual.

Intinya adalah banyak cara yang bisa kita gunakan untuk mensharing informasi kepada orang lain. Dan tentunya banyak cara pula untuk dapat mempermudah seseorang memahami apa yang kita sampaikan. Bila secara lisan tidak nendang, bisa pakai tulisan. Kalau dengan tulisan belum nonjok, bisa pakai gambar/visual. Kalau pakai gambar/visual belum ngemplang juga, bisa disimulasikan. Kalau semua itu masih belum mempan juga, bersabar aja dan biarlah waktu yang akan menjawabnya, sebab setiap orang tidak memiliki waktu yang sama dalam memahami dan menginternalisasi sesuatu hal. Jangan sampai ketidaksabaran kita membuat proses seseorang dalam menyedot informasi menjadi surut. Selain itu, apapun yang kita sampaikan gunakanlah paradigma "communication with" bukan "communication to". Dan gunakanlah prinsip parsimoni dalam teknik penyampaiannya, jika ada 2 cara yang sama kegunaannya dan efektifnya, maka pilihlah cara yang paling mudah.



Sumber:
Dan Roam. Picture Intelligence: Menyelesaikan Berbagai Masalah dengan Gambar. Jakarta: Ufuk Press, 2009.




Minggu, 13 Juni 2010

Belajar untuk Bertumbuh

Tidak pernah ada kata berhenti untuk belajar. Kenapa demikian? karena melalui belajarlah kita bisa terus bertumbuh. Tumbuh kadar intelektualitasnya, tumbuh kadar emosionalnya, dan lebih-lebih tumbuh kadar spiritualnya. Jadi bisa dikatakan, belajar adalah salah satu cara untuk memupuk diri kita agar tidak kering dan lantas mati.

Belajar adalah harga mutlak bagi seseorang agar tidak mau dikatakan sebagai mayat hidup. Hanya berkembang secara kuantitas, tetapi secara kualitas stag. Jadi tidak ada alasan lagi untuk mengeyampingkan pernyataan ini, "selagi masih tercatat sebagai manusia, siapapun berhak dan perlu untuk belajar, baik yang masih bocah ataupun yang sudah bangkotan sekalipun".

Dari pernyataan di atas, kemudian timbullah sebuah pertanyaan: "apakah sama belajarnya orang dewasa dengan anak-anak?" Bila belajar secara individual, akan relatif terlihat sama. Namun hal ini akan jelas terlihat jika mereka didudukkan pada sebuah aktivitas pembelajaran. Dimana ada pembelajar (yang mensharing informasi) dan pebelajar (yang menangkap sharing). Apakah yang membedakannya? ya, yang membedakannya adalah masalah pendekatan bila kita ingin memberikan pembelajaran kepada mereka. Dan pendekatan yang dilakukan ini terkait dengan ciri-ciri atau karakteristik si pebelajar.

Mendekati seorang dewasa pasti akan berbeda kala kita mendekati seorang anak-anak. Semua memiliki kekhasan dan kompleksitas tersendiri. Karena sama-sama kompleks dan berada dikuadran yang berbeda, maka selanjutnya yang akan disampaikan berikut ini adalah lebih tentang bagaimana orang dewasa belajar (andragogie).

Orang dewasa sudah memiliki konstruk pemahaman yang telah dia bangun selama ini dari berbagai peristiwa, dan ini yang terkadang menimbulkan keegoan kala mereka menerima suatu hal yang baru. Walaupun sesungguhnya yang baru diterima itu adalah suatu hal yang benar. Untuk mengatasi hal ini, maka sebelumnya perlu diketahui bagaimana sih ciri-ciri belajar orang dewasa. Dengan mengetahui ciri-ciri belajar mereka, diharapkan kita menjadi tahu "senjata" apa yang bisa kita gunakan untuk membuat mereka bisa menelan informasi baru secara nyaman. Berikut ciri-ciri belajar orang dewasa:

  1. Motivasi belajar berasal dari dirinya sendiri
  2. Orang dewasa belajar jika bermanfaat bagi dirinya
  3. Orang dewasa akan belajar jika pendapatnya dihormati
  4. Perlu adanya saling percaya antara pembimbing dan peserta didik
  5. Mengharapkan suasana belajar yang menyenangkan dan menantang
  6. Orang dewasa belajar ingin mengetahui kelebihan dan kekurangannya
  7. Orientasi belajar orang dewasa terpusat pada kehidupan nyata
  8. Sumber bahan belajar bagi orang dewasa berada pada diri orang itu sendiri
  9. Mengutamakan peran orang dewasa sebagai peserta didik
  10. Belajar adalah proses emosional dan intelektual sekaligus
  11. Belajar bagi orang dewasa adalah mengalami sesuatu
  12. Belajar adalah hasil kerja sama antara manusia
  13. Mungkin terjadi komnukasi timbal balik dan pertukaran pendapat
  14. Belajar bagi orang dewasa bersifat unik
  15. Orang dewasa umumnya mempunyai pendapat, kecerdasan, dan cara belajar yang berbeda
  16. Belajar bagi orang dewasa kadang-kadang merupakan proses yang menyakitkan
  17. Belajar adalah proses evolusi
Dari sekian panjang ciri-ciri belajar orang dewasa yang telah disampaikan, maka perlu kiranya ditegaskan kembali bahwa tujuan mengetahui ciri-ciri belajar di atas adalah sebagai pertimbangan untuk menentukan dan menciptakan suasana belajar yang kondusif bagi orang dewasa. Bila suasana belajar sudah terbangun secara kondusif, maka tidak ada hasil yang akan diraih selain semakin mempermudah dan memperlancarnya aktivitas pembelajaran. Semakin lancar dan mudahnya aktivitas pembelajaran, maka akan semakin dahsyat kita bisa bertumbuh.

So, siaplah bertumbuh sebab bertumbuh adalah sebuah keniscayaan, dan kita akan bisa terus bertumbuh kalau kita masih memiliki kemauan dan kesungguhan untuk terus bertumbuh. Seperti kata Ibnu Qutaibah "Siapa yang punya keinginan kuat untuk bertumbuh, maka jiwanya tidak menginginkan kecuali capaian yang tinggi. Seperti kobaran api, kita ingin mematikannya, tapi justru terus meninggi"


Dicuplik dan diramu dari:
Anon. "Ujian Kesungguhan". Tarbawi, Edisi 230 Th. 11 Rajab 1431, 17 Juni 2010
Suprijanto. Pendidikan Orang Dewasa: Dari Teori Hingga Aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.








Rabu, 09 Juni 2010

The Power of Color

Kira-kira apa coba persamaan antara the power of color, the power of love, dan power rangers? Yups bener banget... jawabannya adalah sama-sama memiliki power dan sama-sama memiliki warna... hehehe... Gak makna banget ya prolognya? biarin aja ah yang penting mints, eh salah deng kalau ini mah kata-kata yang ada di iklan permen ya. Maksudnya, biarin aja yang penting benang merahnya dah nyampe walaupun maksa. Daripada ngomong ngalor-ngidul gak karuan mending langsung aja ya... ikan hiu ikan pari... yiuukkk mariii 


Tidak bisa dipungkiri apalagi pungkanan bahwa warna memiliki peranan penting dalam membangkitkan psikologis seseorang. Bahkan terkadang kita tertarik pada suatu hal pun awalnya dari warna. Gonjreng apa nggak? hehe. Tapi sumpe deh yang saya tulis ini gak mengada-ada karena mengenai ini sudah ada penelitiannya. Robert Gerard, Ph.D dari University of California, Los Angeles yang telah menelitinya. Dia meneliti tentang pengaruh psikologis warna terhadap kegelisahan, getaran dan peningkatan kondisi psikologis, serta aliran darah. Penemuannya menghasilkan bahwa setiap jenis warna memiliki panjang gelombang, mulai dari ultraviolet sampai infra merah (atau merah ke biru). Semua warna tersebut dapat mempengaruhi otak dan tubuh kita secara berbeda. Dikatakan berbeda, karena hal tersebut tergantung juga pada kepribadian dan kondisi pikiran seseorang pada saat itu. Apabila kamu sedang merasa sangat tertekan dan gelisah, misalnya, maka warna merah akan semakin dapat meningkatkan keagresifan kamu. Akan tetapi, jika kamu sedang relaks, maka warna merah akan dapat memicu kedekatan dan emosi yang positif. Jadi, bisa dikatakan sama warna dapat menghasilkan rasa yang beda.

Nah, kalau mau tahu bagaimana kekuatan sebuah warna lebih lanjut, yuk sama-sama kita baca deretan kata-kata berikut ini:
  • Merah, adalah warna yang memicu kedekatan dan emosi. Sangat baik untuk pilihan warna restoran. Warna ini dianggap lebih menganggu oleh orang yang sedang gelisah atau marah, dan lebih menarik bagi orang yang tenang. Warna itu dapat memicu kelenjar pituitary dan adrenal, serta melepaskan adrenalin. Dapat meningkatkan tekanan darah dan pernapasan, serta menstimulasi selera serta sensasi bau.
  • Kuning, adalah warna pertama yang dapat dikenal seseorang dalam otaknya. Punya kaitan dengan stres, perhatian, dan penangkapan, tetapi juga dapat menstimuli keseluruhan dari rasa optimisme, harapan, dan keseimbangan. Sangat baik untuk digunakan di dalam kelas.
  • Oranye, punya karakteristik sebagai perpaduan antara kuning dan merah. Merupakan salah satu warna terbaik untuk menstimulasi pembelajaran.
  • Biru, adalah warna yang paling menenangkan. Warna biru dapat menenangkan rasa pada diri seseorang dan meningkatkan perasaan baik. Ketika kamu melihat warna biru, otak kamu melepaskan sebelas neurotransmitter yang dapat merelakskan tubuh, serta dapat mengakibatkan temperatur, perspirasi, dan selera. Biru mungkin merupakan warna yang agak terlalu menenangkan bagi kebanyakan lingkungan pembelajaran.
  • Hijau, juga merupakan warna yang menenangkan. Ketika memberi respons, tingkat histamin dalam darah dapat meningkat, yang hal ini dapat menurunkan sensitivitas terhadap alergi-alergi makanan. Antigen-antigennya mungkin saja menstimulasi penyembuhan sistem imun secara keseluruhan dengan baik.
  • Warna-warna gelap, menurunkan tingkat stres dan meningkatkan perasaan damai.
  • Cokelat, mendorong rasa aman, relaksasi, dan mengurangi kelelahan.
  • Warna-warna terang, seperti merah, oranye, dan kuning memercikkan energi dan kreativitas. Warna-warni ini juga dapat meningkatkan perilaku agresif dan gelisah.
  • Kelabu, adalah warna yang paling netral.
Setelah membaca ini, insyaALLAH dah tau ya gimana warna bisa bermain dan mempermainkan psikologis kita. Oiya, kalau dalam konteks pembelajaran, ternyata warna kuning, oranye muda, cokelat muda, atau semu putih bisa dipilih untuk dapat mengoptimalkannya lho karena warna-warna ini (sepertinya) dapat menstimulasi perasaan positif dari pebelajar (siswa) dan pembelajar (guru).




Dicuplik dan sedikit diramu dari:
Jensen, Eric. Brain-Based Learning: Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak Cara Baru dalam Pengajaran dan Pelatihan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

sumber gambar: photonengr.com

Sabtu, 05 Juni 2010

Sudah Sampai Manakah Level Membaca Kamu?

Dalam satu acara Herry Nurdi (pemred Sabili) pernah bertanya (kira-kira) seperti ini: "disini ada tidak yang pernah baca 30 buku dalam 1 bulan?" Saat mendengar pertanyaan itu, saya langsung nyengir. Gimana mau tidak nyengir, wong pertanyaan itu jauh banget dari kebiasaan saya membaca. Apalagi ditambah dengan gaya membaca saya yang simultan dan loncat-loncatan. Maksudnya, dalam satu hari bisa saja membaca buku yang berbeda-beda. Kalau bosan dengan yang fiksi, langsung pindah ke nonfiksi. Kalau bosan dengan yang "formal" pindah ke populer. Kalau bosan dengan buku, baca majalah. Bosan baca majalah, baca tabloid. Kalau bosan baca "tulisan" di internet pindah baca sms. Terus kalau dah bosan semua gimana dong??? ya tidur aja kalee...

Namun demikian, sebenarnya gaya baca seperti ini tidaklah salah, malah itu merupakan salah satu trik agar bisa menamatkan 30 buku dalam 1 bulan, asal kita disiplin melakoninya. Alias mesti, kudu bin wajib menyediakan waktu khusus tiap harinya untuk membaca. Setelahnya timbul pernyataan iseng, "kalau jenis bukunya komik mah, 30 buku juga bisa deh dijabanin dan dibabat dalam sehari. Tapi kalau jenis bukunya "berat-berat"? waaaah... gak janji deh..."


Tujuan Membaca
Setiap aktivitas yang kita lakukan pasti ada tujuan yang telah kita tetapkan, baik itu dituliskan ataupun tidak. Semakin jelas kita menetapkan tujuan, maka semakin jelas pula langkah-langkah yang akan kita ambil untuk melunasi tujuan yang telah kita tetapkan tersebut.

Begitu pula dengan aktivitas membaca. Jatuhnya tangan kita pada sebuah buku, merupakan representasi dari tujuan yang akan kita raih dari aktivitas membaca tersebut. Tujuan saat kita memegang textbook pasti akan berbeda dengan saat kita memegang komik. Saat kita memegang novel akan berbeda dengan saat kita memegang koran atau tabloid. Saat kita memegang komputer akan berbeda dengan saat kita memegang ponsel. Namun, dari ini semua ada hal yang akan menjadikannya sama, yaitu jika tujuan kita memegangnya adalah untuk nimpuk... hehehe

Ilustrasi tersebut diperkuat dengan Adler dan Doren (2007) yang menyatakan, paling tidak tujuan orang membaca itu ada 3, yaitu untuk hiburan, informasi, atau pemahaman. Dan tujuan-tujuan inilah yang akhirnya menentukan bagaimana cara orang tersebut membaca. Dengan melihat ini, maka wajar bila waktu untuk menamatkan tiap buku tidaklah sama, tergantung genrenya. Semakin "ringan" isinya maka akan semakin cepat waktu usainya.


Kenali Level Membacamu
Usia biologis seseorang tidak mesti sebanding dengan usia kronologis seseorang. Jadi jangan heran bila kita suka menemukan orang yang secara usia sudah terbilang dewasa, namun secara kelakuan masih terbilang minus. Begitu pula dengan kelakuan kita membaca. Usia yang terkuantifikasi besar tidak menjamin dia mampu "membaca" secara baik tulisan yang ada di hadapannya. Untuk hal seperti ini, orang Yunani mengistilahkannya sebagai sophomores, yaitu orang yang membaca banyak buku tanpa memahaminya dengan benar. Secara ekstrim, Alexander Pope mencap fenomena ini sebagai "pembaca yang bodoh".

Cara yang paling mudah untuk mengetahui sudah seberapa pandaikah orang tersebut dalam membaca adalah dengan melihat ciri-ciri yang muncul pada saat dia berkativitas membaca. Dan ciri-ciri tersebut terangkum dalam 4 level membaca berikut. Disebut level karena tingkatan yang lebih tinggi mencakup tingkatan yang lebih rendah. Level pertama tidak hilang dalam yang kedua, yang kedua dalam yang ketiga, yang ketiga dalam yang keempat. Level membaca keempat, yang tertinggi, mencakup semua level lainnya.
  1. Membaca Dasar atau Membaca Permulaan
    Orang yang menguasai level ini, paling tidak, telah meningkat dari buta huruf menjadi bisa membaca. Dia baru sampai pada tahap bagaimana mengenali kata demi kata. Jadi, saat membaca sebuah tulisan dia tidak akan berfikir apa implikasi dari tulisan tersebut. Dia hanya berhenti sampai memperhatikan bahasa yang disajikan penulis.

    Namun demikian, level ini bisa saja dialami oleh mereka yang sudah biasa membaca buku jika buku yang dia baca tersebut ditulis dalam bahasa asing yang tidak dikuasainya dengan baik. Dalam situasi ini, usaha pertama yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasi kata-kata yang tampak. Hanya setelah kita mengenali kata-kata itu satu persatulah kita baru bisa mulai berusaha memahami kalimat tersebut dan berupaya mengerti apa maksudnya.

  2. Membaca Inspeksional
    Level ini memberi tekanan khusus pada waktu. Biasanya pembaca dibatasi waktu dalam menyelesaikan sebuah bacaan. Dengan kata lain, level membaca inspeksional bertujuan menemukan yang terbaik dari sebuah buku dalam waktu terbatas. Biasanya relatif singkat, bahkan selalu teramat singkat untuk menemukan semua yang tersaji dalam buku tersebut.

    Nama lain level ini adalah skiming atau pramembaca. Pramembaca yang dimaksud disini bukanlah memeriksa buku secara acak atau alakadarnya. Membaca inspeksional adalah seni skiming secara sistematis. Tujuan saat membaca pada level ini adalah memeriksa permukaan buku, membaca semua hal yang bisa dipelajari dari permukaan itu saja.

    Jika pertanyaan yang diajukan pada level pertama adalah "apa yang disampaikan kalimat itu?", maka pertanyaan yang biasa diajukan pada level ini adalah "apa perihal buku itu?" atau "bagaimanakah struktur buku itu?" atau "apa sajakah bagian-bagiannya?" Setelah membaca secara inspeksional, sesingkat apapun waktunya, kamu harus bisa menjawab pertanyaan, "apa jenis buku itu -- novel, sejarah, karya ilmiah?"

    Namun kebanyakan orang, bahkan banyak pembaca yang baik, tidak menyadari manfaat membaca inspeksional. Mereka mulai membaca sebuah buku dari halaman pertama sampai ke halaman terakhir tanpa membaca daftar isinya. Karena itu, mereka menghadapi tugas mengetahui buku secara sekilas sekaligus memahaminya. Cara ini menyulitkan.

  3. Membaca Analitis
    Berarti membaca menyeluruh, membaca lengkap, atau membaca dengan baik. Jika membaca inspeksional adalah kegiatan membaca terbaik dan terlengkap dalam waktu terbatas, membaca analitis adalah kegiatan membaca terbaik dan terlengkap tanpa batas waktu.

    Pembaca analitis harus mengajukan banyak pertanyaan teratur tentang apa yang ia baca. Pada level ini, pembaca harus benar-benar paham dengan apa yang disampaikan oleh penulis. Francis Bacon berujar, "sejumlah buku hanya perlu dicicipi, yang lain perlu ditelan, dan sedikit lainnya harus dikunyah dan dicerna." membaca secara analitis berarti mengunyah dan mencerna.

    Membaca analitis tidak diperlukan jika tujuan kamu membaca hanya sekedar untuk mendapat informasi atau hiburan. Tujuan membaca analitis terutama untuk mendapatkan pemahaman. karena itu, kamu setidak-tidaknya harus cukup terampil membaca secara analitis agar mampu meningkatkan pemikiran dari status kurang memahami menajdi lebih memahami, dengan bantuan buku. Jika tidak, peningkatan ini nyaris mustahil.

  4. Membaca Sintopikal
    Level ini bisa juga dinamakan membaca komparatif. Saat membaca secara sintopikal, kita membaca banyak buku, bukan hanya satu, dan kita menyandingkan topik buku-buku tersebut dan membandingkan mereka satu sama lain. Bukan itu saja, dengan bantuan teks-teks yang dibaca, pembaca sintopikal bisa melakukan analisis topik yang mungkin tidak dinyatakan secara eksplisit oleh buku apapun di antara buku-buku yang dibacanya. Jelaslah, membaca sintopikal merupakan jenis aktivitas membaca yang paling aktif dan paling menguras energi.

Ada dimanakah kita?
Berkaca hal yang paling disukai manusia kebanyakan, namun anehnya dalam aktivitas berkaca tersebut kita sering terjebak untuk melihat sisi yang baiknya saja. Dan bila pada akhirnya yang terproyeksi banyak buruknya, bukannya kita segera mengambil langkah membenahi diri, kita malah asyik menyalahkan kacanya (apalagi bila memang kacanya sudah retak dan buram). "Waaahhh... gak bener nih kaca..." dan kaca menjawab "kalo tau gak bener, kenape masih dipake buat ngaca woy... "

Sekarang, yuukk sama-sama kita tengok sedikit ke belakang. Kira-kira sudah sampai level mana sih aktivitas membaca kita? masih di level satu atau sudah sampai level pamungkas? Silahkan dikroscek pada hati kita masing-masing dan biarkanlah jawaban dari itu semua termanifestasikan (tampak) pada perubahan gaya membaca kita selanjutnya. Amin ya rabbal'alamin...



Diperas dari buku berikut:
Adler, Mortimer J & Charles Van Doren. How to read a Book: Mencapai Puncak Tujuan Membaca. Jakarta: Indonesia Publishing, 2009.


*sumber gambar: serbasejarah.wordpress.com

Senin, 26 Oktober 2009

Anti Intelektual

Dunia pendidikan adalah dunia normatif. Dunia yang hanya mengenal satu sudut pandang, yaitu sudut pandang seharusnya. Kalau mau diartikan secara bebas, dunia pendidikan itu sama halnya dengan dunia teori. Kalau begitu, dunia pendidikan itu lempeng-lempeng aja dong dalam perjalanannya, tapi buktinya??? Nah, disinilah dunia psikologi bermain, karena psikologi melihat dari sudut pandang apa adanya. Dan dunia psikologilah yang berperan meluruskan kembali individu-individu yang keluar dari rel "dunia seharusnya".

Sekarang coba simak sebentar cerita yang dicuplik dari novel karya Torey Hayden yang berjudul "Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil"

"... saya masih belum mengerti benar mengapa dia begitu membenci tulis menulis. Saya duga itu berkaitan dengan kegagalan. Jika dia tidak pernah menuliskan apapun di atas kertas, orang tak bisa membuktikan bahwa dia pernah membuat kesalahan. Dan Sheila memang sangat kecewa jika dia membuat kesalahan dan koreksi, selembut apapun koreksi itu. Saya curiga, berdasarkan berbagai komentar yang diucapkannya bahwa dia pernah membawa pulang hasil tulisannya dan mengalami masalah dengan ayahnya berkaitan dengan itu. Akan tetapi, dia sudah sering mendapatkan perlakuan buruk darinya, jadi saya ragu bahwa hanya itu yang menyebabkan dia fobia...

(diceritakan: Sheila adalah seorang gadis berusia 6 tahun yang baru saja membakar anak lelaki berusia 3 tahun sampai nyaris mati. Gadis itu berIQ di atas 180, namun menderita problem emosional parah. Dia tidak pernah menangis, baik dikala sedih, marah, maupun kesakitan. Dia juga agresif dan selalu membangkang. Mungkin karena sang ibu meninggalkannya di jalanan saat berusia 4 tahun. Mungkin karena dia memang tak tahu bagaimana membuat orang lain mencintainya)"

Atau pernah baca komik Boy Action I?? Disana dikisahkan seorang anak yang bernama Teppei. Dia lahir dari keluaga kaya, berpendidikan, dan pintar. Namun, karena dari kecil dia ikut dengan ayahnya yang seorang penambang, maka jadilah kebiasaan hidupnya berbeda dengan anggota keluarganya yang lain. Masalah mulai muncul, kala dia harus kembali ke kehidupan keluarganya. Kebiasaan hidup di alam selama bertahun-tahun inilah mempengaruhinya dalam belajar. Dia menjadi sulit menerima pelajaran dalam kondisi klasikal. Mau tau ceritanya lebih lanjut, baca sendiri deh ya. Lucu abis deh pokoknya... hehehe

Kasus lain: Sebut saja bunga adalah seorang siswa pindahan dari sekolah B. Dia termasuk siswa yang pandai. Nilai yang didapatnya selalu bagus. Tetapi setelah pindah sekolah, ternyata nilai yang didapatnya bertolak belakang. Setelah didiagnosa, ternyata bunga memiliki alergi terhadap panas. Dia selalu merasakan pening di kepalanya jika tersengat panas. Inilah yang membuat konsentrasinya terhadap pelajaran menurun yang ujung-ujungnya berimbas pada hasil belajar yang dia peroleh. Setelah dilakukan wawancara secara mendalam, ternyata memang telah terjadi kesenjangan fasilitas antara sekolah sebelumnya dengan sekolahnya yang baru, terutama dalam hal ventilasi.

Dari ketiga kasus di atas, jelas tergambar bagaimana sebuah kondisi berpengaruh dalam sebuah proses belajar mengajar. Mau tahu lebih lanjut bagaimana kondisi belajar memainkan peranannya dalam pembelajaran? Telusuri aja terus rentetan kata-kata di bawah ini...

Kondisi Belajar adalah

Suatu keadaan yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa. Kondisi belajar juga dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang harus dialami siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar. Menurut Gagne kondisi belajar ada dua, yaitu:

  1. Kondisi internal, kemampuan yang telah ada pada diri individu sebelum ia mempelajari sesuatu yang baru.
  2. Kondisi eksternal, situasi perangsang di luar diri si belajar dan kondisi belajar yang diperlukan untuk belajar berbeda-beda untuk tiap kasus

Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.

  1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
  2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat indra, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
  3. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
  4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
  5. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.

Kondisi Belajar untuk Berbagai Jenis Belajar

Gagne mengatakan bahwa dibutuhkan kondisi belajar yang efektif untuk berbagai jenis jenis/kategori kemampuan belajar. Kondisi belajar tersebut adalah:

  1. Keterampilan intelektual. Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali keterampilan-keterampilan sebelumnya. Caranya dengan membuat "jembatan keledai", pemberian umpan balik, ataupun pemberian review
  2. Informasi verbal. Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali konteks dari informasi yang bermakna, kinerja yang baru direkonstruksi.
  3. Strategi kognitif. Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali aturan-aturan dan konsep-konsep yang relevan, penyajian situasi masalah baru yang berhasil, pendemonstrasian solusi oleh siswa.
  4. Sikap. Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali informasi dan keterampilan intelektual yang relevan dengan tindakan pribadi yang diharapkan, pembentukan atau pengingatan kembali model manusia yang dihormati, penguatan tindakan pribadi dengan pengalaman langsung yang berhasil maupun yang dialami oleh orang lain dengan mengamati orang yang dihormati.
  5. Keterampilan motorik. Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali rangkaian unsur motorik, pembentukan atau pengingatan kembali kebiasaan-kebiasaan yang dilaksanakan, pelatihan keterampilan-keterampilan keseluruhan, balikan yang tepat.

Masalah-Masalah Belajar

Secara umum masalah-masalah belajar terbagi menjadi 3, yaitu:

  1. Lingkungan fisik adalah lingkungan fisik yang ada dalam proses dan di sekitar proses pembelajaran, contoh: ventilasi, intensitas cahaya dalam ruang belajar, fasilitas belajar, dll.
  2. Suasana emosional siswa. Jika kondisi emosional siswa sedang labil, maka proses belajarpun akan mengalami ganggguan.
  3. Lingkungan sosial adalah lingkungan sosial yang berada di sekitar siswa juga turut mempengaruhi bagaimana seorang siswa belajar, contoh: suasana rumah, kemampuan ekonomi keluarga, dll.

Jika ketiga hal di atas dikelompokkan, maka masalah belajar terdiri atas 2 bagian yaitu:

  1. Masalah belajar internal, adalah masalah-masalah yang timbul dari dalam diri siswa atau faktor-faktor internal yang menimbulkan kekurangberesan siswa dalam belajar, contoh: kesehatan, faktor kemampuan intelektual, kematangan untuk belajar, dll.
  2. Masalah belajar eksternal, adalah masalah-masalah yang timbul dari luar diri siswa sendiri atau faktor-faktor eksternal yang menyebabkan kekurangberesan dalam belajar, contoh: udara yang panas, lingkungan sosial maupun lingkungan alamiah, kualitas proses belajar mengajar, dll.

Cara Mendiagnosis Masalah Belajar

Proses mendiagnosis adalah proses pemeriksaan terhadap suatu gejala yang tidak beres. Diagnosis masalah belajar dilakukan, jika guru mengidentifikasi adanya kesulitan belajar pada muridnya. Diagnosis masalah belajar dilakukan secara sistematis dan terarah dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi adanya masalah belajar. Untuk mengidentifikasi masalah belajar diperlukan seperangkat keterampilan khusus, sebab kemampuan mengidentifikasi yang berdasarkan naluri belaka kurang efektif. Gejala-gejala munculnya masalah belajar dapat diamati dalam berbagai bentuk, biasanya dalam bentuk perubahan tingkah laku atau menurunnya hasil belajar.
  2. Menelaah/menetapkan status siswa, dapat dilakukan dengan cara: a. menetapkan tujuan khusus yang diharapkan dari murid, b. menetapkan tingkat ketercapaian tujuan khusus oleh murid dengan menggunakan teknik dan alat penilaian yang tepat, dan c. menetapkan pola pencapaian murid, yaitu: seberapa jauh ia berebeda dari tujuan yang ditetapkan itu.
  3. Memperkirakan sebab terjadinya masalah belajar. Beberapa prinsip yang harus diingat dalam memperkirakan sebab terjadinya masalah belajar: a. gejala yang sama dapat ditimbulkan oleh sebab yang berbeda, b. sebab yang sama dapat menimbulkan gejala yang berbeda, dan c. berbagai penyebab dapat berinteraksi yang dapat menimbulkan gejala masalah yang makin kompleks.

Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa memodifikasi dan mempersiapkan kondisi belajar bukanlah hal yang sekunder dalam sebuah pembelajaran. Buktinya, tidak sedikit kasus yang menegaskan kala kondisi belajar tidak dirawat secara baik. Anti intelektual mungkin salah satu efeknya. Dimana seorang anak menjadi malas dan kehilangan motivasi kala diajak berdiskusi, serta munculnya perilaku mencontek. Ini terjadi karena lingkungan sosialnya yang tidak mendukung dia untuk mendilatasi (melebarkan) cakrawala intelektualnya dan atau memang faktor internal dari individu sendiri yang mendorongnya untuk melakukan hal demikian. Intinya: "mengkondusifkan kondisi belajar bukan segala-galanya, namun segala-galanya bisa berawal dari kondisi belajar yang kondusif"

Sumber:

  1. Hayden, Torey. Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil. Bandung: qanita, 2003.
  2. Siregar, Eveline & Hartini Nara. Buku Ajar: Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: tidak diterbitkan, 2008.
  3. Sudrajat, Akhmad. Kesulitan belajar siswa dan bimbingan belajar. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/25/kesulitan-dan-bimbingan-belajar/. Diakses 26 Oktober 2009 pada 20.09 WIB

Selasa, 20 Oktober 2009

Pemberian Hukuman... Masih Laku...???

Pernah gak kalian mengalami ataupun merasakan hukuman saat masih sekolah ataupun kuliah? Kalau jawabannya iya, sama dong dengan saya (pernah dihukum kok bangga ya... hehe). Apa sih yang membuat kalian dihukum? Apa perasaan kalian setelah dihukum? Ada gak efek yang menyertainya setelah dihukum? Nah, sebelum menjawab semua pertanyaan tersebut, kayaknya asyik kalau saya nostalgia sedikit tentang hukuman yang pernah saya terima, alasan, dan perasaan saya setelah menerima hukuman tersebut. Hitung-hitung sebagai contoh kasus dari tulisan ini gitu loh... Begini ceritanya...

"Jaman SMA adalah jaman saat saya masih semangat banget sama yang namanya olahraga. Apaan aja dijadiin olahraga. Sampai naik tanggapun, gak terlewat untuk saya jadikan media berolah raga (kebayang dong gimana atraktifnya saya dalam menaiki tangga-tangga di sekolah tersebut). Nah, waktu kehadiran saya di sekolahpun saya jadikan media buat olah raga juga. Pertanyaannya adalah, kok iso (baca: kok bisa)? Ya iso dong, secara kalau yang terlambat itu disuruh scotjump. Jadi kerjaan saya (hampir) tiap pagi itu scotjump. Yah, gimana mau gak nelat, wong saya berangkatnya nunggu bel sekolah kedengaran dari rumah plus nyamper-nyamper teman dulu (perjalanan dari rumah ke sekolah hanya 15 menitan). Semakin sempurnalah keterlambatannya. Dan saya menerima hukuman itu dengan ikhlas, senang, riang, dan gembira. Efek dari hukuman tersebut adalah badan jadi bugar, segar, dan tak hambar. Dendam... tak ada tuh... "

Berhubung contohnya mengandung aep (eh, ini mah nama temen saya ya), aib maksudnya, maka nostalgia dicukupkan sampai di situ dan kita beralih ke topik, karena kalo bukan sekarang kapan lagi? (minjem taglinenya kapanlagi.com)

Oopppsss... sebentar ada yang terlupa. Kalau sebelumnya kan contoh yang berbau aib pribadi, nah 2 contoh berikut diambil dari kisah nyata dan tidak nyata terkait dengan pemberian hukuman.

"Seorang mahasiswi kedokteran semester ... (lupa saya) mengalami depresi akibat dihukum dosennya. Berdiri di depan kelas selama jam kuliah berlangsung akhirnya harus dia jalani akibat dari keterlambatannya masuk ke dalam kelas. Menurut cerita orang tuanya, setelah mendapat hukuman tersebut si anak langsung panas, mengurung diri, tidak mau kuliah lagi, dan ujung-ujungnya seperti yang telah disebutkan di awal cerita, depresi. Beginilah salah satu efek, jika orang dewasa dipermalukan di depan umum, karena menurut mereka harga diri adalah segalanya (itulah (salah satunya) mengapa mereka butuh pengakuan dan aktualisasi diri)"

Nah sekarang kisah tidak nyatanya. Pernah baca atau ingat sepenggal cerita yang ada di buku "Lupus Kecil" ? "Ya, di sana diceritakan tentang seorang anak SD yang bernama Pepno, yang suka memanggil gurunya dengan sebutan "kamu". Untuk menghilangkan kebiasaan tersebut, akhirnya sang guru memberikan hukuman kepadanya berupa tugas menulis "Saya tidak akan memanggil Bu Guru dengan sebutan Kamu lagi" sebanyak 2 halaman dan harus dikumpulkan besok. Esok harinya apa yang terjadi? Ternyata Pepno mengerjakannya lebih dari 2 halaman, dan saat sang guru bertanya mengapa dia melakukan hal tersebut, maka ia menjawabnya dengan "kan biar Kamu senang..." hehehe. Ternyata, hukuman yang diberikan tidak bekerja seperti yang diharapkan guru."



Apa sih Hukuman?
Purwanto (2004) berpendapat hukuman adalah penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang (orang tua, guru, dan sebagainya) sesudah pelanggaran kejahatan atau kesalahan. Sedangkan menurut Hasbullah (1997), hukuman adalah memberikan atau mengadakan penderitaan dengan sengaja kepada anak didik dengan maksud agar penderitaan tersebut betul-betul dirasakannya, untuk menuju ke arah perbaikan. Sementara Rostiawati (1989) memberikan penjelasan bahwa hukuman adalah tindakan pendidik terhadap anak didik karena melakukan kesalahan dan dilakukan agar anak didik tidak lagi melakukannya, dimana berat ringannya hukuman bergantung pada tujuan dan keadaan anak didik yang hendak dicapai. Secara lengkap Skinner (1971) mengatakan pada dasarnya, hukuman didesain untuk menghilangkan terulangnya perilaku yang ganjil, berbahaya, atau perilaku yang tak diinginkan lainnya dengan asumsi bahwa seseorang yang dihukum akan berkurang kemungkinannya mengulangi perilaku yang sama. Namun, hukuman tidak akan menurunkan kemungkinan bagi individu untuk melakukan kesalahan yang sama kembali. Hukuman bisa menekan suatu respons selama hukuman itu diterapkan, namun hukuman tidak akan melemahkan kebiasaan.

Jadi kalau semua pendapat di atas diperes, maka beginilah bunyinya: hukuman pada intinya adalah pemberian perlakuan yang tidak disukai atau diinginkan oleh sang penerima hukuman atas pelanggaran atau kesalahan yang telah dia perbuat. Namun bukan berarti setelah diberikan hukuman, perilaku negatif (terkait) tidak akan muncul kembali. Temporer. Perilaku yang dijatuhi hukuman kemungkinan akan muncul kembali setelah hukuman dicabut atau selesai.


Teori Macam-Macam Hukuman
Ah... teori... praktek dong praktek... "praktek biar perfect" begitu kalau dibahasakan, tapi gimana mau perfect ya kalo manualnya aja belum pernah dilirik. Nah, berkiblat dari itu gimana kalau kita pantengin aja teori dari macam-macam hukuman yang berhasil dirangkum oleh Purwanto (2004) berikut ini:
  1. Teori Pembalasan
    Ini teori tertua. Menurut teori ini, hukuman diadakan sebagai pembalasan dendam terhadap kelainan dan pelanggaran yang telah dilakukan oleh seseorang. Teori ini harus disteril nih (apalagi di dunia pendikan), karena efek dari pelaksanaan teori ini adalah dikhawatirkan akan menimbulkan trauma bagi penerima hukuman.
  2. Teori Perbaikan
    Hukuman diadakan untuk membasmi kejahatan. Jadi maksud pemberian hukuman adalah untuk memperbaiki si pelanggar agar jangan berbuat kesalahan semacam itu lagi. Teori ini lebih bersifat mendidik karena bermaksud memperbaiki sikap atau perilaku si pelanggar.
  3. Teori Perlindungan
    Hukuman diadakan untuk melindungi masyarakat dari perbuatan-perbuatan yang tidak wajar. Dengan adanya hukuman, masyarakat dapat dilindungi dari kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan si pelanggar.
  4. Teori Ganti Rugi
    Hukuman diadakan untuk mengganti kerugian-kerugian yang telah diderita akibat dari kejahatan-kejahatan atau pelanggaran. Hukuman ini dilakukan dalam masyarakat atau pemerintahan.
  5. Teori Menakut-nakuti
    Hukuman diadakan untuk menimbulkan perasaan takut kepada si pelanggar akan akibat perbuatan yang melanggar, sehingga ia akan selalu takut melakukan perbuatan itu dan mau meninggalkannya.
Kalau dicermati dari tiap teori di atas, ternyata pemberian hukuman tidak melulu menghasilkan keresahan secara psikologis atau fisiologis. Tapi entah mengapa, teori pembalasan semakin banyak fansnya belakangan ini (baca: dalam dunia pendidikan). Kenapa bisa begitu???


Bentuk-Bentuk Hukuman
Suatu hal akan jelas efeknya, jika suatu hal tersebut sudah mewujud menjadi nyata. Begitu pula hukuman. Hukuman tidak akan menimbulkan efek apa-apa bagi si pelanggar, apabila hukuman yang akan ia terima masih berupa niatan dari si pemberi hukuman. Masih menurut Purwanto (2004), ia mengatakan bentuk hukuman itu ada 2, yaitu:
  1. Hukuman preventif
    Hukuman yang dilakukan dengan maksud agar tidak atau jangan terjadi pelanggaran. Hukuman ini bermaksud untuk mencegah jangan sampai terjadi pelanggaran, sehingga hal itu dilakukan sebelum pelanggaran itu dilakukan. Contoh: Anak didik yang kepergok guru saat ingin bolos. Walaupun belum sampai terlaksana, guru tetap memberikan hukuman akan niatan anak didiknya tersebut.
  2. Hukuman represif
    Hukuman yang dilakukan oleh karena adanya pelanggaran atau dilakukan setelah terjadinya pelanggaran. Contoh: Guru memberikan hukuman kepada anak yang telah secara sukses berhasil bolos sekolah.
Sedangkan menurut J.J. Rosseau adalah
  1. Hukum alam
    Artinya individu dihukum berdasarkan perbuatannya oleh alam. Contoh: kecelakaan karena ngetrack di jalanan.
  2. Teori menjerakan
    Individu dihukum agar ia tidak mengulangi perbuatannya. Contoh: bila terlambat datang ke sekolah, disuruh scotjump (kok saya merasa de javu ya )
  3. Hukuman badan
    Hukuman yang diberikan secara fisik, contoh: menampar, memukul, menendang, dll.
Namun, sebagian besar pendidik mengklasifikasikan bentuk hukuman menjadi 3 macam, yaitu (Rostiawati):
  1. Hukuman badan, yaitu hukuman yang bersifat fisik.
  2. Hukuman perasaan, yaitu dengan cara memberikan ejekan, mempermalukan, baik secara pribadi maupun di muka umum.
  3. Hukuman intelektual, yaitu hukuman dengan memberikan kegiatan tertentu kepada siswa dengan alasan bahwa kegiatan tersebut akan langsung membawanya keperbaikan proses belajar.  Contoh: anak didik tidak mengerjakan PR, guru lantas menghukumnya dengan memberikan PR tambahan yang sesuai dengan materi pelajaran.
Dari sekian banyak bentuk hukuman yang telah diungkapkan di atas, manakah yang bisa menimbulkan efek jera, namun tidak merusak stabilitas psikis dan fisik sang penerima hukuman?


Mengapa Pemberian Hukuman Harus Dienyahkan
Hukuman dalam jangka panjang tidak akan efektif. Dengan kata lain, hukuman hanya menekan perilaku, dan ketika ancaman hukuman dihilangkan, tingkat perilaku akan kembali ke level semula. Jadi, hukuman sering kelihatannya sangat berhasil padahal sebenarnya hanya menghasilkan efek temporer. Begitulah argumen utama dari Skinner, mengapa ia menentang pemberian hukuman. Dan berikut adalah argumen-argumennya yang lain:
  1. Hukuman menyebabkan efek samping emosional yang buruk. Individu yang dihukum menjadi takut dan ketakutan ini digeneralisasikan ke sejumlah stimuli yang terkait dengan stimuli yang ada saat hukuman diterapkan.
  2. Hukuman menunjukkan apa yang tidak boleh dilakukan individu, bukan apa yang seharusnya dilakukan.
  3. Hukuman menjustifikasi tindakan menyakiti pihak lain. Contoh: ketika individu dipukul, satu-satunya hal yang mereka pelajari adalah bahwa dalam situasi tertentu adalah diperbolehkan untuk menyakiti orang lain.
  4. Berada dalam situasi dimana perilaku yang dahulu dihukum kini dapat dilakukan tanpa mendapat hukuman lagi, mungkin akan menyebabkan individu merasa diperbolehkan melakukannya lagi.
  5. Hukuman akan menimbulkan agresi terhadap pelaku penghukum dan pihak lain. Hukuman menyebabkan individu yang dihukum menjadi agresif, dan agresi ini mungkin menimbulkan problem tambahan.
  6. Hukuman sering mengganti mengganti respons yang tidak diinginkan dengan respons yang tidak diinginkan lainnya. Contoh: anak yang digampar karena nakal, mungkin akan menangis atau orang yang dihukum karena mencuri, mungkin akan menjadi agresif dan melakukan kejahatan yang lebih besar jika ada kesempatan.
Wuidih... dah bacakan gimana Skinner melancarkan argumennya demi meniadakan pemberian hukuman. Sekarang, kira-kira apa argumen kamu untuk mengenyahkan pemberian hukuman yang tidak makna???


Alternatif untuk Hukuman
Boleh percaya atau tidak, kata "alternatif" akan muncul ke permukaan jika kita sudah bosan, jenuh, mentok, atau apapun yang kita lakukan tidak kunjung berbuah hasil. Butuh second opinion, pencerahan, warna baru, semangat baru, dan pastinya efek hasil yang lebih jitu. Yah, begitulah kata "alternatif" sekiranya bekerja.

Skinner pun memberikan tawaran tentang trik mengubah perilaku tanpa harus membombardir individu dengan hukuman. Berikut katanya:
  1. Merubah situasi, dengan perubahan situasi diharapkan akan ikut mengubah perilaku. Contoh: mengganti gelas berbahan kaca dengan gelas berbahan plastik akan mengeliminasi problem anak memecahkan gelas.
  2. Membiarkan waktu yang menentukan, tetapi cara ini  boleh jadi akan terlalu lama. Kebiasaan tidak akan mudah dilupakan. Contoh: anak tidak merapikan mainannya setelah selesai bermain. Skinner bilang dalam proyek "Pigeons in a Pelican" bahwa "tidak selalu mudah untuk menebak perilaku sebelum perilaku itu terjadi, khususnya dalam kondisi di rumah, tetapi kita akan sedikit lebih tak cemas jika kita tahu bahwa dengan mendidik anak melewati tahap-tahap yang secara sosial tidak dapat diterima, kita tak perlu mendidiknya dengan hukuman yang mungkin akan menimbulkan masalah baru."
  3. Mengabaikannya atau pelenyapan (extinction). Ini membutuhkan waktu namun masih lebih cepat ketimbang membiarkan respons itu dilupakan dengan sendirinya. Contoh: anak menangis karena minta diberikan mainan, orang tuanya mengabaikannya hingga si anak lelah menangis atau langsung memberikan ungkapan "ibu akan memberikan mainan, jika adek mau berhenti menangis..."
Yups, itulah 3 alternatif yang ditawarkan Skinner untuk merubah perilaku selain dengan hukuman. Ada yang punya alternatif lain???


Kalau Terpaksa Memberi Hukuman, Gimana Dong???
Nah, ini nih yang sering membuat kita menjadi seakan boleh melakukan sesuatu yang sejatinya tidak diperbolehkan. Ya bener banget, terpaksa... Namun anehnya, kenapa kita selalu mencari-cari posisi agar bisa memakai fasilitas dikala terpaksa itu ya???

Idealnya penggunaan hukuman harus ditekan seoptimal mungkin, jikapun sampai terpaksa melakukannya, maka syarat-syarat yang diungkapkan oleh Fawzia Aswin Hadis di bawah ini dapat dijadikan rujukan dalam pelaksanaannya:
  1. Menghukum tidak boleh dalam keadaan marah
  2. Hukuman tidak boleh bersifat membalas dendam
  3. Hukuman harus ada hubungan dengan kesalahan, contoh: mengotori lantai, maka hukumannya adalah membersihkan lantai tersebut
  4. Hukuman tidak boleh mempermalukan anak
  5. Hukuman harus diberikan dengan adil
  6. Sang pemberi hukuman harus sanggup memberi maaf setelah hukuman itu dijalankan, dan berikan alasan kenapa dia dihukum demikian.


Apa yang bersarang di kepala kamu setelah selesai membaca tulisan ini, tetap melaksanakan hukuman dengan gagah perkasa, melakukan modifikasi terhadap hukuman yang diberikan, atau mengenyahkan hukuman dari kamus kamu?? Semua kembali ke analisa pribadi masing-masing, yang jelas setiap keputusan pasti menimbulkan konsekuensi yang khas dan butuh pertanggungjawaban. Dan pastinya nih, dunia belum berakhir jika sekarang kita putuskan untuk mengubah hukuman dengan alternatif yang lebih edukatif???




Nyanyian untuk Sang Aktor Peradaban
Oleh: Lussysf



Sesungguhnya jiwa kami lembut
Tak perlulah kau obral nafsu dan tenagamu yang bisa buat kami jadi lelembut
Kalian cuma butuh senapan waktu yang berpeluru sabar
Dengannya kami tidak akan kembali berbuat onar dan terkapar
Tapi sebaliknya, malah membuat kami jadi sadar
Bahwa sudah seharusnya kami berada di jalan yang benar

Wahai kau aktor peradaban, kami tidak hanya sekedar berkoar
Sumbang memang terdengar, karena kami bernyanyi tanpa repertoar
Tapi jangan jadikan ini sebagai sebuah kelakar
Karena kami memang belum tahu cara berada di jalan yang benar

Wahai kau pelukis perilaku
Apakah kau akan tergugu dengan senjata basimu yang sudah tidak laku
Masihkah kau jadikan keakuanmu sebagai taji untuk berjibaku
Tak perlulah lagi kau gadaikan harga dirimu
Yakinlah bahwa kami masih punya lentera hati tuk sebuah kebenaran sejati
Dan saksikan bahwa hanya untaian doa kebaikanlah yang kan meluncur dari mulut kami dalam membahasakan komunitas jasamu di muka bumi ini






Sumber Bacaan:
  1. B.R. Hergenhahn & Matthew H. Olson. Theories of Learning (Teori Belajar), ed, ke-7. Jakarta: Kencana, 2008.
  2. Hadis, Fawzia Aswin. (1986). Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dikti Proyek Pendidikan Tenaga Guru.
  3. Hasbullah. (1997). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  4. Purwanto, M. Ngalim (2004). Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  5. Rostiawati, Yustina, dkk. (1989). Buku Panduan Mahasiswa: Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Gramedia.

Jumat, 05 Desember 2008

Keterampilan di Abad 21

Abad 21 identik dengan abad yang penuh dengan persaingan global, dengan demikian dalam melakukan sesuatu hal (apalagi pekerjaan) rivalnya tidak lagi sebatas dalam negeri saja tetapi juga luar negeri. Intinya, saat ini kita dituntut untuk mampu bersaing dalam bidang datar. Lagi-lagi ini terjadi karena adanya perubahan paradigma dari Colombus ke Thomas L. Friedman (Jurnalis New York), dari Dunia itu Bulat menjadi Dunia itu Datar.

Agar tidak kalah bersaing dalam dunia datar ini, tidak ada kata lain selain harus mempersenjatai diri kita dengan berbagai amunisi bernamakan Keterampilan di Abad 21. Berikut akan dijabarkan keterampilan-keterampilan yang mesti dipupuk agar bisa melenggang dengan mulus di abad 21.


Keterampilan Berpikir
  1. Mengumpulkan pengetahuan
  2. Pemahaman
  3. Menganalisis informasi
  4. Menggunakan informasi
  5. Berpikir dari berbagai macam sudut pandang
  6. Memikirkan bagaimana kita belajar

Keterampilan Sosial
  1. Menghargai orang lain
  2. Memegang tanggung jawab
  3. Bekerja sama
  4. Menyelesaikan konflik
  5. Membuat keputusan dalam kelompok
  6. Melaksanakan peran yang berbeda-beda

Keterampilan Komunikasi
  1. Mendengarkan
  2. Berbicara
  3. Membaca
  4. Menulis
  5. Mengamati
  6. Menampilkan
  7. Komunikasi nonverbal

Keterampilan Mengatur Diri Sendiri (Self Managing Skills)
  1. Motorik kasar
  2. Motorik halus
  3. Keterampilan mengatur (organisation)
  4. Keterampilan mengatur waktu
  5. Keselamatan
  6. Gaya hidup sehat
  7. Perilaku
  8. Pilihan

Keterampilan Riset
  1. Bertanya
  2. Mengamati
  3. Merencanakan
  4. Mengumpulkan data
  5. Mencatat data
  6. Menganalisis data
  7. Memahami data
  8. Mengaplikasikan temuan

Keterampilan Memperluas Pengetahuan
  1. Pengetahuan bukan hanya sekedar dilatih atau diberikan di kelas
  2. Tidak ada kata berhenti untuk terus belajar

Walaupun keterampilan-keterampilan di atas ditampilkan hanya perpoint dan tanpa penjelasan lebih panjang. Paling nggak sudah dapat menggambarkan secara jelas, ternyata banyak keterampilan yang perlu dipadatkan untuk bisa bersaing dalam abad 21.

Pendidikan, lebih sempitnya bangku sekolah atau kuliah bisa dikatakan sebagai salah satu bengkel yang bertugas mendandani peserta didiknya agar lebih cling. Cling dari segi kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), maupun psikomotor (keterampilan). Sekarang apa peran guru/pendidik yang bertindak sebagai montir dalam bengkel SDM tersebut ???? Nah ini dia perannya :

  1. Fasilitator
  2. Pemimpin yang bisa mengajak dan memberi semangat (provocation leaders)
  3. Memberikan petunjuk (provide guidance)
  4. Mendukung siapa saja yang berani mengambil resiko (support risk taking)
  5. Mendukung dan meneladankan sikap reflektif (encourage and model reflection)

Bila sudah tahu keterampilan-keterampilan apa saja yang harus dipadatkan dalam abad 21 ini, masih adakah pertanyaan yang tertinggal ???



Diramu dari residu yang bersarang di kertas hasil dari presentasi Jillian Dellit (Director of The Learning Federation Secretariat, Australia) dengan topik Teaching and Learning in a Networked, Digital World pada Konggres Guru Indonesia : 27 - 28 November 2008

Sabtu, 08 November 2008

Tipe Seperti Apakah Anda ???

Pendidikan sepanjang hayat, deretan kata yang sering dielu-elukan untuk membangkitkan semangat berpendidikan. Dengan dikibarkannya deretan kata ini diharapkan semua orang berlomba-lomba untuk memadatkan dirinya dengan ilmu. Pemadatan ilmu di sinipun tidak hanya terperangkap dalam skup formal, tetapi lebih dari itu. Realitas yang ada dalam hidup dan kehidupanpun juga merupakan sumur tak bertepi bagi kita untuk menimba ilmu. Dengan catatan, kalau kita mau menjadikannya demikian. Bila tidak, maka realitas hidup dan kehidupan tersebut hanya berhenti sebagai hiasan pemenuh waktu hidup saja. Tidak lebih.

Dalam pendidikan [apapun skupnya] kita sering mengenal 3 istilah yang sering tertukar pemakaian dan penempatannya. Istilah-istilah tersebut adalah : pebelajar [orang yang belajar/peserta didik], pembelajar [orang yang memberikan pelajaran/pendidik], dan pembelajaran [proses transfer ilmu, dll dari pebelajar dan pembelajar, atau sebaliknya].  

Setiap kita adalah pebelajar dan dalam situasi lain bisa pula menjadi pembelajar, atau bisa jadi juga pebelajar dan pembelajar terjadi secara simultan dalam diri kita. Dan pastinya tiap kita memiliki kekhasan saat berada di posisi itu, yang sedikit banyaknya dipengaruhi oleh sifat dan gaya belajar seseorang.

Karena perbedaan itulah [mungkin], akhirnya Kolb, Honey, dan Mumford melahirkan sebuah teori tentang penggolongan tipe-tipe pebelajar [karena kalau sama ngapain juga pake digolong-golongin segala... kurang kerjaan... ]. Berikut adalah penggolongannya :


  1. Tipe Aktivis, mereka yang suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru, cenderung berpikiran terbuka dan mudah diajak berdialog. Namun biasanya kurang skeptis terhadap sesuatu, atau identik dengan sikap mudah percaya. Mereka menyukai metode yang mampu mendorong menemukan hal-hal baru seperti brainstorming dan problem solving.
  2. Tipe Reflektor, cenderung sangat berhati-hati mengambil langkah. Dalam proses pengambilan keputusan cenderung konservatif, dalam arti suka menimbang-nimbang secara cermat baik buruknya suatu keputusan.
  3. Tipe Teoris, biasanya sangat kritis, senang menganalisis, dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subyektif. Bagi mereka berpikir rasional adalah sesuatu yang sangat penting. Mereka juga sangat skpetis dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat spekulatif.
  4. Tipe Pragmatis, menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dalam segala hal. Mereka tidak suka bertele-tele membahas aspek teoritis - filosofis dari sesuatu. Bagi mereka, sesuatu dikatakan ada gunanya dan baik hanya jika bisa dipraktekkan.


Berada di tipe manakah anda ?? Apapun itu bentuknya, semoga tidak menjadikannya sebagai sebuah alasan atau ladang pencetus konflik dengan tipe pebelajar yang lain. No problemo gitu loh. Karena sesungguhnya yang bermasalah adalah mereka yang tidak pernah mau belajar. Simple kan... hehehe


Kamis, 09 Oktober 2008

Penelitian Tindakan Kelas

PENDAHULUAN

Penelitian ibarat barang langka bagi sebagian guru. Mengapa diibaratkan bagai barang langka, karena masih banyak guru yang belum merasa terpanggil untuk melaksanakan penelitian. Banyak alasan yang melatarbelakangi fenomena ini, namun salah satu alasan kuat yang membuat mereka kurang tertarik melakukan penelitian adalah karena mereka merasa sudah cukup direpotkan dengan urusan-urusan keadministratifan. Selain itu, juga karena kurang adanya dukungan dari kepala sekolah tempat mereka mengajar, dan yang tidak kalah penting adalah belum adanya sosialisasi secara menyeluruh tentang bagaimana melaksanakan penelitian yang baik dan benar.

Ini terbukti, tidak banyak guru yang mengetahui apa itu Penelitian Tindakan Kelas [PTK]. Namun setelah dijelaskan, banyak dari mereka yang mengatakan bahwa mereka telah melakukannya, hanya saja belum sistematis dan seprosedural layaknya sebuah penelitian. 

Setiap guru pastinya menginginkan suatu perubahan yang bertujuan untuk perbaikan, dan pastinya hal tersebut sudah mereka lakukan. Namun, yang kurang adalah belum adanya rekam jejak atau bukti fisik atas segala perbaikan yang telah mereka lakukan. Dengan melakukan PTK, selain terjadi peningkatan dalam hasil belajar siswanya, seorang guru menjadi memiliki bukti fisik hasil kerjanya yang bisa mereka posisikan sebagai portofolio perjalanan karirnya sebagai seorang pengajar dan pendidik. Selain itu melakukan penelitian, merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan profesionalitasnya sebagai guru.

Dalam buku ini, PTK coba dikaji dari 3 sudut pandang penulis, yang penjabaranya dibatasi oleh bab. Bab I. Penelitian Tindakan Kelas  (Classroom Action Research – CAR) oleh  Prof. Suharsimi Arikunto, Bab II. Penelitian Tindakan Kelas sebagai Kegiatan Pengembangan Profesi Guru oleh Prof. Suhardjono, dan Bab III. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) beserta Sistematika Proposal dan Laporannya oleh Prof. Supardi.

Selanjutnya isi buku ini akan dijabarkan secara general. Dengan kata lain, pembahasan yang akan dijabarkan disini merupakan hasil kolaborasi isi dari ketiga bab yang ada.

 

ISI BUKU

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas [PTK] dibentuk dari 3 kata, yang memiliki pengertian sebagai berikut :

1.      Penelitian, menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.

2.      Tindakan, menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa.

3.      Kelas, adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.

Dari ketiga kata di atas dapat disimpulkan bahwa PTK merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa.

 

Tujuan PTK

Pada intinya PTK bertujuan untuk memperbaiki berbagai persoalan nyata dan praktis dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa yang sedang belajar.

Secara lebih rinci, tujuan PTK antara lain sebagai berikut :

1.    Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, serta hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah

2.   Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas

3.      Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan

4.     Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah, sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan [sustainable]

 

Prinsip Penelitian Tindakan

Agar peneliti memperoleh informasi atau kejelasan yang lebih baik tentang penelitian tindakan, perlu kiranya dipahami bersama prinsip-prinsip yang harus dipenuhi. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah :

1.      Kegiatan nyata dalam situasi rutin

Penelitian tindakan dilakukan oleh peneliti tanpa mengubah situasi rutin, karena jika penelitian dilakukan dalam kondisi lain, hasilnya tidak dijamin dapat dilaksanakan lagi dalam situasi aslinya, atau dengan kata lain penelitiannya tidak dalam situasi wajar. Oleh karena itu, penelitian tindakan tidak perlu mengadakan waktu khusus, tidak mengubah jadwal yang sudah ada.

2.      Adanya kesadaran diri untuk memperbaiki kinerja

Didasarkan pada sebuah filosofi bahwa setiap manusia tidak suka dengan hal-hal yang statis, tetapi selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik. Peningkatan diri untuk hal yang lebih baik ini dilakukan terus menerus sampai tujuan tercapai, tetapi sifatnya hanya sementara, karena dilanjutkan lagi dengan keinginan untuk lebih baik yang datang susul menyusul.

Penelitian tindakan sifatnya bukan menyangkut hal-hal statis, tetapi dinamis, yaitu adanya perubahan. Penelitian tindakan bukan menyangkut materi atau topik bahasan itu sendiri, tetapi menyangkut penyajian topik pokok bahasan yang bersangkutan, yaitu strategi, pendekatan, metode, atau cara untuk memperoleh hasil melalui sebuah kegiatan uji coba atau eksperimen.

3.      SWOT sebagai dasar pijakan

PTK harus dimulai dengan analisis SWOT, sehingga dalam memilih sebuah tindakan peneliti harus mempertimbangkan apakah ada sesuatu di luar diri dan subyek tindakan yang kiranya dapat dimanfaatkan, juga sebaliknya berpikir tentang “bahaya” di luar diri dan subyeknya sehingga dapat mendatangkan resiko. Hal ini terkait dengan prinsip pertama, bahwa penelitian tindakan tidak boleh mengubah situasi asli, yang biasanya tidak mengudang resiko.

4.      Upaya empiris dan sistemik

Merupakan penerapan prinsip ketiga. Dengan telah dilaksanakannya analisis SWOT, berarti sudah mengikuti prinsip empiris (terkait dengan pengalaman) dan sistemik, berpijak pada unsur-unsur yang terkait dengan keseluruhan sistem yang terkait dengan objek yang sedang digarap. Pembelajaran adalah sebuah sistem, yang keterlaksanaannya didukung oleh unsur-unsur yang kait-mengait.

5.      Ikuti prinsip SMART dalam perencanaan

SMART merupakan akronim dari Spesific (khusus, tidak terlalu umum), Managable (dapat dikelola, dilaksanakan), Acceptable/Achievable (dapat diterima lingkungan, dapat dicapai, dijangkau), Realistic (operasional, tidak di luar jangkauan), dan Time bound (diikat oleh waktu, terencana).

Diantara unsur dalam SMART, unsur ketiga acceptable adalah yang paling terkait dengan subyek yang akan dikenai tindakan. Oleh karena itu, sebelum guru menentukan lebih lanjut tindakan yang akan diberikan, mereka harus diajak bicara. Tindakan yang akan diberikan oleh guru dan akan mereka lakukan harus disepakati dengan suka rela. Dengan demikian, guru dapat mengharapkan tindakan yang dilakukan oleh siswa dilandasi atas kesadaran dan kemauan penuh. Dampaknya adalah akan menghasilkan semangat atau kegairahan yang tinggi.

 

Model Penelitian Tindakan

Secara garis besar terdapat 4 tahapan yang lazim dilalui :

1.      Menyusun rancangan tindakan (planning/perencanaan), dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan akan dilakukan. Penelitian tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakn dan pihak yang mengamati proses yang dijalankan.

2.      Pelaksanaan Tindakan (acting), tahap ini merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan di kelas.

3.      Pengamatan (observing), yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Dalam tahap ini, guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus berikutnya.

4.      Refleksi (reflecting), merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan.  Dalam tahap ini, guru berusaha untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan memuaskan hati karena sudah sesuai dengan rancangan dan secar cermat mengenali hal-hal yang masih perlu diperbaiki.

Jika penelitian tindakan dilakukan melalui beberapa siklus, maka dalam refleksi terakhir, peneliti menyampaikan rencana yang disarankan kepada peneliti lain apabila dia menghentikan kegiatannya, atau kepada diri sendiri apabila akan melanjutkan dalam kesempatan lain.


Persyaratan PTK  oleh Guru

1.      Harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi di dalam pembelajaran dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

2.      Menuntut dilakukannya pencermatan secara terus menerus, ohjektif, dan sistematis. Hasil pencermatan ini digunakan sebagai bahan untuk menentukan tindak lanjut yang harus diambil segera oleh peneliti

3.      Dilakukan sekurang-kurangnya dalam dua siklus tindakan yang berurutan.

4.      Terjadi secara wajar, tidak mengubah aturan yang sudah ditentukan, dalam arti tidak mengubah jadwal yang berlaku.

5.      Harus betul-betul disadari oleh pemberi maupun pelakunya, sehingga pihak-pihak yang bersangkutan dapat mengemukakan kembali apa yang dilakukan dibandingkan dengan rencana yang sudah dibuat sebelumnya.

6.      Harus benar-benar menunjukkan adanya tindakan yang dilakukan oleh sasaran tindakan, yaitu siswa yang sedang belajar.

 

Sasaran/Objek PTK

Objek PTK harus merupakan sesuatu yang aktif dan dapat dikenai aktivitas, bukan objek yang sedang diam dan tanpa gerak. Unsur-unsur yang dapat dijadikan sasaran/objek PTK tersebut adalah : (1) siswa, (2) guru, (3) materi pelajaran,  (4) peralatan atau sarana pendidikan, meliputi peralatan, baik yang dimiliki oleh siswa secara perseorangan, peralatan yang disediakan oleh sekolah, ataupun peralatan yang disediakan dan digunakan di kelas dan di laboratorium, (5) hasil pembelajaran, (6) lingkungan, dan (7) pengelolaan, hal yang termasuk dalam kegiatan pengelolaan misalnya cara dan waktu mengelompokkan siswa ketika guru memberikan tugas, pengaturan jadwal, pengaturan tempat duduk siswa, penempatan papan tulis, penataan peralatan milik siswa, dan lain-lain.

 

PENUTUP

Bagaikan mata uang yang memiliki dua sisi, begitu juga dengan penelitian tindakan kelas. Ada dua keuntungan nyata yang menjadi efek apabila seorang guru melaksanakan penelitian tindakan kelas. Pertama adalah dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa dan yang kedua, adalah merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan profesionalitas guru. Dengan catatan, bila penelitian tindakan kelas dilakukan secara baik dan benar.

PTK akan berhasil baik dan signifikan apabila sebelum melaksanakannya seorang guru harus sudah mengetahui konsep dasar tentang bagaimana melaksanakan PTK. Mulai dari pengertian PTK, tujuan, prinsip, model, persayaratan, dan sasaran/objek yang bisa dikenai tindakan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, dan Supardi. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara, 2008.

Selasa, 29 Juli 2008

Kiri atau Kanan

Mitos yang populer mengatakan bahwa belahan kiri otak kitalah yang menangani urusan verbal, rasional, dan keilmuan, sedangkan yang kanan untuk urusan yang butuh kreativitas, visual, dan holistik. Hanya ada sedikit kebenaran pada mitos ini. Perbedaan sesungguhnya adalah pada pusat perhatian yang diberikan, karena sesungguhnya mereka bekerja bersama-sama. Otak kiri sangat ahli di dalam memandang suatu pikiran yang ada di dalam kepala secara berurutan dan fokus, sedangkan yang kanan berfungsi untuk memandang segala sesuatu dalam konteks yang lebih luas. Satu belahan melihat sisi depan dari suatu tugas, sedangkan yang lain berurusan dengan latar belakang dari tugas tersebut.

Jadi saat berbicara, belahan otak kiri beraksi memilih kata-kata dan memberinya aturan tata bahasa tertentu. Dalam setiap tes untuk memproduksi bahasa, belahan otak kiri yang selalu terlihat berperan penting. Namun, belahan otak kananlah yang menangani latar belakang dari aksi bicara yang dilakukan, seperti memberikan intonasi emosional atas apa yang dikatakan, atau perasaan umum yang mungkin timbul dari suatu kalimat yang diberikan. Ada bukti yang menunjukkan bahwa otak kera juga mengalami sedikit lateralisasi di dalam proses pengolahannya. Namun homo sapiens awal tampaknya telah mampu mengembangkan otak yang sangat terlateralisasi sehingga penanganan aturan tata bahasa menjadi suatu proses yang sangat mudah.

Pemakaian alat mungkin membantu dimulainya proses ini. Keinginan membuat kapak batu membutuhkan suatu tujuan seiring dilakukannya tahapan-tahapan untuk mencapai tujuan tersebut. Jadi mungkin saja, homo erectus telah mengembangkan otak yang terpisah untuk memanfaatkan benda, lalu manusia primitif mengeksploitasinya untuk menyusun simbol-simbol.

Apapun jawabannya, kita tahu saat ini kita mempunyai pikiran yang dapat meramu secara tepat apa yang harus dikatakan dari banyak hal yang ingin kita katakan.



DAFTAR ISTILAH :

Homo Erectus
Dipercayai sebagai nenek moyang langsung manusia modern. Muncul sekitar 1,8 juta tahun yang lalu di Afrika, dan kemudian berevolusi menjadi beberapa spesies termasuk homo sapiens

Homo Sapiens
Manusia modern. Dari bahasa Latin yang berarti "orang bijak". Mereka dipercaya muncul di Afrika sekitar 100.000 tahun yang lalu

Lateralisasi
Pembagian otak besar menjadi 2 belahan, masing-masing mempunyai gaya pengolahan yang saling melengkapi



Dicuplik dari :
McCrone, John. (2003).Essential Science : Menyingkap Kerja Otak. (R. Widjajanti, W. Putri, Eds., & B. Juliandi, Trans.) Jakarta : Erlangga.

Selasa, 10 Juni 2008

Validitas dan Reliabilitas

Dalam setiap penelitian selalu terjadi proses pengumpulan data dan dalam proses pengumpulan data tersebut akan menggunakan satu atau beberapa metode. Jenis metode yang dipilih dan digunakan dalam pengumpulan data, tentunya harus sesuai dengan sifat dan karakteristik penelitian yang dilakukan. Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data-data tersebut.
Instrumen dapat dianalogikan sebagai ujung tombak untuk membidik data dalam sebuah penelitian. Melalui instrumenlah akhirnya terkumpul data yang nantinya diolah menjadi sebuah informasi hasil penelitian. Untuk itulah, perlu kiranya memilih dan merumuskan instrumen secara tepat. Hal ini sejalan dengan ungkapan “garbage tool garbage result”.