.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}

Minggu, 08 November 2009

Jika maka...

Stalagtit dan stalagmit ini sudah semakin meruncing
Sudah nyaris saling mengindahkan satu sama lain
Tapi mengapa menjadi aus seketika?
Padahal bah pun belum terjadi di sana

Sebegitu rapuhkah?
Haruskah semua itu terpelanting hanya karena cepretan air rasa?
Padahal baru saja ku ingin menggrafirnya

Sudah bertermo tinggikah cintaku?
Sudah berkeringat dinginkah sayangku?
Dan hanya satu jawab yang mesti kutuju tuk membungakan sendu

Ku cari waktu terbaikNya
Ku basahi organ berdebuku
Kucoba rubuhkan keakuanku
Demi tuk bersimpuh dan berduaan denganMu
Walau sesungguhnya ada malu yang menempel di hatiku
Karena ku hanya menenteng cinta lusuhku tuk bertemu denganMu

Nilai apa yang harus kutempelkan di skenarioMu?
Karena terlalu banyak nilai yang keburu rusuh dan berpesta pora di dalamnya
Susah tuk menanamkan makna secara nyata
Karena ternyata hanya tinggal satu nilai yang ku punya
Tak bisa beringsut kemana-manalah jadinya

Bilakah kepucatan ini berangsur menyemu?
Bilakah gigilan ini terpercik hangat?
Bilakah sundutan rasa ini menghebohkan kuncup?
Bilakah hembusan jiwa ini menentramkan badai?

Dengan bibir yang mulai beku
Kucoba lirihkan suara hasrat hati
: Sudikah kiranya bila nanti kau yang menghidangkannya?

Jikapun hal itu tersaput nyata
Ku kan latihkan diri ini
Biar tiada kan terlahir janin pura atau sangka akibat terbidani rasa kecewa
: ALLAH Maha Penggenggam Hati dan Maha Tahu Segalanya

Ku pun berlalu dengan membawa segembolan ramuan syukur dan sabar di setiap langkahku
: Innallaha ma'ana





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas