.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}

Rabu, 06 Agustus 2008

Asesmen Alternatif

Ternyata bukan pengobatan aja yang punya alternatif, asesmen ternyata juga ada lho. Tapi kalau dalam asesmen alternatif, kita nggak menggunakan ramuan-ramuan apalagi pake kambing segala buat sarana transfernya.

Kali ini [hanya] akan dijabarkan tentang apa aja sih yang termasuk dalam asesmen alternatif, karena pada coretan sebelumnya yang berjudul "Mengapa Harus ada Asesmen dan Evaluasi ?" telah diulas tentang apa sih definisi dari asesmen.

Kenyataan di lapangan bahwa banyak guru yang masih menggunakan asesmen tradisional daripada asesmen alternatif. Alasannya, pengkonstrukannya sulit dan waktu penskorannya juga memakan waktu yang cukup lama. Jadi intinya, kalau dijejerin tuh guru bakal teriak : "asesmen alternatif.... capek dehhhhh...."

Namun demikian, asesmen alternatif harus ditegakkan [walaupun tidak mudah]. Hal ini sejalan dengan kurikulum KTSP yang lebih menitikberatkan pada pengembangan kompetensi anak didik, mulai dari learning to know sampai dengan learning to live together, seperti yang telah diungkapkan oleh UNESCO. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi pembelajaran yang terbatas pada tataran sastra [baca : teori] saja. Sastra Biologi, sastra matematika, sastra olah raga dan sejenisnya tidak ada lagi. Unjuk kerja adalah point utamanya.

Beranjak dari hal tersebutlah, akhirnya dibutuhkanlah sebuah instrumen yang bisa menjaring ataupun memberikan informasi tentang kompetensi anak didik secara tepat dan sesuai. Bayangkan saja : Apakah komptentensi anak didik tentang hal yang bersifat normatif dan praktis dapat dinilai secara pasti [realtime] hanya dengan menjawab sebuah asesmen tradisional saja [dalam hal ini tes] ?

Konkritnya seperti ini dalam sebuah soal ditanyakan : apa yang akan kamu lakukan jika melihat seorang nenek menyebrang di jalan ? pasti jawabnya akan menyeberangkannya dong [normatif] atau pertanyaan praktis seperti ini : bagaimana caranya berenang dengan menggunakan gaya dada ? pastinya anak didik tersebut akan menjawab langkah-langkah praktis seperti yang telah dia baca dibuku. Tapi saat mereka diminta untuk mempraktekkannya langsung, belum tentu mereka akan melakukan hal yang sama benarnya seperti yang telah mereka tuangkan dalam jawaban tertulis.

Instrumen yang bisa menjaring kondisi realtime proses kerja anak didik akan dijabarkan berikut ini.


Performance Assessment (Asesmen Kinerja)
Asesmen ini menginginkan anak didik untuk dapat mendemonstrasikan bahwa mereka dapat mengerjakan tugas tertentu, seperti menulis esai, melakukan eksperimen, menginterpretasi solusi untuk suatu masalah, memainkan sebuah lagu, atau menggambar sesuatu. Dalam hal ini penekanannya adalah pada pengujian pengetahuan prosedural (yang berlawanan dengan pengetahuan deklaratif)

Performance test memiliki fitur penting, yaitu mampu mengintegrasikan beberapa topik (sains, menulis, kerja kelompok) menjadi sebuah proses asesmen dan bukan mengases keterampilan tertentu. Ia mengharuskan anak didik untuk mengerjakan beragam tugas selama beberapa hari dan bukan tugas-tugas yang dapat diases selama beberapa menit saja. Selain itu, ia juga merupakan upaya untuk mengukur berbagai macam keterampilan dan proses intelektual yang kompleks.


Authentic Assessment (Asesmen Autentik)
Bila performance assessment meminta anak didik untuk mendemonstrasikan perilaku atau kemampuan tertentu dalam situasi testing. Authentic assessment membawa demonstrasi ini selangkah lebih maju dan menekankan pentingnya penerapan keterampilan atau kemampuan yang dimaksud dalam konteks situasi kehidupan nyata. Stiggins (2004) dan Jeanie Oaker (2007) mengatakan bahwa "kinerja yang bermakna diberbagai lingkup dunia nyata lebih dapat menangkap kekayaan pemahaman anak didik tentang bagaimana mereka dapat menerapkan pengetahuan ini daripada yang dapat dilakukan dengan menguji "bits and pieces" seperti yang dilakukan dengan prosedur-prosedur asesmen konvensional.

Contoh-contoh asesmen autentik termasuk mendemonstrasikan hasil karya dalam pameran seperti science fair (pameran sains) atau art show (pertunjukan seni), menunjukkan keterampilan yang dimiliki dalam bentuk kumpulan portofolio, menampilkan tari atau resital musik, berpartisipasi dalam debat, dan mempresentasikan karya tulis asli kepada teman-teman sebaya atau ortu.


Merancang dan Menskor Performance Assessment dan Authentic Assessment
Pada alinea awal telah disinggung bahwa tes performance membutuhkan waktu lama untuk dikonstruksi dan diadministrasikan dan pada kebanyakan kasus, juga jauh lebih mahal. Lebih jauh, pembuatan performance assessment yang baik membutuhkan cukup banyak pengetahuan teknis. Bagi guru yang memilih untuk memulai mengkonstruksikan tes sendiri untuk mengukur kinerja siswa, Gronlund, Linn, dan Davis (2000) dan Wiggins (1988) memberikan beberapa pedoman berikut untuk memperbaiki kualitas upaya semacam itu :
  1. Fokuskan pada hasil belajar yang membutuhkan keterampilan kognitif dan kinerja anak didik yang kompleks.
  2. Pilih atau kembangkan tugas-tugas yang merepresentasikan isi dan keterampilan sentral untuk hasil-hasil belajar yang penting.
  3. Minimalkan ketergantungan kinerja tugas pada keterampilan-keterampilan yang tidak relevan dengan maksud tugas asesmen yang dimaksud.
  4. Berikan kerangka kerja/instruksi kerja (scaffolding) yang dibutuhkan anak didik agar mampu memahami tugasnya dan apa yang diharapkan
  5. Konstruksikan petunjuk-petunjuk tugas sedemikian rupa sehingga tugas anak didik menjadi benar-benar jelas.
  6. Komunikasikan dengan jelas ekspektasi kinerja dalam kaitannya dengan kriteria yang akan dijadikan dasar penilaian kinerja.
Banyak pakar dibidang asesmen autentik (Wiggins, 1997, misalnya) yang bwerpendapat bahwa agar asesmen autentik efektif, kriteria dan standar untuk hasil kerja anak didik harus jelas, diketahui, dan tidak ditetapkan secara sewenang-wenang. Anak didik yang mengerjakan tugas akademik perlu tahu bagaimana hasil kerja mereka akan dinilai. Scoring rubrics adalah salah satu teknik asesmen yang digunakan oleh pakar untuk membuat kriteria itu jelas dan nonarbitrary (logis).

Asesmen tradisional dan asesmen alternatif adalah "menu" yang bisa diplih seorang guru untuk "mengenyangkan" anak didiknya dalam memberi makna lebih dari ilmu yang telah ditransfer. Setiap asesmen [baik tradisional maupun alternatif] memiliki kelebihan dan keterbatasannya yang khas, tinggal pandai-pandainya guru saja meramu dan mengolah sehingga apa yang telah dirancang dari awa dapat tercapai secara optimal.

Mengggunakan asesmen tradisional memiliki resiko, begitu juga dengan menggunakan asesmen alternatif. Jadi, bila kedua hal ini memiliki resiko yang tidak jauh beda, mengapa tidak mengambil tantangan yang tertinggi saja ?

Gak ada salahnyakan mendapat gelar risktaker sejati untuk sebuah perubahan...



Diramu dan diparafrasekan dari :
Arends, Richard I. (2007). Learning to Teach : Belajar untuk Mengajar, Ed. 7 Jilid 1.
          Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

4 komentar:

  1. Lusssy, hebat juga tulisanmu. harusnya semua alinea dengan gaya bahasa sehari-hari seperti pada awal tulisanmu itu. Bravo!

    BalasHapus
  2. wahhh... makasih banget nih buat apresiasinya...
    sengaja dibuat demikian untuk mengurangi efek bias. Slain untuk memperjelas ini fokusnya lho, jd jgn dibawa bercanda/i yey... hehehe

    *padahal ngeles doang nih ;D

    Skali lg makasih bgt buat apresiasinya ya... Revo... Suprafit... CBR... (kok jadi nyebutin motor yak ^_^)

    BalasHapus
  3. lagi nyari-nyari bahan buat tulisan proyek kelas,,
    ehhhhh,,dapet tulisannya bu lussy...
    hehehehe

    BalasHapus
  4. jadi malu ketauan Yaya... berarti sekarang saya dong yang gantian jaga... hehe *emang lagi maen petak umpet apa?... asal jgn kayak yang di pilem hide and seek aja ya Ya... wuidiih syerem nian itu*

    BalasHapus

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas