Mengapa cawan ini selalu memuntahkan isinya?
Bukankah yang sedang dialiri adalah air yang jernih dan segar?
Mengapa cawan ini selalu bergeser saat disentuh?
Bukankah tangan yang menghampirinya bersih dan wangi?
Apakah kau masih menyimpan sakit saat dengan tidak sengajanya teko pernah membuatmu berdenting?
Apakah ada retak yang laten tercipta?
Bukankah beradu merupakah hal yang wajar saat berinteraksi?
Sekarang lihatlah, bagaimana sang teko telah rela untuk merendahkan dirinya untuk berbagi padamu?
Sudah terlalu angkuhkah engkau sehingga kau hanya mau menerima dari yang sepadan denganmu?
Sudah terlalu batukah engkau sehingga kau tak mau lagi mendengar nama kerabatmu?
Dalam kesendirian sang tekopun mengulum doa: "Ya ALLAH, balikkan hati saudaraku ini. Jadikanlah hati kami kembali saling bertaut, sesungguhnya jalan ini akan lebih ranum jika kami bersanding seperti dulu. Dan jangan jadikan aku selalu merasa lebih, tapi jadikanlah aku untuk bisa lebih merasa..."
kenapa harus teko??
BalasHapuskalau panci gak enak buat analoginya... Hehe
BalasHapuskalau menurut mba an, mestinya apa memang?