
Picture Intelligence dikembangkan oleh Dan Roam, seorang konsultan Google, General Electric, dan HBO. Yang mendasari konsep ini adalah bahwa sebenarnya banyak masalah yang bisa diselesaikan dengan menggunakan gambar, karena gambar bisa membuat segala sesuatunya menjadi lebih mudah dan sederhana. Selain itu dia juga beranggapan bahwa setiap orang dianugerahi kemampuan berpikir secara visual sejak lahir, meskipun orang tersebut sama sekali tidak memiliki keahlian menggambar.
Pertanyaan berikutnya adalah tertarikkah untuk nyicipin picture intelligence ini? Kalau iya, berikut tahapan-tahapannya.
Ternyata hanya butuh 4 langkah atau tahapan yang mesti kita lalui dalam proses berpikir visual, yaitu: melihat, mengenal, membayangkan, dan memperlihatkan.
Melihat = mengumpulkan dan menyaring
Adalah proses yang semipasif dalam mengambil informasi visual di sekitar kita. Melihat berarti mengumpulkan input dan membuat penilaian awal secara kasar tentang apa yang terjadi di luar sana, sehingga kita tahu bagaimana meresponsnya. Melihat disini termasuk melakukan penyaringan terhadap lingkungan untuk membangun pemahaman terhadap gambaran menyeluruh di awal, ketika dalam waktu yang bersamaan juga menjawab berbagai pertanyaan yang dapat membantu kita membuat penilaian apa yang ada di depan kita.
Pertanyaan melihat:
- Ada apa disana? apakah sesuatu tersebut ada dalam jumlah yang banyak? mengapa sesuatu itu tidak ada disana?
- Seberapa jauh saya bisa melihatnya? apa yang membatasi saya untuk dapat melihat situasi ini jauh ke depan?
- Apa yang bisa saya ketahui dengan cepat, dan apa yang tidak saya perhatikan?
- Apakah hal-hal yang ada di depan saya adalah apa yang saya harapkan akan saya lihat? apakah saya bisa "mendapatkan" apa yang saya inginkan dengan cepat? atau, apakah saya perlu menggunakan waktu ekstra untuk menggambarkan apa yang saya lihat?
- Perhatikan keseluruhan lanskap. Buatlah sebuah gambar besar: catat bahwa di sana ada empat hutan dan pohon... serta daun.
- Temukan tepian-tepiannya dan tentukan jalan mana yang di atas. Buat batasan dari pandangan kita dan koordinat dasar dari data di hadapan kita.
- Buatlah penilaian awal saat melakukan penyaringan, pisahkan bagian yang akan diambil dan yang tidak diperlukan.
Mengenal = memilih dan mengelompokkan
Kegiatan ini membutuhkan keaktifan indera pengelihatan kita secara sadar. Ketika kita hanya melihat, kita memerhatikan semua yang kita lihat dan mengumpulkan input-input awal. Saat kita mengenal, maka kita memilih input mana yang layak untuk diperiksa secara rinci, berdasarkan pol-pola yang diketahui - terkadang disadari, namun seringkali tidak.
Pertanyaan mengenal:
- Apakah saya tahu apa yang saya kenal? apakah saya telah mengetahui hal ini sebelumnya?
- Apakah ada pola-pola yang muncul? adakah sesuatu khusus yang muncul?
- Apakah ada yang dapat saya ambil dari apa yang saya kenal - pola apa, prioritas apa, interaksi apa - sehingga saya bisa cukup peka terhadap lingkungan da mempunyai dasar untuk mengambil keputusan tentang hal ini?
- Apakah saya punya cukup input visual agar apa yang saya kenal bisa bermanfaat, atau apakah saya perlu untuk kembali dan terus melihat?
- Menyaring relevansi: secara aktif memilih input-input visual, mana ynag diperlukan dan mana yang bisa dibuang. (lalu, kemudian kembali dan periksa lagi)
- Mengelompokkan dan membuat perbedaan untuk masing-masing kelompok: pisahkan gandum ke dalam beberapa kategori berdasarkan jenisnya.
- Perhatikan pola dan buat kelompok informasi secara kreatif, identifikasi persamaan visual di antara input-input dan persamaan yang lebih besar diantar berbagai kategori.
Membayangkan = melihat apa yang tidak tampak
Adalah tahapan untuk mengolah input-input visual yang telah dikumpulkan dan dipilih. Proses membayangkan daapat dilakukan melalui salah satu dari dua cara berikut: melihat dan mengenal dengan mata yang tertutup atau dengan melihat apa yang tidak tampak.
Pertanyaan membayangkan:
- Dimana saya melihat ini sebelumnya? dapatkah saya membuat analogi terhadap hal-hal yang telah saya lihat di masa lau?
- Apakah ada cara yang lebih baik untuk membangun pola-pola yang saya lihat? dapatkah saya mengatur kembali pola-pola tersebut agar membuatnya lebih bermakna?
- Dapatkah saya memanipulasi pola-pola tersebut sehingga sesuatu yang tidak nyata menjadi nyata?
- Adakah kerangka tersembunyi yang menghubungkan segala sesuatu yang pernah saya lihat? Dapatkah saya menggunakan kerangka pikir sebagai sebuah tempat untuk meletakkan hal-hal lain yang telah saya lihat?
- Tutup mata anda untuk melihat lebih banyak: dengan semua input visual yang segar dalam pikiran saya, lihatlah dengan mata tertutup dan lihat apakah muncul koneksi-koneksi baru.
- Temukan analogi: tanyakan, "di manas saya telah melihat ini sebelumnya" dan kemudian bayangkan betapa solusi analogi bisa berhasil dalam situasi baru ini.
- Memanipulasi pola: balikkan gambar-gambar, pindahkan gambar dari kiri ke kanan, pindahkan koordinat untuk membalikkan gambar-gambar dari dalam ke luar. Lihat apakah muncul sesuatu yang baru.
Memperlihatkan = membuat lebih jelas
Begitu kita telah menemukan pola dan makna dari gambar-gambar tersebut, lalu gambarkan sebuah cara untuk memanipulasi semua yang teah kita lihat, temukan kerangka terbaik untuk merepresentasikan ide secara visual, tetapkan semua hal di atas kertas, fokuskan pada apa yang telah kita bayangkan, dan kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan audiens.
Pertanyaan memperlihatkan:
- Dari semua yang telah saya bayangkan, sebutkan tiga gambar terpenting yang muncul - baik bagi saya maupun bagi audiens saya?
- Apa cara terbaik untuk menyampaikan ide saya secara visual? kerangka visual mana yang paling cocok untuk berbagi tentang apa yang telah saya lihat?
- Ketika saya kembali ke awal yang saya lihat, apakah yang sekarang saya tunjukkan ada artinya?
- Katakan, "inilah yang telah saya lihat" lalu tanyalah pada audiens anda, "apakah ini berarti bagi anda? apakah anada melihat hal yang sama, atau apakah ada hal berbeda yang anda lihat?
- Klarifikasi ide-ide terbaik anda: prioritaskan semua ide visual anda sehingga yang paling relevan akan menempati urutan teratas.
- Pastikan sesuatu: ambil kerangka visual yang tepat dan tuliskan ide-ide anda di atas kertas atau pada papan tulis.
- Cakup semua pertanyaan "W": pastikan bahwa siapa/apa, berapa banyak, dimana, dan kapan selalu tampak; biarkan bagaimana dan mengapa muncul sebagai bagian pokok yang visual.
Intinya adalah banyak cara yang bisa kita gunakan untuk mensharing informasi kepada orang lain. Dan tentunya banyak cara pula untuk dapat mempermudah seseorang memahami apa yang kita sampaikan. Bila secara lisan tidak nendang, bisa pakai tulisan. Kalau dengan tulisan belum nonjok, bisa pakai gambar/visual. Kalau pakai gambar/visual belum ngemplang juga, bisa disimulasikan. Kalau semua itu masih belum mempan juga, bersabar aja dan biarlah waktu yang akan menjawabnya, sebab setiap orang tidak memiliki waktu yang sama dalam memahami dan menginternalisasi sesuatu hal. Jangan sampai ketidaksabaran kita membuat proses seseorang dalam menyedot informasi menjadi surut. Selain itu, apapun yang kita sampaikan gunakanlah paradigma "communication with" bukan "communication to". Dan gunakanlah prinsip parsimoni dalam teknik penyampaiannya, jika ada 2 cara yang sama kegunaannya dan efektifnya, maka pilihlah cara yang paling mudah.
Sumber:
Dan Roam. Picture Intelligence: Menyelesaikan Berbagai Masalah dengan Gambar. Jakarta: Ufuk Press, 2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas