.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}

Kamis, 19 Mei 2011

Dimana Jodohku?

Banyak yang bilang jodoh itu gak bakal lari kemana-mana. Terus banyak juga yang bilang kalau jodoh itu datangnya gak jauh dari dimana kita "bermain". Ada juga yang bilang, kalau jodoh itu adalah yang mukanya mirip sama kita. Ada juga yang bilang, jangan sekolah tinggi-tinggi ntar susah jodohnya. Ada juga yang bilang, jangan ngejar karir aja, ntar jodohnya bakal takut buat mendekat. Benar begitu gak sih? Yang sudah berpengalaman menemukan jodohnya, cobalah dibagi-bagi di sini. Siapa tahu aja banyak yang menjadi tercerahkan dan bersemangat kembali buat menjemput "impian"nya... 



Jodoh Gak Bakal Lari Kemana-mana

Bener banget nih kalau dibilang jodoh itu gak lari kemana-mana, secara kalau tuh jodoh sampai lari kemana-mana bakalan tambah susah aja buat nemuin plus nangkapnya. Dapetin kagak, ngos-ngosan mah iye... hehehe Atau tuh jodoh emang gak bakal lari kemana-mana karena sang jodoh emang lagi keseleo, jadilah dia nggak bisa lari-lari 


Gak makna ya penjelasannya? tenang sodara-sodara, tadi itu cuma candaan aja kok yang versi seriusnya begini. Pada dasarnya nih, apa yang kita jalanin di dunia ini (apapun itu) sudah tertulis dalam Lauhul Mahfuzh (coba deh cek di Al Quran Surat Al Hadiid ayat 22 dan 23) jauh sebelum kita ada. Dengan demikian, sejatinya apa yang kita alami sekarang sebenarnya merupakan pengejawantahan dari apa yang sudah tertulis tersebut. Baru tahu ini takdir, kalau sudah kejadian. Jadi kalau pengen segera tahu apa yang tertulis di Lauhul Mahfudz, buruan deh buat ngejemputnya, yaitu dengan cara usaha yang maksimal, doa yang optimal, dan berserah diri pada ALLAH secara total. Nah, tinggallah rasakan sensasinya betapa ALLAH begitu cinta dan sayang pada kita, hamba-hambaNYA. Cuma terkadang kita aja yang suka sotoy buat ngerancang, pas gak terwujud langsung deh menyalahkan ALLAH: "Ya ALLAH, apa salah dan dosaku hinggaku begini?" (sok-sokan nanya begini, padahal kalau langsung dikasih tahu jawabannya mah prosentasenya akan lebih besar dari kebaikannya) Dan pertanyaan itu kalau mau dijawab ala anak-anak gaol akan begini kejadiannya: "hellooooooo... ALLAH itu lebih tahu lagi yang terbaik buat hamba-hambaNYA, dan yang terbaik menurut kita itu belum tentu terbaik menurut ALLAH"


Dari itu semua intinya begini, kita gak pernah tahu bahwa itu takdir kalau belum kejadian. Begitu juga dengan jodoh, mau yang dah pacaran sampe 15 tahun, mau pacaran yang baru sedetik, mau yang pacaran sekejap, kalau bukan jodoh ya gak bakalan sampai nikah juga. Jadi gak ada garansi kalau pacaran itu pasti berujung nikah, buktinya ada yang gak pake pacaran tapi malah nikah tuh, langgeng malahan. Dan jodoh itu emang gak lari kemana-mana karena sejatinya sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Yang mesti berlari itu kitanya, dengan cara berusaha secara maksimal (mesti baik dan benar nih), berdoa secara optimal, dan berserah diri pada ALLAH secara total. 


Kalau kita dah lari-lari, tapi jodohnya belum kepegang juga gimana? Kalau yang kayak begini, bahasa matematikanya adalah asimptotik. Dah deket tapi gak nyampe-nyampe. Jodoh itu udah ada di dekat kita, berhubung kita belum tahu secara lugas siapanya, jadilah gak kepegang juga. Tapi tenang aja gak usah khawatir dengan hal ini, semuanya pasti akan kepegang. Kalau gak kepegang di dunia, ya kepegang di akhirat 



Main yang Jauuuhhh

Semakin jauh kita mainnya, maka akan semakin luas yang jadi populasi bakal jodoh kita... hehe


Kalau dibahas pake statistika ya bakalan begitu kejadiannya. Tapi jodoh itu gak bisa dikalkulasi secara statistika. Skenario ALLAH itu begitu indah, buktinya kita gak pernah tahu tuh ujung dari cerita kehidupan yang kita jalani ini. Yang kita tahu cuma satu the end atau mati, dan model matinya kayak gimana kita juga gak tahu. Semua tergantung apa yang udah kita kerjain di dunia. Kalau selalu berbuat baik, insyaALLAH berujung baik pula, dan sebaliknya.


Nah sekarang apa kaitannya main yang jauh dengan jodoh kita gak jauh dari tempat kita "bermain"? Meluaskan pertemanan sama aja dengan memperluas jejaring silaturahim. Semakin luas jejaring silaturahim, maka akan semakin memperluas rezeki (nah, jodoh adalah salah satu dari rezeki itu). Semakin rekat jejaring tersebut, maka akan semakin timbul rasa untuk saling berbagi beban. Dampaknya, kita gak akan pernah ingin melihat teman kita galau, tidak terkecuali karena hal yang satu ini. Dengan serta merta, pastilah mereka berusaha untuk berela hati menjadi mak comblang-mak comblang dadakan... hehehe. Jadi bila mau dirunut, jodoh kita emang gak jauh-jauh dari tempat kita "bermain", paling nggak ada pengaitnyalah antara kita dengan jodoh kita.


Terus, kalau udah main yang jauh teteup gak dapat-dapat jodoh gimana? itu mah delon (derita lo sendiri) kaleee... hehe. Nggak ding, balik lagi ke bahasan awal, bahwa skenario ALLAH pasti yang terbaik dan gak ada cerita kalau ALLAH itu ingin menyusahkan hambaNYA. Dan bila kita merasa ALLAH telah menyusahkan kita, pastilah itu muncul karena ulah kesombongan, kebodohan, dan kesotoyan kita dalam membaca skenario yang terjalani. Padahal bila kita mau membacanya lebih seksama dan lebih dekat, pastilah kan tersimpul kata: "tidak ada skenario yang lebih indah dan hebat selain skenario besutan ALLAH". Subhanallahu...



Mirip Apaannya ya??

"Kayaknya lu jodoh deh, abis mirip sih?" -- "mirip apanya dah? mukanya aja beda jauh, warna kulitnya beda, sifatnya beda" -- "hobinya yang mirip, sama-sama demen ditraktir... hehe"


Boleh percaya, boleh nggak. Kalau orang yang berjodoh itu pasti ada kemiripannya (walaupun cuma sama-sama suka ditraktir itu tadi :D), entah itu sikap, sifat, hobi, dll. Tapi sebenarnya hal tersebut didasari ini, setiap orang akan betah untuk masuk ke suatu komunitas karena dia sadar siapa dirinya dan siapa orang di luar dirinya. Semakin dia sadar siapa dirinya, dia akan semakin sadar untuk mencari orang atau komunitas yang "klik" dengan dirinya. Nah, orang yang tidak terlalu paham siapa dirinya akan merasakan yang namanya gagap komunitas. Jadi tidaklah heran jika orang yang baik-baik pasti akan mencari pasangan yang baik-baik juga, dan sebaliknya.


Tapi ada kok ditemukan pasangan yang gak ada mirip-miripnya? -- Hmmm... masasih begitu? coba cek ulang, pasti adalah satu kemiripan atau kesamaannya. Kalau sekarang belum ketemu juga, sabar saja menanti dan biarlah waktu yang kan memunculkan kemiripannya kelak  Toh, interaksi yang intens dapat melebur hal-hal yang berbeda. Memahami perbedaan untuk menebalkan persamaan dalam rangka memuluskan jalan ke surga.


Wuidiiihhhh... mangtabs nian gak tuh bila kemiripan ini dibangun dengan berlandaskan karena cinta pada ALLAH. Subhanallah, surga sebelum surga bukanlah hal yang mustahil terwujud sepertinya.



Sekolah Tinggi-Tinggi, Jodohnya Susah

Setuju gak sama kata-kata itu? Kalau saya mah setuju, mau tahu alasannya? Kalau sekolah tinggi-tinggi jodohnya susah, yaiyalah, secara tuh jodoh kan harus punya keberanian dan tenaga ekstra buat manjat-manjat. Gimana gak jadi nyusahin tuh jodoh coba  Dan akhirnya, banyak yang berpikiran untuk urung sekolah tinggi-tinggi biar gak nyusahin jodohnya. Terus kalau sekolahnya gak tinggi-tinggi, emang jodohnya jadi gampang gitu? Siapa yang berani ngasih garansi untuk ini hayoooo...


Pikiran-pikiran kayak gini nih yang biasanya mampir di kepala perempuan. Takut sekolah karena takut susah jodoh dan parahnya hal ini semakin dipertegas dengan akronim ngasal berikut, PKI (Perempuan Korban Ilmu). Wuidih... serem banget gak sih? kalau serem, tutup mata aja... hehehe. Tidak hanya untuk bersekolah tinggi, bahkan ada juga yang sampe gak mau buat berangkat haji karena takut susah jodohnya. Khawatir para lelaki takut untuk meminang karena kehajjahannya itu. 


Kenapa bisa begitu ya? Tanpa disadari sepertinya kita sudah membuat orang lain untuk bersikap seperti itu deh. Kok bisa? Iya. Sekarang begini, disadari atau nggak, kita suka secara serampangan menuduh bahwa orang yang membangun karir dan sekolah tinggi itu pasti hanya memikirkan dunia aja dan gak pernah kepikiran buat menikah, apalagi akhirat. Padahal kita belum pernah ngobrol secara mendalam tuh dengan dia. Kita mengambil kesimpulan tentang mereka, lebih karena berlandaskan pada diri kita sendiri yang sudah disegerakan menikah oleh ALLAH. Dan kita gak pernah coba berusaha lebih tahu, seberapa besar usaha dia, sekuat apa doa mereka, dan keberserahan diri mereka (bisa saja) jauh lebih besar daripada keberserahan diri kita pada ALLAH. Bila kita sudah tahu itu semua, tidak mustahil kita malah menyalutkan sikapnya. Menyalutkan untuk apa? Menyalutkan bahwa ia masih mau bergerak dengan memanfaatkan segala fasilitas yang ALLAH berikan untuknya. Sekarang coba bayangkan apa jadinya jika dia hanya sekedar menunggu tanpa melakukan apa-apa, sekolah gak dapat, jodohpun belum tentu teraih. Karena lagi-lagi kita baru tahu ini merupakan takdir, jika segala sesuatunya itu sudah kejadian. Memanfaatkan sisa usia untuk yang lebih makna...


Sekarang pointnya yang perlu dicermati adalah lebih kepada alasan mengapa dia bersekolah tinggi-tinggi dan masih adakah keinginannya untuk menikah. Jika kedua pertanyaan ini masih terjawab secara baik dan benar, mestinya respons yang akan keluar dari bibir kita adalah seperti ini: "jika tidak mau menerima kelebihan, bagaimana mungkin mau menerima kekurangan?" Dengan catatan, jika sekolah tinggi-tinggi dan sejenisnya dianggap sebagai sebuah kelebihan lho ya. Kalau nggak, ya maap dah... hehe



Jangan Ngejar Karir, tapi Kejar Aja Kadir

Untuk yang point ini, gak beda jauhlah sama yang sekolah tinggi-tinggi itu. Ini juga lahir dari asumsi orang, bahwa kalau udah keenakan cari duit bakalan lupa (bahkan ogah) buat nikah. Nah lho, beneran gini gak sih?


Ayo sama-sama kita cermati bersama, karena terkadang yang terlihat nggak bisa menggambarkan hal yang sesungguhnya. Ada orang yang pergi pagi pulang malam untuk bekerja, ada yang pergi malam pulang pagi hanya untuk banting tulang (tukang daging nih ), ada yang pergi tapi nggak pulang-pulang walau dah 3 kali lebaran (kalau ini bang toyib... hehe). Dan semua mereka lakukan tidak semata-mata hanya membangun karir. Kalaupun terlihat karirnya meroket, itu sesungguhnya adalah efek dari sebuah proses. Tahukah sesungguhnya mereka melakukan itu sebagai salah satu bentuk tanggung jawab mereka kepada keluarga. Lalu di antara itu semua, dengan sotoynya kita langsung bilang "kawin woy kawin... kerja mulu... kiamat dah dekat tuh". Kira-kira apa yang mereka rasakan saat kita berceloteh kayak gitu? (merekapun menjawab, biasa-biasa aja tuh, tetep asyik )


Kalimat yang di dalam kurung akan menjadi sebuah respons, kala sudah terjadi imunitas dalam diri mereka. Ini kejadian karena mereka sering ditanya dan dicandai dengan hal-hal serupa, lama-lama jadi kebal. Tapi, tahukah kita bila pada titik tertentu pertahanan mereka pecah juga? Tahukah kita, bila di sujud panjangnya mereka malah mendoakan kita? dan mungkin saja salah satu doa merekalah yang membuat kita lebih dahulu bertemu jodoh daripada mereka. Tahukah kita, bila hati mereka teriris karena beban yang sudah ada, malah diperberat dengan celotehan tidak makna kita? Jawabannya pasti tidaklah tahu, karena mereka menuangkan itu semua hanya pada Kekasih Sejatinya. Kekasih yang lebih ingin dia temuinya dibandingkan dengan kekasihnya di dunia. Kekasih yang sudah memberikan cinta dan sayangNYA, hingga membuatnya mampu menapak sampai detik ini.



Lalu sekarang bagaimana kita? Layakkah kita menilai mereka lebih dalam, padahal yang kita tahu hanya permukaannya saja. Alangkah lebih indah dan bijaksananya, bila kita ikut membantu memaksimalkan usahanya, mengoptimalkan doanya, dan mentotalkan keberserahan diriNYA pada ALLAH. Dan pastinya salah satu tugas kita adalah mengingatkan mereka agar tidak pernah berputus asa dari rahmat ALLAH dan tidak pernah tergesa-gesa dalam berdoa. Ya, karena sesungguhnya hanya ALLAH yang Maha Tahu segala kesudahan dan hanya ALLAH yang Paling Tahu apa yang terbaik untuk hamba-hambaNYA. Sesungguhnya hanya karena cinta dan kasih sayang ALLAH sajalah kita bisa berada sampai di titik ini.




---------------------------------

*) Untuk yang sedang menanti cinta, berusaha dan berdoalah, karena ALLAH tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha dan doa hamba-hambaNYA :) 



sumber gambar: nur-aqlili-liana-c.blogspot.com


12 komentar:

  1. kadang udah lari jauh eh ndilalah jodohnya tetangga sebelah hehehe

    BalasHapus
  2. gak tahunya jodohnya temen main tanah waktu kecil ya... hehehe

    BalasHapus
  3. Syukron ya artikelnya inspiring ^_^

    BalasHapus
  4. Yuni:
    Alhamdulillah, klo suka boleh nambah... Hehe

    Ana165:
    makasih banyak ya :)

    Ipin:
    Senyum semangat... Praying all day long :D

    BalasHapus
  5. Izin copas yaaaa boleh khan ? :-)
    Mg aza dpt mencerahkan yg lg pada sakit cintrong dlm penantian jodohnya :-)
    Syukran

    BalasHapus
  6. Ratih:
    Boleh mba, silakan aja... Sami2 :)

    BalasHapus
  7. permainan baru : tebak jodoh yg jauh apa yg deket,, *jawaban benernya pas udah ketemu :D

    BalasHapus
  8. wahaa,, berarti jodohny supir angkot mbak? *pizz

    [serius, klo dah mo nikah kasih tahu ya] ;p

    BalasHapus
  9. Bukan angkot des, tp tarif sgitu mah buat transjakarta :D *skud2 aja


    [Drpd kasih tahu, mendingan kasih duit des. Nanti kmu bs beli lbh dr tahu, dgn catatan jk mencukupi... Hehehe]

    BalasHapus

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas