Untuk saat ini rasanya agak sulit menjawab pertanyaan tersebut. Apalagi ditambah berita-berita yang berseliweran akhir-akhir ini. Rasanya kita bagai sedang berdiri di tengah kumpulan sampah saja. Lalu pertanyaannya, sebagai apakah kita berdiri di sana. Sebagai sang pendaur ulang yang rela mengais dan menyisir sampah tersebut guna menjadikannya lebih bermakna atau malahan kita termasuk kawanan sampah itu juga?Setiap peristiwa selalu memiliki lebih dari satu sudut pandang. Baca, resapi, maknai, dan kaupun kan temukan sisi lain yang berbeda....
Rabu, 02 Mei 2012
Kepada Siapa Mesti Berguru?
Untuk saat ini rasanya agak sulit menjawab pertanyaan tersebut. Apalagi ditambah berita-berita yang berseliweran akhir-akhir ini. Rasanya kita bagai sedang berdiri di tengah kumpulan sampah saja. Lalu pertanyaannya, sebagai apakah kita berdiri di sana. Sebagai sang pendaur ulang yang rela mengais dan menyisir sampah tersebut guna menjadikannya lebih bermakna atau malahan kita termasuk kawanan sampah itu juga?Minggu, 03 April 2011
Karena Kita Pencinta dan Pencemburu
Bukanlah cinta namanya kalau tidak mampu menebar getar di setiap hati manusia. Bukanlah cinta namanya kalau tidak mampu menggelontorkan kharismanya di setiap jengkal tingkatan usia. Bukanlah cinta namanya jikalau tidak mampu membawa sensasi khas saat berinteraksi dengannya. Bukanlah cinta namanya kalau tidak mampu membuat air mata mengalir saat mesti berpisah dengannya. Bukanlah pula cinta, yang tidak mampu menggerakkan lemah menjadi semangat dan rela berkorban. Karena itulah mengapa cinta akhirnya tak pernah habis untuk dibahas. Karena cinta selalu hadir dengan wajah dan nuansa yang berbeda. Semakin diperbincangkan, maka semakin bertambah dan bertumbuh sajalah rasa yang mengelilingi penampakannya.Lalu, bagaimana dengan cemburu? Orang bilang, cemburu itu adalah salah satu tanda cinta. Dengan demikian bolehkah dikatakan, saat kita mencinta, maka sejatinya di sisi yang lain kita seperti sedang menanam bibit-bibit cemburu. Tinggallah kita memilih mau membuahkan yang mana? Cinta sejalan dengan cemburu, Cinta dengan menanggalkan cemburu, atau cemburu dengan memusnahkan cinta? Entahlah, yang jelas cinta dan cemburu harus diletakkan pada wadah dan porsi yang semestinya. Salah merawat, salah-salah malah bisa bikin gawat...
Setelah itu timbullah sebuah pertanyaan, bagaimana sih caranya bila ingin melihat perwujudan cinta dan cemburu? Mudah saja jawabannya. Cobalah sedikit tengok dunia pendidikan. Kemudian susuri tiap derai nafasnya, maka kau kan temukan seonggok cinta dan cemburu mengalir di sana. Lalu terhelalah sebuah kalimat "Ahhh... bagaimana bisa pendidikan berjalan tanpa rasa cinta dan cemburu di dalamnya?"
Mencinta Tanpa Minta Dicinta
Pernahkah kita coba membaca langkah yang telah ditorehkan guru kita sebelum dia sampai di hadapan kita? Pernahkah kita coba menyelami apa yang tengah dia rasa? Pernahkah kita menakar segala lelah yang telah dia buat untuk menambah setitik pemahaman dan nilai dalam kepala dan langkah kita? Silakan dijawab dengan penuh rasa cinta atau silakan saja kalau mau dijawab dengan sebuah sangkalan "ahhhh... itukan memang sudah tugasnya. Jadi wajarlah kalau dia melakukan sampai segitunya" Apapun jawabannya, cinta dari seorang guru kepada peserta didiknya takkan pernah bisa dinafikkan.
Kalau kita mau sedikit berkontemplasi. Bertanya dalam diam di antara kejernihan hati. Sebuah sketsa tentang cinta guru kepada peserta didiknya kan tergambar di sana. Lalu mulailah mengalun pertanyaan-pertanyaan di jiwa...
Pernahkah kita membayangkan, bagaimana seorang guru pontang-panting mencari bahan untuk diberikan kepada peserta didiknya? sampai dia rela menyurutkan uang makannya hanya untuk menderma ilmu baru ke peserta didiknya. Pernahkah kita membayangkan bagaimana seorang guru rela begadang hanya untuk mencari cara agar peserta didiknya mudah menelan apa yang dia sampaikan? bahkan sampai dia harus berela mengumpulkan bahan-bahan bekas dari tiap-tiap tong yang menganga. Pernahkah terfikirkan bagaimana cara seorang guru mendesain sebuah tugas agar peserta didiknya lebih cepat menguasai materi yang disampaikannya? Dan pernahkah terfikirkan oleh kita bahwa pencapaian kita selama ini, salah satunya adalah hasil urunan doa sang guru untuk kita. Ada cintakah di sana atau hanya sekedar pelunasan kewajiban saja? Lihat saja penampakkannya, karena cinta tidak bisa disepuh bahkan dengan seulas senyum sekalipun.
Namun apa balasannya? Seulas senyumpun tidak, semisalnya iapun hanya dia yang mengajar kita, selebihnya enggan. Malah kata-kata seperti ini yang sering kita hadiahi untuk mereka: "sebenernya dia bisa ngajar gak sih? kalo gitu doang mah gue juga bisa sendiri kalee" atau "jyaaahhhh... nih orang perasaan kalo ngajar malah bikin gue ngantuk ya? mendingan gue baca langsung dari buku deh daripada dengerin die ngomong..." atau "ini dienya yang pinter, apa guenya yang bego sih?" atau "wa wa wa wuaaaduuuhhhh... nih orang ngasih tugas gak kira-kira. Emang gue belajarnya ama elo doang? emang gue gak ada kerjaan lain apa? dan masih banyak lagi cercaan-cercaan lain. Bila saja kata-kata ini sampai di telinga dan bersemayam di hatinya, apa kira yang kan terasa?
Di antara terpaan caci dan kontroversi guru tetap melangkah. Guru tetap hadir untuk mencinta dengan tidak meminta balas untuk dicinta. Bahkan kala cinta-cinta yang coba dihadirkan dinilai sebagai sebuah kelebayan dan sering terbalas dengan rasa kesal dan sesal...
Namun nyatanya, dia cukup senang kala melihat senyum keberhasilan dari peserta didiknya. Dia cukup bahagia kala melihat kelurusan perilaku yang ditampilkan peserta didiknya. Dia cukup ceria kala melihat lompatan pencapaian yang berhasil diraih peserta didiknya. Cinta tak berharap cinta...
Cemburu itupun Melagu
"Coba kamu jangan ngobrol melulu kalau saya lagi menjelaskan" atau "Hapenya coba dimatikan dulu, biar perhatian kamu tidak terbagi kemana-mana"... dan ujaran-ujaran lain yang menginginkan supaya perhatian peserta didiknya hanya terpusat padanya. Tidaklah dia mau perhatian peserta didiknya bergeser selain darinya. Itukah cemburu? kala dia merasa sudah diduakan, ditigakan, bahkan dimultikan dengan yang lain.
Rasa itu memang selalu melagu kala peserta didiknya sudah menjajakan perhatian kepada selain darinya. Lebih menfokuskan perhatian selain dari padanya. Dan asyik bermain-main dan bercengkrama dengan kotak komunikasi yang dimiliki peserta didiknya.
Lagi-lagi dia melakukan itu bukan karena dia iri terhadap apa yang membuat perhatian peserta didik tercurah kepada selain darinya, tapi lebih karena rasa cintanya yang membahana. Yang tidak mau ada sedikit tahapan kata yang hilang untuk ditelan peserta didiknya. Tidak mau kita terlambat memahami apa yang dia sampaikan. Dan akhirnya diapun mencemburu karena mencinta...
Setelah ini, sekiranya kata apa yang pantas terulas dan terbingkiskan untuk guru-guru kita? Yaaahhh... bagaimana mau melantunkan kata, bila hendak bertemu muka saja kita lebih sering mencari jalan beda agar tak jumpa. Senyumpun masih sulit tersaji untuk mereka, bahkan kala mereka mensenyumi kita terlebih dahulu.
Ahhh... sudah secompang-campingkah rasa cinta kita untuk mereka???
*untuk semua guru-guruku... terima kasih sangat untuk ilmu, doa, dan senyumannya

sumber gambar: bocahiseng.blogspot.com
Selasa, 22 Februari 2011
Sertifikasi atau Seretfikasi?
Apa sebenarnya yang ingin dibidik pemerintah dari program sertifikasi guru? Untuk meningkatkan kompetensi guru? untuk mensejahterakan guru? untuk mengembalikan kewibawaan LPTK atau hanya sekedar melaksanakan konsekuensi dari produk hukum tentang pendidikan? 
Minggu, 20 Desember 2009
Teacher Resurrection
Hal yang diungkapkan di atas adalah salah satu kesombongan saya sebagai murid. Kesombongan saya yang lain adalah, terkadang saya merasa hidden curriculum yang saya terima dari mereka jauh lebih saya nantikan daripada operational curriculum yang mesti saya terima dari mereka. Kenapa demikian? karena menurut saya, materi bisa saya dalami dari buku. Jadi, tidaklah heran saat guru saya menyampaikan materi di depan kelas, pikiran saya malah mencoba berlari menembus dirinya bukan memamah materinya darinya. Mungkin ini salah satu hal yang membuat saya sering tidak fokus, karena terlalu sibuk melucuti hidden curriculumnya... hehehe.
Bila ingin ditarik garis dari apa yang sudah saya alami, ternyata kecerdasan bukanlah satu-satunya modal bagi seorang guru untuk dapat menggiatkan seorang muridnya dalam belajar. Sesungguhnya ada faktor lain yang menjadi motornya, yaitu nilai (value) yang menempel di guru tersebut. Lantas, sosok guru seperti apakah yang sejatinya dinanti murid-muridnya???
Bukan Menjual Kecerdasan
"Ini guenya yang bodoh, apa dianya yang kepinteran ya?" Tidak sedikit saya mendengar ujaran-ujaran ini di kelas ataupun di luar kelas. Ujaran ini muncul biasanya kala terjadi kesenjangan intelektual antara guru dan murid atau adanya kementokan yang dialami murid saat mencoba memahami apa yang tengah disampaikan gurunya. Mengapa hal ini bisa terjadi??? Salah satunya karena sang guru tidak memposisikan dirinya sebagai murid saat menyampaikan materi. Jadilah apa yang disampaikan hanya menggunakan bahasanya, cara berpikirnya, dan pemahamannya. Padahal suksesnya seorang guru dalam menyampaikan sebuah materi adalah bukan hanya dari seberapa kenyangkah murid memakan materi, tetapi lebih ke seberapabesarkah pemahaman murid tentang materi yang telah membuatnya kenyang tersebut. Intinya jangan sampai murid mempunyai paham yang salah karena salah pemahaman. Jikalau guru menggunakan bahasa dan pemahaman tingginya untuk menambah perbendaharaan kata dan pemahaman murid, maka akan lebih bijaksana jika guru menguraikan lebih jauh apa makna dari bahasa dan pemahamannya tersebut.
Sejalan dengan hal tersebut ada 3 hal yang bisa menjadi acuan bagaimana semestinya kita menyampaikan ilmu dengan baik, yaitu: bicaralah sesuai dengan kadar akal mereka, bicaralah dengan menggunakan bahasa mereka, dan dudukkanlah menurut kedudukan mereka. Bila ketiga hal ini dijalani, rasanya tidak akan ada lagi ujaran-ujaran hasil kesenjangan intelektual yang akan muncul kepermukaan. Toh, tugas seorang guru bukanlah untuk menjual kecerdasan, tetapi lebih kepada: mengubah yang awam menjadi paham, membuka jalan dari "preman" menjadi "beriman", membuat yang meringkel (baca: sulit) menjadi simple, dan membuat materi yang enak menjadi tidak eneg.
Perlebar Waktu
Datang tergesa-gesa dan pulang terburu-buru. Apa yang akan diperoleh seorang guru dari muridnya jika selalu seperti ini penampakannya? Apa yang akan berbekas di hati seorang murid jika hal seperti ini menjadi sebuah rutinitas? Tiga kata yang bisa menjawabnya "hanya menggugurkan kewajiban". Ya, akhirnya hanya pengguguran kewajiban saja yang didapat tanpa adanya keterikatan batin dan rasa yang menghinggapinya. Kalau begini terus kejadiannya, tidaklah heran bila bermunculan guru-guru haram. Maksudnya, guru yang kehadirannya tidak dinanti dan ketidakhadirannya tidak ditanyakan.
Cara yang paling efektif untuk mengikat hati adalah dengan menyediakan waktu lebih untuk mereka. Usahakanlah datang ke kelas sebelum waktu "show" dan jangan langsung pulang usai waktu "show". Sempatkanlah untuk bercengkrama dengan mereka, walau sejenak, walau hanya untuk pembicaraan ringan, sebab kualitas harus direndengi dengan kuantitas dan kuantitaspun harus berkualitas. Jangan pula khawatir imaje seorang guru akan jatuh bila bergaul dengan mereka. Justru bermula dari merekalah sesungguhnya kita bisa belajar menjadi guru yang baik.
Sentuh Tepat di Hatinya
Guru bukanlah dewa. Guru bukanlah hakim. Guru hanya seorang manusia biasa yang mencoba membantu muridnya untuk melihat dan memilih jalan yang lebih baik. Lalu, mestikah menunjukkan jalan yang baik dengan cara yang tidak baik??? sangat mengotori perjuangan sepertinya.
Adakalanya seorang murid tidak mengikuti apa yang kita sarankan. Adakalanya seorang murid melakukan hal yang tidak kita inginkan. Adakalanya pula seorang murid menjalani hal yang tidak semestinya. Apa yang mesti dilakukan oleh seorang guru? Langsung mencap mereka sebagai murid nakal, pembangkang, atau bahkan langsung melakukan tindakan fisik??? Yang paling pas diantara itu semua adalah ajak mereka bicara dan janganlah menyimpulkan secara dini apalagi kesimpulan itu didapat dari data yang "on the spot" (baca: saat itu terjadi) saja. Sentuhlah tepat di hatinya, itulah kuncinya.
Egaliter
Guru dan murid adalah mitra dalam proses intelektual, dalam artian guru dan murid sama kedudukannya. Sama haknya dalam bersuara dan mendengar, sama kewajibannya dalam mematuhi peraturan yang dibuat bersama. Kemitraan ini semakin dipertegas dengan perubahan paradigma dalam pendidikan, dari teacher centered menjadi student centered. Guru bukan segala-galanya. Guru tidak kebal salah. Dengan demikian, bodoh sekali rasanya bila kita selalu menelan mentah-mentah apa yang mereka sampaikan. Pepatahpun mengatakan "jika manis jangan langsung ditelan, bila pahitpun jangan langsung dibuang". Bukan berarti hal ini mengajarkan seorang murid untuk tidak hormat kepada gurunya, tetapi lebih untuk mengajarkan seorang murid untuk belajar kritis sekaligus belajar mengemukakan opini berdasarkan sumber yang benar. Dalam menjalani peraturanpun sama kewajibannya. Jangan sampai guru membuat peraturan terlambat 15 menit murid boleh masuk dengan menutup pintu dari luar, sedangkan dirinya terlambat 15 menit boleh masuk dengan menutup pintu dari dalam. Gampangnya, murid tidak boleh masuk kalau terlambat dan guru boleh masuk kalau terlambat. Tidak egaliter bukan?
Perpanjang dan Perlebar Tujuan
Sebagai guru yang masih tercatat sebagai manusia, kita sering dijubeli berbagai kebutuhan dan kepentingan yang kadang membuat motivasi kita melemah dalam bergerak. Banyak faktor yang membidani keluarnya rasa itu, mulai dari rendahnya finansial, murid yang sering membuat urat leher kita tertarik, sampai dengan masalah yang bersifat pribadi lainnya. Bagaimanakah cara mengurangi kenegatifan rasa ini? memperpanjang dan memperlebar tujuanlah jawabannya. Jadikanlah tujuan kita berdiri di kelas bukan sekedar untuk menunaikan tugas dan aktualisasi diri, tetapi lebih dari itu. Kita berdiri di kelas adalah untuk beribadah sebagai sarana mencuri cinta ALLAH. ALLAH berfirman dalam Surat Al An'am ayat 162-163: "Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk ALLAH, Tuhan alam semesta. Tidak ada sekutu bagiNya"
Selain itu, yang kita hadapi adalah bukan sekedar penduduk yang kebetulan dapat kesempatan duduk di kelas, tapi mereka adalah calon-calon pendidik dan pemimpin-pemimpin masa depan. Dengan demikian, menggiring dan memuluskan jalan mereka menjadi hamba yang baik adalah menjadi salah satu tugas guru. Seperti yang telah diucapkan Hasan Al Banna "Jadilah hamba yang baik sebelum kamu menjadi pemimpin. Sebab penghambaan yang baik akan mengantarkan kamu menuju kepemimpinan yang baik"
Membumikan Doa
Guru mempunyai senjata laten yang tidak pernah disadari oleh murid-muridnya. Mungkin saja karena senjata laten gurunyalah para murid dapat melewati masa studinya dengan sukses. Doa. Itulah senjata laten seorang guru. Guru yang baik adalah guru yang tanpa diminta selalu menggemakan doa untuk keberhasilan muridnya, guru yang secara diam rela menghadirkan wajah murid-muridnya dalam setiap doanya, dan guru yang rela mengangkat tangannya agar terangkat pula derajat murid-muridnya dengan ilmu yang mereka miliki. Subhanallah... ALLAH berfirman dalam Surat Asy Syura ayat 26 yang berbunyi: "dan Dia memperkenankan (do'a) orang-orang yang beriman serta mnegrjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karuniaNya"
Sudahkah saya menemukan guru dengan karakteristik seperti itu? Sudahkah kamu menemukan guru dengan karakterisitik seperti itu? Apapun jawabannya, sedikit demi sedikit kita mesti mewujudkannya (terutama saya pribadi), karena setiap kita sesungguhnya adalah guru. Hasan Al Banna pun pernah berkata, "aktor peradaban itu ada 2, yaitu guru dan penulis". Kalau semua hal ini diresapi, rasanya tidak ada lagi aktor peradaban yang bantat dan kalimat yang keluar dari lisan seorang guru saat ditanya tentang ilmu yang dimilikinya berikut inipun bukan lagi sekedar imaji...
"Aku telah mempelajari setumpuk buku layang-layang, aku juga mengkliping artikel di koran dan majalah yang mengupas tentang layang-layang, aku pelajari, aku simpulkan, dan aku praktikkan, kemudian aku menyerahkan segala urusan kepada ALLAH, aku tawakal. Setiap aku akan membuat layang-layang, aku shalat istikharah, agar layang-layang yang aku buat ini atas petunjuk ALLAH, layang-layang itu bukan aku yang membuat, tetapi ALLAH-lah yang menjalankan tangan-tanganku, menggelontorkan ide di dalam otakku"
Sayapun rindu dengan pengejawantahan dari hadis riwayat Imam Bukhari berikut dan saya berharap itulah wajah-wajah guru saya: "Maukah kalian kukabarkan orang orang terbaik diantara kalian?, mereka adalah yg jika dipandang wajahnya membuat orang mengingat Allah"
Selasa, 20 Oktober 2009
Nyanyian untuk Sang Aktor Peradaban
Oleh: S.F. Lussy Dwiutami WahyuniSesungguhnya jiwa kami lembut
Kalian cuma butuh senapan waktu yang berpeluru sabar
Dengannya kami tidak akan kembali berbuat onar dan terkapar
Tapi sebaliknya, malah membuat kami jadi sadar
Bahwa sudah seharusnya kami berada di jalan yang benar
Wahai kau aktor peradaban, kami tidak hanya sekedar berkoar
Sumbang memang terdengar, karena kami bernyanyi tanpa repertoar
Tapi jangan jadikan ini sebagai sebuah kelakar
Karena kami memang belum tahu cara berada di jalan yang benar
Wahai kau pelukis perilaku
Apakah kau akan tergugu dengan senjata basimu yang sudah tidak laku
Masihkah kau jadikan keakuanmu sebagai taji untuk berjibaku
Tak perlulah lagi kau gadaikan harga dirimu
Yakinlah bahwa kami masih punya lentera hati tuk sebuah kebenaran sejati
Dan saksikan bahwa hanya untaian doa kebaikanlah yang kan meluncur dari mulut kami dalam membahasakan komunitas jasamu di muka bumi ini
*kala kekerasan mengeragoti dunia pendidikan
Sumber gambar: edy-firmansyah.blogspot.com
Jumat, 27 Februari 2009
Susah SMSan Ama Dosen...
Keriweuhan
Riweuh bin ribet terjadi karena untuk menyampaikan hal yang sebenarnya sederhana aja mereka harus muter otak buat nyari kata yang santun (plus tanpa disingkat pula). Hasilnya dah ketebakkan ??? Mereka harus, kudu, bin musti ngerogoh SMS lebih dari 1.
Sebenernya hal ini ada positifnya juga sih, secara SMS udah mampu merombak gaya kepenulisan seseorang yang terkadang terbawa sampai ketataran formal. Kadang sampai bingung sendiri ini maksudnya apa ya ??? Dan baru paham maksudnya setelah dibaca lebih dari sekali. Padahal kitenya aja yang bolot... Hehehe
Gondok
Ini bukan gondok yang penyakit ya, tapi ini gondok yang timbul dari rasa kesal. Dan hal ini berkaitan dengan panjangnya SMS yang mereka tulis. Yups, ternyata dari SMS yang panjang itu cuma direspon tidak lebih dari 2 huruf, yaitu : ok dan tq...
Whuaaa... gimana gak mangkel coba. Secara mereka dah mencoba nyari dan memproduce kata-kata yang panjang serta indah, ternyata responnya gitu doang.... ;D Sepet banget yak ??? Padahal seperti kata pepatah kan "pulsa dibayar pulsa"... Hehe
Namun, itulah kenyataannya dan hal inipun terjangkit tidak hanya pada mahasiswa S1 tapi juga di S2. Sampai ada yang males buat ngehubungin dosennya ya karena kayak begini juga ceritanya.
Terakhir, buat para doseners gak ada salahnya kan buat ngebalas SMS mereka lebih dari 2 huruf, toh bayarnya sama ini... Hehe
Buat temen-temen nyantai plus positive thinking aja... Yah, hitung-hitung latihan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Dan mungkin beliaunya lagi sibuk berat, jadi cuma bisa merespons 2 huruf itu doang. Mendingankan daripada gak dibales ??? ;D
Selamat berSMS ria yauw...
Selasa, 25 November 2008
Guru = Profesi Batu
Itulah bunyi sms dari Ilyas (salah satu "teman di kelas") yang masuk ke Soner saya pada pukul 7:20 am, kemudian baru bisa saya jawab pada pukul 8:40 am dengan kata-kata berikut :
Jawaban yang begitu singkat bukan ??? ya gimana gak mau begitu singkatnya kalau saat ngejawab saya masih mikir... "lah, emang ini hari guru ya ???" dan pertanyaan itu masih bergelayut di kepala saya dan semua tertuntaskan saat saya ngebuka MP ini. Gimana bisa tuntas ??? karena di MP, saya menemukan banyak tulisan yang bertemakan guru. Saya langsung dong karena yang nulis tuh blog adalah guru beneran. Guru itu bernama Ahmad Taufiq Jamaluddin (cieeee taufiq namanya disebut2.... jadi kayak candyman deh tuh). Akhirnya, langsung deh saya yakin dan percaya bahwa hari ini hari guru... hehehe
Guru... sebuah profesi batu loncatan, profesi dengan saham terbuka (maksudnya dari bidang ilmu apa aja bisa masuk), sekaligus profesi yang dianggap mudah. Kenapa bisa begitu ??? lihat aja nih sketsa yang akan saya tampilkan berikut :
Sebagai Batu Loncatan
"Eh, sekarang gawe dimana loe ?"-- "ngajar... abis belum dapet gawean yang lain, daripada nganggur mending ngajar dulu... itung-itung batu loncatan lah"
Saham Terbuka
Profesi guru emang terlalu baik untuk semua bidang ilmu, semua bidang ilmu boleh ngajar, walaupun mereka tidak mempunyai Surat Izin Mengajar berupa ijazah AKTA mengajar. Kalo udah gini siapa yang kasian ??? ya pastinya mereka yang benar-benar keluar dari LPTK (lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan), karena pastinya mereka kalah saing dengan nonLPTK dari segi kepadatan keilmuannya. Dan banyak sekolah yang memilih ini, setelahnya baru diikutkan ke AKTA. Kalo gini masuk malpraktek bukan ya ?? hehehe
Dianggap Mudah
"Ah... ngajar mah gampang... yang penting kita tahu gimana caranya "boongin" anak orang udah... selebihnya kasih tugas aja, biar mereka belajar sendiri"
Segampang itukah ??? kalo menurut saya sih nggak, karena dalam satu waktu kita harus berpikir gimana cara menyampaikan materi, mengorganisasi kelas, sampai dengan menscan karakteristik peserta didik. Mind distributive banget dah... kagak keder aja dah syukur...

Ya... gitu deh pokoknya... lagi malay buat banyak cakap dan buka front soalnya ... hihihi
Met hari guru ye... buat semuanya...
Sabtu, 13 September 2008
Pagar Semu Dunia Pendidikan
"Setuju banget kalau biaya pendidikan naik, biar pada tau kalo ilmu itu gak murah"
Saat mendengar kalimat itu dari mulut beberapa orang, terus terang terjadi ambigu rasa di benak saya. Ingin rasanya langsung mengkonfrontir, namun sayangnya sikon menyurutkan bibir saya untuk memuntahkan semua ambiguitas rasa yang berhasil tercipta. "Bila saat itu pendidikan semahal sekarang, mungkin saat ini saya akan "berbentuk" beda". Intinya saya ingin menyampaikan bahwa pendidikan itu milik semua kalangan. Jadi, tolong jangan bentengi pendidikan dengan beton-beton berlabelkan "finansial langit".
Saya setuju bahwa ilmu tidak murah, karena tidak ada satu mata uangpun yang mampu menakarnya. Jikapun ada mata uang yang mampu menakarnya, siapa pula yang sanggup membayarnya ??? Kalkulasi saja berapa yang harus dibayar, bila tiap detik selalu saja ada ilmu yang ALLAH aliri pada sendi-sendi kehidupan kita [baik secara eksplisit ataupun implisit]. Dalam Surat Al Mujaadilah ayat 11 ALLAHpun menegaskan tentang ketinggian derajat orang yang berilmu :
"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu : "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah, niscaya ALLAH akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan : "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya ALLAH akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan ALLAH Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Dunia pendidikan identik dengan sarang ilmu. Dimana ilmu dan ilmuwan berjibaku untuk meregenerasi dan memproduksi ilmu dan ilmuwan baru. Tetapi, bisakah daur ini terus bergulir bila pisau-pisau ketidakmampuan finansial terus menguntit dan kapan saja siap menjadi algojo pemenggal daur tersebut ?
Kala pendidikan hanya bisa dimasuki oleh mereka yang memiliki finansial memadai dan ogah dimasuki mereka yang ingin mempertaruhkan niatnya untuk merubah hidup namun minim finansial. Kala pendidikan telah bisa bebas memilih dan memilah kalangan mana yang boleh memasukinya. Kala pendidikan sudah menjadi barang mewah atau jangan-jangan pendidikan sudah menjadi sebuah realitas cita yang terperangkap sangkar angan ??? Na'udzubillah min dzalik...
Badan Usaha Milik Negara (BHMN) adalah salah satu yang mengubah perwajahan perguruan tinggi (PT) secara finansial. Dengan menjadi BHMN, sebuah PT menjadi bersifat nirlaba (yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah) sebagai badan layanan umum yang bertugas menyelenggarakan tridharma PT (pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat) secara mandiri. Konsekuensinya, PT boleh mengelola keuangannya secara mandiri dan didorong untuk bisa "menghidupi" dirinya sendiri.
Secara selintas, memang tidak menimbulkan efek yang tidak terlalu besar. Tapi, bila dilihat secara berlintas-lintas dan bolak-balik, maka tidak sedikit yang akan terkorbankan.
Berikut adalah sedikit cerita nyata yang berkaitan dengan hal tersebut, bagaimana kepongahan finansial telah membabat hak seseorang untuk mempertebal kecerdasannya di PT.
Bunga [sebut saja demikian] merupakan teman saya semasa di SMA. Walau saya sekelas dengan beliau hanya kelas 1 saja, namun saya bisa dikatakan dekat. Karena walau sudah tidak sekelas kita masih berinteraksi dengan cukup intens.
Bunga adalah sosok yang cerdas, pandai, tawadhu, dan sholehah abis [kontras dengan saya yang masih urakan]. Beliau adalah tempat yang paling enak untuk bertanya. Bila ada pelajaran yang masih belibet di kepala dengan sabar beliau menguraikannya. Bila saya malas membaca materi yang akan diujiankan, beliau ikhlas membagi hasil bacaannya pada saya [sebelum ujian berlangsung lho]. Ini salah satu kebiasaan saya waktu SMA, suka bilang ke teman kayak gini "omongin dong, apa yang udah loe pelajarin semalem"

Karena saking pinternya, angka 10 sering bertengger di rapornya [terutama matematika], dan karenanya pula dia berhasil diterima di salah satu PTN jurusan matematika. Semua lancar-lancar saja, itu yang beliau ceritakan saat rohis 31 mengadakan reunian di Kebun Raya Bogor. Lama tidak berkirim kabar, sampai akhirnya berita ini yang saya dapat : "Bunga, dah gak bisa ngelanjutin kuliahnya lagi karena tempat dia kuliah dah berubah status jadi BHMN. Jadi, biayanya naik dan beliau gak sanggup lagi buat menuhin biaya kuliahnya."
Innalillah... perih hati ini, bagaimana kecerdasan "guru" saya harus termutilasi dan mandul secara paksa karena ketidakmampuan finansial saja.
Sayapun akhirnya menilik diri sendiri. Mungkin hal tersebut bisa sama kejadiannya dengan saya dan saat ini saya akan "berbentuk" beda bila tempat saya nguli ilmupun berubah menjadi BHMN juga.
Dunia pendidikan bagai memiliki pagar semu, yang bisa mempelantingkan kalangan yang tidak dia ingini. Jangan jadikan pendidikan sebagai salah satu produk kapitalis. Bagaimana sebuah kaum bisa merubah nasib intelektualnya, jika pipa untuk masuk kedalamnya sudah diganjal plang besar yang bertuliskan : "hanya untuk kaum berduit"
Dunia pendidikan selalu berharap menghasilkan outcomes yang unggul. Itu harus. Namun, semua itu akan menjadi hal yang lumrah atau biasa saja bila inputnya juga unggul. Akan menjadi suatu hal yang manis, bila inputnya biasa saja namun di akhir perjalanannya menghasilkan outcomes yang unggul dan luar biasa.
Semoga peningkatan kualitas tidak menjadi selimut yang membaui finansial untuk dapat melambung tinggi.
Selasa, 08 Juli 2008
Dosen Flexi
Dosen adalah guru, tapi apakah guru itu dosen ???
Silahkan dijawab sendiri ya, karena saya lagi gak mau ngebahas tentang hal tersebut tuh. hehehe... Sekarang saya cuma pengen ngebahas tentang keberadaan dosen.
Dosen adalah pengajar di perguruan tinggi yang identik dengan seseorang yang pintar, cerdas, padat dan penuh dengan ilmu [saking padat dan penuhnya, jadi susah buat dicairin dan susah buat nyempilin yang baru
].Entah gimana sejarahnya sehingga hal yang telah disebutkan itu bisa menempel dengan mesranya pada kata dosen. Gimana saya mau tahu sejarahnya kalau hal tersebut gak pernah masuk dalam buku sejarah. Mungkin hal tersebut termasuk kategori sejarah Indonesia yang tidak boleh ditayangkan dan diketahui umum kali. Sejarah yang merusak sejarah nih... Hihihi
Udah ah, jadi lari kemana-mana bahasannya... balik lagi yuks...
Kalau dosen diartikan sebagai pengajar di perguruan tinggi, okelah... saya bisa sepokat. Tapi, bila dosen diidentikkan dengan hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya... saya teramat sangat tidak sepokat sekali... Mengapa ??? pertama, bila di"iya"kan, khawatir akan muncul bibit-bibit kesombongan dan keegoan terhadap profesi. Yang efek ekstremnya adalah akan muncul pandangan tanpa mata dan hati terhadap profesi lain dan kedua, masih banyak orang di luar sana yang mempunyai kapasitas seperti yang telah disebutkan [bahkan lebih], tapi karena nasib dia tidak mendapatkan label sebagai dosen [mungkin hanya sebagai tukang ketoprak - misalnya]. Dengan kata lain, profesi tidak selalu berbanding lurus dengan kepadatan dan kedalaman ilmu seseorang [dalam hal ini dosen] dan satu yang perlu dicatet "Gak semua yang loe denger dan lihat itu bener... sebelum loe ngerasainnya sendiri"... hihihi
Dalam menjalankan profesinya, seorang dosen tidak bisa terlepas dengan namanya aktivitas mengajar, meneliti, dan mengabdi pada masyarakat [biasa disebut dengan Tridharma Perguruan Tinggi]. Bila ini dijalankan dengan baik, semestinya tidak akan ada perpecahan dalam profesi dosen. Tetapi kenyataan yang terjadi di lapangan adalah sebaliknya. Banyak timbul aliran dalam profesi ini. Malahan aliran-aliran ini semakin lama semakin solid, karena teraklamasikan oleh pelaku-pelakunya sendiri...
Aliran-aliran itu adalah...Dosen Biasa. Kalau aliran yang ini kayaknya gak perlu dibahaslah, karena individu yang termasuk dalam aliran ini cenderung untuk mentaati tridharma. Walaupun konsentrat ketaatannya juga tidak bisa dipukul rata [dimana-mana kalau dipukul itu gak rata, karena setelahnya bakal tumbuh benjol-benjol sih
]Dosen Luar Biasa. Biasa dikenal juga dengan dosen tidak tetap [kadang-kadang pengen jadi dosen... kadang-kadang nggak... hihi]. SDM dari luar institusi yang diminta kesediaan untuk mentransfer ilmunya. Hal ini terjadi karena masih terbatasnya SDM di institusi yang dianggap dapat mengampu ilmu tersebut.
Dosen Biasa di Luar. Kalau aliran jenis ini, biasanya hinggap pada dosen yang dah terkenal atau dah banyak proyek di luar. Efeknya, prosentase berbagi ilmu di luar lebih banyak daripada prosentase berbagi ilmu di dalam. Institusinya cenderung sebagai transit untuk melepas lelah, kalau tidak mau dikatakan setor muka saja.
Aliran-aliran yang telah saya sebutkan di atas bukan menjadi rahasia lagi, karena dah banyak yang tahu apalagi orang yang kecemplung di dunia perkampusan. Namun, aliran yang akan saya sampaikan ini pasti belum ada yang dengar. Secara, baru kepikiran akan hal ini tadi siang. Jadi, masih "fresh from my brain". Aliran itu adalah...
Dosen Flexi. Salut dah buat para doseners yang masuk dalam wilayah aliran ini. Selayaknya motto flexi, maka hal inipun berlaku pada individu nih dosen. Yups... Dosen Flexi... bukan dosen biasa. Apa yang membuatnya tidak biasa ??? Nah, ini dia permasalahannya... dan alhamdulillah, saya menemukannya di ruang pelatihan tadi.
Beliau adalah dosen yang tawadhu, wajahnya cerah karena tersinari air wudhu, punya mad'u, dan ngejalanin tridharma mah kudu... Seorang aktivitis, agamis, mempunyai pemikiran yang kritis, bukan teroris, tapi bisa memposisikan diri secara strategis...
Yah... itulah dosen flexi... dosen dunia akhirat... dosen yang bisa menjalankan dua kendaraan dengan kelajuan deru yang sama kencang, namun tidak membuat orang lain menjadi pincang dan tertendang.
Dosen Flexi bukan manusia haram [red. meminjam istilah Cak Nun], yang tidak pernah dianggap kalau ada dan tidak pernah dicari saat dia menghilang. Astagfirullahal'adzim... Sebaliknya, dosen flexi adalah figur yang selalu dinanti kedatangannya dan dirindukan kepergiannya....
Dosen Flexi memang bukan dosen biasa... ALLAHU AKBAR...
"Takkan surut walau selangkah
Takkan henti walau sejenak
Cita kami hidup mulia
atau syahid mendapat syurga..."

Selasa, 17 Juni 2008
Guru Kehidupan*
Ada murid dapat belajar hanya dari guru yang ber-SK, disuapi ilmu dan didikte habis-habisan. Ada yang cukup belajar dari katak yang melompat atau angin yang berhembus pelan lalu berubah menjadi badai yang memporak-porandakan kota dan desa. Ada yang belajar dari apel yang jatuh di samping bulan yang menggantung di langit tanpa tangkai itu. Ada guru yang banyak kata tanpa berbuat. Ada yang lebih pandai berbuat daripada berkata. Ada yang memadukan kata dan perbuatan. Yang istimewa diantara mereka, bila "melihatnya engkau langsung ingat ALLAH, ucapannya akan menambah amalmu dan amalnya membuatmu semakin cinta akhirat (khiyarukum man dzakkarakum billahi ru'yatuh wa zada fi'amalikum mantiquh wa ragghabakum fil akhirati 'amaluh)"
Yang tak dapat belajar dari guru alam dan dinamika lingkungannya, sangat tak berpotensi belajar dari guru manusia. Yang tak dapat mengambil ibrah dari pelajaran orang lain, harus mengambilnya dari pengalaman sendiri, dan untuk itu ia harus membayar mahal. Bani Israil bergurukan Nabi Musa AS, salah satu Ulul Azmi para rasul dengan azam berdosis tinggi. Bahkan leluhur mereka nabi-nabi yang dikirim silih berganti. Apa yang kurang ? Ibarat meniup tungku, bila masih ada api di bara, kayu bakar itu akan menyala, tetapi apa yang kau hasilkan dari tumpukan abu dapur tanpa setitik api, selain kotoran yang memenuhi wajahmu.
Saya serahkan secara penuh pembungkusan hikmah dari cuplikan tulisan Ustad Rahmat Abdullah (almarhum) ini [biar nendangnya lebih personalisasi aja] 
Sumber : Abdullah, Rahmat. Pilar-Pilar Asasi : Bersama Al Haq dan Ahlul Haq. Jakarta : Tarbawi Press, 2005.
Rabu, 11 Juni 2008
Guru Berargo Esia
Setuju atau tidak, menurut saya profesi yang ada di Indonesia cuma ada 2, yaitu dokter dan guru. Kenapa saya berpendapat demikian ? Pertama, dua profesi ini yang sering digosipkan di Indonesia, mulai dari status keberadaannya sampai dengan tingkat pendapatannya; Kedua, jika kita bertanya pada bocah tentang cita-citanya, maka yang sering keluar dari mulut2 mungil mereka adalah 2 profesi ini; dan Ketiga, [ekstremnya] kedua profesi ini bertindak layaknya montir yang mampu mereparasi atau memodifikasi manusia : dokter memodifikasi orang lewat pintu kesehatan sedangkan guru memodif perilaku seseorang.
Walaupun kedua profesi ini sering "diiklankan", tetapi sayangnya dan sedihnya status kedudukanya masih tidak egaliter. Karena tidak sedikit orang yang masih mengagung-agungkan profesi dokter, hingga terkesan profesi dokter adalah pencapaian tertinggi dari sebuah cita-cita.
Padahal kalau mau dipikir lebih lanjut setiap profesi memiliki nilai yang sama dan posisinya saling melengkapi. karena yang membedakan tiap profesi dan posisinya adalah bagaimana pandainya si pelaku profesi [secara individual] dalam memberikan value pada profesinya itu.
[sekedar joke] para pencopet saja sekarang sudah menghormati pekerjaannya kok, terbukti sekarang banyak copet yang sudah berpakaian rapi, menggunakan dasi dan membawa tas saat sedang beroperasi. 
Kembali kepermasalahan...
Kalau mau dicompare tentang 2 profesi ini berdasarkan alasan-alasan yang saya telah ajukan sebelumnya, pastinya akan merangkaikan kata yang cukup banyak. Namun, untuk mengcompressnya, maka dalam pembahasannya akan saya kerucutkan pada profesi guru saja.
Guru bisa dikatakan profesi yang menuntut sebuah pengorbanan besar [apalagi guru-guru di daerah minim]. Pengorbanan untuk menerima gaji yang tidak sepatutnya, waktu yang tersita untuk menyiapkan serta mengoreksi segala hasil proses pembelajaran [relatif nonstop], dan pengorbanan untuk membesarkan hati, kala banyak orang yang mencerca kinerjanya tanpa melihat terlebih dahulu segala usaha yang telah coba diwujudkan untuk mengakali segala keterbatasan yang ada, dan pengorbanan untuk bisa bermimikri sesuai dengan demand audiens [mungkin ini pengorbanan yang baik diantara yang lain].
Seperti yang diungkapkan secara implisit pada paragraf sebelumnya, bahwa salah satu yang bisa mengeluarkan pengorbanan adalah karena adanya tuntutan. Secara tidak tertulis, tapi [secara tidak langsung sudah] menjadi konsensus bersama bahwa seorang guru harus mempunya moral dan akhlak yang baik [harusnya ini bukan hanya dikenakan ke guru saja ya]. Dan hal ini dipertegas lagi dalam UU n0.19 tahun 2005, yang berisi tentang kompetensi yang harus dimiliki guru/pengajar adalah paedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial.
Setelah membaca isi UU tersebut, kesimpulan awal yang mungkin keluar adalah "begitu sempurnanya ya seorang guru". Bagaimana tidak sempurna ??? dalam satu tubuhnya dia harus mempunyai 4 penampang hebat, yaitu : hebat secara keilmuan, hebat secara profesionalitas [mandiri], hebat secara kepribadian, dan hebat secara sosial. Hebat bener euy... 
Tapi, lucunya kesempurnaan yang dituntut tidak berbanding lurus dengan pendapatan yang harus mereka terima. Boro-boro buat mengembangkan kompetensi tersebut, buat makan aja masih bingung buat ngebaginya. Saya miris sekali saat pernah dengar guru bicara seperti ini : "saya bangga bisa mengantarkan murid-murid saya sampai perguruan tinggi, namun di sisi lain saya sendiri tidak tau apakah saya mampu mengantarkan anak-anak saya sampai perguruan tinggi". Pernyataan yang membuat hati teriris-iris bukan...
Lalu, apa hubungannya dengan argo esia ??? ....
Beberapa minggu terakhir... periklanan televisi dihebohkan dengan argo SMS esia, [yang katanya] biaya yang harus dibayar sesuai dengan karakter yang dituliskan. Dengan kata lain, semakin banyak karakter yang kita tulis semakin besar biaya yang harus kita keluarkan, dan sebaliknya.
Nah, sekonyong-konyong pikiran iseng dan ngawur saya keluar... coba guru-guru [terutama yang di pedalaman/berfasilitas minim] dibayar sesuai dengan karakter yang telah mereka keluarkan ya. Tapi, setelah dipikir ulang timbullah sebuah permasalahan baru, yaitu kira-kira instrumen atau alat seperti apa yang bisa mengkalkulasi semua omongan guru atau pengajar dalam sebuah aktivitas pembelajaran....
Sampai saat ini saya belum bisa merumuskan dan memformulasikannya... teuing deh pokoknya... tapi yang perlu distabiloin adalah : sebaik-baik instrumen untuk meneracakan itu semua adalah instrumen yang dibuat oleh ALLAH subhanahu wata'ala...
karena...
`yJsù ö@yJ÷èt tA$s)÷WÏB >o§s #\øyz ¼çntt ÇÐÈ `tBur ö@yJ÷èt tA$s)÷WÏB ;o§s #vx© ¼çntt ÇÑÈ
7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
8. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula
7-8 : Az Zalzalah
*Saya dedikasikan tulisan ini untuk semua guru yang bertebaran di muka bumi ini, yang dalam keterbatasannya masih mau berkreativitas dan memodif perilaku manusia dengan ikhlas.
Jumat, 02 Mei 2008
Hari Mendidik Nasional
Miris hati ini, kala melihat berita masih banyak anak yang tidak bersekolah dan masih ada sekolah yang didalamnya tidak ada anak-anak karena memang bangunan sekolah tersebut sudah tak layak untuk hunian belajar.
Apa jadinya anak-anak Indonesia nanti, jika pabrikan tempat mereka "dibentuk" saja sudah banyak yang tidak layak huni. Rasa was-was karena takut kerubuhan atap, kurangnya cahaya untuk belajar, dan udara yang susah buat keluar masuk karena ruang untuk bergeraknya sudah banyak dijejali manusia...
Miris... kala di Jakarta masih ada saja pendapatan guru yang masih di bawah UMR ? mungkinkah mereka sanggup menyekolahkan anak-anaknya ?? Saya sempat sedih kala ada seorang guru mengungkapkan kalimat berikut : "Saya bangga bisa mengantarkan murid-murid saya sampai perguruan tinggi, tapi saya juga sedih saat mengingat sanggupkah saya menyekolahkan anak-anak saya sampai perguruan tinggi ?"
Di atas fenomena itu, ternyata masih ada saja yang mengkomersilkan pendidikan (mending kalau hasilnya buat subsidi silang, kalau nggak ???) Semua serba proyek... yang penting duit abis selesai... abis perkara... saya aja kadang ampe miris sendiri... harus gimana buat ngubah ini semua... mungkin bermula dari hal yang kecil dan diri sendiri
Sudah saatnya menyibak tabir kelam pendidikan dengan bervisi mendidik secara nasional, baik secara moral maupun mental... mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang, dan akhirnya merambah untuk memulai mendidik secara nasional.... Biar PP No. 19 tahun 2005 dapat terwujud, yaitu pewujudan kompetensi di lini pedagogik, kperibadian, profesional, dan sosial.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 