Dunia pendidikan adalah dunia normatif. Dunia yang hanya mengenal satu sudut pandang, yaitu sudut pandang seharusnya. Kalau mau diartikan secara bebas, dunia pendidikan itu sama halnya dengan dunia teori. Kalau begitu, dunia pendidikan itu lempeng-lempeng aja dong dalam perjalanannya, tapi buktinya??? Nah, disinilah dunia psikologi bermain, karena psikologi melihat dari sudut pandang apa adanya. Dan dunia psikologilah yang berperan meluruskan kembali individu-individu yang keluar dari rel "dunia seharusnya".
Sekarang coba simak sebentar cerita yang dicuplik dari novel karya Torey Hayden yang berjudul "Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil"
"... saya masih belum mengerti benar mengapa dia begitu membenci tulis menulis. Saya duga itu berkaitan dengan kegagalan. Jika dia tidak pernah menuliskan apapun di atas kertas, orang tak bisa membuktikan bahwa dia pernah membuat kesalahan. Dan Sheila memang sangat kecewa jika dia membuat kesalahan dan koreksi, selembut apapun koreksi itu. Saya curiga, berdasarkan berbagai komentar yang diucapkannya bahwa dia pernah membawa pulang hasil tulisannya dan mengalami masalah dengan ayahnya berkaitan dengan itu. Akan tetapi, dia sudah sering mendapatkan perlakuan buruk darinya, jadi saya ragu bahwa hanya itu yang menyebabkan dia fobia...
(diceritakan: Sheila adalah seorang gadis berusia 6 tahun yang baru saja membakar anak lelaki berusia 3 tahun sampai nyaris mati. Gadis itu berIQ di atas 180, namun menderita problem emosional parah. Dia tidak pernah menangis, baik dikala sedih, marah, maupun kesakitan. Dia juga agresif dan selalu membangkang. Mungkin karena sang ibu meninggalkannya di jalanan saat berusia 4 tahun. Mungkin karena dia memang tak tahu bagaimana membuat orang lain mencintainya)"
Atau pernah baca komik Boy Action I?? Disana dikisahkan seorang anak yang bernama Teppei. Dia lahir dari keluaga kaya, berpendidikan, dan pintar. Namun, karena dari kecil dia ikut dengan ayahnya yang seorang penambang, maka jadilah kebiasaan hidupnya berbeda dengan anggota keluarganya yang lain. Masalah mulai muncul, kala dia harus kembali ke kehidupan keluarganya. Kebiasaan hidup di alam selama bertahun-tahun inilah mempengaruhinya dalam belajar. Dia menjadi sulit menerima pelajaran dalam kondisi klasikal. Mau tau ceritanya lebih lanjut, baca sendiri deh ya. Lucu abis deh pokoknya... hehehe
Kasus lain: Sebut saja bunga adalah seorang siswa pindahan dari sekolah B. Dia termasuk siswa yang pandai. Nilai yang didapatnya selalu bagus. Tetapi setelah pindah sekolah, ternyata nilai yang didapatnya bertolak belakang. Setelah didiagnosa, ternyata bunga memiliki alergi terhadap panas. Dia selalu merasakan pening di kepalanya jika tersengat panas. Inilah yang membuat konsentrasinya terhadap pelajaran menurun yang ujung-ujungnya berimbas pada hasil belajar yang dia peroleh. Setelah dilakukan wawancara secara mendalam, ternyata memang telah terjadi kesenjangan fasilitas antara sekolah sebelumnya dengan sekolahnya yang baru, terutama dalam hal ventilasi.
Dari ketiga kasus di atas, jelas tergambar bagaimana sebuah kondisi berpengaruh dalam sebuah proses belajar mengajar. Mau tahu lebih lanjut bagaimana kondisi belajar memainkan peranannya dalam pembelajaran? Telusuri aja terus rentetan kata-kata di bawah ini...
Kondisi Belajar adalah
Suatu keadaan yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa. Kondisi belajar juga dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang harus dialami siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar. Menurut Gagne kondisi belajar ada dua, yaitu:
- Kondisi internal, kemampuan yang telah ada pada diri individu sebelum ia mempelajari sesuatu yang baru.
- Kondisi eksternal, situasi perangsang di luar diri si belajar dan kondisi belajar yang diperlukan untuk belajar berbeda-beda untuk tiap kasus
Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.
- Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
- Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat indra, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
- Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
- Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
- Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
Kondisi Belajar untuk Berbagai Jenis Belajar
Gagne mengatakan bahwa dibutuhkan kondisi belajar yang efektif untuk berbagai jenis jenis/kategori kemampuan belajar. Kondisi belajar tersebut adalah:
- Keterampilan intelektual. Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali keterampilan-keterampilan sebelumnya. Caranya dengan membuat "jembatan keledai", pemberian umpan balik, ataupun pemberian review
- Informasi verbal. Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali konteks dari informasi yang bermakna, kinerja yang baru direkonstruksi.
- Strategi kognitif. Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali aturan-aturan dan konsep-konsep yang relevan, penyajian situasi masalah baru yang berhasil, pendemonstrasian solusi oleh siswa.
- Sikap. Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali informasi dan keterampilan intelektual yang relevan dengan tindakan pribadi yang diharapkan, pembentukan atau pengingatan kembali model manusia yang dihormati, penguatan tindakan pribadi dengan pengalaman langsung yang berhasil maupun yang dialami oleh orang lain dengan mengamati orang yang dihormati.
- Keterampilan motorik. Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali rangkaian unsur motorik, pembentukan atau pengingatan kembali kebiasaan-kebiasaan yang dilaksanakan, pelatihan keterampilan-keterampilan keseluruhan, balikan yang tepat.
Masalah-Masalah Belajar
Secara umum masalah-masalah belajar terbagi menjadi 3, yaitu:
- Lingkungan fisik adalah lingkungan fisik yang ada dalam proses dan di sekitar proses pembelajaran, contoh: ventilasi, intensitas cahaya dalam ruang belajar, fasilitas belajar, dll.
- Suasana emosional siswa. Jika kondisi emosional siswa sedang labil, maka proses belajarpun akan mengalami ganggguan.
- Lingkungan sosial adalah lingkungan sosial yang berada di sekitar siswa juga turut mempengaruhi bagaimana seorang siswa belajar, contoh: suasana rumah, kemampuan ekonomi keluarga, dll.
Jika ketiga hal di atas dikelompokkan, maka masalah belajar terdiri atas 2 bagian yaitu:
- Masalah belajar internal, adalah masalah-masalah yang timbul dari dalam diri siswa atau faktor-faktor internal yang menimbulkan kekurangberesan siswa dalam belajar, contoh: kesehatan, faktor kemampuan intelektual, kematangan untuk belajar, dll.
- Masalah belajar eksternal, adalah masalah-masalah yang timbul dari luar diri siswa sendiri atau faktor-faktor eksternal yang menyebabkan kekurangberesan dalam belajar, contoh: udara yang panas, lingkungan sosial maupun lingkungan alamiah, kualitas proses belajar mengajar, dll.
Cara Mendiagnosis Masalah Belajar
Proses mendiagnosis adalah proses pemeriksaan terhadap suatu gejala yang tidak beres. Diagnosis masalah belajar dilakukan, jika guru mengidentifikasi adanya kesulitan belajar pada muridnya. Diagnosis masalah belajar dilakukan secara sistematis dan terarah dengan langkah-langkah sebagai berikut:
- Mengidentifikasi adanya masalah belajar. Untuk mengidentifikasi masalah belajar diperlukan seperangkat keterampilan khusus, sebab kemampuan mengidentifikasi yang berdasarkan naluri belaka kurang efektif. Gejala-gejala munculnya masalah belajar dapat diamati dalam berbagai bentuk, biasanya dalam bentuk perubahan tingkah laku atau menurunnya hasil belajar.
- Menelaah/menetapkan status siswa, dapat dilakukan dengan cara: a. menetapkan tujuan khusus yang diharapkan dari murid, b. menetapkan tingkat ketercapaian tujuan khusus oleh murid dengan menggunakan teknik dan alat penilaian yang tepat, dan c. menetapkan pola pencapaian murid, yaitu: seberapa jauh ia berebeda dari tujuan yang ditetapkan itu.
- Memperkirakan sebab terjadinya masalah belajar. Beberapa prinsip yang harus diingat dalam memperkirakan sebab terjadinya masalah belajar: a. gejala yang sama dapat ditimbulkan oleh sebab yang berbeda, b. sebab yang sama dapat menimbulkan gejala yang berbeda, dan c. berbagai penyebab dapat berinteraksi yang dapat menimbulkan gejala masalah yang makin kompleks.
Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa memodifikasi dan mempersiapkan kondisi belajar bukanlah hal yang sekunder dalam sebuah pembelajaran. Buktinya, tidak sedikit kasus yang menegaskan kala kondisi belajar tidak dirawat secara baik. Anti intelektual mungkin salah satu efeknya. Dimana seorang anak menjadi malas dan kehilangan motivasi kala diajak berdiskusi, serta munculnya perilaku mencontek. Ini terjadi karena lingkungan sosialnya yang tidak mendukung dia untuk mendilatasi (melebarkan) cakrawala intelektualnya dan atau memang faktor internal dari individu sendiri yang mendorongnya untuk melakukan hal demikian. Intinya: "mengkondusifkan kondisi belajar bukan segala-galanya, namun segala-galanya bisa berawal dari kondisi belajar yang kondusif"
Sumber:
- Hayden, Torey. Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil. Bandung: qanita, 2003.
- Siregar, Eveline & Hartini Nara. Buku Ajar: Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: tidak diterbitkan, 2008.
- Sudrajat, Akhmad. Kesulitan belajar siswa dan bimbingan belajar. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/25/kesulitan-dan-bimbingan-belajar/. Diakses 26 Oktober 2009 pada 20.09 WIB
Pertanyaan:
BalasHapus1. Apakah kondisi belajar berbanding lurus dengan motivasi belajar? Jelaskan serta berikan contohnya!
2. Jika kamu seorang pengajar, apa yang akan kamu lakukan pada Sheila (kasus I)?
3. Manakah yang lebih berpotensi menimbulkan masalah belajar, faktor internal atau eksternal? Berikan alasan serta contoh?
4. Menurut kalian apa yang menyebabkan seorang siswa menjadi anti intelektual? Berikan alasannya!
5. Melihat kondisi pendidikan saat ini, menurut kalian faktor internal ataukah faktor ekternal siswa yang perlu dibenahi agar pembelajaran bisa berjalan secara kondusif?
waduh, mbak.. pertanyaannya berat2.. he3
BalasHapusatau barangkali sy nya aja yg mengalami "anti intelektual" ya? :D
perasaan dipertanyaannya gak saya taro batu koral mas. kok bs berat ya? hehe
BalasHapusndak begitulah, mungkin saya memposting tlsan ini pd wkt yg krg tepat, shg ide2 brilian mas buat menjwb tuh pertanyaan jd terhalang *apaan sih lussy jwbnnya tak jelas. nah, ini bru co org yg anti intelektual ;D
postingan yang keren mbak, informatif sekali :)
BalasHapusmakasih sangat mas... cuma menjahit dan sedikit memberi ornamen dari sumber yg saya tulis kok :)
BalasHapus