.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}

Senin, 06 September 2010

Dia yang kan Pergi

Mestikah bersuka cita, jika kita tak tahu lagi apakah mungkin kan jumpa. Ketika ramadhan menyapa, kita diam. Ketika ramadhan pergi, pun tak ada leleh tangis yang tertitis. Hamba macam apa aku? Jika yang ku tahu hanya kata mohon maaf lahir batin saja di setiap tahunnya. Hanya kata minal aidin wal faidzin saja yang tertumpuk di ujung ramadhan. Kalau sudah begini, pantaskah batin ini kan terlahir menjadi bening, jika perilaku beribadahku saja kering.

Batin ini masih bisakah resah dan basah, kala sang pujaan pamit undur karena waktu sudah mulai memerah. Residu apa yang ada di sini? Gumpalan haus, bongkahan lapar, atau gundukan lelah... Apa bedanya dengan mereka yang bukan disebutNYA hai orang-orang yang beriman?

Ya ALLAH... Mestinya maaf ini terhujam ke diriku dulu sebelum kupanahkan ke orang lain. Kala diriku sudah berbuat salah dan khilaf karena secara sadar sudah tak menunaikan hak diriku sebagai hambaMU. Ya ALLAH... agak kecut bibir tuk mengucap maaf akhirnya, karena sudah terlalu panjang deretan dosa yang kuperbuat secara sengaja. Saat diri ini menyadari kealphaan diri dan ketika kudapati tidak ada pundi-pundi amal yang terekam di sini, dia pun pergi tanpa perlu permisi. Dan ku pun sangsi, apakah ku kan bisa menemuinya di waktu nanti...

Ya ALLAH... Aku tak tahu apakah tangis ini sebagai wujud kehilangan, kerinduan, atau kebahagiaan? Sebab yang terasa sekarang adalah jiwa ini semakin memilu dan kelu kala membayangkan ramadhan kan segera berlalu. Namun bila saja tiap bulan adalah ramadhan, mungkinkah pula ku mampu tuk terus memupuk dan menghangatkan rindu? Sehingga rindu ini tidak sekedar berhenti menjadi seutas kata penggenap emosi saja...

Ya ALLAH... Izinkan kami melunasi tugas-tugas sebagai hambaMU sebelum maut merobek masa edar diri ini. Ya ALLAH, ampunilah kami...

4 komentar:

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas