.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}

Jumat, 03 Juni 2011

Pikiran yang Ternoda: Sebuah Fragmen Kehidupan

Dalam remang cuaca ku berjalan. Coba telusur waktu dengan sedikit kernyitan di dahi. Mengapa?

Kudiam sejenak, coba tuk lihat, dengar, dan rasakan. Adakah potongan peristiwa yang sanggup termamah.

Kenyal, tak sanggup langsung ku menelan. Potongan ini begitu reaktif. Cepat meloncat dari satu sisi ke sisi lain. Padahal belumlah banyak usaha ku tuk mengunyahnya. Mana yang salah? Aku yang merasa sudah berusaha keras ataukah memang potongan ini terlalu kenyal dan besar untuk sekali hap?

Kembali ku berjalan. Tetap dalam remang cuaca. Coba cari padanan peristiwa yang sekiranya otakku mudah mengolahnya. Ternyata banyak. Melolonglah hatiku melihatnya. Bagaimana tidak, bila semakin banyak kutemukan padanannya semakin kenyal dan lebar saja potongannya. Dan lagi-lagi ini baru sebuah potongan, bukan sebuah keutuhan. Bila ini kumuntahkan apakah kan habis perkara? Potongan ini sudah membaui mulutku dan terselip di antara gigi geligiku. Namun tertelan pun susah. Kukeluarkan saja akhirnya tuk sementara waktu. Kutata dan taruh sampai tak ada satu orangpun yang tahu. Mouthwash pun kulirik. Dental floss kutarik. Kembali tertatih dengan hati yang mulai menjadi batik.

Ini semua belum titik. Ku terus berjalan. Mencoba tuk terus gagah tak melemah. Mencoba tak melenguhkan keluh. Mencoba segera menepis peluh yang mulai jatuh dan ku tak ingin karena ini semua jadi gaduh.

Langkahku pun terseret dalam sebuah ruang. Hiruk pikuk, buatku jadi kikuk walaupun tuk sekedar sedikit membungkuk. Bagaimana tidak, di sana ku lihat semua berjalan dengan membusung, duduk dengan membusung, berbicara dengan membusung, dan diampun dengan membusung. Padahal di segarisan matanya, ada varian busung lainnya. Ya, cuma lapar yang bisa mereka busungkan. Dalam bungkuk ku, hatiku pun rusuh. Adakah dalam bungkukku ini tercangkok kebusungan?

Pandanganku kini dihampari banyak kata, tiada rupa. Anehnya, semua kata itu berkoar bagai sebuah repertoar ambruk. Sumbang. Saling menambah kata tuk bisa dipercaya. Menambah tanda baca tuk bisa saling menegaskan. Berebut menambah sejumput data tuk bisa melenggangkan. Entah data darimana yang tercomot? Tak jelas sumbernya. Masih kulihati barisan huruf ini. Semakin kulekat pandangi, semakin terlihat bercerai saja huruf-huruf ini. Tidak lagi harmonis. Apakah ku sedang terkena sindrom tipuan mata? Terus kutarik sampai bawah, anehpun semakin menggilai otakku. Mengapa kontrol x tak berfungsi? Mengapa tuts delete tak ada? Mengapa tuts backspace sirna? Apakah di masa ini semua sudah jadi benar, sehingga tidak perlu ada pencucian terhadap dosa? Pembenarankah jadinya? Ataukah irreversible dipegang sebagai paradigma? Buat apalah disediakan penghapus jikalau apa yang sudah tertuang tak bisa hilang begitu saja. Masih ada bekas. Makin gila saja aku.

Belumlah usai yang menggilai otakku, kini ku lihat ada satu hal yang tidak biasa. Mengapa jari-jari ini melayang terbang dan semakin memanjang. Dan anehnya lagi hanya satu jari yang bekerja di sini. Ahhh, kekuatan satu jaripun berkuasa di sini. Jari-jari itu saling menunjuk, tak peduli apakah yang ditunjuk lebih busuk daripada yang menunjuk. Semua berlomba-lomba menyalurkan hasrat. Hasrat kepongahan. Hasrat ke-elu-an. Akupun dapat jatah tertunjuk? Aku?? Bagaimana bisa?? Hampir saja hasrat itu tertular padaku, tapi entah kenapa saat jari ini ingin terangkat ku sudah dibawa ke tempat dengan nuansa yang lain. Terselamatkan...

Ingin muntah saja aku. Muntah untuk apa? Karena apa? Pastinya muntah dengan kebodohan, ketidakberdayaan, dan kesombonganku. "Ke-gue-an" aku. Semakin malu saja saat kali pertama kutempelkan kakiku di tempat ini.

Tempat ini begitu harum, indah, cerah. Tidak sepi aktifitas. Ada yang lantang bicara. Ada yang rantang langsung bicara. Pahlawan di jalan yang sepi. Ada yang berkoar lewat tulisan. Ada yang berkoar via repertoar. Ada yang menggunakan kepalan untuk menyampaikan. Ada yang mengelus lembut. Di sinipun telunjuk nyaris tak sepi. Riuh. Kulihat dia teracung untuk mengesakan Illahi. Teracung tuk membenahi jiwa-jiwa yang masih terpasung. Terlihat variatif. Hampir pikirku terkabur, bukankah sejatinya kebenaran itu hanya satu?

Dari berdiri, jongkok, dan sekarang sampai ku duduk bersila. Ku masih mencerna semua ini. Bingung. Kesenjangan intelektualku bekerja. Makin membenggang saja otakku. Sampai mataku tidak sengaja melihat suatu hal. Ternyata mereka semua memiliki tangan-tangan semu yang saling terkait. Walau jauh jarak, beda ruang, beda tampilan, beda gaya, dan beda cara. Ternyata tangan mereka terikat oleh dua sumber yang sama. Quran dan Sunnah.

Semakin penasaran saja ku dibuatnya. Rasa penasaranku telah menemukan medium tumbuhnya di tempat itu.

Kembali ku amati. Mereka ternyata seperti membuat lingkaran tak berbatas. Dengannya, mereka mencoba merangkul semampu yang mereka bisa. Mencoba menggandeng yang masih di semesta untuk masuk ke dalam himpunan. Dan lama kelamaan merekapun bergenggaman, kuat, seperti tiada pernah kan terhempas dan terlepas.

Rasanya penasaranku sudah tertunaikan jawab. Ku mulai berdiri, namun baru saja ku setengah berdiri. Posisi ruku'. Kulihat tak semua tangan tergenggam kuat, bahkan bahu pun saling digesekkan. Senyumpun ada yang sempat hilang. Tapi di antara itu semua, satu yang masih membuatnya sama, rujukan yang tergenggam di tangan dan hati mereka. Dan satu lagi yang membuatku semakin melayang decak kagum. Di antara ketidakrekatan dan kegesekan itu, masih ada lagi yang tidak berubah. Ternyata di dalam dada mereka tetap tersemat senyum, kepulan doa, dan grafiran kerinduan. Ternyata hati kecil dari setiap mereka, masih mau dan sanggup tuk menangkup wajah-wajah saudaranya. Kuambruk dan tak sanggup berdiri. Lunglai. Rebah. Tergugu hebat ku membaca semua ini...



Tak terasa air meleleh dari mataku, nafasku tersengal, keringat membanjir, dingin mulai mengibas kaki hingga ubun-ubunku. Lelah sangat ku rasa. Lunglai. Astaghfirullah... Sejurus kemudian mataku menghampiri deretan angka digital penunjuk waktu, 2.30am. Ya ALLAH, ternyata aku bermimpi.

Kuseka paksa air mata ini dengan punggung tanganku. Kuhanyutkan paksa pula sengalan nafas ini dengan seteguk air. Dari kran. Terguncang-guncang kembali bahuku. Ya ALLAH, apakah ini jawaban dari ketidakmampuanku dalam memamah potongan segala peristiwa?

Kuambil potongan peristiwa yang pernah kusimpan. Perlahan kumasukkan kembali ke dalam mulut. Rasa masih sama, namun ada yang beda. Barang lama rasa baru. Kini, potongan ini tak lagi begitu kenyal dan melawan saat dikunyah. Tak terlalu reaktif.

Ku hela nafas akhirnya. Ternyata hanya butuh pemahaman lebih. Menahan ucap, bilapun ingin berucap ku harap tak ada kata yang asal ngecap. Irreversible... Ahhh, kata-kata yang sempat mampir di mimpiku tadi kembali menemukan mediumnya...


------------
*) Selagiku masih bisa berkata: Ampuni segala khilaf yang terpancar dari pikir, kata, dan rasaku. Baik yang kalian ketahui ataupun tidak. Semoga kekhilafanku itu tidak menjadi terus menggulung bagai bola salju dan mengefek domino. Maaf atas khilaf. Maaf...

 

 

sumber gambar: jfkoernia.wordpress.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang keras berkomentar yang mengandung unsur saru dan sarkas