.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}

Rabu, 03 November 2010

Bajaj Ku Sayang Bajaj Ku Malang

Hari ini bertambah lagi satu irisan kisah yang tidak akan mungkin terlupakan dalam lingkaran sejarah hidup saya. Mengapa? karena hari ini saya telah melalukan sesuatu hal yang dinilai "gelo bin nekad" oleh teman saya (padahal menurut saya sih biasa-biasa aja). Kalau menurut teman-teman saya gelo bin nekad gak? tunggu, jangan buru-buru menilai, baca dulu ya irisan ceritanya, setelahnya silahkan menilai... 


Hari ini, tidak seperti biasanya saya pulang dari kampus tidak menggunakan jasa transportasi transjakarta. Saya langsung saja ringan untuk menganggukkan kepala saat teman mengajak pulang bareng untuk berbajaj ria. Mungkin kepala saya reflek mengangguk karena melihat waktu sudah mendekati jam 5.30, cuaca hujan, dan kondisi badan yang sedang tidak sehat. Jadi yang kepikiran saat itu adalah pokoknya bisa sampai rumah sebelum maghrib dan bisa duduk dengan nyaman. Perlu diketahui, untuk jam-jam segitu transjakarta begitu banyak peminatnya, sehingga dapat duduk menjadi seperti barang yang mahal. Apalagi seperti yang diungkapkan sebelumnya kondisi badan sedang tidak dalam kondisi fit. Yah, karena sejak senin kemarin entah mengapa badan ini menggigil dan lemas sedemikian rupa, jadilah saya ngampus dengan berjaket tebal ria.

Sebelum menuju gerbang untuk mencari bajaj, seperti biasanya saya selalu menukar sepatu dengan sendal yang selalu setia bersemayam di dalam tas. Di antara rintik hujan, kamipun menuju abang bajaj yang sedang mangkal tidak jauh dari kampus. Setelah menanyakan harga, kamipun sepakat untuk naik. Perjalanan mulus, tidak tersendat sampai di Terminal Manggarai, setelahnya jalan agak tersendat dan macet. Agak lama bajaj kami berdiam di daerah situ dan kembali lancar setelah melewati pintu air Manggarai.

Kami (saya dan winda teman saya) asyik mengobrol dan membahas kegiatan yang kami lakukan hari itu sebagai salah satu sarana membunuh waktu. Sedang enak-enaknya ngobrol tiba-tiba bajaj berhentik. Sontak kami bertanya "kenapa bang?" --- "beli bensin dulu neng" --- "ooo, kirain kenapa bang..." Sekitar 10 menit kami menunggu abang beli bensin dari seberang jalan dan untuk selanjutnya dituangkan ke dalam tangki bensin bajaj.

Lucunya setelah diisi bensin, tuh bajaj bukannya laju malah tersendat-sendat jalannya. Sebentar berhenti, jalan, berhenti lagi, dan jalan lagi. Kamipun akhirnya bertanya kembali "kenapa bang?" --- "kayaknya mampet nih neng. sebentar ya saya benerin dulu karena nanti takut gak naik pas ditanjakan" -- "iya bang". Kamipun ngobrol lagi dan tidak begitu memperhatikan apa yang dilakukan abang sampai akhirnya abang mulai kembali mengemudikan bajajnya.

Sampailah ditanjakan bukit duri dan yang dikhawatirkan abangpun terjadi. Bajaj gak bisa naik. Naik sedikit, turun lagi. Dan akhirnya saya reflek bilang gini ke abang "mau didorong gak bang bajajnya? ntar biar saya yang dorong" -- "boleh deh". Tinggal temen saya bilang "bener loe lus?" Sayapun dah keburu keluar bajaj dengan tas masih menggemblok di punggung, sambil turun saya bilang "dah lu di dalam aja, biar gue aja yang dorong"

Dorong mendorongpun terjadi. Alhamdulillah bajaj bisa naik, sampai dorongan ke berapa saya tidak hafal akhirnya tidak ada gerakan yang berarti. Akhirnya teman sayapun ikut turun. Mendorong dari samping, kalau saya daritadi mendorong dari belakang. Alhamdulillah bajajpun bisa naik dan sudah berada pada bidang datar jemabatan bukit duri. Kami kembali menaiki bajaj, dan kamipun tertawa. Diantara ketawanya teman saya berkata seperti ini "gile, nekad banget loe lus. Maghrib-maghrib, pake jilbab, mana yang digemblok laptop... eh, malah ngedorong bajaj. Kalau gak ada loe, gue tadi pasti dah marah-marah dan ninggalin abangnya. Gak lagi-lagi deh, gue naek bajaj bareng lu, apalagi naek transjakarta, gak mau dah. Gue takut pas trasjakartanya mogok, lu ngedorong lagi" ---- "hahahaha... gue gak kepikiran sampai situ. gue reflek aja. Kalau bajaj gak bisa jalan pas nanjak gini kan mesti didorong, makanya gue langsung bilang "mau didorong gak bang", terus abangnya bilang "boleh deh" ya udah gue langsung turun." Tawa kami terus berderai sampai abang bilang gini "neng, ganti bajaj aja deh ya, di belakang ada tuh, bayarnya setengah aja". "Tau gitu daritadi aja" teman sayapun berujar demikian. Abang bajaj tersebut mengambil keputusan demikian mungkin karena melihat kondisi bajajnya yang tidak berangsur membaik.

Kamipun berganti bajaj dan di bajaj yang barupun bahasan teman saya tidak berubah. Beliau tetap saja tidak bisa menahan tawanya dan terus mengenang-mengenang kegilaan dan "mengata-ngatai" saya. "Tau gak, gue tuh belum pernah ngeliat orang ngedorong-dorong bajaj, mana lu kan *** (menyebut profesi saya). Gila dasar" --- "beneran gue reflek, gue gak kepikiran apa-apa. Gue cuma kepikiran, kalau mogok ya mesti didorong. Gitu doang". Sampai saya turunpun (beliau masih terus lanjut), beliau masih ketawa mengingat apa yang telah kita lakukan. Sambil turun saya bilang gini ke abang bajaj "hati-hati ya bang, pelan-pelan, jangan sampai temang saya ndorong bajaj" hehehe


Gak berapa lama sampai di rumah, sayapun mengsmsi teman saya tersebut "win, dah nyampe rumah kan? dorong bajaj lagi gak lu? hahaha"-- "hahaha... Gw msh ketawa2 mulu gara2 kegilaan lu." -- "hahaha... Smg gak kebawa mimpi :D" -- "Ogah... Dorong bajaj??? Mimpi jg ogah." -- "hahaha"

Deraian tawa saya itupun mengakhiri smsan kami dan irisan kisah yang telah kita lalui bersama hari ini...


Jadi, menurut teman-teman, saya gila, nekad, atau manis? hahaha *opsi terakhir gak nyambung*


*makasih sangat say untuk hari ini, sorry ya dah terprovokatori secara tidak langsung. Semoga lelahmu berbuah surga kawan *



4 komentar:

  1. naluri kernet ya?
    Tadi sih saya bilang ke teman saya, itu sebagai salah satu bentuk tanda cinta saya ama bajaj... hehe

    BalasHapus
  2. He he he, Insya Allah jadi amal mbak, bagian dari aksi kerelawanan oleh mbak Lussy .. :D

    BalasHapus
  3. amin ya rabbal'alamin... termasuk aksi cepat tanggap ya mas atau malah aksi cepat gagap? hehe

    BalasHapus

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas