Mungkin kalimat di atas bakal terlontar kalau kita lagi males buat diajak diskusi yang berat, apalagi yang berhubungan dengan kedua makhluk yang telah disebutkan di atas. Gimana gak pusing, kalau dari kata yang seiprit itu aja sudah menyangkut hajat hidup orang banyak [jadi inget UUD]. Ujung-ujungnya bisa-bisa jadi sealphard deh pembahasannya... [boil kali ah]
"tadi dapat nilai berapa ?", "kira-kira pertanyaan yang bakal keluar besok apa ya ?", "Gila susye bener deh ah tuh soal, untung kite bisa keluar duluan.... kalau nggak, bisa semaput di dalam duluan dah [lebay mode : on]", "tuh soal, ajaib bener deh ah... alhamdulillahnya saya gak tergiur buat nyontek. Yah... Lebih baik dapat nilai bagus hasil pemikiran sendiri, daripada dapat nilai jelek tapi hasil nyontek"

Ujian... Oh...Berjuta Rasanya
Saat membicarakan ujian, seperti saat kita ngobrolin cinta. Sama-sama gak ada habisnya dan sama-sama berjuta rasanya. Gak ada habisnya, karena banyak kontroversi yang berkembang antara perlu atau tidaknya ujian. Apalagi ujiannya hanya dalam bentuk pilihan ganda saja. Banyak pendapat yang mengatakan pada dasarnya soal pilihan ganda hanya menghadirkan opsi semu, dalam artian sebenarnya anak didik tidak mempunyai pilihan karena pilihannya sudah disodorkan oleh sang pembuat soal. Selain itu, pilihan ganda mengajarkan anak didik untuk berspekulasi [coba-coba]. Akhirnya, hukum iseng-iseng berhadiah akan kejadian kalau waktu dah mepet. Tanpa lihat soal langsung hantam aja tuh lembar jawaban... srat... sret... selesai deh...
Berjuta rasanya.... yah, coba deh inget-inget apa yang dirasa kalau mau ujian ??? Minimal deg-degan maksimal menwa [alias mencret wae [maaf]] mungkin dah dirasain. Dan anehnya, walaupun dah sering ujian tuh rasa masih sejuta aja, gak pernah kurang. Tetapi, bukan berarti semua orang ngalamin semua rasa itu lho. Karena tiap orang pastinya mempunyai tingkat kecemasan dan kemampuan memenej rasa yang berbeda-beda. Ada yang udah belajar tapi masih deg-degan saat mau ujian, tapi ada juga yang sebaliknya, padahal gak belajar dan tidak ada persiapan sama sekali, tapi teteup skud-skud aja...
Nyantai beibeh deh pokoknya.Fenomena itu pulalah yang menjadikan salah satu dasar untuk menggunakan instrumen evaluasi lain di luar tes. Akhirnya muncullah asesmen alternatif. Yang secara psikologis bisa nyaman, dan pastinya gak bikin sampai menwa, tapi lebih bermakna dan mengena.
Asesmen sendiri adalah proses mengumpulkan informasi tentang anak didik dan kelas untuk maksud-maksud pengambilan keputusan instruksional.
Pada title telah dicantumkan kalimat "Mengapa harus ada asesmen dan evaluasi ?", berikut jawabannya...
Sorting Function
Para sosiolog telah melihat bahwa sekolah secara umum adalah masyarakat kompleks yang diharapkan untuk membantu menyortir orang-orang untuk berbagai peran sosial dan berbagai posisi pekerjaan. Meskipun sebagian [mungkin] berharap datangnya masa penemuan cara-cara yang lebih baik dan lebih adil untuk membuat keputusan penentuan [judgement] semacam itu, tetapi, saat ini, masyarakat luas menyerahkan sebagian besar pekerjaan mengases dan mengevaluasi pertumbuhan dan potensi siswa kepada sekolah dan guru.
Seberapa baik kinerja anak didik pada berbagai tes, nilai yang mereka terima, dan penentuan yang dibuat guru tentang potensi mereka memiliki konsekuensi jangka panjang yang penting bagi anak didik. Persepsi yang stabil tentang self worth [percaya diri] dan self esteem [harga diri] juga bisa merupakan akibat cara anak didik dievaluasi di sekolah.
Grade for Work Exchange
Pertukaran antara nilai dengan pekerjaan. Bisa diibaratkan, anak didik bekerja demi nilai, persis seperti orang dewasa yang bekerja demi uang.
Tugas-tugas akademis seperti menyelesaikan tugas, belajar untuk ujian, menulis karya tulis, dan melaksanakan diskusi kelas adalah pekerjaan anak didik. Banyak guru ingin agar anak didiknya mengerjakan tugas-tugas akademis ini demi nilai instrinsik belajar itu sendiri. Meskipun ini merupakan tujuan yang terpuji dan, dibanyak kasus, mungkin dicapai, tetapi nilai tetap penting dan tidak boleh diabaikan. Pertukaran antara nilai dan pekerjaan ini sangat penting dan membantu menjelaskan sebagian kehidupan kelas.
Pentingnya Nilai bagi Ortu
Ortu sangat peduli pada nilai anaknya karena mereka melebihi anaknya, benar-benar memahami fungsi penting penyortiran yang terjadi di sekolah. Kebanyakan ortu masih ingat penentuan [judgement] kritis tentang hasil kerja mereka dahulu dan apa konsekuensinya. Mereka juga sangat menyadari keputusan apa yang akan dibuat bila anaknya ditempatkan di kelompok dengan tingkat membaca rendah atau ditempatkan di kelas matematika umum.
Namun, para guru menjadi banyak mengeluh tentang kekhawatiran ortu ini, dan kadang-kadang keluhan ini dapat dijustifikasi. Sebagai contoh, sebagian ortu yang mempunyai ekspektasi tidak realistik tentang anaknya dapat mencampuri keputusan [judgement] profesional guru tentang tingkat pekerjaan yang paling tepat untuk anaknya. Sebaliknya, ortu lain tampak tidak peduli dengan evaluasi akademik anaknya dan hanya memberikan sedikit dorongan di rumah bila anaknya bekerja dengan baik atau mendapatkan nilai bagus.
Positifnya, kekhawatiran ortu ini dapat disadap dan digunakan oleh guru untuk memperbaiki pembelajaran siswa.
Era Akuntabilitas
Masyarakat saat ini banyak mengharapkan guru dan sekolah bertanggung jawab atas pembelajaran anak didik. Dengan sistem penilaian terbuka, diharapkan sekecil apapun nilai yang diberikan oleh guru pada anak didik dapat dipertanggungjawabkan secara moral.
Dari keempat hal yang telah dicantumkan di atas jelas sekali, mengapa evaluasi dan asesmen harus ada. Evaluasi adalah langkah awal untuk sebuah perbaikan dan asesmen adalah salah satu alat yang digunakan untuk mengais informasi guna memberikan judgement pada taraf akhir sebuah perjalanan panjang evaluasi.
Jadi, masih ogah buat diajak ngebahas tuh dua makhluk yang bernama asesmen dan evaluasi ???

*Diramu dan diparafrasekan dari :
Arends, Richard I. (2007). Learning to Teach : Belajar untuk Mengajar.Ed. 7 Jilid 1.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Masih kurang "kenyang" ??? kamu bisa eksplorasi ke link berikut: www.mhhe.com/arends7e
How about Plan, Control, Arrangement besides of Assesment and Evaluation?
BalasHapusmakasih untuk bacaannya mbak...snang membaca tulisan mbak lussy yang sepeti ini...
BalasHapus:)
Klo aku lebih suka bikin soalnya isian/essay, jadi yang ngisinya bebas berpendapat tapi harus tetap dilandasi teori belajar.. Jadi inget matakuliah Evaluasi Pembelajaran dulu..
BalasHapussebenarnya evaluasi dan asesmen merupakan salah satu bagian dari sebuah sistem besar [dalam hal ini konteksnya pembelajaran]. Jadi, pastinya semua yang bapak sebutkan saling terkait, berketergantungan, dan mempengaruhi satu sama lain.
BalasHapusAdanya asesmen dan evaluasi salah satunya adalah untuk mengontrol apakah rencana dan pelaksanaan dah sesuai dengan tujuan yang diharapkan... Gitu deh kira2 pak... maaf kalau bahasa saya terkesan sok tau dan menggurui... ;D
kalau coretan yang seperti itu udah malas bacanya ya mba anni... hehehe
BalasHapusLagian ngoreksinya gampang ya mas, tinggal diukur pake penggaris, yang paling panjang yang dapat nilai bagus. Terus kalau jawabannya kemana-mana tinggal dikasih catatan : "ngarang aja"... hehehe [bercanda]
BalasHapusemang dulu kuliahnya jurusan apa mas ???
yang seperti itu sudah terlalu sering mbak..yang yang kayak gini nabah wawasan..mbak lussy mang keren dah..
BalasHapus^_^v
... lagian saya nyoret seperti ini kan biar dibilang keren sama mba anni doang... hahaha
BalasHapus*eh, kejadian deh dibilang keren... hihihi