Akhi, tunggu aku ditempat saat kau mengkhitbahkuCinta hanya menyisakan lelah
Lelah yang berkepanjangan, seperti menahan tangan diantara mulut buaya
Satu tetes keringat yang menetes, maka matilah aku
Akhi, nikahi aku
Pesonaku apa tak cukup untuk menguburkan janjimu pada seribu wanita
Ingin sekali mengukir kata "i miss u" diatas batu
Lalu kulempar ke jidatmu
Agar kamu tahu kalau rindu itu sakit
-batas-
Lima tahun silam, Kota Tua Jakarta.
Senja, kata puitis yang indah untuk menggantikan kata sore hari, waktu yang tepat untuk menyembunyikan sang mentari menjelang malam. Kota Tua masih saja ramai polusi udara yang banyak mengandung asam dari berbagai pertikel kimia yang tidak hanya keluar dari knalpot kendaraan, namun juga bau gas metan yang keluar dari air got berwarna gelap. Baunya begitu menyengat, lebih menyengat dari kencing ribuan kecoa yang dikeluarkan secara serentak. Tak jauh dari situ, seorang pedagang siomay menyandarkan kaki gerobaknya disana, tak perlu menunggu lama, sang pedagang langsung dikerubuti pembeli yang semula hanya sekedar menikmati senja Kota Tua dengan aroma sejarahnya. Dengan sekejap tumpukan mangkok kotor menunggu untuk segera dibersihkan.
"Tambah satu piring lagi pak, kamu mau ?" Tanyaku.
"Aku tidak selera makan" ucap gadis disebelahku yang sejak tadi mengutak-atik kamera DSLR, kamera dengan jelajah tangkap gambar tingkat tinggi itu telah menyibukkannya seharian.
"Afa, aku ingin bicara sama kamu" lanjutnya.
"Dari tadi itu ?"
"Ini serius"
Mata indahnya masih saja tidak fokus pada apa yang sedang dibicarakan, tentang keseriusan.
"Seserius apa? Letakkan dulu kameranya, baru bicara serius".
"Afa, nikahi aku" ucapan yang baru saja kudengar tentu jelas ditelingaku, meskipun pelan namun cukup tegas. Itulah sebuah keseriusan yang baru saja keluar dari mulut Hira, jangan-jangan dia hanya bercanda, jika dihitung dari sejak mengenalnya, gadis itu cukup kuat dipegang mulutnya, tak pernah berkilah atas nama dusta. Gadis pemberani yang jujur dan kuat itu begitu lugas mengatakan itu. Bulatan hitam dimataku terus berputar mengisyaratkan rasa tak percaya yang tak beralasan. Tak tahu apa yang harus kukatakan, tak ada hal negatif selama berteman dengannya, mencium pun tidak pernah kulakukan apalagi menyentuhnya. Aku menghormatinya sebagaimana syar'i mengajarkan, lalu alasan apa yang menyebabkan Hira mengajakku menikah.
"Afa, kamu dengar tadi? Nikahi aku" ucap Hira.
Bibirku tak bergeming, seolah mengirim pesan pada hati untuk menimbang jawaban apa yang tepat. Hatiku pun demikian, diam seribu bahasa.
Lalu sang mentari menukik pelan diantara gedung Kota Tua, menyembunyikan sinarnya untuk menyambut gulita.
By: batas
sumber gambar: catatankakakku.blogspot.com
jadi jawabannya apa nih..? ^^
BalasHapusBentar ya, tanya akhinya dulu... Hehe
BalasHapusHehehe..
BalasHapushohoho... hahaha... hihihi... huhuhu... :D
BalasHapus