Dalam satu acara Herry Nurdi (pemred Sabili) pernah bertanya (kira-kira) seperti ini: "disini ada tidak yang pernah baca 30 buku dalam 1 bulan?" Saat mendengar pertanyaan itu, saya langsung nyengir. Gimana mau tidak nyengir, wong pertanyaan itu jauh banget dari kebiasaan saya membaca. Apalagi ditambah dengan gaya membaca saya yang simultan dan loncat-loncatan. Maksudnya, dalam satu hari bisa saja membaca buku yang berbeda-beda. Kalau bosan dengan yang fiksi, langsung pindah ke nonfiksi. Kalau bosan dengan yang "formal" pindah ke populer. Kalau bosan dengan buku, baca majalah. Bosan baca majalah, baca tabloid. Kalau bosan baca "tulisan" di internet pindah baca sms. Terus kalau dah bosan semua gimana dong??? ya tidur aja kalee...
Namun demikian, sebenarnya gaya baca seperti ini tidaklah salah, malah itu merupakan salah satu trik agar bisa menamatkan 30 buku dalam 1 bulan, asal kita disiplin melakoninya. Alias mesti, kudu bin wajib menyediakan waktu khusus tiap harinya untuk membaca. Setelahnya timbul pernyataan iseng, "kalau jenis bukunya komik mah, 30 buku juga bisa deh dijabanin dan dibabat dalam sehari. Tapi kalau jenis bukunya "berat-berat"? waaaah... gak janji deh..."
Tujuan Membaca
Setiap aktivitas yang kita lakukan pasti ada tujuan yang telah kita tetapkan, baik itu dituliskan ataupun tidak. Semakin jelas kita menetapkan tujuan, maka semakin jelas pula langkah-langkah yang akan kita ambil untuk melunasi tujuan yang telah kita tetapkan tersebut.
Begitu pula dengan aktivitas membaca. Jatuhnya tangan kita pada sebuah buku, merupakan representasi dari tujuan yang akan kita raih dari aktivitas membaca tersebut. Tujuan saat kita memegang textbook pasti akan berbeda dengan saat kita memegang komik. Saat kita memegang novel akan berbeda dengan saat kita memegang koran atau tabloid. Saat kita memegang komputer akan berbeda dengan saat kita memegang ponsel. Namun, dari ini semua ada hal yang akan menjadikannya sama, yaitu jika tujuan kita memegangnya adalah untuk nimpuk... hehehe
Ilustrasi tersebut diperkuat dengan Adler dan Doren (2007) yang menyatakan, paling tidak tujuan orang membaca itu ada 3, yaitu untuk hiburan, informasi, atau pemahaman. Dan tujuan-tujuan inilah yang akhirnya menentukan bagaimana cara orang tersebut membaca. Dengan melihat ini, maka wajar bila waktu untuk menamatkan tiap buku tidaklah sama, tergantung genrenya. Semakin "ringan" isinya maka akan semakin cepat waktu usainya.
Kenali Level Membacamu
Usia biologis seseorang tidak mesti sebanding dengan usia kronologis seseorang. Jadi jangan heran bila kita suka menemukan orang yang secara usia sudah terbilang dewasa, namun secara kelakuan masih terbilang minus. Begitu pula dengan kelakuan kita membaca. Usia yang terkuantifikasi besar tidak menjamin dia mampu "membaca" secara baik tulisan yang ada di hadapannya. Untuk hal seperti ini, orang Yunani mengistilahkannya sebagai sophomores, yaitu orang yang membaca banyak buku tanpa memahaminya dengan benar. Secara ekstrim, Alexander Pope mencap fenomena ini sebagai "pembaca yang bodoh".
Cara yang paling mudah untuk mengetahui sudah seberapa pandaikah orang tersebut dalam membaca adalah dengan melihat ciri-ciri yang muncul pada saat dia berkativitas membaca. Dan ciri-ciri tersebut terangkum dalam 4 level membaca berikut. Disebut level karena tingkatan yang lebih tinggi mencakup tingkatan yang lebih rendah. Level pertama tidak hilang dalam yang kedua, yang kedua dalam yang ketiga, yang ketiga dalam yang keempat. Level membaca keempat, yang tertinggi, mencakup semua level lainnya.
- Membaca Dasar atau Membaca Permulaan
Orang yang menguasai level ini, paling tidak, telah meningkat dari buta huruf menjadi bisa membaca. Dia baru sampai pada tahap bagaimana mengenali kata demi kata. Jadi, saat membaca sebuah tulisan dia tidak akan berfikir apa implikasi dari tulisan tersebut. Dia hanya berhenti sampai memperhatikan bahasa yang disajikan penulis.
Namun demikian, level ini bisa saja dialami oleh mereka yang sudah biasa membaca buku jika buku yang dia baca tersebut ditulis dalam bahasa asing yang tidak dikuasainya dengan baik. Dalam situasi ini, usaha pertama yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasi kata-kata yang tampak. Hanya setelah kita mengenali kata-kata itu satu persatulah kita baru bisa mulai berusaha memahami kalimat tersebut dan berupaya mengerti apa maksudnya. - Membaca Inspeksional
Level ini memberi tekanan khusus pada waktu. Biasanya pembaca dibatasi waktu dalam menyelesaikan sebuah bacaan. Dengan kata lain, level membaca inspeksional bertujuan menemukan yang terbaik dari sebuah buku dalam waktu terbatas. Biasanya relatif singkat, bahkan selalu teramat singkat untuk menemukan semua yang tersaji dalam buku tersebut.
Nama lain level ini adalah skiming atau pramembaca. Pramembaca yang dimaksud disini bukanlah memeriksa buku secara acak atau alakadarnya. Membaca inspeksional adalah seni skiming secara sistematis. Tujuan saat membaca pada level ini adalah memeriksa permukaan buku, membaca semua hal yang bisa dipelajari dari permukaan itu saja.
Jika pertanyaan yang diajukan pada level pertama adalah "apa yang disampaikan kalimat itu?", maka pertanyaan yang biasa diajukan pada level ini adalah "apa perihal buku itu?" atau "bagaimanakah struktur buku itu?" atau "apa sajakah bagian-bagiannya?" Setelah membaca secara inspeksional, sesingkat apapun waktunya, kamu harus bisa menjawab pertanyaan, "apa jenis buku itu -- novel, sejarah, karya ilmiah?"
Namun kebanyakan orang, bahkan banyak pembaca yang baik, tidak menyadari manfaat membaca inspeksional. Mereka mulai membaca sebuah buku dari halaman pertama sampai ke halaman terakhir tanpa membaca daftar isinya. Karena itu, mereka menghadapi tugas mengetahui buku secara sekilas sekaligus memahaminya. Cara ini menyulitkan. - Membaca Analitis
Berarti membaca menyeluruh, membaca lengkap, atau membaca dengan baik. Jika membaca inspeksional adalah kegiatan membaca terbaik dan terlengkap dalam waktu terbatas, membaca analitis adalah kegiatan membaca terbaik dan terlengkap tanpa batas waktu.
Pembaca analitis harus mengajukan banyak pertanyaan teratur tentang apa yang ia baca. Pada level ini, pembaca harus benar-benar paham dengan apa yang disampaikan oleh penulis. Francis Bacon berujar, "sejumlah buku hanya perlu dicicipi, yang lain perlu ditelan, dan sedikit lainnya harus dikunyah dan dicerna." membaca secara analitis berarti mengunyah dan mencerna.
Membaca analitis tidak diperlukan jika tujuan kamu membaca hanya sekedar untuk mendapat informasi atau hiburan. Tujuan membaca analitis terutama untuk mendapatkan pemahaman. karena itu, kamu setidak-tidaknya harus cukup terampil membaca secara analitis agar mampu meningkatkan pemikiran dari status kurang memahami menajdi lebih memahami, dengan bantuan buku. Jika tidak, peningkatan ini nyaris mustahil. - Membaca Sintopikal
Level ini bisa juga dinamakan membaca komparatif. Saat membaca secara sintopikal, kita membaca banyak buku, bukan hanya satu, dan kita menyandingkan topik buku-buku tersebut dan membandingkan mereka satu sama lain. Bukan itu saja, dengan bantuan teks-teks yang dibaca, pembaca sintopikal bisa melakukan analisis topik yang mungkin tidak dinyatakan secara eksplisit oleh buku apapun di antara buku-buku yang dibacanya. Jelaslah, membaca sintopikal merupakan jenis aktivitas membaca yang paling aktif dan paling menguras energi.
Ada dimanakah kita?
Berkaca hal yang paling disukai manusia kebanyakan, namun anehnya dalam aktivitas berkaca tersebut kita sering terjebak untuk melihat sisi yang baiknya saja. Dan bila pada akhirnya yang terproyeksi banyak buruknya, bukannya kita segera mengambil langkah membenahi diri, kita malah asyik menyalahkan kacanya (apalagi bila memang kacanya sudah retak dan buram). "Waaahhh... gak bener nih kaca..." dan kaca menjawab "kalo tau gak bener, kenape masih dipake buat ngaca woy...
"Sekarang, yuukk sama-sama kita tengok sedikit ke belakang. Kira-kira sudah sampai level mana sih aktivitas membaca kita? masih di level satu atau sudah sampai level pamungkas? Silahkan dikroscek pada hati kita masing-masing dan biarkanlah jawaban dari itu semua termanifestasikan (tampak) pada perubahan gaya membaca kita selanjutnya. Amin ya rabbal'alamin...
Diperas dari buku berikut:
Adler, Mortimer J & Charles Van Doren. How to read a Book: Mencapai Puncak Tujuan Membaca. Jakarta: Indonesia Publishing, 2009.
*sumber gambar: serbasejarah.wordpress.com
Hmm..yg pasti 7annya informatif aj..btw,jzk khair mba u/share-nya.. :)
BalasHapussami mawon sama sy mba an... Bru membaca scr analitis atw sintopikal klo ad tgs kuliah atw ad tujuan khusus aj... Selebihnya pke gaya membaca santai beibeh... Hehe
BalasHapussami2 mba an dah meluangkan waktu sibuknya bwt bc tlsn plus ngomeninnya sgl. Jazakillah khair... :)
sami mawon sama sy mba an... Bru membaca scr analitis atw sintopikal klo ad tgs kuliah atw ad tujuan khusus aj... Selebihnya pke gaya membaca santai beibeh... Hehe
BalasHapussami2 mba an dah meluangkan waktu sibuknya bwt bc tlsn plus ngomeninnya sgl. Jazakillah khair... :)
sami mawon sama sy mba an... Bru membaca scr analitis atw sintopikal klo ad tgs kuliah atw ad tujuan khusus aj... Selebihnya pke gaya membaca santai beibeh... Hehe
BalasHapussami2 mba an dah meluangkan waktu sibuknya bwt bc tlsn plus ngomeninnya sgl. Jazakillah khair... :)
file - save as - save!
BalasHapushihi...
shift + del -- enter
BalasHapus:D