.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}
Tampilkan postingan dengan label protes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label protes. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juli 2011

Ngetwitin skripsi

Abis ini, Pengen ngetwit ttg #skripsi aahhh. Cekidot wae ya...
1. Ada yg blg, klo #skripsi itu siap2 buat kurang makan, kurang tidur, ampe kurang duit...
2. Serasa dunia menjadi konvergen gtu deh. Bertumpu di satu titik #skripsi
3. Ada jg yg blg, baru berasa kuliah pas #skripsi *lah tadinya emang berasa apa?
4. Ada jg yg blg, #skripsi itu pengisi wkt luang smbil nunggu wisuda *nah, klo ini mah sy yg blg :D
5. Ada jg yg blg, #skripsi itu perjlnan panjang, sunyi, n sendiri
6. Sampai pernah sy mlht sbuah DP yg bertlskan: "Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhir" #skripsi
7. Sebenarnya apa yg membuat #skripsi spt menjd hantu?
8. Slh stunya krn sblmnya dah dpt cerita menakutkan dr kk tingkat yg kbtln perjlnan #skripsi nya pnh tragedi
9. Coba deh tnya kk tingkat yg perjlnan #skripsi nya asyik2 aja, kmgkn hantu yg di kpala berubah jd casper. Hantu yg ramah
10. Dan intinya perwajahan n perasaan kita thd #skripsi itu terkait mindset
11. Nah, ini mgkn sdkt tips biar perjlnan #skripsi jd bgitu indah dan berwarna
12. Niatkan pembuatan #skripsi itu buat ibadah. Jd biar dunia akhirat dpt. Dan ini bs menguatkan kala kita sdh mlai patah arang dgn pengerjaannya
13. Nyari jdl #skripsi sbsa mgkn yg dikuasai n diminati. Biar tak terbeban dlm perjlnan k dpnnya
14. Milih jdl #skripsi itu kya milih pasangan hdp. Jd klo dah milih, jgn lirak/i yg lain. Yakin n komit dgn yg diplih krn klo gak, bs gak slsi2 skripnya
15. Cri jdl #skripsi yg mdh dicari literatur n respondennya. Klo gak, sama aja bunuh diri
16. Buat #skripsi itu sama aja dgn pengerjaan proyek pribadi. Mau cpt atau lmbt itu tergntg kita
17. Krnnya yg bs kontrol scr internal, mesti dimaksimalkan. Krn kita gak tau faktor eksternal yg dpt menghambat jln #skripsi
18. Jgn down klo #skripsi dicorat/e pembimbing. Justru itu bkti pembimbingmu peduli n ingin kmu mnjd lbh baik
19. Intinya tgs kita dlm #skripsi itu cm 3, yaitu:...
20. Membuat #skripsi scr baik dan benar
21. Menjelaskan #skripsi scr baik dan benar
22. Meyakinkan ke penguji dan pembimbing bhw #skripsi yg dibuat itu mmg baik n benar
23. Point terakhir inilah biasanya agak sulit krn faktor demam ruang saat sidang #skripsi yg membuat kepintaran jd melorot hingga 50% :D
24. Krnnya bwt menghilangkan itu, bw santai aja saat sidang. Toh, #skripsi itu kita bwt sndiri. Jd sdkt byknya taulah isi2nya
25. Untuk menimbulkan PD saat sidang #skripsi anggap aja cm kita aja yg tau, yg lain kagak
26. Terakhir, jgn mudah diombang/i oleh penguji. Pertahankan #skripsi yg kmu buat, tp jg jgn ngeyel klo emang salah.
27. Kayaknya ckp dah tips ttg #skripsi Smg manfaat dan benar2 mnjdi sweet skripsinya
28. Dan pastinya smg #skripsi nya menjdi husnul khotimah alias berakhir dgn baik :)
29. Dan jangan mau jd pucat n gagu, cuma gara2 #skripsi hehehe

 

sumbergambar: duniapustaka.com

Kamis, 21 April 2011

Benarkah Kita adalah Buku?

Apa sesungguhnya yang kita harapkan kala berjabatan dengan buku? Mendapatkan ilmu, rekreasi batin, sekedar persinggahan pelepas lelah, atau malah ketiga hal tersebut menyimultan jadi satu? Silakan dijawab dalam diam, menggumam, atau teriakan (itu juga bila kau tidak malu :D). Yah di atas itu semua, yang jelas buku hadir untuk mengusung kebermanfaatan. Tinggallah kita sebagai pemakai yang menentukan mau meneguknya sampai sebatas apa. Sampai sekedar menghilangkan kering di bibir atau malah sampai mengeringkan wadahnya. Beda pilihan, beda konsekuensi.

Sekarang cobalah kita berdiam sejenak lalu cobalah sebentar saja bercermin. Tidakkah kita bagai sebuah buku? Mari sekarang sama-sama kita rentangkan diri kita dan mari sama-sama kita telusuri diri kita masing-masing. Benarkah analogi tersebut? Bila tidak sepakat, silakan temukan analogi yang tepat. Toh, selalu ada ruang untuk bermusyawarah bukan?


Covermu bukan Coverku
Don't judge a book by its cover, but please judge a book by its explotion. Pepatah yang sudah dimodifikasi ini paling tidak dapat menggambarkan bahwa janganlah menilai buku hanya dari sampulnya aja, tapi lihatlah dari ledakannya

Saat berinteraksi, banyaklah ditemukan penampang luar sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Namun, tidak sedikit pula kita temukan orang yang memiliki penampilan menipu. Maksudnya; ada yang terlihat serius namun setelah diajak ngobrol ternyata ngocol dan ada yang penampakannya lucu namun setelah diajak ngobrol garing abis. Hal yang dikatakan terakhir inilah yang perlu dimaknai lebih dalam. Salah-salah malah bikin masalah.

Point yang ingin ditampilkan dari gambaran tersebut adalah cobalah sedikit bijaksana dalam menilai orang. Jangan sampai baru melihat sekelebat, tapi sudah mampu mengeluarkan banyak kata untuk terlibat.


Daftar Isi atau Mengisi Daftar?
Cara mudah untuk mengetahui apa yang ada dalam buku secara singkat adalah dengan melihat daftar isinya. Lalu bila setelah dilihat, ada hal yang tidak ditemukan apakah bisa kita mengisi daftarnya? Bisa saja, tapi janganlah heran bila isi di dalamnya tetap sama. Mengapa? Karena posisi kita di sana adalah sebagai pengguna bukan penulisnya. Dan bila muncul kritik dari pengguna akan banyaknya isi yang masih lowong, tidaklah serta merta penulis mengatakan: "isi di luar tanggung jawab penulis". Berani menghadirkan, mesti berani mempertanggungjawabkan.

Sekarang yang jadi pertanyaan, bilakah hal tersebut dianalogikan dengan kita sebagai manusia?

Setiap manusia unik, tidak ada yang sama persis antara satu dengan lainnya. Bahkan untuk kembar identik sekalipun. Dan semakin menjadi berbeda kala orang tersebut sudah berinteraksi dengan lingkungannya. Bila melongok ke ilmu psikologi, memang ada 3 hal yang mempengaruhi tumbuh kembang seseorang, yaitu nature, nurture, dan nutrisi.

Dan disadari ataupun tidak dalam setiap berinteraksi kita selalu melist apa yang ada pada lawan aksi kita. Setelahnya kitapun seperti membuat blueprint, akan hal-hal apa yang ingin kita isi untuknya. Karena lagi-lagi mau disadari atau tidak, sebenarnya interaksi adalah proses saling mempengaruhi. Baik itu hal baik ataupun sebaliknya. Tinggallah di sini adu kuat, yang kuat mengisi dan yang lemahpun terisi. Syukur kalau kita terisi dengan yang baik, bagaimana kalau sebaliknya?

Janganlah mau berela hati untuk menjadi korban interaksi. Jangan terwarnai, lebih baik mewarnai. Namun bilapun akhirnya tak mampu mewarnai, tetaplah hadirkan cerah warna asli. Dan biarkan Sang Maha yang nantinya kan memainkan akan seperti apa perwujudannya.


Isi Mengisi Isi
Subtitle tersebut mungkin akan agak rumit untuk dicerna otak. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya subtitle tersebut dibentuk dari kata yang sama, hanya yang tengah ada imbuhannya, yang lainnya tidak.

Kata-kata kita adalah patung yang tidak bernyawa, sampai kita mati karenanya barulah ia bermula hidup. Demikianlah kira-kira kalimat yang pernah diujarkan oleh Sayyid Qutbh. Lalu apa hubungannya dengan bahasan ini?

Benarlah bila ada ungkapan, berbicara itu jauh lebih mudah daripada melakukan. Dan jauh lebih sulit lagi kala mensinkronkan antara gerak bibir dengan gerak laku. Perlu integritas untuk menyinkronkan itu semua. Dimana semangat ucap sama derapnya dengan semangat gerak. Namun, bukankah berucap juga merupakan sebuah gerak?

Isi adalah sari pati yang sesungguhnya ingin dinikmati oleh para pembaca. Isilah yang menentukan bobot dari buku tersebut. Isilah yang nantinya menguatkan atau malah menjungkirbalikkan apa yang tertera dalam cover. Lebih baik gemuk isi tapi gemuk manfaat, daripada kurus isi tapi kurus manfaat  Hal tersebut senafas dengan pepatah arab yang kira-kira terlantun seperti ini: lebih baik menjadi kitab tanpa judul daripada banyak judul namun tanpa kitab.

Bila kita sebuah buku, jadilah buku yang bermanfaat, menyenangkan, menentramkan, dan bukan malah menyesatkan. That's all...


Rujukan yang Harus Dirujuk
Salah satu hal yang mempengaruhi isi adalah sumber yang dijadikan rujukannya. Semakin berbobot rujukannya, maka akan semakin meningkat saja selling point dari buku tersebut.

Sekarang bagaimana dengan kita sebagai manusia? Muslim pula. Alquran dan Sunnah, itu jawabannya. Dapatlah dikatakan semakin kita mengamalkan keduanya, maka semakin berbobotlah kita. Berbobot di mata manusia, lebih-lebih di mata ALLAH. Dan bukanlah hal yang mustahil bila nantinya ada orang yang semakin mengingat Tuhannya hanya dengan melihat wajah kita. Seperti yang tercantum dalam hadits riwayat Imam Bukhori berikut ini: "Maukah kalian kukabarkan orang-orang terbaik di antara kalian?, mereka adalah yang jika dipandang wajahnya membuat orang mengingat ALLAH".

Ah, betapa indahnya kala berinteraksi dengan mereka yang mampu membiaskan cahayaNYA. Sudahlah barang tentu kita mau berlama-lama membersamainya. Betah untuk menikmati setiap lantunan kata syahdu penuh hikmah yang keluar dari lisannya. Subhanallah... Adakah wujudan yang indah selain diisi oleh Alquran dan Sunnah?


Meriwayatkan yang Hidup
Setiap kalimat pasti ada titiknya. Setiap buku pasti ada halaman akhirnya. Begitupun dengan manusia, dia pasti akan berakhir, mati.

Riwayat hidup bisa dikatakan dapat dijadikan sebuah pertanda bahwa sebuah buku usai. Mengapa demikian? Karena riwayat hidup biasa diletakkan di belakang bukan di depan.

Siapa yang meriwayatkan bila manusia usai? Ada dua kemungkinan, kita sebagai pelaku sejarah sendiri yang mencatatkannya atau orang lain yang akhirnya berela hati untuk mencatatkannya. Dan setiap kita kan memiliki panjang pendek periwayatan yang berbeda, tergantung sepanjang apa langkah yang kita torehkah sebelum mati.

Semoga yang tertoreh bukan lebih karena ketenaran dunia semata. Biarlah tidak tenar di bumi, tapi usahakan dan relakan diri untuk dapat tenar di langit.


Demikianlah 5 bagian buku yang dapat dianalogikan dengan kita sebagai manusia. Sebelum tulisan ini di akhiri, ada sedikit catatan yang perlu ditambahkan, bahwa tiap kita memiliki gaya membaca yang berbeda. Ada yang runut dari awal sampai akhir, ada yang bacanya dari depan, ke belakang, ke tengah terus ke depan lagi, dan ada yang dari belakang baru berlari ke depan. Tidak ada larangan, sah-sah saja. Yang paling penting dari semua perbedaan itu adalah persamaannya, yaitu sama-sama dalam rangka usaha memahami isi untuk mengantongi manfaat. Dan agar mendapat pemahaman secara utuh dan manfaat yang berlimpah, amatlah bijaksana bila nantinya tidak ada ruas yang terlewat dari pandang kita.

Namun manusia bukanlah buku dan buku pastilah bukan manusia. Buku akan selalu tetap isinya, berapa kalipun kita baca. Sedangkan manusia, selalu ada saja edisi revisinya setiap kali kita membacanya. Sebab manusia makhluk dinamis. Dia akan terus bertumbuh untuk memenuhi tugas-tugasnya sebagai hamba di muka bumi. Dengan demikian, tiadalah ada kata akhir untuk terus membacai dan mengacai diri sebelum kita mati...


Wallahu'alam...


----------------------------------
*Bisa membaca hatimu adalah sebuah kenikmatan. Berusaha untuk terus dapat membacamu berulang adalah sebuah kebijaksanaan. Berupaya untuk menjaga dan mengharumkan isi bacaanmu dalah sebuah kecintaan...*

 

 

sumber gambar: tilmiz.net

Rabu, 24 Maret 2010

Zero Point

Mencandai sebuah kegetiran bukanlah suatu hal yang lazim. Mencemili kegelisahanpun bukan suatu hal yang lumrah. Tapi apakah haram bila kita menyandingkannya? Nggak sama sekali.

Toh semua hal jatuhnya zero point karena sesungguhnya kitalah yang memaknai segala kejadian yang kita alami. Mau dibawa berat jadi berat banget. Mau dibawa enteng jadi ringan. Mau mencuri hikmah dari kepahitan bisa. Mau menenggelamkan kenestapaan ya monggo kerso. Intinya semua hal yang ada di sekitar kita adalah kesempatan, tinggal kitanya saja mau menjatuhkan pilihan pada opsi yang mana. Disinilah kedewasaan kita sebagai seorang hamba diuji.

Nikmati dan bawa asyik aja mungkin bisa dijadikan kunci pembuka kenyamanan rasa saat kita dihadapkan pada samudra kepahitan. Lalu timbullah sebuah pertanyaan, mungkinkah kita menikmati suatu hal yang menyedot energi pedih kemanusiaan kita? Jawabannya bisa. Mengapa bisa? balik lagi ke teori zero point tadi. Dengan kata lain, mindset kita mesti direparasi terlebih dahulu sehingga segala hal yang menghadang di langkah, bisa kita posisikan sebagai kado bukan ujian dari ALLAH. Beda kata akan menimbulkan efek psikologis yang berbeda. Akan seperti ini gambarannya bila kedua kata itu dibelah lebih dalam.


Kado Vs Ujian


Tanpa disadari atau tidak, manusia sangat hobi untuk mengaitkan satu hal dengan hal lainnya, yang akhirnya secara disadari mengerucut menjadi sebuah identitas terhadap hal tersebut.  Kado identik dengan suatu hal yang sangat dinanti-nanti kedatangannya dan biasanya diberikan karena ada suatu hal yang spesial dan pastinya sangat indah saat membukanya. Sedangkan ujian identik dengan suatu hal yang menakutkan, mencemaskan, keluhan, dan segala hal yang beraroma negatif lainnya.

Sekarang bayangkan bila kita melulu menggunakan kata ujian saat diterpa kepahitan. Boro-boro kepikiran buat mencari hikmah, yang ada kita malah terpaku dengan kesulitan tersebut. Yang akhirnya kita merasa menjadi orang yang paling susah sedunia. Padahal kalau kita mau berpikir jernih dan menjabarkan segala peristiwa yang terjadi, sesungguhnya ujian itu kadarnya hanya setitik bila dibandingkan pembelajaran yang kita dapatkan. Ya, nikmat ALLAH jauh lebih besar bukan?

Kalau menggunakan kata kado gimana? Satu hal yang membuat kado itu menjadi indah adalah pada saat proses mengupas bungkusnya. Di sana akan timbul berbagai rasa, mulai dari rasa deg-degan, penasaran, was-was, senang, semua membuncah jadi satu sampai akhirnya kita melihat isinya. Bilapun nanti isinya di luar angan, pasti sudah tersembul rasa syukur bahwa kita telah diberi suatu hal yang gratisan.

Begitupun kala kita menghadapi pernik kehidupan. Jika mau dipikir lebih jauh, bukankah kita sedang berproses dalam membuka kado? Bungkus kado itu tidak selamanya satu lapis dan juga tidak selamanya tampilan bungkusnya sama dengan kualitas isinya. Ada yang luarnya bagus tapi diikuti dengan lapisan-lapisan kertas kado yang jelek dan berakhir dengan isi yang bagus. Ada yang luarnya jelek tapi dalamnya bagus. Adapula dari bungkus sampai isinya bagus dan ada juga yang bungkusnya jelek, isinya jelek juga (kalau begini delon deh jadinya, alias derita loe sendiri… hehe). Bila analogi tersebut ditampilkan dalam kehidupan maka kejadiannya akan seperti ini: hidup itu tidak selamanya enak, pada titik tertentu ada rasa eneg yang muncul ke permukaan. Di sini tugas kita mencontreng salah satu jawaban dengan konsekuensi khas yang mengikutinya: lari dari kenyataan atau lari kepada ALLAH?

Lari dari kenyataan akan menobatkan kita menjadi manusia yang kerdil, kalah, dan manusia yang hanya berani membaca soal tapi tidak berani melukiskan jawaban. Apalagi lari dari kenyataannya sampai mengakhiri hidup segala… nau’udzubillah min dzalik. Lari kepada ALLAH akan menjadikan kita orang yang berani membaca soal, berani melukiskan jawaban, sekaligus mempunyai kekuatan untuk menggrafir hikmah di hati dan langkah.

Dengan demikian, masihkah kita mau melabeli diri kita menjadi orang paling susah? masih terpikirkah untuk membaui hati kita dengan keluhan yang melemahkan? masih tegakah mulut kita untuk mencaci segala kegagalan? dan pastinya gak ada lagi ruang di jiwa kita untuk melagukan “aku tak sanggup lagi menerima derita ini. aku tak sanggup lagi menerima semuanya…”

Jumat, 12 Februari 2010

Filterisasi Ilmu

“Aku adalah apa yang aku baca, lihat, dengar, dan alami” Idiom ini dapat digunakan untuk menilai atau melihat seseorang secara mudah dan sederhana. Mengapa demikian? karena sesungguhnya kita hanya dapat mengeluarkan apa yang ada dalam diri kita. Tapi, apa harus seperti itukah perwujudan diri kita? Saat diri dengan asyik dan mudahnya berganti-ganti warna hanya karena berubahnya bacaan, tontonan, bisikan, dan segala macam pengalaman yang telah merasuki diri. Syukur bila perubahannya ke arah perbaikan, namun bagaimana bila sebaliknya?

Fenomena di atas semakin jelas terbaca dalam era digital saat ini. Dimana setiap detik selalu saja ada informasi yang mengalir. Kala semakin mudahnya menyedot segala macam informasi dari berbagai sumber. Saat semakin banyaknya medium gratisan yang mewadahi aktivitas intelektual. Saat setiap orang secara tidak sadar telah didorong untuk berlomba-lomba menyuarakan  dan menimpali segala informasi yang berkembang. Kala setiap orang dengan suka cita mulai merelakan dirinya untuk dapat “dibaca” oleh publik. Ada dua hal yang dapat ditarik dari pemandangan ini. Pertama, semakin banyaknya orang yang mulai tersadarkan akan pentingnya informasi dan menspiralisasikan (mensuarakan ulang dan membagi) informasi. Kedua, pemandangan seperti ini akan semakin memperkecil area privasi seseorang. Selain itu juga berpotensi untuk melahirkan korban-korban bermodus “gamang informasi”. Maksudnya, orang yang belum mampu memfilter informasi dengan baik, sehingga informasi apapun yang didapat langsung ditelan dan dipraktekkan mentah-mentah, padahal informasi yang didapat itu belum tentu baik dan benar.


Kewajiban Memadatkan Ilmu

Ilmu dapat diibaratkan bagai sebuah cahaya yang dapat menuntun kita keluar dari pekatnya kehidupan. Bagai sebuah tongkat yang dapat menahan kita, disaat tubuh sudah mulai limbung untuk melangkah. Bagai sebuah jendela yang dapat memberikan angin segar, saat diri sudah mulai hampa udara. Dengan demikian, mustahil rasanya kita mampu melenggang di dunia secara sukses tanpa memiliki bekal ilmu yang pas. Dengan kata lain, ilmu mesti kita miliki sebelum kita beramal atau mengaplikasikannya. Keutamaan memiliki ilmu inipun yang ditegaskan Rasululullah dalam sabdanya: “Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah dia memiliki ilmunya. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dia memiliki ilmunya. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dia memiliki ilmu”

Selain itu juga, nilai perbuatan seseorang ditentukan oleh ilmu, sehingga antara perbuatan orang yang  berilmu dengan perbuatan orang yang tidak berilmu akan berbeda nilainya di sisi ALLAH. Sebagaimana telah ALLAH firmankan dalam surat Az Zumar ayat 9, yang artinya: “… Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.

Dengan demikian, masih adakah spot keraguan di dalam diri kita untuk terus mau membenamkan diri dalam samudra ilmu? Apalagi Rasulullahpun pernah bersabda: “Siapa merintis jalan mencari ilmu, maka ALLAH akan memudahkan baginya jalan ke surga” (HR. Muslim)


Jebakan Intelektual
Ada seorang murid bertanya kepada gurunya “Pak, apakah yang salah pada diri saya? Mengapa pemikiran saya selalu berubah-ubah sesuai dengan buku yang telah saya baca? Dan mengapa tidak sedikit orang yang berilmu malah membuatnya jauh dari ALLAH, bukankah ilmu yang dia miliki semestinya malah mendekatkannya pada Sang Pemilik Ilmu?”

Sang gurupun tersenyum, setelahnya mengalirlah kata-kata dari mulutnya “Nak, tahukah kau apa yang membuatmu demikian? Itu tidak lain adalah karena engkau terlalu mengamini segala hal yang engkau baca. Padahal tidak semua pemikiran orang yang kamu baca itu benar, apalagi kamu tahu pasti latar belakang sang pemilik pemikiran itu adalah memang seseorang yang jauh dari jalan ALLAH. Segala ilmu boleh kamu pelajari, segala ilmu boleh kamu taklukkan, tetapi satu yang kamu mesti ingat, jangan sampai ilmu yang kamu pelajari itu membuatmu jauh dari ALLAH. Janganlah kau pisahkan antara ilmu agama dan ilmu dunia, justru akan lebih indah bila ilmu keduniaan yang engkau miliki dibingkai dengan ilmu agama. Toh, sejatinya kita hidup di dunia untuk beribadah bukan? Janganlah kamu tersilaukan dengan rasionalisasi ilmu dunia, yang banyak terselip teori apologetic di sana, yaitu mencari teori-teori yang dapat membuat kesan bahwa teori yang sebenarnya salah itu menjadi benar. Hati-hati nak, seseorang itu akan diserang dengan bagaimana bentukan dirinya. Demikian halnya dengan kaum intelektual, iapun akan diserang dari sisi intelektual atau pemikirannya juga.”

Dengan wajah tertunduk dan air mata menggenang, sang muridpun berkata “Ya ALLAH, tunjukilah aku jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”


Kembalikan ke Asalnya
Tidak pernah ada batasan bagi kita untuk menuntut ilmu, bahkan Rasulullahpun menganjurkan kita untuk menuntut ilmu walaupun sampai ke negeri Cina. Sibaklah rahasia alam seluas-luasnya untuk sebuah kebermanfaatan, dan itu hanya bisa dilakukan jika kita memiliki ilmu di dalamnya. Hal ini seperti tercantum dalam Al Quran Surat Ar Rahmaan ayat 33 yang artinya “Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”.
 
Namun satu hal yang tidak boleh terlupa saat kita meliarkan keingintahuan dan mengasah kekritisan pemikiran-pemikiran kita, jadikanlah ALLAH tujuan di atas itu semua. Buat apa kita tahu segalanya, buat apa kita mendapat cap kritis dan cerdas dari manusia, buat apa kita sukses di dunia, jika akhirnya kita hanya mendapat stempel hina dari ALLAH. Padahal, semestinya ilmu yang kita miliki dapat semakin membuat kita dekat pada ALLAH. Betapa bodohnya kita, jika menelantarkan janji ALLAH yang termaktub dalam surat Al Mujaadilah ayat 11 berikut ini: “… ALLAH akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan ALLAH Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Sekarang mari sama-sama kita tanya hati dan marilah sama-sama kita menoleh sejenak ke belakang. Bagaimanakah perilaku berkeilmuan kita? Sudahkah ilmu yang kita miliki menjadikan kita mendekat pada ALLAH atau sebaliknya malah menjauhkan kita pada ALLAH? Jika opsi kedua yang masih bersarang di diri kita, marilah bersama-sama kita putar kemudi dan memperbaharui niat untuk selalu melibatkan ALLAH dalam tujuan awal dan akhir dari setiap aktivitas keilmuan yang kita lakukan. Dan berubah ke arah perbaikan bukanlah hal yang semestinya ditawar-tawar. Ini sejalan dengan yang dikatakan Ahmad Zairofi, “memang, proses menjadi baik itu panjang. Tetapi keputusan untuk memulai menjadi baik hanya memerlukan waktu beberapa saat”.


Wallahu’alam

Kamis, 16 Juli 2009

Dimanakah Letak Kata Semangat Terselip???

“Semangat ya…”
“Loe gak boleh melempem, semangat terus bro”
“Semangat terus tiada henti sis”
“Kamu pasti bisa… semangat”


Kumpulan kata di atas mungkin akan secara reflek keluar dari mulut kita, kala melihat ataupun mulai membaca gelagat kontraproduktif atau kemenurunan rasa dari lawan interaksi kita. Walaupun demikian, bukan berarti kata tersebut menjadi tabu bila didengungkan untuk diri sendiri. Tidak sama sekali. Bahkan semestinya, kata ini sudah harus masuk dalam perbendaharaan khusus dalam perjalanan hidup kita. Perjalanan hidup yang penuh dengan gelombang fenomena. Kadang tenang, kadang pasang, kadang mengakibatkan rob, bahkan sampai timbul tsunami segala. Atau bila ingin dianalogikan dengan grafik bursa saham, maka fenomena hidup kita bisa tiba-tiba melambung naik, stag, atau bahkan tiba-tiba menukik turun. Fluktuatif. Nah, pada posisi turun inilah lebih dibutuhkan doping lebih agar tidak menjadikan diri kita drop, koma, bahkan mati. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, darimanakah sejatinya doping itu kita dapat dan seberapabesarkah porsi yang sesuai untuk menghidupkan kembali diri kita dari mati suri tersebut ???

Sudah disinggung sebelumnya, bahwa semangat termasuk kategori kata murahan. Dalam artian, tanpa perlu memeras otak ataupun analisa mendalam, kata itu sudah mampu muncrat ke permukaan bibir kita dengan sendirinya. Bila begini kejadiannya, tidak salah rasanya bila dikatakan bahwa kata semangat sudah menganut paham coca cola dan paham rexona. “Siapa saja, kapan saja, dan dimana saja” plus “setia setiap saat”. Dengan demikian, apakah hal tersebut bisa menjadikan kata semangat kehilangan taringnya??? Apakah lumrahisasi tersebut bisa memudarkan bahkan menghilangkan energi positifnya sama sekali???

Orang berani membayar mahal hanya untuk sepotong kata semangat. Orang tidak kecut untuk memelototi lembaran tulisan hanya untuk sebongkah kata semangat. Orangpun tidak malu untuk membocorkan kegundahannya, lagi-lagi hanya untuk mendapatkan banjuran kata semangat. Orangpun tidak segan untuk teriak dan mengepalkan tangan ke udara, hanya untuk mengibarkan semangat. Subhanallah… begitu besarkah arti dari kata yang terdiri dari 8 huruf ini ??? Jika sebegitu besar artinya, maka dimanakah semestinya kita menyelipkan kata ini dalam diri kita???

Semua paragraf di atas berujung dengan beberapa penggal pertanyaan tanpa menyimpulkan sebuah jawab. Kalau begitu, kiranya hanya satu kata yang bisa menyelesaikan itu semua. Memberikan paragraf kelanjutannya, itu saja… 


Jangan Mau Jadi Pengemis Semangat
Setiap diri kita telah dipersenjatai dengan alarm dan software antivirus yang khas dari Sang Maha Kuasa. Implikasi dari hal ini adalah (yang masih tercatat sebagai manusia normal) pasti mampu merasakan bila timbul ketidakberesan dalam diri kita. Cuma sayangnya, karena masih tercatat manusia normal tadi itulah, membuat kita sering terjebak untuk selalu menganggap segala ketidakberesan kecil yang terjadi pada diri kita menjadi suatu hal yang wajar. Baru ngeh untuk ulir kemudi, jika sudah ada reaksi dari luar. Lalu, apakah harus demikian??? Haruskah kita menanti uluran tangan orang terlebih dahulu baru berubah??? Haruskah orang menyaksikan diri kita jatuh terlebih dahulu, baru kita bisa bangun??? Jawabannya tidak. Sepotong kata itu harus keluar dari diri kita sendiri, jikapun ada tangan orang lain di sana itupun hanya sekedar untuk membantu membuka celahnya saja. Tidak lebih. Kemudi ada di tangan kita. Dorongan dari luar tidak akan merubah kita, kalau kita malah asyik menonton tingkah polah mereka dalam mendorong kita. Lagipula, tidak malukah kita mengembalikan asetNya dengan banyak lumuran negatif??? Jadi pada intinya, semangat itu mesti lahir dan keluar dari diri kita sendiri. Jikapun perlu campur tangan orang lain di dalamnya, jadikanlah mereka sebagai katalisator yang mempercepat proses reaksinya. Toh, kita bukanlah bom atom yang butuh tangan orang lain untuk menarik pelatuknya baru bisa meledak. Tidak mudah memang untuk mewujudkan ini semua, namun bila meresapi kata-kata dari Ahmad Zairofi berikut ini kita akan menemukan sebuah telaga baru untuk mengindahkan sebuah perubahan “memang proses menjadi baik itu panjang, tetapi keputusan untuk memulai menjadi baik hanya memerlukan waktu beberapa saat.” Selain itu, sayang rasanya kalau kita merelakan diri kita untuk menjadi pengemis semangat…


Tidak Pernah Merugi Bertransaksi dengan Semangat
Semangat berbanding lurus dengan kerapuhan jiwa. Semakin banyak jiwa yang rapuh, semakin tenar saja kata ini untuk dikumandangkan. Walaupun kata semangat yang keluar tidak sama persis, tapi percaya atau tidak, varian yang keluar itupun akan membumbungkan makna yang tidak jauh berbeda. Berubah, titik! Jadi, semangat sampai kapanpun tidak akan pernah kehilangan taringnya dan tidak akan pernah tersurutkan maknanya, walaupun sudah terjadi lumrahisasi di sana. Apalagi dalam pentrasferan kata-katanya, kita tempelkan pula rasa ikhlas, cinta, dan sayang. Hanya orang yang mau merugi sajalah, yang mau menelantarkan partikel semangat. Paling nggak, tidak pernah ada catatan merugi bagi mereka yang bertransaksi dengan semangat. Semangat… semangat… semangat… 


Semangat Bukanlah Putri Tidur
Hidup adalah sebuah perjalanan besar menuju halte hakiki. Halte tempat segala ceceran cerita yang tumpah di perjalanan dimintai pertanggungjawabannya. Halte tempat semua orang menunggu nilai dari gambar yang telah berhasil di coret selama dalam perjalanan. Halte dimana ketika hanya kaki dan tangan yang berbicara. Lalu, apa hubungannya dengan letak semangat??? Semangat adalah bahan bakar yang membuat kita mau terus menderukan diri kita sampai garis hidup kita diputus. Semangatlah yang membantu kita memagari, kala diri ini mulai melemah ataupun berhenti dari aktivitas yang biasa kita lakukan. Semangatlah yang menyirami kita, kala niat ini sudah semakin layu untuk diwujudkan. Semangatlah yang bisa memompa hidran diri, kala kita sudah merasai kegersangan dalam langkah. Dan semua itu adanya di dalam hati. Dalam hati kita sendiri. Namun di atas itu semua, semangat hanya sekedar dan berhenti sampai hanya menjadi putri tidur di hati, bila tidak ada usaha untuk membangunkannya dalam langkah yang terjejak. Intinya semangat butuh realisasi, bukan verbalisasi…

Akhirnya, setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam memanggil dan mempergauli semangat. Tidak ada konsensus yang melegal-formalkannya. Karena apapun cara yang digunakan pasti menghasilkan kata yang sama BERUBAH. Namun, yang ingin disoroti di paragraf akhir ini adalah paling nggak, ada 2 hal yang membuat semangat kita menurun dan membuat kita merasa gersang dalam melakukan sesuatu hal, yaitu: sudah semakin menipisnya interaksi kita sebagai hamba kepadaNya dan semakin jarangnya kita bersosialisasi dengan orang-orang yang berperangai baik.

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” 
(Qs. Al Insyiraah:7-8)



Wallahu’alam



*kala melihat, membaca, dan mendengar begitu banyak kata semangat

Minggu, 08 Maret 2009

Bahasa Sahabat

Inilah bahasa yang paling unik bila dibandingkan dengan bahasa yang lazim bergentayangan di muka bumi ini. Mengapa unik ? karena setiap huruf yang dirangkai untuk seorang sahabat, tak ubahnya bagai sedang membeli slot saham, berspektrum luas, dan pastinya (paling nggak yang saya tahu) sampai saat ini belum ada kamus resminya. 
Bahasa Sahabat = Saham

Sebelum seseorang tertarik atau mengambil langkah untuk membeli sebuah slot saham, pastinya ia telah ngebrowse secara mendalam tentang segala macam variabel yang membangun perusahaan tersebut. Baik variabel positif maupun negatif. Dan tidak hanya berhenti disitu, setelah terjadi proses pembelian, sepak terjang dan reaksi pasar terhadap perusahaan itu pun akan terus dipantau dan hasilnya akan dianalisa. Hasil analisa inilah yang nantinya menentukan apakah konsentrasi dari saham yang ditanam akan dipadatkan, dilonggarkan, atau bahkan dihilangkan.

Sekarang bagaimana dengan bahasa sahabat ???? 

Persahabatan tidak bisa lahir secara ujug-ujug. Ada etape yang harus dilewati dan pastinya tiap etape itu tidak bisa dilewati secara murah. Ada biaya yang harus dibayar dan itu semua cuma bisa terlunasi pembayarannya jika kita "lulus ujian". 

"Cuma mau kenalan aja kok", mungkin kalimat inilah yang terlintas di kepala kita saat menjulurkan tangan atau mengangsurkan nama untuk pertama kalinya pada orang lain. Ya, hanya sekedar ingin berkenalan, tidak lebih. Setelahnya, waktu dan "kepentingan"lah yang terus menyeret kita untuk dapat mengenali orang lebih jauh. Disinilah terjadi proses browsing terhadap seseorang dan instrumen yang biasa digunakan untuk membrowsenya adalah bahasa (yang terkonkritkan melalui obrolan/dialog). Segala variabel yang terikat dengannya ingin dan terus kita gali. Tujuannya tidak lain adalah agar kita bisa memposisikan diri secara lunak dan agar kita bisa membahasakan bahasa yang pas kala bergaul dengannya. Yah... biar nantinya tidak terjadi ambiguitas dan salah tafsir terhadap apa yang kita omongkan dan langkahkan. Intinya untuk meraih sebuah harmonisasi dalam persahabatan, dan berhubung manusia adalah makhluk yang dinamis, maka kita perlu untuk melakukan penggalian dan penganalisaan karakter tiada henti. Agar kita tahu kapan harus banyak bicara, sedikit bicara, dan kapan harus diam. Dan pastinya sahabat yang baik tidak akan pernah mau menjerumuskan sahabatnya. Disinilah analogi pembelian saham terjadi. Saat kita sudah niat untuk menjalin persahabatan dengan orang lain, secara tidak langsung kita sudah menaruh secarik saham kepercayaan dalam diri orang tersebut. Dan sekali saham terpancang, sejatinya kebaikan terus meluncur dalam doa dan langkah kita, karena kita merasa ikut "memiliki"nya. Lagipula tidak maukan kita merugi terhadap hal yang kita sahamkan ???

Jadi bila ingin disimpulkan, sedikitnya ada 4 tahapan yang mesti dilalui untuk menumbuhkan persahabatan ataupun keterikatan hati, yaitu mulai dari taaruf (saling mengenal), tafaahum (saling memahami), takaful (saling memberi dukungan), sampai dengan ta'awun (saling tolong menolong). 



Spektrum Luas

Menurut Halliday, secara makro bahasa mempunyai 3 fungsi, yaitu : 1) fungsi ideasional, untuk membentuk, mempertahankan, dan memperjelas hubungan diantara anggota masyarakat, 2) fungsi interpersonal, untuk menyampaikan informasi diantara anggota masyarakat, dan 3) fungsi tekstual, untuk menyediakan kerangka, pengorganisasian diskursus (wacana) yang relevan dengan situasi.  

Begitulah teorinya, namun dalam menjalin sebuah hubungan (dalam hal ini) persahabatan kita tidak hanya bermain di tataran teori, tetapi lebih pada tataran praktis. Bila melihat dari point teori di atas, interaksi kita dengan sahabat lebih kepada point ke-2, yaitu bahasa sebagai fungsi interpersonal.

Ngobrol adalah hal yang nikmat dilakukan saat kita bertemu dan kongkow-kongkow dengan sahabat. Segala macam obrolan mengalir begitu saja, tidak jelas ujung dan pangkal pembahasannya. Semuanya bagai sebuah gerakan reflek yang keluar begitu saja tanpa menunggu olah dari otak. Namun bila pembicaraan sudah masuk dalam area serius, tidak heran juga bila akhirnya sampai terjadi tarik menarik urat leher dalam rangka mempertahankan argumentasi. Semua pembicaraan menjadi terkesan sistematis, dimulai dari prolog dan berakhir pada kesimpulan (walaupun terkadang kesimpulan yang direpih masih pula mengambang).

Yang membuat bahasa sahabat berspektrum luas adalah karena selalu ada rasa yang coba ditempelkan pada kata-katanya. Sehingga, mau panjang ataupun pendek, kata-kata yang disampaikan menjadi terasa meaningfull di hati (entahlah di kepala).Terkadang kata yang berisi 2 huruf saja sudah bisa membuat hati dan mata kita teriris, sehingga membuat diri ini menjadi perih dan menangis sejadi-jadinya. Sebaliknya, tidak sedikit juga kita mendengar sahabat kita berbicara sampai berparagraf-paragraf, namun kita merasakannya sebagai suatu hal yang "gak makna". Hal tersebut terakhir terjadi, salah satunya karena sudah muncul egoisitas dalam diri kita, sehingga sebaik dan sebenar apapun yang disampaikan, kita akan menganggapnya sebagai angin lalu aja. Bahkan terkadang kita meresponnya dengan kata berikut "loe bisa ngomong gitu karena loe bukan di posisi gue. Loe gak ngerasain apa yang lagi gue rasain" Kalau sudah begitu apa respon kita, apakah kita akan menjawabnya seperti ini : "terserah loe lah..." Sebuah respon yang simpel dan indah sepertinya... hehehe. Tapi tidak menyelesaikan sebuah permasalahan. Mungkin jawaban berikut bisa mengademkan stimulus yang tadi "oke... gue emang bukan di posisi loe dan gue sekarang emang gak ngerasain apa yang lagi loe rasain. Tapi paling nggak ijinin gue buat sedikit ngegeser posisi loe, biar gue pun bisa memandang masalah loe dari posisi yang sama dengan loe..." Subhanallah... ada gak ya orang yang seperti ini ??? 



Tidak Ada Kamus Resminya

Sampai saat ini, belum pernah dengar kamus yang bertajuk "Kamus Besar Bahasa Sahabat". Hal ini terkait dengan point yang disebutkan sebelumnya, bahwa bahasa sahabat itu berspektrum luas. Dan karena teramat luas itulah, rasanya tidak ada bahasa yang bisa digeneralisasikan untuk penyikapan suatu hal. Masalah yang sama, orang yang sama belum tentu diselesaikan dengan menggunakan bahasa yang sama. Ada waktu dan mood yang ikut terlibat di dalam penyampaiannya. Tetapi paling nggak saat berkomunikasi dengan sahabat ada 2 pilihan berwacana yang bisa kita pilih (Sudjiman, 1993), mau secara transaksional (lebih mementingkan "isi" komunikasi) atau secara interaksional (lebih mementingkan hubungan timbal balik antara penyapa (adresser) dan pesapa (adressee). 

Dan menurut Ariel Heryanto, "kalimat hanya dibentuk, hanya akan bermakna, selama ia tunduk pada sejumlah 'aturan' gramatika yang di luar kemauan atau kendali si pembuat kalimat. Aturan-aturan kebahasaan tidak dibentuk secara individual oleh penutur yang bagaimanapun pintarnya. Bahasa selalu menjadi milik bersama di ruang publik"



Inti dari semua pembahasan di atas adalah...

Sahabat akan selalu mempunyai bahasa yang khas dalam menyampaikan dan "mengademkan" sesuatu hal. Dan tidak ada peraturan yang mengisyaratkan bagaimana semestinya tata cara berbahasa dengan sahabat, karena sebenarnya cuma rasa "nyaman dan percaya" sajalah yang menjadi kunci untuk dapat mendilatasi itu semua.

Sumber Bacaan :

Sobur, Alex. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006.


Sumber Foto :
Http://susansudarwin.wordpress.com

Minggu, 11 Januari 2009

Saatnya MengUp Date Mimpi

"Mengagregasi (menyatukan) langkah yang sudah terpencar memang tidak mudah. Apalagi jika kita tidak tahu dimana langkah-langkah itu tercecer. Akhirnya, hanya bisa menatap kosong lintasan kaki dan tangan yang sepi jejak. Mencoba mengacau haluan waktu untuk temukan pusat pusarannya, tetapi yang tercipta hanya kekacauan saja. Terlalu banyak pusaran yang tercipta, tidak mampu mencari stressing dari sebuah pemaknaan"


Demikianlah salah satu sketsa kehidupan manusia. Banyak mimpi dan angan yang tanpa sengaja atau bahkan sangat sengaja ingin kita lambungkan. Kalau saja laci memori yang ada di otak kita bisa ditumpahkan, mungkin isinya terdiri dari ranum angan, sepi usaha, miskin doa, dan ujung-ujungnya hampa realitas. Semua berhenti hanya pada mimpi dan angan. "Jangan takut untuk bermimpi", mungkin kalimat ini yang mendukung seseorang untuk berani mengobral impian-impiannya. Namun perlu diingat, mimpi akan tetap bertahan sebagai mimpi jika kita tidak berani buat bangun dan mendudukkan mimpi itu sebagai sesuatu yang kasat mata. Memang mimpi lebih indah dari kenyataan, tetapi tetap saja itu sebuah impian. Dan yang namanya sebuah impian masih belum jelas perwujudannya. Maka lebih baik dibalik, kenyataan jauh lebih indah daripada mimpi. Walaupun kenyataan yang kita rasakan belum manis, tetapi itu nyata adanya.

Tiap detik selalu saja lahir sebuah mimpi, tiap menit selalu saja ada mimpi yang kita muntahkan, yang akhirnya dalam hitungan jam sudah banyak mimpi yang berserakan. Sehingga tak heran bila akhirnya, kita bermimpi tentang bagaimana caranya menyatukan mimpi-mimpi kecil ini menjadi sebuah pusaran yang menggelegar. Namun sayangnya niat suci itu sering terhadang pengejawantahannya dengan bingungisme yang tiba-tiba muncul di permukaan. Terjadi gagap mendadak saat dihadapkan untuk harus menata puzzle mimpi. Mana yang ingin dijadikan point utama dan mana yang akan berada di buntutnya, dan selanjutnya. Semua menjadi blur, karena kita belum tahu gambaran mimpi hakiki yang harus digenapkan. Semua gambaran mimpi ditarik dan ditancapkan. Hanya sekedar tarik dan tancap untuk menutupi lubang saja akhirnya. Dan gambaran kehakikian tetap tak terlukis...

Di atas adalah penggambaran manusia yang mudah membrojolkan mimpi, namun masih canggung untuk menghidupkannya sebagai sebuah kenyataan. Selayaknya kepingan CD yang mempunyai 2 penampang, ternyata ada manusia yang sudah lupa bagaimana caranya untuk bermimpi. Banyak faktor yang menyebabkan demikian, tetapi biasanya lebih cenderung karena bentuk protes terhadap kondisi pahit yang terus melekat padanya.

Terjadi konstriksi (mengkerut/menciut) terhadap mimpi. Mimpi yang awalnya besar lama kelamaan menjadi ciut, parsial, dan bahkan musnah. Tetapi apakah ini sebaik-baik penyikapan terhadap sebuah kondisi ? bukankah ini malahan memancing rasa tidak percaya bahwa ALLAH ada ? dan bukankah Hasan Al Banna juga pernah berkata : "kenyataan hari ini adalah mimpi kita di hari kemarin dan kenyataan hari esok adalah mimpi kita hari ini" ? Bermimpilah dengan manis dan bertanggung jawab, selagi mimpi masih gratis dan bebas pajak. Karena terkadang mimpi dapat membangkitkan semangat juang, menumbuhkan bunga-bunga optimistis di hati, dan jauh membuat dunia lebih berwarna. Jangan merasa diri susah dan terbebani dengan masalah yang ada, karena pada dasarnya setiap manusia mempunyai masalah, hanya bentuk dan konsentratnya saja yang berbeda. Percayalah bahwa ALLAH telah menciptakan hardware, software, plus brainware yang mantabs pada setiap diri kita. Jadi tidak ada alasan untuk mengkerdilkan mimpi karena sebuah realitas yang hampa rasa. Semua hal pada dasarnya adalah zero point, karena kitalah sesungguhnya yang membawa, menempatkan, serta menancapkan point apapun ke hal tersebut. "Yesterday is  history, tomorrow is mistery, and today is a gift" begitulah salah satu kalimat yang bisa disitir dari film Kungfu Panda.

"Jadikan hari kemarin sebagai trampolin yang bisa melecut kita ke hari esok dan bersyukurlah dengan apapun yang kita dapat di hari ini, karena belum tentu kita bisa merasakannya di hari esok"

Mungkin kalimat itulah yang bisa mendilatasi (melebarkan) langkah kita, bahwa harapan itu selalu ada kalau kita percaya bahwa memang masih ada secercah harapan yang menunggu kita. Mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia (begitu kata nidji), dengan demikian jangan sampai dunia malah menaklukkan mimpi-mimpi kita, apalagi sampai membuat kita bertekuk lutut di hadapannya. Melompatlah lebih tinggi hingga kita bisa mengejar matahari, walaupun untuk itu kita mesti melepuh dan terbakar lebih dahulu. Kalah terhormat, jika kata tersebut ingin diekstimkan.

Jangan takut bermimpi karena mimpi milik semua orang, milik setiap jiwa-jiwa optimis, jiwa-jiwa yang mencoba menebarkan kalimat : "kejarlah akhirat seperti engkau akan mati esok dan kejarlah dunia seperti engkau akan mati seribu tahun lagi"

Mulailah mengup date mimpi-mimpi kita dari sekarang, tentunya disertai dengan mengup date usaha, mengup date doa, mengup date tawakal, dan mengup date sabar. InsyaALLAH semua akan berkembang menjadi baik dan indah....



>> Buat jiwaku : "Saatnya untuk mengup date kembali mimpi-mimpi yang mulai rodal-radil dimakan waktu. Semoga sukses..."

Minggu, 07 Desember 2008

Kontraindikasi Perwujudan Cinta

Meramu cinta mungkin tidak terlalu sulit bila dibandingkan dengan memformulasikan cemburu.

Mengapa ?

Cinta selalu hadir tiap detik, karena hati ini bagai breeder yang mampu membreeding cinta. Makanya, tidaklah heran semakin banyak cinta kita infaqkan, semakin banyak pula cinta yang kita tadah.

Dengan demikian bisa dikatakan, cinta pasti berbalas cinta ? Sejatinya memang demikian. Jika demikian adanya, mengapa kadang benci malah tertuai saat dengan tulus kita menyematkan cinta pada seseorang ?

Itulah uniknya cinta. Benci adalah cinta dalam bentuk yang lain, itu penghalusannya. Bukankah benci bagai tim advance untuk membuka jalan benar-benar cinta ???

Untuk mencintai kita tidak butuh alasan, tidak butuh penyebab, tidak butuh pemicu. Cinta hanya butuh hati dan rasa. Dengan itu saja, indera kita bisa terobrak-abrik hingga membiaskan spektrum rasa.

Dengan cinta, hati bisa menjadi tenang. Dengan cinta langkah bisa menjadi tegap. Dengan cinta, hidup bisa menjadi lebih ceria dan berwarna. Tetapi jangan lupa, cinta juga bisa membuat kita lupa diri, menangis, bahkan ada juga yang mengambil keputusan untuk mati (nau'udzubillah min dzalik)

Bisa mencintai sesama dan orang-orang terdekat adalah suatu anugrah, keindahan, dan salah satu pemasok kenyamanan dalam hidup. Bilakah cinta tercerabut dari diri ? Kira-kira apa yang akan tertinggal ?

Merindu cintaNya, begitu indah didengar, begitu nyaman dirasa, namun mengapa semua itu terkadang tercekat dilangkah ? Apakah formula ABC yang kita miliki sudah karam ?

Kala Affective (perilaku), Behavior (kebiasaan), dan Cognitive (pikiran) sudah tidak bisa bersanding secara ramah. Morat-marit diri, cermin ketidaktahuan dan ketidakberasaan dalam gerak. Hanya pelunasan gerak, tidak lebih, walaupu kadang berlebihan.

Apakah sudah terjadi kontraindikasi perwujudan cinta dalam hati kita ? Kala hati kita lebih mudah memerah secara horizontal daripada vertikal ?

Sudah lupakah kita siapa sejatinya Sang Penerima Cinta kita ? Sudah menipiskah rasa cinta kita padaNya ???

Ya ALLAH... ampuni hambaMu yang masih gagap untuk mencintaiMu di atas mencintai hamba-hambaMu yang lain...

Kamis, 04 Desember 2008

Jadi Go Blog Kenapa Nggak ???

Dalam era globalisasi, informasi sudah seperti kacang goreng. Di setiap sudut keilmuan pasti banyak informasi yang tertebar. Apalagi sekarang sudah banyak bermunculannya citizen journalism dan makin berkembang biaknya blog-blog di internet. Setiap orang secara tidak langsung sudah diseret untuk menspiralisasikan pengetahuannya. Maksudnya, setiap kita tidak lagi bertindak sebagai konsumen dalam memakan informasi, tapi juga sudah berfungsi menjadi produsen yang mengembangbiakkan informasi. Selain itu era literasi saat ini, sedikit banyaknya telah mengubah budaya berkomunikasi. Dari budaya tutur (ucap) bergeser menjadi budaya tulis. Efek nyata dari semua ini adalah informasi menjadi semakin mudah dicari, mudah didapat, mudah diakses, dan mudah dikinikan (baru), walaupun masih tidak begitu mudah untuk merogoh kefinansialannya.

Blog adalah contoh nyata dari adanya spiralisasi pengetahuan dan adanya pergeseran budaya tutur ke budaya tulis. Ngomong-ngomong tentang blog, berikut akan dijabarkan tentang apa itu blog dan tips-tips menulis dalam blog.


Apa sih Blog itu ?

Blog merupakan singkatan dari "web log" adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum. Tulisan-tulisan ini seringkali dimuat dalam urut terbalik (isi terbaru dahulu baru kemudian diikuti isi yang lebih lama), meskipun tidak selamanya demikian. Situs web seperti ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut.


Media blog pertama kali dipopulerkan oleh Blogger.com, yang dimiliki oleh Pyra Lab sebelum akhirnya PyraLab diakuisisi oleh Google.com pada akhir tahun 2002 yang lalu. Semenjak itu, banyak terdapat aplikasi-aplikasi yang bersifat sumber terbuka yang diperuntukkan kepada perkembangan para penulis blog tersebut.

Blog mempunyai fungsi yang sangat beragam, dari sebuah catatan harian, media publikasi dalam sebuah kampanye politik, sampai dengan program-program media dan perusahaan-perusahaan. Sebagian blog dipelihara oleh seorang penulis tunggal, sementara sebagian lainnya oleh beberapa penulis. Banyak juga weblog yang memiliki fasilitas interaksi dengan para pengunjungnya, yang dapat memperkenankan para pengunjungnya untuk meninggalkan komentar atas isi dari tulisan yang dipublikasikan, namun demikian ada juga yang yang sebaliknya atau yang bersifat non-interaktif.


Tips-Tips Menulis Blog yang Baik

  1. Tulis sambil membayangkan para pembaca blog kita. Apa yang akan mereka dapatkan ? karena para pembaca blog akan membaca tulisan kita dan mencari apa sebenarnya isi tulisan kita untuk mereka
  2. Buat tulisan kita berharga dan berarti untuk para pembaca
  3. Periksa kembali tulisan, ejaan, dan tata bahasa tulisan kita
  4. Keep it short and simple, sweetie (KISS) ! Buat tulisan kita pendek dan sederhana, menulis postingan tulisan yang pendek namun sering akan lebih baik
  5. Buat tulisan kita hidup ! Menulislah seperti kita berbicara dengan teman atau diri kita sendiri. Jangan ragu untuk menulis humor atau anekdot yang lucu seolah-olah kita menyampaikan langsung di hadapan mereka 
  6. Sering membuat link. Link akan membangun kredibilitas dan posisi kita sebagai seorang ahli di bidang yang kita inginkan. Membuat link ke blog dan website lain juga membantu kita membangun jaringan dengan yang lain
  7. Gunakan kata kunci lebih sering. Selain akan menguatkan tujuan utama kita dalam menulis, fasilitas pencarian seperti Google akan menyukai blog kita. Rangking blog kita akan naik, karena topik tulisan yang kita bangun jelas dan konsisten
  8. Kristalkan detail-detail cerita kita, daripada hanya menyampaikan fakta yang terjadi. Misalnya kita bercerita mengenai betapa berantakannya kita seminggu ini menjelang pengumpulan tugas di sekolah. Jelaskan mengapa, dan buat orang lain tertarik deng menceritakan detail-detailnya seperti bagaimana detailnya bau kamar kita, bagaimana dan mengapa kita sampai belum mandi selama seminggu dan lain-lain, hehe 
  9. Pasanglah judul atau headline yang jelas dan jangan ragu untuk sesekali menghitamkan tulisan (bold) untuk menegaskan pernyataan dalam tulisan kita
  10. Tulis sesuatu yang baru ! Selain meng-link ke berbagai artikel atau mendiskusikan desain atau berita terbaru, mari tuangkan ide yang baru dalam tulisan di blog kita !


Demikianlah sekelumit tentang blog-blogan. Tertarik dengan tulisan di atas silahkan praktekkan. Tidak tertarik, silahkan simpan (mungkin suatu saat bisa berguna). Setiap kita mempunyai alasan buat ngeblog dan itu sah-sah aja, tetapi paling nggak dengan ngeblog kita sudah memberikan sedikit suvenir kepada orang lain saat kita sudah mangkat dari dunia. Apalagi kalau isi blognya emang bermanfaat banget (bahkan sampai mengisnpirasi orang lain segala)... Subhanallah...


Jadi, GO BLOG... kenapa nggak ???



Diramu dari Sumber :

Hidayatullah, Syarif. "Menulis blog yang lebih baik". ANNIDA, No.3/XVIII November 2008

Wikipedia Indonesia. http://id.wikipedia.org/wiki/Blog, diakses 27 Juli 2008 pada 4.42 pm

Kamis, 20 November 2008

Bangga Bila Bisa Menjahit Emblem Pertemanan ini...

Bertemu dan berpisah adalah sedikit dari sekian banyak fenomena yang tak bisa dihindarkan perwujudannya di dunia ini. Siapa akan bertemu siapa atau siapa akan meninggalkan siapa adalah sebuah misteri. Tidak pernah tahu. Bahkan karena terlalu misterinya, kita tidak bisa menerka pada detik ke berapa kita akan bertemu siapa, seperti apa dia, dan akan berujung cerita seperti apa ? Semua buram sampai detik tersebut kita lewati, hingga membuahkan gambar, kita sudah bertemu siapa saja, seperti apa saja karakternya, dan akan mengukir kisah seperti apa ?

Akankah nantinya mereka yang kita temui akan permanen di hati ataukah hanya sekedar intermezzo saja ? Semua akan tetap buram kejadiannya, bila tidak ada interaksi...

Berbagi kisah adalah medium yang biasa digunakan untuk menghilangkan keburaman itu. Semakin banyak berbagi kisah, semakin intens berinteraksi, semakin sering berolah fikir, biasanya akan semakin banyak printan sketsa jiwa yang kita dapat. Namun, bukan berarti kuantitas yang kita dapat akan berbanding lurus dengan kualitas yang kita dapat. Dalam artian, seringnya kita berinteraksi dengan seseorang tidak menjadikan kita dapat langsung paham tentang seseorang tersebut. Apalagi bila berinteraksinya hanya freelance saja atau dalam situasi yang aman-aman saja. Tidak ada friksi, atau apapun itu bentuknya. Mengapa demikian ??? karena biasanya karakter asli seseorang akan keluar, bila dihadapkan pada situasi dan kondisi "tidak normal". Kalau hal inipun sudah kejadian, bukan berarti pula menjadikan kita bebas menjatuhkan cap kepada orang yang kita ajak bergumul dalam sebuah kendaraan bernama interaksi tadi. Karena masih ada teori lain yang mengiringinya, bahwa manusia bisa berubah...

Perubahan disini bisa ke arah negatif atau sebaliknya, tergantung stimulus apa yang sering digesekkan pada saat interaksi tersebut. Stimulus positif sejatinya akan mendapat respons positif, stimulus negatif akan mendapat respons negatif, atau bahkan persilangan dari kedua pasang stimulus respons lazim ini. Semua tergantung ke pribadi masing-masing dan mau mewujudkan atmosfer interaksi seperti apa.

Stimulus respons inilah yang kemudian bisa mempengaruhi akan dibawa kemana cerita pertemuan kita dengan seseorang. Hanya sekedar kenal, teman, kawan, sahabat, atau bahkan pendamping hidup. Semua tergantung tingkat kepadatan "klik" yang sudah teracc secara tidak langsung oleh sikon dan pihak-pihak yang berinteraksi. Kalaupun akhirnya klik itu tak tergenggam kuat bahkan lepas dari sebuah interaksi, biasanya itu adalah salah satu bentuk penegasan akan sebuah sikap.


Sampai kapanpun manusia tidak akan pernah sempurna. Dengan demikian, kalimat manusia tidaklah sempurna masih bisa dipakai, walaupun hanya untuk sekedar melayangkan apologi. Tetapi, memang itu realitasnya.

Berteman, berkawan, bersahabat, bersaudara adalah sebuah keindahan yang berhasil terbesut dari sebuah interaksi. Banyak detik yang sudah terlewati untuk coba menebali garis pertemuan tersebut. Tidak sedikit kisah yang digali dan diumbar hanya untuk mencoba belajar menerawang, bagaimana kita harus bersikap dengan orang lain. Ribuan sakit, tangis, canda, tawa, suka, dan duka tak terasa sudah melebur jadi satu dalam sebuah obrolan. Jutaan aroma rasa sudah menumpuk dan mampu beradaptasi dengan tumpukan rasa sebelumnya.

Akankah kita mensteril itu semua ? haruskah melakukannya ? mampukah merealisasikannya ?

Apapun itu jawabannya, menyandang gelar sebagai teman, kawan, sahabat, dan bahkan saudara adalah suatu hal yang indah. Sebuah emblem yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Menyandangkan itu semua di hati adalah sebuah kehormatan tertinggi. Karenanya, bangga rasanya saat bisa dan diberi kesempatan untuk dapat menjahit sebuah emblem pertemanan.

Bila demikian kejadiannya, akankah ku akan melepasnya ? dan bisa berbanggakah bila kumelepas itu semua ? Jawabannya : Tidak...

Terakhir, pertemanan, perkawanan, persahabatan, dan persaudaraan, adalah guratan cerita yang begitu indah dalam kehidupan. Jadi, rasanya tidak akan ada secuil niatan untuk melepaskannya. Walaupun emblem pertemanan yang tersemat ini awalnya hanya sekedar  souvenir pertemuan yang berhasil didapatkan dari sebuah ketidaksengajaan kondisi.

Wallahu'alam...


*Maafkan jika ku tak sempurna dan tidak akan pernah sempurna sebagai teman, kawan, sahabat, saudara, atau apapun nama dan cap yang tertempel pada diriku...

Selasa, 11 November 2008

Mahalnya Biaya Gaul

Pernah gak merasa dompet ngos-ngosan untuk suatu hal yang gak teramat penting ? Pernah gak merasa ngeluarin uang cukup banyak cuma buat kumpul-kumpul plus makan-makan yang sedikit juntungannya ? Pernah gak merasa ngeluarin uang lebih [keluar dari biasanya] saat memasuki komunitas baru ? Pernah gak merasa ngempesin dompet cuma buat beli hal yang diinginkan [padahal yang butuh aja belum kebeli ] ?


Jadi pernah apa nggak sih sebenarnya ???


Nah, pertanyaan-pertanyaan di atas saya luncurin buat ngegambarin bahwa biaya gaul itu mahal. Mahal banget malahan. Beda tempat beda harga. Beda komunitas beda tuntutan. Walaupun terkadang benda dan wujudnya sama, tapi karena tuh barang ditaro di tempat yang ber"merk", jadilah tuh harga naik derajatnya.


Contoh nyata biaya gaul mahal...

Saat kita nongkrong di kantin, harga sebotol teh yang gak perlu disebutkan sosronya paling banter cuma 2500 perak, tapi saat kita nongkrong di mall [apalagi mall yang pangsa pasarnya rang kayo] terus beli minuman serupa, kita gak bakal nemuin lagi tuh harga 2500 perakan.

Mie ayam yang di abang-abang cuma 5000 perak di mall bisa sampe 15 ribu perak bahkan lebih, es teler di bang Usep cuma 3000an tapi pas udah diangkain harga berubah menjadi... [lupa berapenya], de el el yang menguatkan bahwa biaya gaul itu mahal.

Apa coba yang membuatnya mahal ? ya tempat gaulnya itu... tapi, anehnya kenapa kita rela-rela aja buat ngeluarinnya ya [walaupun pas dah kebayar mikir juga sih]. Padahal, kalo pas di pasar tradisional lebih mahal 500 perak dari sekitarnya aja dibela-belain narik leher. Orang yang aneh...

Biaya-biaya gaul inilah yang sering membuat pengeluaran kita jauh lebih besar dari pendapatan. Biaya gaul tidak ubahnya bagai penyakit atau virus yang bisa menggerogoti dompet dan tabungan kita tanpa ampun. Dan kalo gak buru-buru sadar buat ngemanejnya, jangan kaget kalo dompet kita stroke mendadak.

Yah... biaya gaul emang mahal... apalagi bergaulnya dengan "komunitas orang ada". Jadi, mikir-mikir dulu deh kalo mau cari tempat gaul. Mendingan gaul ama ustad, ustadzah, atau sejenisnya, dijamin deh.... [silahkan jawab sendiri ]


Makanya waktu tawaf atawa window shopping di Grand Indonesia, dengan suksesnya saya berucap "wuaduh... hari gini emang susah ye kalo gak jadi orang kaya... sepet bawaannya"... hehehe





Kamis, 06 November 2008

Mandul Komunike

Kalau kata nidji mimpi adalah kunci untuk dapat menaklukkan dunia, tapi menurut saya ada satu instrumen lagi yang bisa ngobrak-ngabrik dunia, yaitu komunikasi.

Apa jadinya kalau dunia steril komunikasi ? Yang kebayang sekarang sih pastinya tuh dunia akan miskin informasi.

Gimana mau kaya informasi, lha wong pelaku komunikasinya aja mandul untuk menebar komunike. Aksi tutup mulut, sedekap tangan, dan mengkebiri otak dilakukan untuk mengamputasi daur komunikasi.

Padahal dengan komunikasi, kita dapat membrojolkan mimpi bahkan bisa sampai menganakpinakkannya segala. Dan masih banyak lagi deretan contoh yang bisa menguatkan betapa pentingnya komunikasi.

Ngobrol adalah seiprit dari berbagai bentuk komunikasi yang bejibun. Walau yang melatarbelakangi prosesnya beda, tapi paling nggak ngobrol bisa dijadikan indikator bahwa kita makhluk sosial yang senang bersosialisasi.

Lagipula siapa sih orang yang gak suka ngobrol ? Siapa sih orang yang gak suka berbagi cerita ? Siapa sih loe ??? ;D

Walaupun demikian, bukan berarti tiap orang memiliki gaya yang sama dalam berkomunikasi. Tiap orang mempunyai hak prerogatif untuk menentukan kebijakan dan arah anginnya dalam berkomunikasi. Terjadi klik dengan "TO (target operasi)", itu salah satu ukurannya.

Sama halnya dengan komunikasi dalam pertemanan. Pastinya banyak sudah suara dan sosok yang lalu lalang di hadapan kita, tapi ternyata hanya secuil aja yang suara dan sosoknya bisa mengena di hati dan kepala kita.

Bila sudah menemukan kliknya, tidak heran akan banyak cerita yang secara suka rela terumbar dan terobral. Manfaat dari kejadian ini adalah kita jadi bisa jauh mengenal lawan bicara, yang membuat kita jadi jauh lebih ngeh bagaimana dan dimana kita harus memposisikan diri.

Sekarang bagaimana caranya membredel orang yang bungkam ? Padahal kita dah sedikit menangkap suatu hal yang luar biasa pada dirinya.

Mencoba membuat jalan tikus ke hatinya, mungkin itu salah satu ikhtiar yang bisa dilakukan. Setelahnya, tempelkan baliho di hatinya yang berisi tulisan : bahu kita siap menadah segala resah dan diri kita siap menjadi bantar gebang untuk setiap ceritanya. Bila nggak mempan juga, serahkanlah itu semua pada Maha Pembolak-balik Hati dan biarlah waktu menjawab semuanya.

Berdoalah agar segala gundahnya bisa tersurutkan dan hati serta jiwanya segera ternyamankan.


*tolonglah bicara karena aku tidak bisa membaca pikiran & mengurai makna hanya dengan menatap sorot mata serta sepenggal kata

Rabu, 29 Oktober 2008

PNS : Dicaci namun Dinanti

Pegawai Nan Seksi
Pegawai Nan Sholeh/Sholehah
Pegawai Negeri Swasta
Pegawai Ngarep Sumbangan
Pegawai Niatnya Sedekah
...

Wahh... kayaknya banyak banget ya kalo mau dicari-cari apa sih akronim dari PNS. Namun, yang jelas yang akan digosipin di sini adalah PNS orgi. Yang jika dipanjangkan menjadi Pegawai Negeri Sipil.


Sering telat, mangkir dari tugas, kerjaannya cuma nunggu jam pulang doang, kinerja rendah, dan seabrek label negatif lainnya telah bersarang di tubuh PNS. Paling nggak tidak sedikit orang yang berpendapat demikian. Bahkan sampai ada snapshot segala, untuk meyakinkan kebenaran dari label tersebut. Keren gak tuh... hehehe

Bukannya mau membela korps PNS nih, tapi label negatif yang telah saya sebutkan sebelumnya nggak lucu kayaknya kalo digeneralisasi, kasian dong buat mereka-mereka yang rajin. Abdi negara sejati. Yah... pokoknya semua hal tersebut tergantung personil dan unit kerjanya jugalah.

Sekarang kenapa coba PNS bisa nyantai kerjanya, mungkin ini bisa salah tiga faktor penyebabnya :
  1. Gaji minim
  2. Jumlah pegawai dalam satu unit kerja melimpah, karena dah dikerjain secara patungan jadi cepet selesai deh tuh gawean [kalee]
  3. Banyak gawean pemerintah yang sudah diprivatisasi oleh pihak swasta. Dengan demikian, makin sedikit aja garapan kerja PNS 
Tapi anehnya walau dicaci maki dan didiskriditkan sedemikian rupa, posisi untuk jadi PNS selalu dinanti tuh. Buktinya, pada setiap pembukaan PNS peminatnya selalu membludak, padahal disposisi yang diperlukan hanya hitungan jari saja. Malahan sampai ada yang bela-belain nyogok segala buat ngedapetin tuh posisi [astagfirullahal'adzim -- yang ini jangan diikutin]. Terus, tidak sedikit orang tua yang menginginkan, [kalo tidak mau dibilang] mensyaratkan menantunya harus PNS.

Yang saya omongin itu bukan isapan jempol belaka, karena saya pernah ikut berjibaku di dalamnya [tapi bukan yang nyogok ya]. Lagipula, di media massa juga banyak kok yang mengangkat materi ini dalam muatan beritanya. Dan alhamdulillah saya pernah mempunyai kesempatan untuk dapat ngikutin beberapa tes masuk PNS tersebut [Pemda, Deptrans, dan Depdiknas]. Jadi sedikit banyaknya saya taulah gaya dan lagu-laguannya .

PNS memang masih memiliki daya magnetis sedemikian rupa bagi tidak sedikit orang. Walaupun alasan yang melatarbelakanginya beda-beda. Mulai dari yang beralasan hanya sekedar iseng-iseng berhadiah sampai dengan yang beralasan karena ingin mengabdi pada negara semua ngumpul jadi satu dalam satu area tes. Lumrah dan sah-sah saja, namanya juga ada peluang buat nebelin dompet, kenapa juga nggak dicoba ??? Minimalkan kita jadi tahu model-model soal dari tiap instansi kerja [alasan saya dulu nih disamping karena iseng-iseng berhadiah tadi]... hehehe

Ahhh... jadi inget saat-saat menjadi peserta tes.... capek nunduknya doang, mana gak dapet makan.... hehehe. Dan fenomena itu semakin leluasa saya lihat, saat menjadi salah satu tim pembuat soalnya [kalo yang pernah ikut CPNS Pemda yang lokasinya di Kemayoran terus ngeliat orang yang bolak-balik terus ngomong kayak gini : mohon perhatiannya sebentar... nah, itu bisa jadi bukan saya... hehehe] . Heleuh... mantabs dah ngeliatin reaksi dari wajah-wajah orang yang sedang ngikutin tes.

Pokoknya apapun itu sebutan yang tertancap di diri PNS, jangan sampai mempengaruhi kinerja kita sebelumnya. Die Die... Kite Kite... Personalisasi aja gitu loh... hehehe

Akhirnya selamat berburu... selamat memancing buat semua yang mengikutinya... semoga sukses... pastinya apapun hasil yang kita genggam itulah yang terbaik untuk kita menurut ALLAH....

Selasa, 28 Oktober 2008

Sumpah Pemuda : Tempoe Doeloe Vs Jaman Sekarang

TEMPOE DOELOE :

PERTAMA, Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.

KEDOEA, Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.

KETIGA, Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.


JAMAN SEKARANG :

PRTMA, Kmi ptra n ptri Ina, mngaku brtmph drh yg stu, tnh Ina.

KDWA, Kmi ptra n ptri Ina mngaku brbgsa yg stu, bgsa Ina.

KTIGA, Kmi ptra ptri Ina, mnjunjng bhs prstuan, bhs Ina.


Sumpe loe.... ;D

Selasa, 14 Oktober 2008

Emisi Diri... Perlukah Diisi dari Angka Nol ?

Menjajari waktu memang bukan pekerjaan yang mudah. Karena selalu saja ada alasan yang kita buat untuk mempersilahkan waktu jalan duluan. Bukan karena kebaikan hati kita melakukan demikian, tetapi lebih karena kita memang ogah berrival dengan waktu.

Kemalasan, keputusasaan, dan kelemahan diri lainnyalah yang membuat penggembosan emisi diri terjadi. Hingga langkah kaki kitapun tidak terasa makin lama makin mengkorosi karena semakin minimnya kapasitas pelumas yang dapat melicinkan motivasi. Terpuruk mungkin rangking yang tidak aneh untuk disandang.

Sesungguhnya apa yang membuat hal ini terjadi ??? disorientasi tujuan, dimanja keadaan, ditikam kenestapaan, atau malahan karena minimnya pengakuan sekitar.

Coba kita tapaki keempat hal ini bersama-sama. Apakah memang benar keempat hal ini yang bisa menggemboskan emisi diri ?


Disorientasi Tujuan
Tujuan adalah makhluk imut yang selalu bersarang di setiap diri manusia, entah di kepala, hati, atau sudah dimuntahkan dari mulut. Yang jelas tujuan akan tergelar sesuai dengan rencana yang terkembang [mestinya]. Dan [mungkin] bisa dikatakan rencana yang kita buat sesungguhnya tujuan yang sejatinya ingin kita raih atau harapkan.

Bila seseorang mempunyai tujuan hidup syahid, maka secara tidak langsung dia sudah memikirkan rencana strategis apa sehingga kesyahidan akan diperoleh.

Namun, apakah semudah itu ???

Manusia adalah makhluk dinamis dan makhluk sosial. Dengan kata lain manusia bersosialisasi agar hidupnya lebih berdinamika. Positifnya, kebutuhan aktualisasi kita sebagai manusia jadi semakin terbaca oleh orang lain. Negatifnya, tidak selamanya kita bersosialisasi dengan orang-orang yang sesuai atau mendukung tujuan kita. Niatnya mewarnai jadilah terwarnai. Kelunturan. Akhirnya, disorientasi tujuan tidak bisa terelakkan. Siapa yang salah ???

Tidak ada yang perlu disalahkan, karena hanya akan membuang energi saja. Kenapa tidak memikirkan bagaimana cara membenarkan langkah yang sudah melenceng dari garis. Seperti dalam sebuah ungkapan : "jika ingin menyelesaikan masalah, jangan lihat masalahnya tetapi lihatlah bagaimana mencari jalan keluarnya. Karena sibuk dengan masalah hanya membuat pikiran kita terpenjara dan akhirnya sulit rasanya untuk mencari solusi. Buntu"


Dimanja Keadaan
Banyak orang yang mempunyai tekad baja saat berada dalam keminiman kondisi, namun saat mereka diumbar dengan kemaksimalan, mereka langsung bereuforia menikmati kesenggangan. Tidak heran dan wajar. Siapa sih orang yang tidak suka menikmati kenyamanan ???

Namun menjadi suatu hal yang kebablasan jika rasa itu terus ditimang-timang dibuaian. Dimanja keadaan. Segala hal menjadi mudah didapat, diraih, dan dipegang. Tanpa bersusah-susah sudah terwujud dengan indah. Jika hal ini tidak dinikmati sesuai porsinya, tidak heran bila nantinya akan terjadi degradasi semangat, motivasi, dan rencana dalam "bertarung".

Anak mami kehidupan bukan hanya timbul dari kaum kebanyakan, tapi juga bisa timbul dari kaum kekurangan yang sedang mendapatkan sedikit AC berhawakan kebanyakan. Na'udzubillah min dzalik...


Ditikam Kenestapaan
Manusia lahir dalam keadaan menangis, lalu mengapa setelah kita terwujud menjadi manusia dewasa kita ingin menjauhi diri dari yang namanya "menangis" ??? Apakah menangis itu haram, agar kita bisa terbilang menjadi makhluk yang tegar ???

Air mata adalah bentuk reflek dari kelemahan diri kita sebagai manusia. Kala diri sudah tidak mampu memberikan respons yang tepat dalam menjawab sebuah stimulus yang datang. Air mata bukan inhibitor. Dia tidak akan menutup mata kita dalam meneropong panjangnya dunia. Justru dengan adanya air mata, kita tahu bahwa kita adalah makhluk lemah yang masih butuh rangkulan orang lain untuk bisa terus berjalan dan masih butuh wiper bernafas untuk bisa memunculkan pelangi setelah air mata turun.

Jangan pernah merasa jadi orang susah sendirian. Jangan pernah merasa bahwa kitalah yang paling banyak ditikam kenestapaan. Karena pada dasarnya problem hadir disetiap diri manusia, hanya bentuk dan konsentratnya saja yang berbeda. Jangan terlalu mengasihani diri sendiri, karena hal ini bisa memandulkan mimpi-mimpi liar kita.Toh, tidak ada suatu hal yang mustahil terwujud, jika kita masih mau berusaha dan berdo'a.


Minimnya Pengakuan Sekitar
Aktualisasi merupakan harga mati yang harus dibayar mahal oleh manusia dewasa. Jungkir balik hingga babak belur dilakoni, hingga aktualisasi diri terwujud secara sempurna. Biasanya, semakin diakui, seseorang semakin memompa dirinya untuk menjadi lebih baik lagi. Lalu apa jadinya bila hal yang sudah diusahakan mati-matian tidak mendapat pengakuan sama sekali dari sekitar ???? Menurunnya produktivitas sampai stres bisa saja terjadi. Tapi perlukah ???

Terminal yang sama belum tentu diisi oleh orang-orang yang akan pergi ke tempat yang sama. Sama halnya saat kita beraktivitas. Sama aktivitasnya, belum tentu sama tujuannya. Ada yang hanya karena memohon ridho dariNya, ada yang karena ingin menafkahi keluarganya, atau hanya sekedar untuk aktualisasi saja. Semua tujuan boleh dan sah-sah saja terkembang tapi tetap saja : "aktualisasi diri bukan tujuan, tapi aktualisasi diri adalah katalisator untuk mempercepat reaksi kebermaknaan kita sebagai makhlukNya".


Sekarang mari sama-sama kita buka tangki emisi diri kita. Masihkah terisi dengan iman, syukur, sabar, dan ikhlas ? Masihkah mengeluarkan bau yang khas ? Masihkah penuh, setengah, atau sudah kopong ? Kapankah kita harus mulai mengisinya ? Perlukah kita mengisinya dari angka nol ?

Apapun itu ceritanya, yang jelas jangan sampai diri mogok karena habisnya emisi diri di tengah perjalanan. Karena banyak tempat dan celah untuk mengisi emisi diri, jika memang mau bersungguh-sungguh mencarinya.


Wallahu'alam....



*nasehat untuk diri sendiri

Kamis, 25 September 2008

Bosan ultah : antiklimaks sebuah ritual

Apa yang diharapkan dari sebuah kemunculan tanggal dan bulan lahir yang terus berulang ?

Kado... ucapan selamat... hanya itukah ? sedangkal itukah ? terlalu murahkah ?

Kalau cuma itu pengharapannya, bolehkah eksistensi kemanusiaan kita diragukan kala pada hari H nihil akan komponen-komponen tersebut ???

Mestikah kita menangis, manyun, mengumpat, ngedumel, atau hal lain sejenisnya bila 2 komponen yang telah disebutkan di atas tidak kita terima ?

Haruskah mood kita anjlok ke taraf bete kala keluarga, sahabat, ataupun teman dekat belum berkesempatan memberi ucapan selamat pada hari H ?

Sudah sebandingkah pengharapan itu dengan sejarah hingga kita terlahir ke dunia ?

Tidakkah akan timbul bosan dan antiklimaks bila 2 komponen itu saja yang dijadikan maskot sekaligus titik kulminasi pengakuan bahwa kita pernah lahir ?

Sebuah ritual klasik...

Bukankah yang lebih berhak atas kado dan ucapan selamat itu adalah orang yang telah melahirkan kita ? Dan pastinya Dia yang menciptakan kita...

Karena ridhoNya dan cinta kasih, perjuangan, tenaga, serta keringat orang tualah (terutama ibu) sehingga kita bisa mendapat tiket untuk bermain di dunia.

Teman... sahabat... saya mencoret ini bukan berarti saya mengharamkan kalian untuk melakukan 2 komponen tersebut. Tidak sama sekali.

Melalui coretan ini saya hanya sekedar dan coba mereminder bahwa ada seseorang yang juga (bahkan lebih) berhak atas kado dan ucapan selamat di tanggal dan bulan lahir kita, yaitu : ibu dan ayah...

"Keb... Beh... Selamat ya karena berkat cinta kasih, perjuangan, serta tenaga yang telah kalian gelontorkan, akhirnya ku mempunyai kesempatan untuk dapat mengerlingkan mata pada indahnya dunia...

Ya ALLAH... terima kasih karena telah Kau izinkan aku berada di bumi sampai detik ini. Berkahilah usiaku dan ridhoilah langkah2 kecilku untuk memberikan yang terbaik untuk orang2 yang aku sayangi.

Jadikanlah aku hambaMu yang selalu pandai bersyukur... "

Amiin...


*25 September 1979 -- 25 September 2008


Selasa, 12 Agustus 2008

Mengkerangkengi Hati

"Hati-hati sama hati ye"
"tenang... hati aye dah dikerangkengin sampe tiba saatnya"

Itulah sedikit dialog singkat yang masih saya ingat, sesaat sebelum kami mengakhiri dialog yang bisa dikatakan cukup panjang itu. Sebuah kata yang sederhana dan mengena, tapi sangat sulit dalam aplikasinya. Butuh "energi" lebih untuk bisa mewujudkannya.

Gak banyak yang ingin saya coret disini, ya... hanya sekedar ingin melampiaskan gerombolan kata yang rusuh minta keluar.  Karena tiba-tiba saja sesaat sebelum saya akhiri perjuangan di komputer ini, entah mengapa saya terngiang kembali akan kata-kata itu. Nah, daripada resah dan gelisah mendingan dituangin aja dulu [yah... walaupun hasilnya masih prematur... belum ada studi untuk menggenapkannya]. Minimal pagi ini saya bisa rest in peace dengan tanpa dicasperi jutaan kata yang sedang melakukan pemberontakan ... mudah-mudahan diwaktu-waktu selanjutnya, akan ada ceceran ide-ide untuk dapat melanjutkannya.


*posting sebelum rebah... terima kasih buat kata-katanya yang sederhana, namun dalam dan mengena [maaf belum ijin untuk mencuplik perkataannya... abis saya yakin banget bakal diizinin sih... hehehe... makasih]

Kamis, 31 Juli 2008

Letak Kekuatan Lelaki dan Perempuan

Proses.... merupakan kata sakral yang sering disebut-sebut dalam setiap momen. Rasanya tidak ada satu sisi kehidupanpun yang terlepas dari cengkraman kata "proses". Mulai dari menatap dunia sampai dengan menutup dunia pasti ada proses yang membackdropi semua cerita.

Kalau selama ini ada istilah ujian adalah garamnya kehidupan, nah proses bisa dianalogikan sebagai kokinya. Lho kok kenapa koki ?? yups, karena kokilah yang mempunyai peranan penting dalam mengeksekusi semua hal. Enak atau tidaknya suatu makanan tergantung kejelian, keahlian, ketangkasan, kekreatifan, dan kecerdasan koki dalam memformulasikan bumbu dengan bahan-bahan lainnya. Jadi bisa dikatakan, sebagus apapun input bila tidak diproses secara optimal akan menghasilkan suatu hal yang sama saja [bila tidak mau dikatakan tidak ada spesial-spesialnya sama sekali]. Dan sebaliknya, input yang biasa-biasa saja, namun sang koki mampu mentreatmentnya dengan benar dan sesuai akan menghasilkan output yang spesial juga.

Ilustrasi di atas dihadirkan tidak lain adalah untuk mengibarkan kalimat berikut : "Seinstan...instannya instan, tetap saja melewati fase proses". Contoh nyata dari kalimat ini adalah bayangkan kamu akan membuat secangkir kopi instan. Walaupun tuh kopi bertemakan instan, tetapi tetap saja untuk terwujud menjadi segelas kopi yang nikmat, [minimal] kita perlu menyediakan air panas dan gelas. Terus ngaduknya gimana ??? pakai jari tangan juga cukup... hehehe


Menikah Perlu Proses
Menikah... sebuah kata yang paling enak untuk dibicarin. Bener... [secara dah mupeng gitu loh... ]. Menikah adalah sebuah titik kulminasi bagi seorang hamba dalam rangka mengekspansi wilayah jajahan ibadahnya. Kompensasi setelahnya adalah akan menambah tanggung jawab yang dipikul. Mulai dari tanggung jawab menyayangi sampai dengan menafkahi. Nah, point terakhir inilah yang membuat seseorang mengulur waktu keberlangsungannya. Mulai dari finansial yang belum cukup sampai dengan banyak target yang belum terlunasi dijadikan alasan buat mengesahkannya. Padahal, kalau mau diobrolin semuanya juga akan baik-baik saja. Yang penting ada itikad baik serta kesungguhan untuk memulai prosesnya. Jadi deh... hehehe

Tetapi wajar saja sih ada pikiran dan kekhawatiran tentang : apakah si dia mampu menjadi imam yang baik atau apakah si dia mampu menjadi makmum yang baik ? Mampukah saya menafkahi keluarga saya kelak atau mampukah saya mengatur "kas negara" dan mencari sumber dana tambahan untuk kelangsungan keluarga saya ? Sederajatkah saya dengan dia atau maukah dia dengan saya yang memiliki derajat dibawahnya ? Sudikah kiranya keluarganya akan menerima keberadaan saya ? Maukah dia menerima saya sebagai pasangan ? kriteria apa yang membuat dia menerima saya ? terakhir siapa saya hingga bisa berdampingan dengan dia ?

Hal-hal tersebutlah yang sering berkecamuk di kepala orang-orang yang sudah kepikiran untuk melangkah ke dunia pernikahan. Yang akhirnya banyak alasan untuk menolak setiap orang yang datang. Disinilah letak kekuatan lelaki dan perempuan bermain, agar prosesi ke jenjang pernikahan termuluskan jalannya dan tidak menjadi kecut karenanya.

Kekuatan seorang lelaki adalah pada saat dia mampu memutuskan siapakah yang akan menjadi pendamping hidupnya. Dan letak kekuatan seorang perempuan adalah pada saat dia meng"i do"kan keputusan sang lelaki yang jatuh padanya.

Bagi seorang lelaki, berani menikahi perempuan adalah titik kulminasi seorang dikatakan pria sejati. Finansial dan kedudukan sang perempuan tidak menjadikan langkah pemberat seorang lelaki untuk menikahinya. Justru lelaki sejati adalah yang berani menerima tantangan itu dengan berpegang pada prinsip [selain Quran dan Hadis ya] : "Tetap berpenghasilan daripada berpenghasilan tetap". Dan sejatinya, titik kulminasi seorang perempuan adalah menerimanya dengan keikhlasan dan kesungguhan hati bahwa dialah seorang terbaik yang telah ALLAH pilihkan untuk menjadi imamnya.




*hasil obrolan selama proses perjalanan melihat kebakaran. semoga gak bingung lagi ya...

Minggu, 27 Juli 2008

Benarkah "Keperkasaan" Perempuan Melemah setelah Menikah ???

Iya... itu jawabannya saya. Mengapa saya berpendapat demikian ???

Tidak sedikit perempuan yang sebelum menikah adalah anak gunung atau walaupun bukan anak gunung, tapi mempunyai kebiasaan yang mirip dengan anak gunung. Seperti, biasa pergi ke tempat yang jauh letaknya sendiri [kadang-kadang karena suatu urusan sampai malam pula], ngegotong barang-barang berat sendiri, bahkan biasa mengambil keputusan sendiri.

Tapi, ternyata setelah nikah kebiasaan tersebut bisa melorot drastis, sehingga menjadi seperti berikut :

Minta diantar walau jaraknya dekat [padahal acara tersebut gak harus ada peran suami didalamnya], minta tolong dibantuin bawa-bawa, dan menjadi ketergantungan dalam mengambil keputusan untuk hal sepele sekalipun [misalnya mau ganti neon aja nunggu suami pulang, karena dari tadi nelpon nggak diangkat-angkat katanya].

Bila semua itu tidak diturutin kejadiannya akan menimbulkan kemanyunan dan kegondogan pada diri istri. Dengan berbagai alasan yang bisa mengesahkannya, salah satunya adalah menurutnya suaminya tidak perhatian [padahal suaminya sedang mengerjakan hal yang lebih penting dari itu].

Yang paling bahaya adalah masalah pengambilan keputusan, jika istri selalu tergantung sekali pada suami. Padahal suamikan gak selalu berada disisi kita, nah kalau harus butuh segera diputuskan gimana ??? Kalau ini terus dibudidayakan, khawatir jika usia suami lebih sedikit daripada kita apa yang akan terjadi. Yang ada langsung down dan bingung mau ngapain lagi, karena sang pengambil keputusan sudah tiada [dan ini banyak sekali contohnya].

Tapi, kalau mau dilihat dari segi positifnya adalah mungkin hal tersebut merupakan salah satu sarana istri untuk bisa bermanja-manja dengan suaminya. Yah... selain dalam rangka memanfaatkan lebar lapangan gitu loh alias memanfaatkan fasilitas yang ada daripada dianggurin. Lagian pastinya sang suami juga seneng-seneng aja buat direpotin [malah bisa-bisa nagih buat direpotin]...



*coretan ini dibuat dengan sudut pandang penceritaan sok tau... hehehe

Jumat, 25 Juli 2008

Kita Selayaknya Rumah

I'm OK you're OK
I'm OK you're not OK
I'm not OK you're OK
I'm not OK you're not OK


Pernah baca, denger, atau ngedalemin tuh teori ???? Kalau belum pernah sama sekali, berarti saya harus ngeluarin energi ekstra nih buat mengiklankan itu teori
. Teori di atas dikenal dengan Teori Johari Window. Menurut teori ini selain ada bagian-bagian dalam diri kita (disebut jendela) yang terbuka (orang lain tahu dan kita tahu) dan tertutup (orang lain tidak tahu tapi kita tahu), ada pula daerah yang gelap (orang lain tidak tahu dan kita pun tidak tahu), serta daerah buta (orang lain tahu tapi kita tidak tahu).

Mengapa saya angkat masalah ini ??? karena... eh, karena... berjudi itu haram... hehehe... bukan deng maksudnya karena teori itu pas banget sama kondisi sekarang. Saat satu persatu [tanpa disadari] individu masuk ke dalam zona sharing. Dimana setiap individu ingin membagi segala hal yang masih ngumpet dikepala dan hatinya.

Menurut hasil pengamatan saya [yang tidak mendalam], fenomena ini lahir salah satunya adalah karena kita telah memasuki dunia informasi. Dunia yang tiap detiknya berhasil melahirkan "bayi-bayi informasi". Dengan semakin banyak informasi yang beredar, maka [kemungkinan besar] semakin banyak pula informasi yang dibaca dan terserap. Ujung-ujungnya semakin banyak saja informasi yang bersarang dan membludak di kepala, yang akhirnya mereka semua semakin butuh dan  menuntut tempat untuk pelampiasan. Selain itu, mungkin juga karena semakin banyak individu yang ingin mengamalkan hadis "balighu anni walaw aayah (sampaikanlah walaupun hanya satu ayat)"


Rasanya tangan menjadi gatal, otak jadi gemetar, dan badan jadi panas dingin bila sehari saja tidak bersentuhan ataupun [dalam tataran spesifik] tidak sharing informasi kepada orang lain. Positif dari semua ini adalah secara tidak langsung kita sudah melaksanakan spiralisasi pengetahuan. Tidak hanya sebagai pelaku pasif informasi, tetapi juga mampu sebagai pelaku aktif informasi. Namun demikian, tidak semua hal atau informasi layak untuk disounding [apalagi episentrum dari informasi yang disounding itu adalah diri kita sendiri]. Hukum privacy masih berlaku lho... Selain itu juga, mengingat bahwa kita makhluk berdimensi, maka tidak heran bila nantinya informasi yang kita lempar menghasilkan sensasi yang bergradasi pada setiap orang. Ada yang suka, ada yang suka banget, malahan ada yang sampai addict terhadap segala informasi yang kita lempar... [nah lho... kok contoh respon yang dimunculkan positif semua ya ??? ]

Bila boleh dianalogikan, kita layaknya sebuah rumah. Rumah adalah perwujudan dari diri kita secara keseluruhan dengan segala anatominya. Jendela bagai telinga, Pintu bagai mulut, dan perabotan yang ada didalamnya adalah segala informasi yang kita ketahui [baik yang berkenaan dengan diri sendiri ataupun orang lain]. Yang mendesain interiornya adalah "kepala" dan hati.


Rumah bagai Perwujudan Diri
Setiap individu mempunyai struktur, kontur, dan gaya yang berbeda. Ada yang tinggi, pendek, gemuk, langsing, mulus, bertekstur, cakep, ganteng, manis, imut, lucu, ngeselin, songong, sampai yang caur bais . Semua hadir beriringan dengan kelebihan dan keterbatasannya masing-masing. Karena semua itu relatif, tergantung dengan dan kepada siapa karakteristik itu dibandingkan. Yah.... kecakepan, kegantengan, kemanisan, keimutan emang relatif, tapi yang jelas jelek itu teteup mutlak jatuhnya... hihihi [bercanda ye...]. Tenang aja ada kata-kata penenang untuk kategori mutlak ini kok... "Justru kekurangan yang ada pada dirilah yang membuat kita bisa dikatakan sebagai manusia" [dicuplik dari kata-kata dalam film "Bicentennial Man"nya Robbie Williams]. Lagipula yang membedakan kita dihadapanNya juga bukan penampilan fisik sih, tetapi lebih pada kadar keimanan yang kita miliki.

Namun begitu, bukan berarti kita dilegalkan untuk tidak memperhatikan penampilan lho. Jangan lupa ama teori ini : 3 x 3 = 9... "Tega gak Tega, yang Penting Penampilan" [halah... teori siapa sih nih... caur begini ]


Jendela Bagai Telinga
Jendela adalah salah satu benda yang biasa nempel di rumah, yang fungsinya agar rumah yang kita tempati tidak pengap dan gelap. Karena dengan adanya jendela, udara dan cahaya jadi bisa masuk kedalamnya. Kira-kira apa yang terjadi ya, jika suatu rumah tidak memiliki jendela ??? Bingung, lihat aja dari fungsi kenapa jendela harus ada.

Sekarang bayangkan, jika tubuh kita tidak memiliki telinga atau jika punya kita tidak memfungsikannya secara optimal ?? Yang jelas secara perlahan tapi pasti, kita akan ter
bai'at menjadi penganut paham bolotisme. Salah satu ciri khas penganut paham ini adalah apapun pertanyaan yang mendarat akan direspons dengan "hah, apaan, maaf gak tau, yang mana sih ?, emang kenapa ? emang harusnya gimana ? pardon me... [kata yang terakhir dicantumin biar bolotnya agak kelihatan gaya dikit gitu loh... ].

Bisa kejadian kayak gitu, karena telinga adalah salah satu instrumen tubuh yang bisa digunakan buat main detektif-detektifan. Maksudnya telinga berfungsi untuk mendetect segala gelombang suara yang berbau-bau informasi. Mulai dari berita burung sampai berita gajah bisa nemplok di telinga kita. Semakin lebar kita membuka telinga, maka semakin banyak informasi yang bisa masuk. Tapi jangan lupa anti virus, anti malware, anti spyware yang dah terpasang alami di diri harus kudu di sering di up date, biar hal-hal buruk yang ada di luar tidak mempunyai peluang buat ngobrak-abrik hard dan software diri. Lagipula "Gak semua yang Loe Denger itu Bener kan ???" [meminjam tagline sebuah iklan permen].


Pintu bagai Mulut
Pintu merupakan gerbang sirkulasi individu. Selain itu pintu adalah salah satu sarana yang bisa dimanfaatkan diri buat mengshow-offkan isi rumah. Dengan kata lain, semakin sering dan lebar membuka pintu, maka semakin besar pula orang lain untuk mengetahui isi rumah kita secara jelas.

Mulut tak ubahnya sebuah gapura agar seseorang dapat melihat sekaligus mengetahui isi hati kita. Semakin banyak ngobrol, semakin banyak kita tahu sisi pribadi orang lain. Semakin mengetahui sisi pribadi orang lain, maka semakin kita mengenal pribadi orang lain. Semakin mengenal akan semakin kita memahami kondisi orang lain, yang akhir dari itu semua adalah munculnya keterikatan hati diantara sesama .

Kadar setiap orang untuk mengexpose sisi pribadinya adalah berbeda-beda, tergantung paham yang dianut orang tersebut [itu juga kalau paham, kalau gak paham ya gak tau juga deh... hihi...] Tapi maksud sebenarnya bukan begitu kok, seberapa terbukanya seseorang kepada orang lain terkait dengan budaya yang dianut dan pengalaman yang telah ia jalani.

Setiap kita mempunyai sisi privacy yang berbeda, yang [pastinya] dengan sekuat tenaga akan kita terus kerangkeng. Paling nggak kerangkeng privacy itu akan kita buka hanya untuk orang-orang yang berhak saja. Karena kalau semuanya dibuka, berarti yang kita punya tinggal rahasia umum aja dong [sebab rahasia pribadinya sudah tergusur semua]. Bila semuanya dibuka [menurut saya], kita menjadi tidak mempunyai hal yang spesial dan unik dalam diri... yah, jadi kayak tamu di rumah sendiri gitu lho. Karena dengan pintu yang tidak pernah tertutup, membuat orang bisa dengan seenaknya bebas masuk, mengacak-ngacak, sekaligus memberi noktah pada "rumah" kita. Kalau sudah begini bisa hancur dong dunia persilatan dan perwayangan...


Pendesain Interior adalah "kepala" dan "hati"
Setiap rumah pasti memiliki konsep, walaupun konsep yang dipilih adalah tidak menggunakan konsep . Tetapi paling nggak, tuh tuan rumah dah kepikiran mau diapain nih rumah biar aksesoris atau perabot yang ada didalamnya bisa enak dipandang. Jadi, nggak heran kalau orang-orang ada paling sibuk buat menanganinya [sampai pakai jasa desainer interior segala], karena katanya sih desain interior rumah itu mencerminkan pemiliknya.

Tapi bagi mereka yang masuk ke dalam golongan orang-orang nggak [lawannya orang ada] langsung mendaulat dirinya sebagai desainer interior. Dengan desain andalannya simple dan minimalis, maksudnya simple dan minimalis dari segi keuangannya... hehehe. Apapun itu desainnya, yang jelas setiap tuan rumah selalu pengen rumahnya rapi, merasa nyaman, dan betah saat kembali dari aktivitas di luar rumah.

Nah, bila dianalogikan ke dalam diri, maka sesungguhnya "kepala" dan "hati"lah yang menata segala cerita yang masuk ke dalam diri kita selama ini. Bagaimana agar cerita yang masuk memiliki nilai, bagaimana membuat cerita bisa terpasang manis, dan bagaimana menempatkan recycle bin yang pas tanpa merusak pemandangan aksesori yang lain. Semua itu akan benar-benar tertata rapi sesuai dengan SOP dari Sang Maha Kuasa, apabila kita menggunakan iman sebagai otak intelektual atau desainernya.

Imanlah yang membuat kita tidak pecicilan dalam meletakkan lukisan indah di hati. Iman pulalah yang membuat kita tidak mengutuk dan meratap, saat harus memunguti porselen yang pecah. Iman memang bisa turun naik, namun bukan berarti hal ini bisa dijadikan apologi saat kita melakukan pengacak-acakan terhadap segala perabot yang ada di diri kita. Sekali aja kita melakukan pengacakan [apalagi besar], maka akan butuh tenaga lebih buat menjadikannya seperti sedia kala.... semisalnya pun sampai akhir kita tidak mau memberesinya, maka tenang saja di akherat nanti pasti sudah ada yang akan  "ngeberesin" kita kok...


Apapun opsi yang kita pilih pasti memiliki konsekuensinya. Jika kita adalah rumah, jadilah rumah yang membuat orang lain merasa nyaman. Bisa menjadi tempat berteduh, kala hujan air mata mulai menggenang. Bisa menjadi tempat relaksasi untuk mengendurkan segala penat, dan bisa menjadi tempat rekreasi untuk merayakan segala harap yang sudah tergarap.

Baiti Jannati... Rumahku Surgaku...
Walau hadir dengan kesederhanaan dunia, tapi bisa mengantarkan pada kemewahan akhirat...

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Diakhiri dengan theme song Rumah Kita karya Ian Antono [dipopulerkan GODBLESS]

"Hanya bilik bambu tempat tinggal kita
tanpa hiasan tanpa lukisan
beratap jerami beralaskan tanah
Namun semua ini milik kita sendiri

Hanya alang-alang pagar rumah kita
tanpa anyelir tanpa melati
hanya bunga bakung tumbuh di halaman
Namun semua ini punya kita
memang semua itu milik kita

Haruskah kita beranjak ke kota
yang penuh dengan tanya