.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}
Tampilkan postingan dengan label religicious. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label religicious. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 November 2011

Nasihat Seorang Arab kepada Putranya (Ukhti Nayifah Uwaimir)

Mari menyelam bersama di sini:

Wahai putraku...
Agar engkau menjadi seorang raja yang berwibawa di hadapan manusia...
Janganlah berbicara dalam berbagai urusan
Kecuali setelah mengecek kebenaran sumbernya
Dan jika seseorang datang membawa berita, cari bukti kebenarannya sebelum dengan berani engkau berbicara

Hati-hati dengan isu... jangan percayai setiap yang dikatakan,
jangan pula percaya sesuatu yang setengah engkau lihat
Dan jika engkau mendapatkan cobaan berupa seorang musuh...
hadapi dengan berbuat baik kepadanya...
tolak dengan cara yang lebih baik, niscaya permusuhan itu berubah menjadi cinta kasih.

Jika engkau hendak mengungkap kejujuran orang, ajaklah ia pergi bersama... dalam bepergian itu jati diri manusia terungkap... penampilan lahiriahnya akan luntur dan jati dirinya akan tersingkap! Dan "bepergian itu disebut safar karena berfungsi mengungkap yang tertutup, mengungkap akhlak dan tabiat".

Jika engkau diserang banyak orang sementara engkau berada di atas kebenaran... atau jika engkau diserang dengan kritikan-kritikan buruk... bergembiralah... sebab mereka sebenarnya sedang berkata: "Engkau orang yang sukses dan berpengaruh," sebab, anjing yang mati tidak akan ditendang, dan tidak dilempar kecuali pohon yang berbuah

Wahai putraku...
Jika engkau hendak mengkritik, biasakan untuk melihat dengan mata tawon lebah... dan jangan memandang orang lain dengan mata lalat, sebab engkau akan terjatuh kepada perkara yang busuk!

Tidurlah lebih awal wahai putraku agar bisa bangun lebih awal... sebab keberkahan ada di pagi hari, dan saya khawatir kehilangan kesempatan mendapatkan rezeki ALLAH yang Maha Penyayang disebabkan engkau begadang di malam hari, sehingga tidak bisa bangun pagi!

Akan aku ceritakan kepadamu kisah seekor kambing dan serigala, supaya engkau aman dari orang yang berbuat makar
Dan saat seseorang memberikan tsiqah-nya kepadamu, jangan sampai engkau mengkhianatinya!

Akan aku ajak engkau ke sarang singa... akan aku ajarkan bahwa singa itu tidak menjadi raja hutan dikarenakan aumannya!
Akan tetapi, karena ia berjiwa tinggi!
Tidak mau memakan hasil buruan binatang lain, betapapun ia lapar... dan perutnya melilit-lilit... jangan mencuri jerih payah orang lain... sebab engkau menjadi keji!

Akan aku ajak engkau menemui bunglon... agar engkau menyaksikan sendiri tipu dayanya! Bunglon mengubah warna dirinya sesuai dengan tempat ia berada... agar engkau mengetahui bahwa yang seperti bunglon itu banyak... dan berulang-ulang! Dan bahwasanya ada orang-orang munafik... banyak pula manusia yang berganti-ganti pakaian... dan berlindung di balik alasan "ingin berbuat baik".

Wahai putraku...
Biasakan engkau bersyukur kepada ALLAH!
Cukuplah menjadi alasan untuk bersyukur kepadaNYA bahwa engkau dapat berjalan, mendengar, dan melihat!
Bersyukurlah kepada ALLAH, dan syukuri pula manusia...
sebab ALLAH SWT akan menambah orang-orang yang bersyukur
Dan manusia senang saat mendapati seseorang yang diberi sesuatu lalu orang itu menghargainya!

Wahai putraku... ketahuilah bahwa sifat utama yang paling agung dalam kehidupan ini adalah sifat jujur!
Dan bahwasanya kebohongan, meskipun tampak memberi keselamatan... namun jujur lebih berakhlak bagimu! Dan bagi orang sepertimu!

Wahai putraku...
Persiapkan alternatif untuk segala urusan... agar engkau tidak membuka jalan kehinaan!
Manfaatkan segala peluang... sebab peluang yang datang sekarang... bisa jadi tidak akan berulang!

Jangan berkeluh kesah... aku harap engkau optimis... siap menghadapi kehidupan...
Jauhilah orang-orang yang putus asa dan pesimis, lari dari mereka! Dan jangan sampai engkau duduk dengan seseorang yang selalu memandang sial kepada segala hal!

Jangan bergembira saat melihat orang lain terkena musibah... jangan pula menghina orang karena postur atau penampilannya...
Sebab dia tidak menciptakan dirinya... dan saat engkau menghina orang lain, pada hakikatnya engkau menghina ciptaan dari Dzat yang Maha Mencipta dan Membuat bentuk rupa.

Jangan membuka aib orang, sebab ALLAH akan membuka aibmu di rumahmu... sebab ALLAH-lah Dzat yang menutupi dan mencintai orang yang menutupi!
Jangan menzalimi siapapun... dan jika engkau hendak menzalimi dan engkau merasa mampu menzalimi, ingatlah bahwa ALLAH SWT lebih mampu!

Jika engkau merasa hatimu mengeras, usaplah kepala anak yatim... engkau akan terheran-heran... bagaimana usapan itu dapat menghilangkan rasa keras hati dari hatimu, seakan hatimu menjadi pecah dan melunak!
Jangan mendapat dalam perdebatan...
Kedua pihak merugi.

Kalau kita yang kalah, kita merugi telah kehilangan kebesaran kita, dan jika menang, kita juga merugi, telah kehilangan orang lain yang menjadi lawan debat kita... semua kita kalah... baik yang merasa menang dan yang merasa belum menang!
Jangan monopoli pendapat... yang bagus adalah engkau memengaruhi dan dipengaruhi!
Hanya saja, jangan larut dalam pendapat banyak orang... dan jika engkau merasa bahwa pendapatmu benar... tegarlah dan jangan terpengaruh!

Wahai putraku...
Engkau dapat mengubah keyakinan orang... dan engkau menguasai hati mereka tanpa engkau sadari! Bukan dengan sihir, bukan pula dengan jampi... namun, dengan senyumanmu... dan kosakatamu yang lembut... dengan keduanya, engaku dapat menyihir!
Oleh karena itu, tersenyumlah...
Mahasuci ALLAH yang telah menjadikan senyuman sebagai ibadah dalam agama kita, dan kita mendapatkan pahala darinya!

Di Cina... jika engkau tidak murah senyum, mereka tidak akan berikan lisensi kepadamu untuk membuka kedai...
Jika engkau tidak menemukan orang yang tersenyum kepadamu, tersenyumlah engkau kepadanya!
Jika bibirmu terbuka karena senyuman...
dengan cepat...
terbuka pula hati untuk mengekspresikan isinya.

Jika orang meragukanmu, bela dirimu... jelaskan... dan beri keterangan pembenarannya!
Jangan suka nimbrung dan mengenduskan hidungmu dalam segala urusan... jangan pula ikut-ikutan, berposisi bersama banyak orang saat mereka bersikap!

Wahai putraku... jauhkan dirimu dari hal ini... aku sangat tidak suka kalua melihatmu seperti ini!
Jangan bersedih wahai putraku terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan! Sebab kita tidak diciptakan kecuali untuk diuji dan diberi cobaan... sehingga ALLAH melihat kita... adakah kita bersabar?
Karena itu... santai saja... jangan keruh hati! Yakinlah bahwa jalan keluar dekat...
"Jika mendung semakin hitam, pertanda, sebentar lagi hujan!"

Jangan meratapi masa lalu, cukuplah bahwa ia telah berlalu...
sia-sia kalau kita memegang gergaji kayu, lalu menggergaji!
Tataplah hari esok... persiapkan diri... dan singsingkan lengan baju untuk menghadapinya!

Jadilah orang yang mulia... berbanggalah dengan dirimu!
Sebagaimana engkau melihat dirimu, begitulah orang lain akan melihatmu...
Jangan sekali-kali meremehkan dirimu!! sebab engkau menjadi besar saat engkau ingin besar...
hanya engkau saja yang memutuskan ia menjadi kecil!

 

Yoyoh Yusroh (Almh)
Komisi I DPR RI

 

Sumber:
Tim GIP. 2011. Yoyoh Yusroh: Mutiara yang Telah Tiada. Jakarta:Gema Insani

Sumber gambar:
ar-royyan.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 17 September 2011

Oh Iya, Ini Sudah Bukan Ramadhan

Sebuah refleksi ..

Aku terbangun di awal waktu sahur, jam menunjuk pukul 03.00, kudapati tempat mushola rumahku temaram. Senyap. Qiyamulail yang telah kubiasakan pun kuurungkan. Aku tersadar; “Oh, iya, ini sudah bukan Ramadhan.”

Aku terbangun lagi pukul 04.00, beberapa menit sebelum waktu imsak. Kudapati meja ruang keluarga kosong melompong dari makanan; kukira hari ini ada sahur. Aku pun menyadari; “Oh, iya, ini sudah bukan Ramadhan.”

Aku sholat Subuh di masjid. Lalu, kudapati masjid lebih sepi. Usai Subuh, kubersiap i’tikaf sejenak sambil membaca Al Qur’an, namun kantuk terasa menguasai. Pikiranku pun makin senang tatkala menyadari; “Oh, iya, ini sudah bukan Ramadhan.”

Aku berangkat sekolah sampai dicegah ayah-ibu. “Nak, belum makan ya?” Aku pun tersenyum sambil berkata pelan,”Oh, iya ini sudah bukan Ramadhan.” Makankupun makin bersemangat, makin lahap.

Aku bertemu orang yang suka mengejekku di tengah jalan. Ketika aku berpapasan, aku diamkan sambil bergumam,”Innii sho’imun-Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Namun, ketika kusadari bahwa; Oh, iya, ini sudah bukan Ramadhan. Aku hampiri dan aku kirim bogem mentah ke wajahnya. “Duaghh”

Aku ujian di sekolah. Awalnya, aku menahan diri untuk tidak mencontek. Karena “ini bukan Ramadhan”, aku pikir bisikan syetan lebih terasa nyata. Dan kesempatan itu pun datang sendiri. Aku mencontek.

Aku menunggu bus di halte. Sambil menunggu, aku hampir saja mengeluarkan Quran miniku, hendak tilawah. Namun, dimana Qur’anku? Oh, iya, sudah ditata rapi di rumah sambil aku bergumam,”Oh, iya, ini sudah bukan Ramadhan.”

Aku melihat nenek tua renta meminta-minta di pinggir jalan. Aku hendak kasih, tapi hanya tinggal 50ribuan. Karena “ini bukan Ramadhan” aku urungkan niatku.

Aku mendengar adzan. Lantas, kususuri jalanan, hendak mengejar waktu sholat. Tapi, bus keburu datang. Karena bukan Ramadhan, aku pun lebih memilih bus.

Aku hendak berbuka, lari-lari aku menghampiri rumah, rasanya senang sekali hendak menyambut buka. Tapi begitu masuk waktu buka, tak ada buka. Ah, yasudah, “Oh, tidak. Aku mulai rindu Ramadhan.”

Aku duduk habis sholat Isya’. Aku sempatkan duduk agak lama. Hey, mana tarawihnya? Mana witirnya? Mana tausiyahnya? Aku pun merenung,”Ya Allah, aku rindu.” Tak terasa tetes mata mengalir pelan .



Oh, iya ini sudah bukan Ramadhan, oh iya ini sudah bukan Ramadhan, oh iya, ini sudah bukan Ramadhan? Kenapa kata-kata itu yang kita ucap? Apakah itu berarti sebuah kalimat penyadaran diri yang membuat kita sadar untuk menjauhi amal kebaikan? Atau penegasan bahwa kita sudah bebas dari ketatnya peraturan Ramadhan? Selesainya berlomba-lomba dalam kebaikan? Na’udzubillaahi mindzaalik.

Lihatlah, kebiasaan kita masih membekas. Lihatlah, isyarat kebaikan itu telah mendarah daging di awal Syawal. Namun, hanya karena kita bilang “Oh, iya, ini sudah bukan Ramadhan”. Maka keistiqomahan itu seolah hancur berkeping-keping. Kita sadar dan kita ogahi. Lalu, apa gunanya Ramadhan tampil sebagai Bulan Tarbiyah? Bulan pendidikan yang menempa mental dan fisik orang-orang beriman agar makin kuat, bukan hanya kuat secara momentum saja, seharusnya -pas Ramadhan-, tapi untuk membiasakan meramadhankan bulan-bulan lain. Itulah sesungguhnya, makna pembinaan dalam konteks bulan tarbiyah Ramadhan.

Apakah Ramadhan layaknya seorang raja yang membuat pejabat di bawahnya patuh saja datang ke masjid agar bisa dilihat oleh si raja itu? Kalau tidak ada si raja, ga usah lah yau. Lalu, apakah Ramadhan sekedar tamu agung “lewat” yang kita jamu dengan aneka ibadah meningkat, lalu ketika tamu itu bertolak, kewajiban kita selaku tuan rumah luntur seketika? Ya Allah, semoga tidak, semoga tidak.

Semoga kita menjadi hamba Allah, sesosok hamba yang mencintai Ramadhan karena Allah. Bukan sebaliknya, mencintai Allah karena Ramadhan. Sehingga apabila diserukan bahwa,”Ramadhan pergi! Ramadhan pergi!” Maka mereka menangis bukan karena telah kehilangan bulan penuh bonus pahala, melainkan menangis karena amalnya takut tidak diterima oleh Allah. Ya, bukan pula menangis karena doorprize-doorprize pahala itu telah lenyap disapu Syawal, tetapi menangis karena ketakutan atas ketidakistiqomahannya menghadapi bulan-bulan selanjutnya. Ya, ketakutan bahwa ketaatannya itu karena Ramadhan, bukan karena Allah. Oh, betapa tangis itu bukan tangis harapan akan berkah yang lebih banyak, apalagi gegap gempita ‘Idul Fithri yang sudah menjadi kebiasaan disambut dengan “suka cita”. Namun, tangis kerinduan.. Rindu dan takut.. Akankah kita dipertemukan dengan Ramadhan tahu depan? Akankah ini Ramadhan terbaik yang telah kita tinggalkan? Ya Allah.. Terimalah amal kami!

Apapun penyikapan kita terhadap hilangnya Ramadhan, semoga semua penempaan mental di Ramadhan ini tidak sia-sia. Mampu melahirkan insan-insan bertakwa sesuai visi Al Baqarah 183. Apakah kita termasuk insan bertakwa itu? Tanyakan pada diri.. Pantaskah kita menerima itu!

Bolehlah kita merevisi kalimat “penyadaran bukan Ramadhan” tadi dengan;

“Oh, iya, ini sudah bukan Ramadhan, itu artinya, kini aku harus membiasakan apa yang sudah kulakukan selama Ramadhan” 



Oleh: Nur Syamsudin - www.fimadani.com

Rabu, 03 Agustus 2011

Ya Rasulullah 1

Ya Rasulallah...Aku ingin seperti santri berbaju putih

Yang tiba-tiba datang menghadap

Duduk menyentuhkan kedua lututnya kepada lutut agungmu

Dan meletakkan kedua telapak tanganya di atas paha-paha muliamu

Lalu aku akan bertanya

Ya Rasulallah….tentang Islamku

Ya Rasulallah….tentang imanku

Ya Rasulallah….tentang Ihsanku

Ya Rasulallah….

Mulut dan hatiku bersaksi tiada tuhan selain Allah

Dan engkau Ya Rasulallah….utusan Allah

Tapi…ku sembah juga diriku

Astaghfirullah..

Dan risalahmu hanya kubaca, bagai sejarah

Ya Rasulallah….

Setiap saat, jasadku salat

Setiap kali diriku bersimpuh

Diriku jua yang ku ingat

Setiap saat ku baca shalawat

Setiap kali tak lupa ku baca salam

Assalamulaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullah wabarakatuh

Salam kepadamu wahai nabi juga rahmat dan berkat Allah

Tapi…tak pernah kusadari

Apakah dihadapanku, kau menjawab salamku

Bahkan apakah aku menyalamimu

Ya Rasulallah….

Ragaku berpuasa dan jiwaku kulepas bagai kuda

Ya Rasulallah….

Sekali-kali kubayar zakat dengan niat dapat balasan kontan dan berlipat

Ya Rasulallah….

Aku pernah naik haji, sambil menaikkan gengsi

Ya Rasulallah….

Sudah Islamkah aku

Ya Rasulallah….

Aku percaya Allah dan sifat-sifatNya

Aku percaya malaikat, percaya kitab-kitab suciNya

Percaya nabi-nabi utusanNya, aku percaya akherat

percaya qadha qadarNya seperti yang ku catat dan ku hafal dari ustadz

Tapi aku tak tahu, seberapa besar itu mempengaruhi lakuku

Ya Rasulallah….

Sudah imankah aku…?

Ya Rasulallah….

Setiap kudengar panggilan aku menghadap Allah

Tapi apakah IA menjumpaiku

Sedang wajah dan hatiku tak menentu

Ya Rasulallah….

Dapatkah aku berihsan…?

Ya Rasulallah….

Ku ingin menatap meski sekajap wajahmu yang elok mengerlap

Setelah sekian lama, mataku hanya menangkap gelap

Ya Rasulallah….

Ku ingin mereguk senyummu yang segar

Setelah dahaga di padang kehidupan hambar

hampir membuatku terkapar

Ya Rasulallah….

Meski secercah teteskan padaku cahayamu

Buat bekalku sekali lagi, menghampiriNya

hampir membuatku terkapar

Ya Rasulallah….

Meski secercah teteskan padaku cahayamu

Buat bekalku sekali lagi, menghampiriNya

(by : KH. Mustofa Bisri -GUSMUS)

 

sumber gambar: ci2t141088.wordpress.com

Jumat, 10 Desember 2010

Ibtasim (tersenyumlah) ;)

Dia bilang, langit sedang mendung dan sama sekali tidak cerah
Saya bilang, tersenyumlah, cukup mendung itu di langit saja

Dia bilang, masa muda telah berlalu;
Saya katakan tersenyumlah. Penyesalan tidak akan pernah mengembalikan masa muda yang telah berlalu...

Dia katakan, senyum tidak bisa membuat siapapun bahagia. Ia hanya hadir di dunia dan pergi dengan terpaksa.
Saya katakan, tersenyumlah selama masih ada jarak sehasta antara Anda dan kematian karena setelah itu tak akan ada senyum dalam kehidupan

(Ilia Abu Madhi)


--------------------
*Untuk sahabat dan saudara hatiku yang sedang dirundung mendung: "tersenyumlah... sesungguhnya senyummu adalah salah satu obat yang dapat meringankan bebanmu. Pun bila senyummu masih sulit tuk terkembang, ku kan setia menantinya sambil berdoa dan berusaha tuk melagui hatimu. Harapku, agar ku segera dapat menyaksikan betapa indahnya hatimu lewat pancaran senyummu. Tersenyumlah wahai sahabat dan saudara hatiku.... :)"


Jumat, 19 November 2010

Nasehati aku lagi...

satu saat,
kuminta nasehat pada seorang
sahabat
aku merasa tak layak akh, katanya

aku tersenyum dan berkata
jika tiap kesalahan kita dipertimbangkan
sungguh di dunia ini tak ada lagi
orang yang layak memberi nasehat

memang merupakan kesalahan
jika kita terus saja saling menasehati
tapi dalam diri tak ada hasrat untuk
berbenah
dan menjadi lebih baik lagi di tiap bilangan
hari

tapi adalah kesalahan juga
jika dalam ukhuwah tak ada saling
menasehati
hanya karena kita berselimut baik sangka
kepada saudara

dan adalah kesalahan terbesar
jika kita enggan saling menasehati
hanya agar kita sendiri tetap
merasa nyaman berkawan kesalahan

Subhanallaah, di jalan cinta para pejuang
nasehat adalah ketulusan
kawan sejati bagi nurani
menjaga cinta dalam ridhaNya

-Salim A. Fillah-

Sabtu, 13 November 2010

Hanya ENGKAU yang bisa

Mata sering terkabur dengan pesona dunia
Hatipun sering terkubur saat cinta menyapa
Kala jiwa terguncang gulana
Tanpa diminta, cahyaNYA hangat mendekap jiwa
dan semakinlah tersadar:
"Hanya kepada ENGKAULAH kami menyembah dan hanya kepada ENGKAULAH kami mohon pertolongan"

Minggu, 03 Oktober 2010

Argumentasi, Lelaki Shalih, dan Cinta

“Bila seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya meminang,” kata Rasulullah mengandaikan sebuah kejadian sebagaimana dinukil Imam At Tirmidzi, “Maka, nikahkanlah dia.” Rasulullah memaksudkan perkataannya tentang lelaki shalih yang datang meminang putri seseorang.

“Apabila engkau tidak menikahkannya,” lanjut beliau tentang pinangan lelaki shalih itu, “Niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” Di sini Rasulullah mengabarkan sebuah ancaman atau konsekuensi jika pinangan lelaki shalih itu ditolak oleh pihak yang dipinang. Ancamannya disebutkan secara umum berupa fitnah di muka bumi dan meluasnya kerusakan.

Bisa jadi perkataan Rasulullah ini menjadi hal yang sangat berat bagi para orangtua dan putri-putri mereka, terlebih lagi jika ancaman jika tidak menurutinya adalah fitnah dan kerusakan yang meluas di muka bumi. Kita bisa mengira-ngira jenis kerusakan apa yang akan muncul jika seseorang yang berniat melamar seseorang karena mempertahankan kesucian dirinya dan dihalang-halangi serta dipersulit urusan pernikahannya. Inilah salah satu jenis kerusakan yang banyak terjadi di dunia modern ini, meskipun banyak di antara mereka tidak meminang siapapun.

Mari kita belajar tentang pinangan lelaki shalih dari kisah cinta sahabat Rasulullah dari Persia, Salman Al Farisi. Dalam Jalan Cinta, Salim A Fillah mengisahkan romansa cintanya. Salman Al Farisi, lelaki Persia yang baru bebas dari perbudakan fisik dan perbudakan konsepsi hidup itu ternyata mencintai salah seorang muslimah shalihah dari Madinah. Ditemuinya saudara seimannya dari Madinah, Abud Darda’, untuk melamarkan sang perempuan untuknya.

“Saya,” katanya dengan aksen Madinah memperkenalkan diri pada pihak perempuan, “Adalah Abud Darda’.”

“Dan ini,” ujarnya seraya memperkenalkan si pelamar, “Adalah saudara saya, Salman Al Farisi.” Yang diperkenalkan tetap membisu. Jantungnya berdebar.

“Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya,” tutur Abud Darda’ dengan fasih dan terang.

“Adalah kehormatan bagi kami,” jawab tuan rumah atas pinangan Salman, ”Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada putri kami.” Yang dipinang pun ternyata berada di sebalik tabir ruang itu. Sang putri shalihah menanti dengan debaran hati yang tak pasti.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili putrinya. ”Tapi, karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah, saya menjawab bahwa putri kami menolak pinangan Salman.”

Ah, romansa cinta Salman memang jadi indah di titik ini. Sebuah penolakan pinangan oleh orang yang dicintainya, tapi tidak mencintainya. Salman harus membenturkan dirinya dengan sebuah hukum cinta yang lain, keserasaan. Inilah yang tidak dimiliki antara Salman dan perempuan itu. Rasa itu hanya satu arah saja, bukan sepasang.

Salman ditolak. Padahal dia adalah lelaki shalih. Lelaki yang menurut Ali bin Abi Thalib adalah sosok perbendaharaan ilmu lama dan baru, serta lautan yang tak pernah kering. Ia memang dari Persia, tapi Rasulullah berkata tentangnya, “Salman Al Farisi dari keluarga kami, ahlul bait.” Lelaki yang bertekad kuat untuk membebaskan dirinya dari perbudakan dengan menebus diri seharga 300 tunas pohon kurma dan 40 uqiyah emas. Lelaki yang dengan kecerdasan pikirnya mengusulkan strategi perang parit dalam Perang Ahzab dan berhasil dimenangkan Islam dengan gemilang. Lelaki yang di kemudian hari dengan penuh amanah melaksanakan tugas dinasnya di Mada’in dengan mengendarai seekor keledai, sendirian. Lelaki yang pernah menolak pembangunan rumah dinas baginya, kecuali sekadar saja. Lelaki yang saking sederhana dalam jabatannya pernah dikira kuli panggul di wilayahnya sendiri. Lelaki yang di ujung sekaratnya merasa terlalu kaya, padahal di rumahnya tidak ada seberapa pun perkakas yang berharga. Lelaki shalih ini, Salman Al Farisi, ditolak pinangannya oleh perempuan yang dicintanya.

Salman ditolak. Alasannya ternyata sederhana saja. Dengarlah. “Namun, jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka putri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan,” kata si ibu perempuan itu melanjutkan perkataannya. Anda mengerti? Si perempuan shalihah itu menolak lelaki shalih peminangnya karena ia mencintai lelaki yang lain. Ia mencintai si pengantar, Abud Darda’. Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak.

Ada juga kisah cinta yang lain. Abu Bakar Ash Shiddiq meminang Fathimah binti Muhammad kepada Rasulullah. Ia ingin mempererat kekerabatannya dengan Sang Rasul dengan pinangan itu. Saat itu usia Fathimah menjelang delapan belas tahun. Ia menjadi perempuan yang tumbuh sempurna dan menjadi idaman para lelaki yang ingin menikah. Keluhuran budi, kemuliaan akhlaq, kehormatan keturunan, dan keshalihahan jiwa menjadi penarik yang sangat kuat.

“Saya mohon kepadamu,” kata Abu Bakar kepada Rasulullah sebagaimana dikisahkan Anas dalam Fatimah Az Zahra, “Sudilah kiranya engkau menikahkan Fathimah denganku.” Dalam riwayat lain, Abu Bakar melamar melalui putrinya sekaligus Ummul Mukminin Aisyah.

Mendapat pinangan dari lelaki shalih itu, Rasulullah hanya terdiam dan berpaling. “Sesungguhnya, Fathimah masih kecil,” kata beliau dalam riwayat lain. “Hai Abu Bakar, tunggulah sampai ada keputusan,” kata Rasulullah. Yang terakhir ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Ath Thabaqat. Maksud Rasulullah dengan menunggu keputusan adalah keputusan dari Allah atas kondisi dan keadaan itu, apakah menerima pinangan itu atau tidak.

Ketika Umar bin Khathab mendengar cerita ini dari Abu Bakar langsung, ia mengatakan, “Hai Abu Bakar, beliau menolak pinanganmu.”

Kemudian Umar mengambil kesempatan itu. Ia mendatangi Rasulullah dan menyampaikan pinangannya untuk menikahi Fathimah binti Muhammad. Tujuannya tidak terlalu berbeda dengan Abu Bakar. Bahkan jawaban yang diberikan Rasulullah kepada Umar pun sama dengan jawaban yang diberikan kepada Abu Bakar. “Sesungguhnya, Fathimah masih kecil,” ujar beliau. “Tunggulah sampai ada keputusan,” kata Rasulullah.

Ketika Abu Bakar mendengar cerita ini dari Umar bin Khathab langsung, ia mengatakan, “Hai Umar, beliau menolak pinanganmu.”

Kita bisa membayangkan itu? Dua orang lelaki paling shalih di masa hidup Rasulullah pun ditolak pinangannya. Abu Bakar adalah sahabat paling utama di antara seluruh sahabat yang ada. Kepercayaannya kepada Islam dan kerasulan begitu murni, tanpa reverse ataupun setitis keraguan. Karena itulah ia mendapat julukan Ash Shiddiq. Ia adalah lelaki yang disebutkan Al Qur’an sebagai pengiring jalan hijrah Rasulullah di dalam gua. Ia adalah dai yang banyak memasukkan para pembesar Mekah dalam pelukan Islam. Ia adalah pembebas budak-budak muslim yang senantiasa tertindas. Ia adalah lelaki yang menginfakkan seluruh hartanya untuk jihad, dan hanya menyisakan Allah dan Rasul-Nya bagi seluruh keluarganya. Ia adalah orang yang ingin diangkat sebagai kekasih oleh Rasulullah. Ia adalah salah satu lelaki yang telah dijamin menginjakkan tumitnya di kesejukan taman jannah. Namun, lelaki shalih ini ditolak pinangannya secara halus oleh Rasulullah.

Sementara, siapa tidak mengenal lelaki shalih lain bernama Umar bin Khathab. Ia adalah pembeda antara kebenaran dan kebathilan. Ia dan Hamzah lah yang telah mengangkat kemuliaan kaum muslimin di masa-masa awal perkembangannya di Mekah. Ia lelaki yang seringkali firasatnya mendahului turunnya wahyu dan ayat-ayat ilahi kepada Rasulullah. Ia adalah lelaki yang dengan keberaniannya menantang kaum musyrikin saat ia akan berangkat hijrah, ia melambungkan nama Islam. Ia lelaki yang sangat mencintai keadilan dan menegakkannya tatkala ia menggantikan posisi Rasulullah dan Abu Bakar di kemudian hari. Ia pula yang di kemudian hari membuka kunci-kunci dunia dan membebaskan negeri-negeri untuk menerima cahaya Islam. Namun, lelaki shalih ini ditolak pinangannya secara halus oleh Rasulullah.

Mari kita simak kenapa pinangan dua lelaki shalih ini ditolak Rasulullah. Ketika itu, Ali bin Abi Thalib datang menemui Rasulullah. Shahabat-shahabatnya dari Anshar, keluarga, bahkan dalam sebuah riwayat termasuk pula dua lelaki shalih terdahulu mendorongnya untuk datang meminang Fathimah binti Muhammad kepada Rasulullah. Ia menemui Rasulullah dan memberi salam.

“Hai anak Abu Thalib,” sapa Rasulullah pada Ali dengan nama kunyahnya, ”Ada perlu apa?”

Simaklah jawaban lugu yang disampaikan Ali kepada Rasulullah sebagaimana dinukil Ibnu Sa’d dalam Ath Thabaqat. “Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah,” katanya lirih hampir tak terdengar. Dengar dan rasakan kepolosan dan kepasrahan dari setiap diksi yang terucap dari Ali bin Abi Thalib itu. Kepolosan dan kepasrahan seorang pecinta akan cintanya yang demikian lama. Ia menggunakan pilihan kata yang sangat lembut di dalam jiwa, “Terkenang.” Kata ini mewakili keterlamaan rasa dan gelora yang terpendam, bertunas menembus langit-langit realita, transliterasi rasa.

“Ahlan wa sahlan!” kata Rasulullah menyambut perkataan Ali. Senyum mengiringi rangkaian kata itu meluncur dari bibir mulia Rasulullah. Kita tidak usah sebingung Ali memahami jawaban Rasulullah. Jawaban itu bermakna bahwa pinangan Ali diterima oleh Rasulullah seperti yang dipahami rekan-rekan Ali.

Mari kita biarkan Ali dengan kebahagiaan diterima pinangannya oleh Rasulullah. Mari kita melihat dari perspektif yang lebih fokus untuk memahami penolakan pinangan dua lelaki shalih sebelumnya dan penerimaan lelaki shalih yang ini. Kita boleh punya pendapat tersendiri tentang masalah ini.

Ketika Rasulullah menjelaskan alasan kepada Abu Bakar dan Umar berupa penolakan halus, kita tidak bisa menerimanya secara letter lijk. Sebab bisa jadi itu adalah bahasa kias yang digunakan Rasulullah. Misalnya ketika Rasulullah mengatakan bahwa Fathimah masih kecil, tentu saja ini tidak bisa diterjemahkan sebagai kecil secara harfiah, sebab saat itu usia Fathimah sudah hampir delapan belas tahun. Sebuah usia yang cukup matang untuk ukuran masa itu dan bangsa Arab. Sementara Rasulullah sendiri berumah tangga dengan Aisyah pada usia setengah usia Fathimah saat itu. Maka, kita harus memahami kalimat penolakan itu sebagai bahasa kias.

Saat Rasulullah meminta Abu Bakar dan Umar bin Khathab untuk menunggu keputusan, ini juga diterjemahkan sebagai penolakan sebagaimana dipahami dua lelaki shalih itu. Jadi, pernyataan Rasulullah itu bukan pernyataan untuk menggantung pinangan, sebab jika pinangan itu digantung, tentu saja Umar dan Ali tidak boleh meminang Fathimah. Pernyataan itu adalah sebuah penolakan halus.

Atau bisa jadi, saat itu Rasulullah punya harapan lain bahwa Ali bin Abi Thalib akan melamar Fathimah. Beliau tahu sebab sejak kecil Ali telah bersamanya dan banyak bergaul dengan Fathimah. Interaksi yang lama dua muda mudi sangat potensial menumbuhkan tunas cinta dan memekarkan kuncup jiwanya. Ini dibuktikan dari pernyataan Rasulullah untuk meminta dua lelaki shalih itu menunggu keputusan Allah tentang pinangannya. Jadi, dalam hal ini kemungkinan Rasulullah mengetahui bahwa putrinya dan Ali telah saling mencintai. Sehingga Rasulullah pun punya harapan pada keduanya untuk menikah. Rasulullah hanya sedang menunggu pinangan Ali. Di masa mendatang sejarah membuktikan ketika Ali dan Fathimah sudah menikah, ia berkata kepada Ali, suaminya, “Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda.” Saya yakin kita tahu siapa yang dimaksud oleh Fathimah. Ini perspektif saya.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan singkat Ali, “Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah.” Satu kalimat itu sudah mewakili apa yang diinginkan Ali. Rasulullah sangat memahami ini. Beliau adalah seseorang yang sangat peka akan apa-apa yang diinginkan orang lain dari dirinya. Beliau memiliki empati terhadap orang lain dengan demikian kuat. Beliau memahami bentuk sempurna keinginan seseorang seperti Ali dengan beberapa kata saja.

Dan jawaban Rasulullah pun menunjukkan hal yang serupa, “Ahlan wa sahlan!” Ungkapan sambutan selamat datang atas sebuah penantian.

Jadi, dengan perspektif ini, kita akan memahami bahwa lelaki shalih yang datang untuk meminang bisa ditolak pinangannya, tanpa akan menimbulkan fitnah di muka bumi ataupun kerusakan yang meluas. Wanita shalihah yang dipinang Salman Al Farisi telah menunjukkan kepada kita, bahwa ia mencintai Abud Darda’ dan menolak pinangan lelaki shalih dari Persia itu. Rasulullah pun telah menunjukkan pada kita bahwa ia menolak pinangan dua lelaki tershalih di masanya karena Fathimah mencintai lelaki shalih yang lain, Ali Bin Abu Thalib. Di sini, kita belajar bahwa cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak, dan cinta adalah argumentasi yang shahih untuk mempermudah jalan bagi kedua pecinta berada dalam singgasana pernikahan.

Mari kita dengarkan sebuah kisah yang dikisahkan Ibnu Abbas dan diabadikan oleh Imam Ibnu Majah. Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah. “Wahai Rasulullah,” kata lelaki itu, “Seorang anak yatim perempuan yang dalam tanggunganku telah dipinang dua orang lelaki, ada yang kaya dan ada yang miskin.”

“Kami lebih memilih lelaki kaya,” lanjutnya berkisah, “Tapi dia lebih memilih lelaki yang miskin.” Ia meminta pertimbangan kepada Rasulullah atas sikap yang sebaiknya dilakukannya. “Kami,” jawab Rasulullah, “Tidak melihat sesuatu yang lebih baik dari pernikahan bagi dua orang yang saling mencintai, lam nara lil mutahabbaini mitslan nikahi.”

Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak. Di telinga dan jiwa lelaki ini, perkataan Rasulullah itu laksana setitis embun di kegersangan hati. Menumbuhkan tunas yang hampir mati diterpa badai kemarau dan panasnya bara api. Seakan-akan Rasulullah mengatakannya khusus hanya untuk dirinya. Seakan-akan Rasulullah mengingatkannya akan ikhtiar dan agar tiada sesal di kemudian hari.

“Cinta itu,” kata Prof. Dr. Abdul Halim Abu Syuqqah dalam Tahrirul Ma’rah fi ‘Ashrir Risalah, “Adalah perasaan yang baik dengan kebaikan tujuan jika tujuannya adalah menikah.” Artinya yang satu menjadikan yang lainnya sebagai teman hidup dalam bingkai pernikahan.

Dengan maksud yang serupa, Imam Al Hakim mencatat bahwa Rasulullah bersabda tentang dua manusia yang saling mencintai. “Tidak ada yang bisa dilihat (lebih indah) oleh orang-orang yang saling mencintai,” kata Rasulullah, “Seperti halnya pernikahan.” Ya, tidak ada yang lebih indah. Ini adalah perkataan Rasulullah. Dan lelaki ini meyakini bahwa perkataan beliau adalah kebenaran. Karena bagi dua orang yang saling mencintai, memang tidak ada yang lebih indah selain pernikahan. Karena cintalah yang menghapus fitnah di muka bumi dan memperbaiki kerusakan yang meluas, insya Allah.

Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak, dan cinta adalah argumentasi yang shahih untuk mempermudah jalan bagi kedua pecinta berada dalam singgasana pernikahan.


-----------------------------------
Sumber: Shatilla, Shabra. Argumentasi, Lelaki Shalih, dan Cinta. 2010  (http://www.dakwatuna.com/2010/argumentasi-lelaki-shalih-dan-cinta/), diakses 3 Oktober 2010 pada 9.49 pm.

Sumber gambar: cintaislam.org


Rabu, 08 September 2010

Ya ALLAH, aku malu...

Bila kata sudah tak sanggup lagi bersuara, lalu mesti dengan apakah kita berbicara? Kala suara sudah tak mampu lagi berkata meskipun dalam getar. Kala kata sudah tak mampu lagi dieja meski dalam pelan. Kala kata yang tergambar begitu terasa tawar. Kala kata cuma bisa terlukis hanya dengan tangis. Hatiku pun semakin teriris...

Malam ini kucermati secara leluasa titian hari yang telah terlampaui. Kurasai segala bentukan doa yang telah KAU wujudi. Kukagumi segala olah goresan skenario hasil besutanMU. Semua begitu indah... Aku malu dengan itu semua Ya ALLAH. Malu saat kulihat hasil takaran kualitas penghambaanku padaMU. Benar-benar tidak pantas rasanya ku diganjar dengan itu semua.

Ya ALLAH... Aku malu. Aku benar-benar malu dan semakin menanjak saja rasa malu itu kala ku mulai lagi mengangsurkan segala permohonan padaMU. Dan semakin tidak tahu malunya aku, kala ku seperti memberi deadline untuk pelunasan semua doa itu. Ya ALLAH... Sekarang apa yang mesti terucap dalam lisanku, bila semua yang KAU beri jauh lebih baik dari yang ku lantunkan padaMU. KAU selalu memberikan yang kubutuhkan. Bagaimana ku tidak bertambah malu padaMU...

"...Ya ALLAH, janganlah ENGKAU serahkan diri kami pada kami sendiri, sekedip matapun..." (Hadits Riwayat Abu Dawud, Nasai, dan Ibnu Hibban)

"Ya ALLAH, buatlah aku rela dengan keputusanMU, berkahilah aku dalam takdirMU hingga aku tidak suka meminta dipercepat apa yang ENGKAU tunda, dan meminta ditunda sesuatu yang ENGKAU percepat" (Umar bin Abdul Aziz ra)

Senin, 06 September 2010

Dia yang kan Pergi

Mestikah bersuka cita, jika kita tak tahu lagi apakah mungkin kan jumpa. Ketika ramadhan menyapa, kita diam. Ketika ramadhan pergi, pun tak ada leleh tangis yang tertitis. Hamba macam apa aku? Jika yang ku tahu hanya kata mohon maaf lahir batin saja di setiap tahunnya. Hanya kata minal aidin wal faidzin saja yang tertumpuk di ujung ramadhan. Kalau sudah begini, pantaskah batin ini kan terlahir menjadi bening, jika perilaku beribadahku saja kering.

Batin ini masih bisakah resah dan basah, kala sang pujaan pamit undur karena waktu sudah mulai memerah. Residu apa yang ada di sini? Gumpalan haus, bongkahan lapar, atau gundukan lelah... Apa bedanya dengan mereka yang bukan disebutNYA hai orang-orang yang beriman?

Ya ALLAH... Mestinya maaf ini terhujam ke diriku dulu sebelum kupanahkan ke orang lain. Kala diriku sudah berbuat salah dan khilaf karena secara sadar sudah tak menunaikan hak diriku sebagai hambaMU. Ya ALLAH... agak kecut bibir tuk mengucap maaf akhirnya, karena sudah terlalu panjang deretan dosa yang kuperbuat secara sengaja. Saat diri ini menyadari kealphaan diri dan ketika kudapati tidak ada pundi-pundi amal yang terekam di sini, dia pun pergi tanpa perlu permisi. Dan ku pun sangsi, apakah ku kan bisa menemuinya di waktu nanti...

Ya ALLAH... Aku tak tahu apakah tangis ini sebagai wujud kehilangan, kerinduan, atau kebahagiaan? Sebab yang terasa sekarang adalah jiwa ini semakin memilu dan kelu kala membayangkan ramadhan kan segera berlalu. Namun bila saja tiap bulan adalah ramadhan, mungkinkah pula ku mampu tuk terus memupuk dan menghangatkan rindu? Sehingga rindu ini tidak sekedar berhenti menjadi seutas kata penggenap emosi saja...

Ya ALLAH... Izinkan kami melunasi tugas-tugas sebagai hambaMU sebelum maut merobek masa edar diri ini. Ya ALLAH, ampunilah kami...

Selasa, 31 Agustus 2010

ALLAH itu Dekat

“Dan Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka katakanlah sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia memohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka memenuhi (panggilan/perintah)Ku, dan beriman kepadaKu agar mereka mendapat petunjuk (bimbingan)”. (Al-Baqarah: 186)


Ayat ini meskipun tidak berbicara tentang Ramadhan seperti pada tiga ayat sebelumnya (Al-Baqarah: 183-185) dan satu ayat sesudahnya (Al-Baqarah: 187), namun keterkaitannya dengan Ramadhan tetap ada. Jika tidak, maka ayat ini tidak akan berada dalam rangkaian ayat-ayat puasa seperti dalam susunan mushaf. Karena setiap ayat Al-Qur’an menurut Imam Al-Biqa’I merupakan satu kesatuan (wahdatul ayat) yang memiliki korelasi antar satu ayat dengan yang lainnya, baik dengan ayat sebelumnya atau sesudahnya. Disinilah salah satu bukti kemu’jizatan Al-Qur’an.

Kedekatan Allah dengan hambaNya yang dinyatakan oleh ayat di atas lebih khusus daripada kedekatan yang dinyatakan dalam surah Qaaf ayat 16: “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” yang bersifat umum. Kedekatan Allah dengan hambaNya dalam ayat di atas merupakan kedekatan yang sinergis, kedekatan yang aplikatif, tidak kedekatan yang hampa dan kosong, karena kedekatan ini terkait erat dengan doa dan amal shalih yang berhasil ditunjukkan oleh seorang hamba di bulan Ramadhan, sehingga merupakan motifasi terbesar yang memperkuat semangat ber Ramadhan dengan baik dan totalitas.

Dalam konteks ini, korelasi ayat doa dan kedekatan Allah yang khusus dengan hambaNya dengan ayat-ayat puasa (Ayatush Shiyam) paling tidak dapat dilihat dari empat hal berikut ini: Pertama, Salah satu dari pemaknaan Ramadhan sebagai Syahrun Mubarok yang menjanjikan beragam kebaikan adalah Syahrud Du’a dalam arti bulan berdoa atau lebih jelas lagi bulan dikabulkannya doa seperti yang diisyaratkan oleh ayat ini. Karenanya Rasulullah saw sendiri menjamin dalam sabdanya: “ Bagi orang yang berpuasa doa yang tidak akan ditolak oleh Allah swt.” (HR. Ibnu Majah). Kondusifitas ruhiyah seorang hamba di bulan Ramadhan yang mencapai puncaknya merupakan barometer kedekatannya dengan Allah yang juga berarti jaminan dikabukannya setiap permohonan dengan modal kedekatan tersebut.  Dalam kitab Al-Ma’arif As-Saniyyah Ibnu Qayyim menuturkan: “Jika terhimpun dalam doa seseorang kehadiran dan keskhusyuan hati, perasaan dan kondisi kejiwaan yang tunduk patuh serta ketepatan waktu yang mustajab, maka tidaklah sekali-kali doanya ditolak oleh Allah swt. Padahal di bulan Ramadhanlah kondisi dan situasi ‘ruhiyah’ yang terbaik hadir bersama dengan keta’atan dan kepatuhannya dengan perintah Allah swt.

Kedua, Ungkapan lembut Allah “ Sesungguhnya Aku dekat” merupakan komitmen Allah untuk senantiasa dekat dengan hambaNya, kapanpun dan dimanapun mereka berada.  Namun kedekatan Allah dengan hambaNya lebih terasa di bulan yang penuh dengan keberkahan ini dengan indikasi yang menonjol bahwa hambaNya juga melakukan pendekatan yang lebih intens dengan berbagai amal keshalihan yang mendekatkan diri mereka lebih dekat lagi dengan Rabbnya. Padahal dalam sebuah hadits qudsi Allah memberikan jaminan: “Tidaklah hambaKu mendekat kepadaku sejengkal melainkan Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Tidaklah hambaKu mendekat kepadaKu dengan berjalan melainkan Aku akan mendekat kepadanya dengan berlari dan sebagainya”. (Muttafaqun Alaih)

Ketiga, Istijabah (falyastajibu li) yang dimaknai dengan kesiapan hamba Allah untuk menyahut dan melaksanakan setiap panggilanNya merupakan media dikabulkannya doa seseorang. Hal ini pernah dicontohkan dalam sebuah hadits Rasulullah saw yang menceritakan tiga orang yang terperangkap di dalam gua. Masing-masing dari ketiga orang tersebut menyebutkan amal shalih yang mereka lakukan sebagai media dan wasilah mereka berdoa kepada Allah. Dan ternyata Allah swt serta merta memenuhi permohonan masing-masing dari ketiga orang itu dengan ‘jaminan amal shalih yang mereka lakukan’.  Padahal bulan Ramadhan adalah bulan hadirnya segala kebaikan dan berbagai jenis amal ibadah yang tidak hadir di bulan yang lain; dari ibadah puasa, tilawah Al-Qur’an, Qiyamul Lail, Zakat, infaq, Ifthorus Shoim dan beragama ibadah lainnya. Kesemuanya merupakan rangkaian yang sangat erat kaitannya dengan pengabulan doa seseorang di hadapan Allah swt.  Dalam hal ini, Abu Dzar menyatakan: “Cukup doa yang sedikit jika dibarengi dengan kebaikan dan keta’atan seperti halnya garam yang sedikit cukup untuk kelezatan makanan”.

Keempat, Kata ‘la’alla secara bahasa menurut pengarang Tafsir Al-Kasyaf berasal dari kata ‘alla’ yang kemudian ditambah dengan lam di awal yang berarti ‘tarajji’ merupakan sebuah harapan yang langsung dari Zat Yang Maha memenuhi segala harapan. Logikanya, jika ada harapan maka ada semangat, apalagi yang berharap adalah Allah swt terhadap hambaNya sehingga tidak mungkin hambaNya menghampakan harapan Tuhan mereka. Karenanya rangkaian ayat-ayat puasa diawali dengan khitab untuk orang-orang yang beriman: “hai orang-orang yang beriman”. Dalam konteks ini, setiap hamba yang selalu mendekatkan diri dengan Allah tentu besar harapannya agar senantiasa mendapat bimbingan dan petunjuk Allah swt. Demikian redaksi ‘La’alla’ yang selalu mengakhiri ayat-ayat puasa termasuk ayat doa ini, menjadi korelasi tersendiri dalam bentuk keseragaman dengan ayat-ayat puasa sebelum dan sesudahnya ‘La’allakum Tattaqun, La’allakum Tasykurun, La’allahum Yarsyudun, dan La’allahum Yattaqun’.

Demikian pembacaan terhadap satu ayat yang disisipkan dalam rangkaian ayat-ayat puasa. Tentu tidak semata untuk memenuhi aspek keindahan bahasa. Namun lebih dari itu, terdapat korelasi dan hikmah yang patut diungkap untuk memperkaya pemaknaan terhadap Ramadhan yang terus akan mendatangi kita setiap tahun. Karena pemaknaan yang komprehensif terhadap ayat-ayat puasa akan turut mewarnai aktifitas Ramadhan kita yang berdampak pada peningkatan kualitas keimanan kita dari tahun ke tahun. Saatnya momentum special kedekatan Allah dengan hamba-hambaNya di bulan Ramadhan dioptimalisasikan dengan doa yang diiringi dengan amal shalih dan keta’atan kepadaNya.



Sumber:

Attabiq Luthfi. ALLAH itu Dekat. 2010 (http://www.dakwatuna.com/2010/allah-itu-dekat/), diakses 31 Agustus 2010 pada 10.59 pm


Senin, 16 Agustus 2010

RAHASIA DI BALIK MISTERI KEHIDUPAN: Datang dan Pergi

Apa itu datang?
Apa itu pergi?
Manusia datang ke bumi tanpa pernah disadari,
dan manusia akan pergi menghadap ilahi juga tanpa pernah disadari.


Kehidupan menyimpan begitu banyak misteri, sama banyaknya dengan teka-teki di balik kematian. Memang begitulah, karena kehidupan dan kematian merupakan rahasia yang abadi, maka pemahaman dan pembahasan tentang keduanya bagaikan berlayar mengarungi samudera yang luas tiada bertepi.

Datang dan pergi hanyalah sedikit diantara ribuan, bahkan jutaan, fenomena yang datang silih berganti mewarnai kehidupan yang memang penuh misteri. Sebagaimana fenomena alam, seperti siang dan malam, keduanya terus menerus hadir dan berlalu dalam dunia kita, dalam kehidupan kita, terjadi dalam waktu yang relatif singkat, dan tidaklah mungkin kita kendalikan atau kita atur. Keduanya terjadi begitu alami, dan biasanya, tanpa kita sadari.

Ada beberapa prinsip, fenomena, atau “hukum” tentang datang dan pergi yang tampaknya perlu diketahui, agar cakrawala pengetahuan kita tentang rahasia kehidupan sedikit terbuka, sehingga kita menjadi lebih arif dan bijaksana dalam menghadapi berbagai problematika hidup dan kehidupan ini.


Pertama, semua yang datang pasti akan pergi dan semua yang pergi belumlah tentu akan datang (kembali). Ini sering, bahkan berkali-kali, terjadi dan kita alami. Kaum kerabat, saudara, keluarga, tetangga, atau kekasih kita tentu pernah datang mengunjungi kita untuk sesaat, lalu mereka akan pergi. Ketentuan ini juga berlaku pada harta benda atau kepemilikan lainnya, dengan sedikit perbedaan. Bila harta itu semakin cepat datang, biasanya akan cepat
pula pergi. Pepatah mengatakan easy come easy go.

Kita boleh dan bebas mencintai, memiliki, atau menguasai apapun, siapapun, kapanpun, dan dimanapun, namun kita haruslah ingat bahwa kita harus siap berpisah dengan yang pernah kita cintai, kita miliki, atau kita kuasai.


Kedua, tidaklah semua yang datang dan pergi kita sadari, ada sesuatu yang datang dan pergi secara alami, bahkan sebelum kita ada. Itulah waktu. Ia datang tak pernah diundang dan pergi tanpa pernah permisi.

Sahabatku, satu hal yang mengherankan, kita lebih sering merasa “masih ada waktu” atau “masih ada (hari) esok” daripada merasa “kehilangan, kekurangan, atau kehabisan waktu”. Perlulah disadari bahwa waktu (hidup) kita amat terbatas dan sangat singkat. Oleh karenanya, nyata sekali bahwa hidup ini terlalu singkat untuk saling membenci dan berbuat dosa/maksiat. Bukankah saling bermaafan lebih indah daripada saling bermusuhan atau menyimpan dendam? Bukankah berbuat kebaikan lebih mudah dan indah daripada berbuat kejahatan?


Ketiga, ada sesuatu yang tak pernah datang dan tak pernah pula pergi, namun kita sadar bahwa sesuatu itu ada, hadir, dan selalu menyertai kehidupan kita. Itulah ruang. Ia melingkupi kehidupan, juga mewadahi kematian. Kita menjalani kehidupan dalam ruang yang bernama “alam dunia”, lalu kita akan melalui kematian dalam ruang yang bernama “alam barzakh”, atau “alam kubur”, dan akhirnya kita dibangkitkan dalam ruang yang bernama “alam akhirat”.

Sahabatku, singkatnya, kita datang untuk pergi dan kita pergi untuk datang kembali. Kita datang ke alam dunia dan akan pergi ke alam kubur. Kita datang ke alam kubur untuk kemudian pergi ke alam akhirat. Kita pergi ke alam akhirat untuk datang kembali ke pangkuan ilahi.


Keempat, ada sesuatu yang amat kita harapkan untuk datang dan kita tidak pernah mengharapkannya pergi. Itulah kekasih. Ia adalah seseorang yang amat kita nantikan kedatangannya, sangat kita rindukan kehadirannya. Bukan hanya untuk selalu ada dan hadir, melainkan juga untuk selalu bersama-sama kita melewati dan menjalani kehidupan ini. Kekasih hanyalah sesuatu atau seseorang yang kita (amat) cintai. Bentuk dan wujud “sang Kekasih” bisa bermacam-macam. Kekasih bisa berupa wanita, harta/materi, tahta (kedudukan dan pangkat), anak, rumah, perhiasan, dll.

Sahabatku, perlulah disadari, hukum cinta sejati menyatakan bahwa “kita boleh memiliki namun kita tidak boleh dimiliki”. Ini berarti bahwa kita hanya boleh memiliki yang kita cintai sebatas hak kepemilikan, hak pakai, hak guna, bukan hak untuk menjadikannya bagian dari diri atau (ke)hidup(an) kita sehingga kita juga dimiliki oleh yang kita cintai. Dengan kata lain, kita boleh memiliki dunia, namun kita tak boleh dimiliki dunia, karena kita telah dimiliki oleh sang Pemilik dunia, Allah swt.

Sahabatku, yang terkadang kita lupakan adalah hukum cinta suci-sejati tertinggi:
  1. Cinta sejati berarti mencintai Allah swt dan makhlukNya yang Dia perintahkan agar kita cintai. Sebab cinta “diri” adalah kunci untuk mencapai cinta Ilahi. (“Diri” dapatlah dipahami sebagai manusia dan semesta, sebab sejatinya, manusia dan semesta itu adalah satu dan tak terpisahkan.)
  2. Mencintai tidaklah berarti memiliki. Karena memiliki berarti mengikat, sedangkan cinta suci-sejati bersifat membebaskan, melepaskan, dan memerdekakan, bukan mengikat.

Kelima, ada sesuatu yang datangnya kita benci dan perginya kita syukuri. Itulah musuh atau lawan. Ia merupakan seseorang yang amat kita benci sehingga kita berharap agar ia tidak pernah datang, atau bila datang kita berharap agar ia secepatnya pergi. Kita bersyukur dan bisa merasa lega bila musuh atau lawan telah pergi, atau tidak (pernah) ada dalam kehidupan kita.

Namun sahabatku, janganlah kita terlalu (berlebihan) dalam membenci sesuatu atau seseorang, sebab kebencian itu menyiksa hati dan menyakiti diri. Boleh jadi dia yang kita benci telah pergi, namun bayangan atau kenangan tentangnya selalu datang atau ada dalam kehidupan atau minimal menghantui mimpi kita. Bila sudah begini, maka diri sendirilah yang akan merugi.


Keenam, ada sesuatu yang datang secara alami dan sekali ia datang, takkan pernah pergi. Itulah cinta. Ada saat dimana seseorang merasa kosong, hampa, sunyi, sepi, sendiri. Perasaan akan kekosongan atau kehampaan itu menjadi bukti bahwa ada segi kehidupannya yang belum lengkap, ada sisi jiwanya yang belum (sepenuhnya) terisi.

Kekosongan akan melahirkan kerinduan, dan benih kerinduanlah yang akan tumbuh menjadi cinta. Sebab kerinduan adalah hasrat atau keinginan untuk selalu bersama-sama dengan yang dianggap lebih dari dirinya. Karena manusia itu sebenarnya adalah separuh jiwa dan saat ia menemukan cintanya, maka sempurnalah jiwanya.

Sahabatku, untuk sekadar diketahui bahwa sekali cinta datang, ia tak mungkin pergi. Sebab cinta meliputi ruang dan waktu, sedangkan semesta raya dan kehidupan dilingkupi oleh ruang dan waktu, sehingga tidak ada yang bisa lepas dari cinta. Karena untuk melepaskan diri dari cinta, manusia harus berada di luar ruang dan waktu, dan ... hal itu berarti kematian!

Cinta dan kehidupan adalah sahabat karib yang tak terpisahkan, sehingga dapatlah dikatakan, “Dimana ada cinta, disitu ada kehidupan.” Bila seseorang telah dipenuhi oleh cinta, maka jiwanya dan dirinya akan hidup dan ia bisa melimpahkan cintanya untuk memberi “nafas kehidupan” kepada makhluk, terutama manusia.


Ketujuh, ada sesuatu yang datang dan pergi secara cepat, tidak terduga, tidak terbayangkan sebelumnya, dan tidak pernah diharapkan. Itulah maut, pembawa kematian. Ia menyebabkan semua yang hidup menjadi mati, memisahkan manusia dari yang di/mencintainya, membawa duka, memutuskan segala asa dan cita, menghilangkan bahagia, sukacita, dan segala rasa. Bagi sebagian manusia yang telah tercerahkan sepenuhnya, kematian hanyalah jalan penyatuan dengan Kekasih, kematian merupakan jembatan yang mengantarkan ke singgasana kemuliaan, kematian adalah gerbang menuju keabadian, kematian adalah kehidupan yang sejati atau hakiki. Yang pasti, dihadapan maut, semua manusia akan terlihat sama.

Sahabatku, perlulah diingat, bahwa ketika hidup semua orang pada hakikatnya sedang tidur dan mereka akan bangun ketika mati.

Ada satu pesan menarik untuk direnungkan: matilah sebelum mati. Ini berarti bahwa diharapkan kita menarik diri dari dunia materi menuju tempat abadi (akhirat) dan telah siap mati sebelum tiba waktunya. Karena orang yang paling cerdas diantara kamu sekalian adalah yang paling siap menghadapi kematian, sabda Rasul saw.


Kedelapan, ada sesuatu yang datang secara terus menerus, tidak pernah pergi atau tidak pernah datang sama sekali pada suatu episode dalam kehidupan ini. Itulah misteri atau rahasia yang mencakup: (perubahan) nasib, keberuntungan, kesuksesan, kemalangan, suka, duka, dan mimpi.

Hal-hal inilah yang terkadang atau bahkan selalu mewarnai kehidupan kita. Bencana yang beruntun atau keberuntungan yang terus menerus hanyalah sebagian kecil dari misteri atau rahasia itu. Selebihnya, banyak peristiwa atau kejadian tak terduga yang terkadang “mengharuskan” kita untuk mencari hikmah di balik segala sesuatu. Yang pasti, tidak ada sesuatupun yang terjadi yang tidak mengandung hikmah atau pelajaran. Semuanya mengandung hikmah yang pada akhirnya menjadikan kita lebih matang dan lebih dewasa
dalam berpikir, bersikap, dan bertindak atau berperilaku.


Kesembilan, ada sesuatu yang tidak bisa dikatakan (pernah) datang atau pergi, namun sesuatu ini mutlak ada, selalu dan selamanya ada, tidak pernah tiada, bahkan sebelum semuanya ada. Dialah Allah, sang Diri Sejati. Datang dan pergi adalah perbuatan yang diperuntukkan hanya untuk makhluk. Bagaimana mungkin Allah bersifat sama dengan makhluk? Bukankah Dialah yang menjadikan makna, menakdirkan segala sesuatu menjadi datang, menetapkannya pergi, dan juga menentukan semua itu menjadi ada dan atau tiada?

Maha Suci Allah! Dia mencintai manusia yang datang menghadapNya, dan Dia tidak membenci mereka yang pergi dariNya. Semua diberi dan dirahmatiNya. Alhamdulillah … .

Datang dan pergi telah sedikit diuraikan, namun penulis yakin masih banyak rahasia yang belum tergali di balik misteri kehidupan ini.

Sahabatku, untuk memahami kehidupan dan kematian memang hanya ada satu kunci: terus mencari! Seperti halnya untuk memahami jatidiri, manusia “wajib” mencari dalam dirinya, menemukan jawabannya di dalam hati, dan akhirnya mengikuti nurani yang telah suci. Demikian pula untuk memahami “datang dan pergi” memang diperlukan upaya, usaha, ikhtiar, doa yang sungguh-sungguh, tulus, dan istiqomah. Sehingga suatu saat misteri ini akan
terkuak. Ingatlah sahabatku, siapa yang mencari (dengan sungguh-sungguh) maka dia akan mendapatkan.

Sahabatku, untuk diketahui pula, yang terpenting adalah bukan bagaimana kita datang atau bagaimana kita pergi, melainkan apa yang kita wariskan setelah kita pergi, atau bagaimana peradaban ini menjadi jauh lebih maju dan beradab karena kita.

Akhir kata, sudah sepantasnyalah setelah membaca dan merenungkan uraian di atas, kini kita dapat lebih memahami “apa itu datang” dan “apa itu pergi”. Semoga pemahaman ini dapat mengantarkan kita kepada ridho Ilahi. اِ Ù†ْ Ø´َØ¢ Ø¡َ اللّÙ‡ُ .



Pernah dimuat di:
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=19&jd=RAHASIA+DI+BALIK+MISTERI+KEHIDUPAN%3A+Datang+dan+Pergi&dn=20071023183910,  Oleh : Dito Anurogo

Sabtu, 07 Agustus 2010

Bang Amir, Menelusuri Kata-kata yang Hilang dalam Hidup

Liqo di lereng pegunungan Fuji, sangatlah indah rasanya. Tanukiko, sebuah tempat camp yang indah dan rimbun. Udara gunung mengalir sepoi-sepoi menyemarakkan suasana pagi itu. Sangat jelas puncak pemandangan Gunung Fuji dari kejauhan yang diselimuti salju putih. Bang Amir teringat suasana liqo pagi itu, ketika membuka catatan kecil di buku hariannya. Terbayang dengan nasehat teman akan makna sebuah kata dalam suasan liqo pagi itu. Kata yang dibungkus dengan rasa cinta. Yang terkadang kata itu hilang ditelan seiring jalannya waktu dan usia.

Pernahkah kita memikirkan kata-kata yang hilang dalam hidup kita? Hilang bukan berarti kita tidak ingat terhadap kata-kata itu lagi, akan tetapi hilang karena kita sulit mengucapkan kata-kata itu kembali saat ini

Dalam kebiasaan orang Jepang, ketika orang sedang kasmaran atau baru saja menikah, maka berikut adalah daftar kata-kata yang selalu muncul, dan sering diucapkan.

- Sukidayo - aku suka kamu
- Aisiteiru - Aku cinta kamu
- Kansyasiteruyo - Terima kasih sekali
- Arigatou - Terima kasih (diucapkan dengan manja)

Kata-kata ini sungguh enak diucapkan dan didengarkan, bagi orang yang sedang kasmaran, ditelan indahnya kisah cinta. Ketika cinta menderu dalam dada, semua terasa indah. Setiap saat ingin saja hati mengucapkan kata-kata ini. Akibatnya kata-kata ini sulit dilukiskan dengan kata-kata. Bahkan seorang penulis menulis panjang dalam bukunya, hanya untuk menerjemahkan makna dari kata cinta ini. Inilah dahsyatnya rasa cinta. Rasa cinta menjadikan dua atau tiga kata berubah menjadi mempunyai makna yang indah dan luar biasa dalam hidup manusia.

Akan tetapi dengan berjalannya waktu, kata-kata ini menjadi barang yang sulit untuk diucapkan kembali. Lidah terasa kelu, kaku dan tidak mampu mengucapkan kata-kata sederhana ini. Kalau pun terucap di bibir, akhirnya hanya menjadi susunan kata-kata yang tidak bermakna, yang tidak dapat menggambarkan perasaan hati. Kumpulan kata-kata yang tidak dapat mengubah isi hati yang paling dalam. Apakah mereka berjauhan? Dan tidak saling bertemu? Bahkan terkadang sangat dekat sekali.

Dalam pepatah jawa, “Tresno jalaran soko kulino“, Cinta tumbuh karena terlalu seringnya mereka beriteraksi. Apakah begitu ? Bisa jadi pepatah jawa ini sudah dipatahkan oleh pasangan-pasangan manusia di dunia ini. Mereka bertemu setiap hari, akan tetapi lidah terasa kilu untuk mengucapkan cinta. Apakah berarti mereka sudah tidak saling mencintai? Bisa jadi mereka tetap mincintai.
Apalagi yang namanya lelaki. Menurut hasil analisa tentang lelaki di Jepang mengatakan bahwa ketika seorang lelaki mengucapkan “aku cinta kamu”, “aku suka kamu”, “terima kasih”, maka dia sedang menyatakan kekalahannya di hadapan istrinya. Takluk! Padahal kekalahan adalah hal yang paling tidak disukai oleh makhluk ini. Karena itu kata-kata melankolis adalah kata-kata yang kadang dihindarinya.

Apakah solusinya? Rasulullah bersabda, “Tahaddu tahabbu“. Saling memberi hadiahlah niscaya kalian saling mencinta. Dan hal ini ternyata ada juga dalam kebiasaan masyarakat Jepang. Ketika lidah terasa kelu mengucapkan cinta, salah satu cara solusinya adalah dengan memberikan hadiah kepada pasangannya. Mereka sibuk mencari hadiah apa yang paling cocok untuk mengganti kata-kata yang hilang dalam hidupnya.

Wahai saudaraku, telusurilah kata-kata dalam hidupmu, bisa jadi ada kata-kata indah yang dulu sering anda ucapkan, akan tetapi sekarang sulit anda ungkapkan. Cobalah dengan memberikan hadiah seperti contoh Rasulmu. Siapa tahu hal itu bisa menjadi pengganti kata-kata indah yang hilang dahulu.

Bagi anda yang sekarang berada dalam perjalanan, ingatlah istri anda di rumah. Mampir ke toko kecil di airport atau terminal, pilihlah hadiah yang cocok untuk istri tercinta anda, siapa tahu suatu saat kelak, anda dapat mengucapkan kata-kata indah itu kembali.

Martinez, 16 Jumadil Awal 1431 H


Sumber:

http://www.dakwatuna.com/2010/bang-amir-menelusuri-kata-kata-yang-hilang-dalam-hidup/


Jumat, 30 Juli 2010

Berdamai dengan Takdir

“Apakah manusia dibiarkan untuk mendapatkan semua yang dia inginkan? Jika demikian, lantas apa yang ia sisakan dari kenikmatan surga?” Jika kita memiliki sebuah keinginan, lantas kita sudah mengerahkan seluruh usaha untuk mencapainya, namun ternyata Allah tak juga memperkenankan kita meraih impian tersebut, apakah lantas kita berhak untuk ‘mencaci’ Allah? Apakah itu kemudian membuat kita sah menyalahkan takdir?

Seorang teman beberapa saat lalu menerima pengumuman dari sebuah yayasan beasiswa internasional bahwa dirinya tidak lulus. Ini kegagalan yang tidak main-main. Pertama, kegagalan ini bukanlah kegagalan yang pertama. Rekan saya tersebut telah lima kali mengikuti program ini, sejak menyelesaikan S1 Hukum di sebuah universitas kesohor di Bandung. Dan yang kedua, untuk kelima kalinya, dia mengikuti rangkaian tes itu hingga ke tahap-tahap akhir.Yang terakhir diikutinya –tahun ini—ia telah melewati seleksi awal, dari seribu orang, tinggal tersisa seratus. Dari seratus orang yang tersisa, ia lolos ke lima puluh orang yang mengikuti seleksi di Jakarta. Di sana, ia pun terpilih dalam lima kandidat penerima beasiswa kuliah di Austria. Tapi, apa lacur… pengumuman terakhir tidak mencantumkan namanya.Kekecewaan, jelas saya bisa menemukan pada wajah teman saya itu. Dari rangkaian tes yang ia jalani menunjukkan bahwa ia mampu dan layak. Usaha yang ia lakukan pun bukan lagi sepele. Kesungguhannya nyata sekali. Sudah tidak terhitung lagi berapa besar biaya ia habiskan untuk mengikuti rangkaian tes itu, dari penyediaan berkas, akomodasi dan transportasi, juga kelelahan fisik yang harus ia tanggung. Tapi, sekali lagi, ia mengalami kegagalan pada saat-saat terakhir.

Dari teman saya itu saya belajar banyak hal, namun satu yang begitu menera pada saya, bahwa pada suatu saat kita perlu berdamai dengan takdir. Kita harus belajar memaafkan diri sendiri. Bahwa kita bukanlah penentu atas apa pun yang terjadi pada diri kita. Ketidaklulusan teman saya dalam program beasiswa itu bukanlah indikasi bahwa dirinya tidak mampu. Keberhasilannya melaju ke seleksi terakhir hingga beberapa kali menunjukkan bukti bahwa ia layak menerima. Tapi sekali lagi, pemasalahan tidak sebatas pada layak atau tidak. Inilah yang saya katakan pada teman saya tersebut. Bermimpi bukanlah hal yang memalukan. Kegagalan semacam itu juga bukan aib. Seorang pahlawan yang gugur dalam peperangan bukanlah pecundang. Sampai hari ini, saya masih menyimpan impian untuk bisa kuliah di Ekonomi. Sungguh, saya masih menyimpan impian untuk menjadi akuntan sebagaimana dari awal saya sekolah di SMEA, saya telah meletakkannya sebagai cita-cita. Kalaupun kemudian saya ‘tersesat’ ke bidang yang lain, itu adalah takdir yang harus saya maklumi. Dalam hal ini, saya berusaha untuk ‘berdamai’ dengan-Nya atas apa yang ia tentukan pada saya. Kalaupun hingga saat ini saya tak juga ‘mampu’ untuk kuliah, bukan lantas saya berhak dengan semena-mena mematikan impian saya yang saya anggap ‘mulia’ ini.

Konon, saya telah memaksimalkan usaha saya. Namun, biaya adalah hal pokok bagi saya, dan rasanya memang tak cukup hanya dengan tekad. Pernah ada seorang teman yang mengatakan, “yang penting adalah niat.” Tapi, untuk saya, hal itu tidak berlaku. Masih kurang besarkah niat saya? Seberapa besar kemampuan niat untuk seorang dengan ekonomi di bawah pas-pasan seperti keluarga saya? Bahkan, saat SMEA pun saya harus pontang panting mengejar bayaran-bayaran SPP dan sebagainya.Saat ‘uang tabungan’ saya raib begitu saja, saya masih bisa menghibur diri, “Nantilah, saya akan melanjutkan kuliah tiga atau empat tahun lagi. Saat ini, yang harus saya lakukan adalah menabung.” Tapi, lagi-lagi, kehendak Allah bicara lain. Ijazah SMP dan SMEA saya ikut raib ulah sebuah perusahaan gelap di Jakarta. Saat itu saya sangat ‘bodoh’ dengan bersedia menyerahkan ijazah tersebut pada sebuah PT yang mengaku akan memberi saya pekerjaan di bilangan Gambir, Jakarta. Sepekan sesudah itu, saya mendatangi alamat, ternyata PT itu adalah PT gelap.Dengan semua itu, impian saya untuk kuliah di Fakultas Ekonomi serasa ikut terbang, hilang. Tapi, tidak. Saya tidak boleh demikian, menganggap takdir sebagai kesemenaan. Saya selalu percaya Allah punya rencana tersembunyi atas setiap makhluk. Allah memiliki rancangan atas hidup seseorang tanpa harus menunggu orang itu menyetujui atau tidak.Saat saya terantuk kegagalan, yang saya lakukan adalah memutar ulang pemikiran saya, menelusuri kembali cara pandang saya terhadap hidup, dan memutuskan untuk memulai kembali sebuah impian.

Hidup bukanlah kegagalan sepanjang kita berusaha. Dari ‘menulis,’ saya menemukan satu pelajaran berharga. Pertama kali menulis, tulisan saya ditolak-tolak di media. Saya terus mencoba dan mencoba. Saya menulis dan menulis kembali. Hingga… akhirnya tulisan saya diterima sebuah media, berlanjut kemudian dengan tulisan-tulisan saya berikutnya. Di tahun 2001 untuk pertama kalinya ada sebuah penerbit yang mau membukukan tulisan-tulisan tersebut.Tulisan-tulisan saya yang tertolak, atau terbuang di tempat limbah, dimuat di truk sampah, bukanlah sebuah kegagalan, tetapi proses. Jika tidak melewati fase itu, saya yakin saya tak akan pernah sampai pada kondisi yang sekarang. Kegagalan bagi saya adalah sebuah perjalanan. Terserah apakah kita akan berhenti sebelum sampai ke tujuan atau kita melanjutkannya dengan berbagai beban konsekuensi dari perjalanan itu sendiri. Saya mengambil sebuah perumpamaan. Kita pernah sekolah di SD, lantas melanjutkan ke SMP, SMA, hingga kemudian kuliah. Jika telah lulus kuliah dan melamar pekerjaan, apakah kita memakai ijazah SD dan SMP untuk melamar pekerjaan? Tentu tidak. Kita hanya memakai ijazah SMA atau sarjana. Jika demikian adanya, mengapa kita harus susah-susah sekolah di SD dan SMP? Mengapa kita tidak langsung saja kuliah atau sekolah di SMA? Ini pertanyaan konyol, memang. Tapi bukankah benar demikian? Tanpa melalui SD dan SMP, kita tak akan pernah sampai ke SMEA atau kuliah. Kendati tidak dipakai dalam melamar pekerjaan, bukan lantas berarti ijazah SD dan SMP kita tidak berguna, bukan? Begitulah dengan kegagalan-kegagalan yang kita alami. Kegagalan itu bukanlah sesuatu yang 'tidak berguna,' sebab kegagalan itulah yang menempa kita, memberi pembelajaran kepada kita tentang kematangan, konsep persaingan... atau barangkali Allah tengah menarbiah kita untuk meyakini bahwa Dia-lah penentu segala urusan.

Kegagalan membuat kita semakin mengimani takdir. Belajar berdamai dengan takdir, menerima kegagalan yang 'dikaruniakan' Allah kepada kita adalah seperti kita menekuni jenjang-jenjang SD, SMP, dan seterusnya. Kita tidak memerlukan ijazahnya, tetapi kita menjalani prosesnya. Yang kita perlukan dalam hidup bukanlah 'ijazah' kesuksesan, tetapi 'proses' dan 'menjadi'.

Konon, seorang penulis terkenal, saat menulis cerpen, dia selalu membuat lebih dari lima alinea pembuka. Dari kelima alenea pembuka itu, ia memilih satu yang paling baik. Lantas, sisanya dibuang begitu saja. Di-delete dari program di komputernya. Sekali lagi, apakah keempat alenea yang terhapus itu tidak berguna? Jika demikian, mengapa si penulis harus bersusah payah menulis empat alinea itu? Silakan Anda menjawab sendiri.

Hidup bukanlah kekalahan sepanjang kita berusaha menjadi pahlawan. Kalimat itu adalah semacam penggembira, semacam kasidah terakhir yang sepatutnya kita dendangkan saat kita menemui kegagalan dalam hidup. "Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya dan orang-orang yang beriman akan melihat hasil pekerjaanmu".


Sumber: Sakti Wibowo, Berdamai dengan Takdir (ternyata sumbernya dari sini: http://www.mail-archive.com/idakrisnashow@yahoogroups.com/msg16616.html)


Minggu, 13 Juni 2010

11 Tanda Orang yang Bertumbuh

Sebagai makhluk hidup, bertumbuh bagi kita adalah keniscayaan. Sebab, kita memiliki tantangan hidup yang berat dan berubah-ubah. Menaklukkan tantangan itu adalah tuntutan untuk mempertahankan eksistensi. Kita harsu bertumbuh tidak saja secara fisik, tapi juga secara mental, jiwa, dan pikiran. Karena bertumbuh seperti itulah yang akan memberinya kapasitas-kapasitas tertentu kepada kita untuk melakukan sesuatu yang spesifik dan berbeda. Sayangnya, banyak diantara kita yang mengabaikan pertumbuhan itu. Tidak memberikan perhatian yang cukup untuk selalu melakukannya. Berikut adalah 11 tanda orang yang dikatakan bertumbuh:
  1. Pengetahuan yang berkembang
    Pengalaman itu pasti melahirkan pengetahuan. Dan pengetahuan itu akan terus berkembang seiring dengan semangat untuk belajar dan berbuat. Maka orang yang bertumbuh adalah orang yang pengetahuannya bertambah, meski tidak didapat secara formal.

  2. Lebih bijak dalam bertindak
    Orang yang bertumbuh memiliki pertimbangan yang baik dalam perilaku dan perbuatannya. Perhitungannya tajam dan cermat. Dia tidak gegabah, tetapi melangkah dengan pasti dan terarah. Itu sebuah kearifan yang merupakan buah dari pemahamannya yang terus bertumbuh.

  3. Berpikir maju dan bekerja keras
    Orang yang bertumbuh itu cenderung ingin meningkatkan kapasitas dirinya, dan meraih sesuatu yang lebih besar lagi. Ia tidak pernah merasa puas dengan sebuah prestasi yang telah diraihnya. Karena itu ia selalu berpikir maju dan terus melakukan tindakan-tindakan besar, berani, dan bertanggung jawab.

  4. Tidak takut dengan kegagalan
    Kegagalan adalah hal biasa dalam kehidupan. Dan orang yang bertumbuh adalah orang yang mengelola kegagalan tersebut hingga bisa menjadi cambuk sekaligus tangga menuju kesuksesan. Itulah rumus kehidupan yang dikuasai dan diparaktikkan oleh tokoh-tokoh besar yang pernah lahir di dunia ini. Kegemilangan yang berhasil mereka raih lahir dari keteguhan mereka melawan terpaan kegagalan itu. Maka sejauh mana kekuatan kita tetap bertahan di atas kegagalan, sejauh itu pula kita telah bertumbuh dari usaha-usaha yang kita lakukan.

  5. Tidak puas dan selalu merasa kurang
    Berani mencoba pasti melahirkan pengalaman. Dan ketika kita menyadari kenyataan bahwa usaha yang kita lakukan belumlah cukup, maka sesungguhnya itulah sebuah pertumbuhan positif yang tengah terjadi dalam diri kita. Sebab pada dasarnya, semakin besar pengetahuan kita tentang sesuatu, semakin besar pula rasa penasaran dalam diri kita, sehinggga kita akan terus mencari tahu.

  6. Sadar dengan kemampuan baru yang muncul
    Ketika secara tekun melakukan sebuah upaya kita untuk meningkat, di suatu saat kita akan menyadari bahwa ada kecakapan kita yang berkembang dan kemampuan baru. Kita kemudia tersadar bahwa saat ini telah ada hal yang bisa kita lakukan. Dan akhirnya kita terus bergerak menuju puncak, dalam kesadaran kita untuk selalu berbuat.

  7. Punya kecakapan ilmiah
    Setelah banyak latihan, maka kita menjadi terbiasa dengan keterampilan dan kemampuan baru tersebut, sehinggga keterampilan itu akan menjadi hal alamiah bagi kita. Kita kemudian bisa melakukan apapun dengan cukup bagus tanpa pikiran sadar. Karena kita terbiasa, maka muncul kecakapan yang tak kita sadari. Dan itulah hasil sebuah pertumbuhan.

  8. Memiliki kepercayaan diri yang kuat
    Kalau keraguan itu menghentikan, mematikan gairah, dan membuat langkah menjadi kaku, maka kepercayaan diri mendorong kita untuk terus maju dan menjadikan semangat kita lebih menyala. Mempercayai kemampuan sendiri akan mempengaruhi cara kita bertindak, dan kita telah memiliki modal yang luar biasa untuk meraih tujuan hidup kita.

  9. Memiliki pergaulan yang baik
    Orang yang bertumbuh akan terlihat pula dari pergaulannya. Orang yang bertumbuh senang bergaul dengan orang-orang yang bisa mengasah dan membangun antusiasme baru, serta menularkan pengetahuan baru kepadanya.

  10. Memiliki hati dan jiwa yang hidup
    Yang lebih penting adalah hati dan jiwa kita juga harus bertumbuh. Dan tanda orang yang bertumbuh dengan baik adalah ketika hati dan jiwanya hidup, memiliki sensitifitas terhadap keadaan, dan punya kepedulian terhadap lingkungan dan orang lain.

  11. Bertambah kedekatan kepada ALLAH
    Fungsi utama pengetahuan yang kita miliki adalah memahamkan kita akan hakekat diri dan mengenalkan kita kepada Sang Pencipta, sehingga melahirkan kedekatan, kebergantungan, dan rasa takut kepadaNYA. Karena itu, ALLAH menegaskan bahwa hanya orang-oranga berilmu yang memiliki rasa takut kepadaNYA. Maka, jika pengetahuan kita tidak bisa mengantarkan kita kepada hal tersebut, betapapun banyaknya, sesungguhnya kita tidak sedang bertumbuh. Seperti kata Ibnul Jauzi, "Aku melihat banyak orang berilmu hanya sibuk dengan sisi lahir dari ilmu, tetapi mereka tidak memahami hakekat dan maksud dari ilmu tersebut."

Dikompilasikan dari:
Suthan Hadi. "11 Tanda Orang yang Bertumbuh". Tarbawi, Edisi 230 Th. 11 Rajab 1431, 17 Juni 2010.
------------------. "Bagaimana Kita Terus Bertumbuh". Tarbawi, Edisi 230 Th. 11 Rajab 1431, 17 Juni 2010.

sumber gambar: katolisitas.org

Minggu, 30 Mei 2010

Penghalang Terkabulnya Do'a

Salah satu penghalang terkabulnya do'a adalah ketergesaan, hingga jika keinginannya tidak terkabulkan ia mengeluh dan meninggalkan do'a. Padahal orang yang berdo'a, seperti menanam biji-bijian yang harus selalu dijaga, dirawat, dan disirami. Oleh karena itu, jika ia meninggalkan do'a, sesungguhnya ia meninggalkan tanaman tersebut tanpa dirawat dan disirami lagi.

Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: " Doa seorang hamba akan terkabulkan, selagi tidak tergesa-gesa, yaitu saat ia berkata, "saya sudah berdo'a tapi tidak dikabulkan""

Dalam shahih Muslim, Rasulullah saw bersabda: "Seorang hamba akan selalu dikabulkan doanya oleh ALLAH selagi ia tidak berdoa dengan sesuatu yang berdosa, atau memutus tali silaturahim, atau tergesa-gesa" 

Para sahabat bertanya, "Apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa?"

Rasululullah saw bersabda: "Orang yang tergesa-gesa adalah yang mengatakan, "saya berdo'a kepada ALLAH tapi tidak dikabulkan, kemudian ia mengeluh karenanya dan meninggalkan do'a"


Tulisan ini dicomot dari:
Penawar Hati yang Sakit (Al-Jawabul Kafi Limaan Saala'Anid Dawaaisy-syafi)  oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah




sumber gambar: cafebaca.blogspot.com

Sabtu, 29 Mei 2010

Bersiap Menghadapi Mati

Akhir kematian manusia hanya ada dua macam, yaitu husnul khatimah (akhir yang baik) dan su’ul khatimah (akhir yang buruk). Terserah kita akan memilih yang mana, yang pertama ataukah yang kedua. Jika kita memilih yang pertama, artinya kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapinya. Karena balasan husnul khatimah adalah surga, dan untuk menuju surga diperlukan perjuangan yang cukup berat. Bahkan Nabi menyebutkan bahwa surga adalah barang dagangan Allah yang sangat mahal harganya.

Adapun jika memilih yang kedua, maka kita tidak perlu repot-repot mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Karena bagaimanapun juga berbuat kemaksiatan lebih mudah dari pada berbuat taat. Akan tetapi kita harus sadar betul bahwa pilihan ini sama saja dengan mengantarkan diri ke neraka. Artinya, apakah kita mau masuk neraka yang di dalamnya terdapat berbagai macam
siksaan yang amat pedih dan apinya sangat panas membara? jawabannya tentu tidak!.

Rahasia Kematian
Kematian adalah sebuah keniscayaan yang tidak seorangpun mampu lari darinya. Allah berfirman tentang hal ini: ”Katakanlah, sungguh kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu..” (aljumu’ah (63)

Peristiwa yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah beberapa waktu yang lalu merupakan pelajaran yang sangat mahal. Ketika saudara-saudara kita yang ada di sekitar gunung Merapi berusaha untuk menyelamatkan diri dengan cara bereksodus mencari zona aman yang agak jauh dari gunung tersebut. Namun apa yang terjadi, saat mereka merasa aman dari bencana tersebut, ternyata Allah kirimkan musibah lain yang mengakhiri hidup mereka yaitu terjadinya gempa bumi yang berkekuatan 5,8 skala Richter.

Itu rahasia kematian, tidak ada seorang pun yang bisa menduga, mengasumsikan dan juga menghindar dari kematian ketika ia datang.

Di sinilah rahasia kematian, sehingga kedatangannya yang tidak pernah memberi informasi kepada kita inilah yang seharusnya kita sering mengingatnya. Ibnu Umar radiyallahu ’anhu berkata: ”Aku datang menemui Nabi saw –bersamasepuluh orang- lalu salah seorang Anshar bertanya: ”Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi saw menjawab: ”Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya; mereka itulah orang- orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah secara ringkas dan Ibnu Abu Dunya secara lengkap dengan sanad jayyid).

Dahsyatnya Sakaratul Maut
Detik-detik datangnya kematian pasti akan dijalani setiap manusia. Itulah yang disebut dengan sakaratul maut. Setiap kita pasti akan mencicipinya. Kita akan mereguknya sebagaimana yang dialami oleh para penguasa dan rakyat biasa, oleh si kaya dan si miskin papa.

Marilah kita simak ungkapan-ungkapan para salafus shalih tentang sakaratul maut.

Amru bin Ash ra sebagai seorang yang cerdik dan ahli strategi perang ditanya oleh putranya yang bernama Abdullah: ”Wahai ayah, ceritakanlah kepadaku tentang kematian karena engkau adalah orang yang paling jujur dalam melukiskannya”. Amru bin Ash bertutur, ”Wahai putraku, demi Allah, seakan-akan gunung menimpa dadaku dan sepertinya aku bernafas dalam lubang jarum!”.

Ibnu Rajab menyebutkan bahwa Ka’ab Al-Ahbar diminta oleh Umar ibnu Khattab untuk menceritakan tentang kematian. Ka’ab berkata’ perumpamaan kematian itu tidak lain seperti seseorang dipukul dengan batang berduri dari pohon bidara. Seluruh durinya menusuk urat, lalu batang duri itu ditarik kembali sampai setiap urat tertarik bersamanya.

Hasan Al-basri menasihati anak-anak dan murid-muridnya dendam mengatakan, ”Para dokter tidak ada yang berdaya menghadapi kematian”.

Sungguh sakaraul maut adalah kejadian maha dahsyat, Allah telah menetapkan kematian ini bagi semua yang hidup. Allah berfirman: ”Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (Ar-Rahman: 26-27)

Yang Mengingatkan Kita Kepada Kematian
Dr.’Aidh Abdullah Al-qarni dalam bukunya ”Wa jaat sakarat al-maut bi alhaq” menutur tentang hal-hal yang mengingatkan kita kepada kematian, yaitu:

Ziarah kubur
Inilah yang harus sering kita lakukan. Masalahnya adalah manakala aktivitas kita yang begitu padat dan lebih berorientasi pada dunia akan melupakan kita pada orientasi akherat. Sehingga cara yang paling tepat adalah kita harus menyediakan waktu untuk melakukan ziarah kubur sebagai realisasi akan kecintaan kita terhadap sunnahnya dan sekaligus membangun antibodi keimanan pada diri kita agar tidak ja tuh pada lembah kemaksiatan yang menyebabkan hidup kita hina dina.

Suatu ketika Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang terkenal dengan zuhudnya melaksanakan shalat Id dengan masyarakatnya.
Ketika beliau pulang dari shalat Id melewati suatu kuburan, ia berhenti dan menangis lama. Lalu ia berkata: ”Saudara sekalian, ini adalah kuburan kakekku, kuburan bapakku, saudara-saudaraku serta tetanggaku. Tahukah kalian apa yang diperbuat kematian terhadap mereka?” Ia menangis lama.

Sebagian yang hadir berkata, ”Apa yang diperbuat kematian kepada mereka, wahai Amirul mukminin?”. Umar menjawab, ”Kematian itu mengatakan: Aku telah menghancurkan biji mata, melumat kedua alat penglihatan, aku telah putuskan telapak tangan dari lengan, aku telah pisahkan lengan bawah dari lengan atas, aku ceraikan lengan dari bahunya, aku telah memutuskan tumit dari betis, aku telah pisahkan betis dari lutut dan aku hancur-remukkan segalanya!. Lalu Umar kembali menangis sehingga menangislah semua manusia yang baik dan yang durhaka.

Tilawah Al-Qur’an
Di antara kandungan Al-qur’an adalah ayat-ayat yang bertemakan tentang surga dan neraka serta kenikmatan dan azab. Para salafus shalih selalu berinteraksi secara maksimal dengan ayat-ayat tersebut. Karena ayat-ayat itu menjadi energi tersendiri dalam memotifasi amal-amal Islami.

Umar ibnu Khattab seorang sahabat Rasullullah yang memiliki masa lalu kelam karena kebenciannya yang mendarah daging terhadap Islam. Beliau mampu melakukan perubahan hidupnya dengan memaksimalkan berinteraksi dengan ayat-ayat Al-Qur’an terutama ayat-ayat yang bertemakan azab. Beliau sempat berlinang air mata bahkan tak kuasa menahan tangisnya tatkala mendengar firman Allah: ”Sungguh azab Tuhanmu pasti terjadi” (Ath-Thur (52): 7) Di sinilah kita temukan bahwa ayat-ayat azab menjadi energi kebaikan bagi para pecinta Al-Qur’an.

Bergaul dengan orang-orang shalih
Hal yang menjadikan orang-orang shalih mengingatkan kita kepada kematian adalah karena mereka orang yang memenuhi aktivitas hidupnya dengan nilai-nilai islami, jauh dari permainan dan hiburan yang melalaikan manusia dari kematian. Di sinilah orang-orang shalih akan menjadi magnet bagi kia untuk melakukan amal-amal Islami.

Maka Allah memerintahkan kita untuk memfilter patner interaksi kita serta memerintahkan kita untuk belajar dari penyesalan hambanya yang salah dalam pergaulannya. Allah berfirman: ”Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku)” (Al-Furqan (25): 28

Jalan Menuju Surga
Komitmen terhadap risalah Islam itulah jalan menuju tempat yang terbaik dan terindah yaitu surga. Dengan risalah inilah kita harus isi jiwa kita. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan, bahwa setiap jengkal tanah yang tidak disinari cahaya risalah, maka ia adalah tempat yang terkutuk. Dan setiap hati yang tidak mengambil petunjuk agama ini, maka ia adalah hati yang dibenci Allah.

Oleh karena itu, Muadz bin Jabal sebagai seorang yang tumbuh dalam ilmu, kekuatan, cinta dan cita-cita tinggi, ia berkata, ”Aku pernah berjalan bersama Rasulullah di tengah malam yang gelap gulita. Di saat itulah saya bertanya kepada beliau, ”Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku satu amalan yang jika aku mengerjakannya, Allah memasukkan aku ke surga dan menjauhkan aku dari neraka”. Nabi menjawab, ”Sesungguhnya engkau telah menanyakan sesuatu yang sangat besar padahal ia ringan bagi orang yang diberi keringanan oleh Allah untuk mengamalkannya”. Lantas Rasulullah bersabda, ”Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah bila mampu”. Kemudian Rasulullah melanjutkan ucapannya dengan menggugah hati. ”Apakah engkau mau aku tunjukkan pokok segala perkara, tiang dan puncaknya? Pokok segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat sedang puncaknya adalah jihad fi sabilillah.



Tulisan dicomot dari sini:

Senin, 10 Mei 2010

Menikmati Sakit

"Allah tidak menurunkan penyakit, melainkan Dia telah
menurunkan obatnya."



Sahabat ?
Ketika kepala kita mulai terasa pening, badan terasa ngilu "nggreges", dan hawa panas mulai merasuki tubuh kita. Seketika, aktivitas kita pun terganggu. Ia memaksa kita beristirahat sejenak. Bila setelah minum obat dari warung pinggiran rumah tak juga sembuh, bahkan larut hingga berhari-hari, mungkin rasa khawatir terkena penyakit Malaria atau Demam Berdarah
pun segera muncul dalam benak kita. Kita pun mulai ribut mempersiapkan diri berkunjung ke rumah sakit. Rasa tegang bisa saja muncul, apalagi berita kematian akibat penyakit itu sedang hangat mewarnai kehidupan keseharian kita.

Sahabat ?
Betapa rasa repot, tegang, takut dan segala rasa, bercampur aduk merasuki hati kita saat ujian sakit menimpa diri atau keluarga kita. Belum lagi saat menghadapi vonis dokter yang kadang lebih menakutkan daripada vonis hakim. Bagaimana kalau kita divonis kanker, HIV, AIDS, dan penyakit mematikan lainnya? Kalau boleh memilih, tentu kita akan memilih sehat.
Karena kegembiraan hati ketika sehat adalah sunnatullah.

Sahabat?
Tidaklah Allah menciptakan sesuatu secara sia-sia. Pasti ada beribu hikmah di balik segala yang terjadi pada diri kita, atau lingkungan kita. Tapi, apa hikmah dibalik penyakit yang Allah timpakan kepada manusia? Adzabkah?


Pertama, sehat adalah ujian kesabaran. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw, "Sangat menakjubkan urusan orang-orang Mukmin itu. Mereka menerima semua persoalan hidup sebagai kebaikan baginya. Apabila kegembiraan yang diterimanya ia akan bersyukur dan itu
adalah kebaikan baginya. Dan apabila kepedihan yang diterimanya maka ia bersabar dan itupun merupakan kebaikan pula baginya."(HR. Muslim).

Hadits di atas menjelaskan bahwa yang dituntut dari kebaikan adalah syukur, sedangkan yang dituntut dari kesulitan adalah sabar. Karena kesyukuran adalah tanda keimanan, dan kedurhakaan adalah tanda kekufuran.

Kedua, sakit adalah penggugur dosa-dosa hamba-Nya. Penyakit yang diderita seorang hamba menjadi sebab diampuninya dosa yang telah dilakukan termasuk
dosa-dosa setiap anggota tubuh. Rasulullah Saw bersabda, "Setiap getaran pembuluh darah dan mata adalah karena dosa. Sedangkan yang dihilangkan Allah dari perbuatan itu lebih banyak lagi."(HR. Tabrani).

Ketiga, Orang sakit yang mau bersabar akan mendapatkan pahala dan ditulis untuknya bermacam-macam kebaikan dan ditinggikan derajatnya. Rasulullah Muhammad Saw
bersabda, "Tiadalah tertusuk duri atau benda yang lebih kecil dari itu pada seorang Muslim, kecuali akan ditetapkan untuknya satu derajat dan dihapuskan untuknya satu kesalahan." (HR.Muslim dari Aisyah ra).

Keempat, masih bagi pengidap sakit yang sabar, selain mendapat pahala, ia akan mendapati jalan menuju surga yang terbuka lebar.

Kelima, sebagai timbal baliknya, ia akan selamat dari siksa neraka. "Aisyah Ummul Mukminin menerangkan sabda Rasulullah Saw bahwasannya sakit karena demam itu akan
menghindarkan orang Mukmin dari siksa api neraka." (HR. Al-Bazzar)

Keenam, selalu ingat pada Allah. Dalam kondisi sakit akan membuat orang merasa benar-benar lemah, tidak berdaya sehingga ia akan bersungguh-sungguh memohon
perlindungan kepada Allah Swt., Dzat yang mungkin telah ia lalaikan selama ini. Kepasrahan ini pula yang menuntunnya untuk bertobat.

Ketujuh, selalu mengingat nikmat Allah. Sakit membuat orang tahu manfaat sehat. Tidak jarang orang merasakan nikmat justru ketika sakit. Begitu banyak nikmat Allah yang selama ini lalai untuk ia syukuri. Bagi orang yang banyak bersyukur dalam sakit, ia akan memperoleh
nikmat.

Kedelapan, pembersihan hati dari penyakit. Pendapat Ibnu Qayyim, "Kalau manusia itu tidak pernah mendapat cobaan dengan sakit dan pedih, maka ia akan menjadi manusia ujub dan takabur. Hatinya menjadi kasar dan jiwanya beku. Karenanya, musibah dalam bentuk apapun
adalah rahmat Allah yang disiramkan kepadanya. Akan membersihkan karatan jiwanya dan menyucikan ibadahnya. Itulah obat dan penawar kehidupan yang diberikan Allah untuk setiap orang beriman. Ketika ia menjadi bersih dan suci karena penyakitnya, maka martabatnya diangkat dan jiwanya dimuliakan. Pahalanya pun berlimpah-limpah apabila penyakit yang menimpa dirinya diterimanya dengan sabar dan ridha."


Sahabat?
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang Allah hamparkan ke hadapan kita, baik pahit maupun manis. Amin.




*(Dirangkum dari buku "Kado untuk Orang Sakit" karya Abdullah bin Ali Al-Ju'aisin/ Indah oleh Erwin Arianto, SE)

**sumber gambar: roghuzshy.wordpress.com/2009/02/16/


Jumat, 09 April 2010

Jadi Ikhwan jangan cengeng....!!!!!

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dikasih amanah pura-pura batuk..
Nyebutin satu persatu kerjaan biar dikira sibuk..
Afwan ane sakit.. Afwan PR ane numpuk..
Afwan ane banyak kerjaan, kalo nggak selesai bisa dituntut..
Afwan ane ngurus anu ngurus itu jadinya suntuk..
Terus dakwah gimana? digebuk?

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dikit-dikit dengerin lagunya edcoustic..
udah gitu yang nantikanku di batas waktu, bikin nyelekit..
Ke-GR-an tuh kalo ente melilit..
Kesehariannya malah jadi genit..
Jauh dari kaca jadi hal yang sulit..
Hati-hati kalo ditolak, bisa sakiiiittt…

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dikit-dikit SMSan sama akhwat pake Paketan SMS biar murah..
Rencana awal cuma kirim Tausyiah..
Lama-lama nanya kabar ruhiyah.. sampe kabar orang rumah..
Terselip mikir rencana walimah?
Tapi nggak berani karena terlalu wah!
Akhirnya hubungan tanpa status aja dah!

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Abis nonton film palestina semangat membara..
Eh pas disuruh jadi mentor pergi entah kemana..
Semangat jadi penontonnya luar biasa..
Tapi nggak siap jadi pemainnya.. yang diartikan sama dengan hidup sengsara..
Enak ya bisa milih-milih yang enaknya aja..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Ngumpet-ngumpet buat pacaran..
Ketemuan di mol yang banyak taman..
Emang sih nggak pegangan tangan..
Cuma lirik-lirikkan dan makan bakso berduaan..
Oh romantisnya, dunia pun heran..
Kalo ketemu Murabbi atau binaan..
Mau taruh di mana tuh muka yang jerawatan?
Oh malunya sama Murabbi atau binaan?
Sama Allah? Nggak kepikiran..
Yang penting nyes nyes romantis semriwing asoy-asoy-yaannn..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Disuruh infaq cengar-cengir..
Buat beli tabloid bola nggak pake mikir..
Dibilang kikir marah-marah dah tuh bibir..
Suruh tenang dan berdzikir..
Malah tangan yang ketar-ketir..
Leher saudaranya mau dipelintir!

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Semangat dakwah ternyata bukan untuk amanah..
Malah nyari Aminah..
Aminah dapet, terus Walimah..
Dakwah pun hilang di hutan antah berantah..
Dakwah yang dulu kemanakah?
Dakwah kawin lari.. lari sama Aminah..
Duh duh… Amanah Aminah..
Dakwah.. dakwah..
Kalah sama Aminah..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Buka facebook liatin foto akhwat..
Dicari yang mengkilat..
Kalo udah dapet ya tinggal sikat..
Jurus maut Ikhwan padahal gak jago silat..
"Assalammu'alaykum Ukhti, salam ukhuwah.. udah kuliah? Suka coklat?"
Disambut baik sama ukhti, mulai berpikir untuk traktir Es Krim Coklat ..
Akhwatnya terpikat..
Mau juga ditraktir secara cepat..
Asik, akhirnya bisa jg ikhtilat…
yaudah.. langsung TEMBAK CEPAT!
Akhwatnya mau-mau tapi malu bikin penat..
badan goyang-goyang kayak ulat..
Ikhwannya nyamperin dengan kata-kata yang memikat..
Kasusnya sih kebanyakan yang `gulat'..
Zina pun menjadi hal yang nikmat..
Udah pasti dapet laknat..
Duh.. maksiat.. maksiat…

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Ilmu nggak seberapa hebat..
Udah mengatai Ustadz..
Nyadar diri woi lu tuh lulusan pesantren kilat..
Baca qur'an tajwid masih perlu banyak ralat..
Lho kok udah berani nuduh ustadz..
Semoga tuh otaknya dikasih sehat..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Status facebook tiap menit ganti..
Isinya tentang isi hati..
Buka-bukaan ngincer si wati..
Nunjukkin diri kalau lagi patah hati..
Minta komen buat dikuatin biar gak mati bunuh diri..
Duh duh.. status kok bikin ruhiyah mati..
Dikemanakan materi yang ustadz sampaikan tadi?

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Ngeliat ikhwan-ikhwan yang lain deket banget sama akhwat mau ikutan..
Hidup jadi kayak sendirian di tengah hutan rambutan..
Mau ikutan tapi udah tau kayak gitu nggak boleh.. tau dari pengajian..
Kepala cenat-cenut kebingungan..
Oh kasihan.. Mendingan cacingan..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Ngeliat pendakwah akhlaknya kayak preman..
Makin bingung nyari teladan..
Teladannya bukan lagi idaman..
Hidup jadi abu-abu kayak mendungnya awan..
Mau jadi putih nggak kuat nahan..
Ah biarlah kutumpahkan semua dengan cacian makian..
Akhirnya aku ikut-ikutan jadi preman..
Teladan pun sekarang ini susah ditemukan..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Diajakain dauroh alasannya segudang..
Semangat cuma pas diajak ke warung padang..
Atau maen game bola sampe begadang..
Mata tidur pas ada lantunan tilawah yang mengundang..
Tapi mata kebuka lebar waktu nyicipin lauk rendang..
Duh.. berdendang…

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Bangga disebut ikhwan.. hati jadi wah..
Tapi jarang banget yang namanya tilawah..
Yang ada sering baca komik naruto di depan sawah..
Hidup sekarang jadinya agak mewah..
Hidup mewah emang sah..
Tapi.. kesederhanaan yang dulu berakhir sudah?

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dulunya di dakwah banyak amanah..
Sekarang katanya berhenti sejenak untuk menyiapkan langkah..
Tapi entah kenapa berdiamnya jadi hilang arah..
Akhirnya timbul perasaan sudah pernah berdakwah..
Merasa lebih senior dan lebih mengerti tentang dakwah..
Anak baru dipandang dengan mata sebelah..
Akhirnya diam dalam singgasana kenangan dakwah..
Dari situ bilang.. Dadaaahhh.. Saya dulu lebih berat dalam dakwah..
Lanjutin perjuangan saya yah…

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Nggak punya duit jadinya nggak dateng Liqo..
Nggak ada motor yaa halaqoh boro-boro..
Murabbi ikhlas dibikin melongo..
Binaan nggak ada satupun yang ngasih info..
Ngeliat binaan malah pada nonton tv liat presenter homo..
Adapula yang tidur sambil meluk bantal guling bentuk si komo..

Oh noo…

Jadi Ikhwan jangan cengeng…
Jadi Ikhwan jangan cengeng…
Jadi Ikhwan jangan cengeng…
Jadi Ikhwan jangan cengeng…
Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Akhi… banyak sekali sebenarnya masalah Ikhwan..
Dimanapun harokahnya…

Akhi.. Di saat engkau tak mengambil bagian dari dakwah ini..
Maka akan makin banyak Ikhwan lain yang selalu menangis di saat mereka mengendarai motor.. Ia berani menangis karena wajahnya tertutup helm… Ia menangis karena tak kuat menahan beban amanah dakwah..

Akhi.. Di saat engkau kecewa oleh orang yang dulunya engkau percaya.. Ikhwan-ikhwan lain sebenarnya lebih kecewa dari mu.. mereka menahan dua kekecewaan.. kecewa karena orang yang mereka percaya.. dan kecewa karena tidak diperhatikan lagi olehmu.. tapi mereka tetap bertahan.. menahan dua kekecewaan… karena mereka sadar.. kekecewaan adalah hal yang manusiawi.. tapi dakwah harus selalu terukir dalam hati..

Akhi.. disaat engkau menjauh dari amanah.. dengan berbagai alasan.. sebenarnya, banyak ikhwan di luar sana yang alasannya lebih kuat dan masuk akal berkali-kali lipat dari mu.. tapi mereka sadar akan tujuan hidup.. mereka memang punya alasan.. tapi mereka tidak beralasan dalam jalan dakwah.. untuk Allah.. demi Allah.. mereka.. di saat lelah yang sangat.. masih menyempatkan diri untuk bangun dari tidurnya untuk tahajjud.. bukan untuk meminta sesuatu.. tapi mereka menangis.. curhat ke Allah.. berharap Allah meringankan amanah mereka.. mengisi perut mereka yang sering kosong karena uang habis untuk membiayai dakwah…

Akhi.. Sungguh.. dakwah ini jalan yang berat.. jalan yang terjal.. Rasul berdakwah hingga giginya patah.. dilempari batu.. dilempari kotoran.. diteror.. ancaman pembunuhan….. dakwah ini berat akhi.. dakwah ini bukan sebatas teori.. tapi pengalaman dan pengamalan… tak ada kata-kata `Jadilah..!' maka hal itu akan terjadi.. yang ada `jadilah!' lalu kau bergerak untuk menjadikannya.. maka hal itu akan terjadi.. itulah dakwah… ilmu yang kau jadikan ia menjadi…

Akhi.. jika saudaramu selalu menangis tiap hari..
Bolehkah mereka meminta sedikit bantuanmu..? meminjam bahumu..? berkumpul dan berjuang bersama-sama…?
Agar mereka dapat menyimpan beberapa butir tangisnya.. untuk berterima kasih padamu..
Juga untuk tangis haru saat mereka bermunajat kepada Allah dalam sepertiga malamnya..
"Yaa Allah.. Terimakasih sudah memberi saudara seperjuangan kepadaku.. demi tegaknya Perintah dan laranganMu… Kuatkanlah ikatan kami…"

"Yaa Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam taat kepada-Mu, bersatu dalam da'wah kepada-Mu, berpadu dalam membela syariat-Mu."

"Yaa Allah, kokohkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukillah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah pudar."

"Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal kepada-Mu. Hidupkanlah hati kami dengan ma'rifat kepada-Mu. Matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalan-Mu."

"Sesungguhnya Engkaulah Sebaik-baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong. Yaa Allah, kabulkanlah. Yaa Allah, dan sampaikanlah salam sejahtera kepada junjungan kami, Muhammad SAW, kepada para keluarganya, dan kepada para sahabatnya, limpahkanlah keselamatan untuk mereka."

Aamiin Allahumma aamiin.



*dicopas dari sini