.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}

Senin, 11 Juli 2016

Bukan Sekedar Skripsi

Bikin skripsi itu gak ubahnya kayak orang lagi belajar masak. Dimulai dengan bengong karena gak tau sama sekali, bahkan hanya untuk sekedar nyebutin nama bahannya. Kadang bingung karena tahu nama, tapi gak paham cara masaknya. Kadang malah cengengesan sambil garuk2 kepala gak jelas karena terlalu banyak tahu nama dan bahan, tapi masih bimbang mau mulainya dari mana. Tapi toh itu gak kita jadikan alasan buat tuk langsung surut, mengkerut, bahkan langsung mengurut tombol hape buat minta orang lain yang kerjain. Karena kita tahu; sebagus dan seenak apapun buatan orang lain masih jauh lebih keren, nikmat, dan jauh bikin ketagihan makanan yang kita buat sendiri hehehe

Nyatanya, ada 3 hal yang buat kita bertahan tuk mau terus mulai memasak dan bertahan dalam gerahnya suasana dapur; yaitu: niat, tahu cara, dan tahu rasa.

Setiap kita pasti punya niatan yang beda dalam mengarungi bahtera perskripsian ini. Ada yang cuma ngisi waktu luang sambil nunggu wisuda, ada yang ingin tunaikan "dendam" pribadi untuk bisa menaklukkan monster bagi  mahasiswa tingkat akhir hingga menjadi casper; atau sebagai bentuk tunai janji bakti kepada ortu. Apapun itu, ujungnya kita kan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkan.

Ada yang bilang, bikin skripsi dah kayak memasuki perjalanan panjang dalam hutan lebat, gelap, pekat, dan sendirian. Apa yang bisa kita lakukan dengan suasana kayak gitu? Meraba pastinya. Kita hanya tahu cara masuk dan tahu bahwa di ujung sana ada pintu keluarnya. Tapi, kita gak pernah tahu pasti ada rintangan apa di dalamnya. Akan bertubrukan dengan siapa, akan kesandung apa, dan bagaimana akan terantuk. Bagai memasuki labirin. Sampai kadang pusing dan pening sendiri karena sudah merasa jauh berjalan, tapi nyatanya hanya berputar2 di tempat yang sama. Kalau sudah gini, kadang hati dan mata kita menyanyikan lagu yang sama. Lagu kepedihan, keperihan, kesedihan. Ingin marah buat apa. Ingin kesal tapi kepada siapa. Akhirnya cuma air matalah yang bisa membahasakan semua cerita.... 😊

Bahan boleh sama, tapi rasa tak pernah persis serupa. Pasti ada personalisasi di sana. Dengan kata lain, variabel boleh sama, masalah boleh sederhana, tapi rasa yang kita suntikkan didalamnnya lah yang membuatnya terlihat begitu sempurna dan membahana. Karenanya, jangan pernah kecut dengan kesederhanaan ide. Sebab, kitalah yang membuatnya berbeda. Variabel besar, ide kompleks, tapi kita salah meletakkan rasa, malah bumerang yang menimpa. Ya rasa...  rasa ada saat kita berproses mengolahnya. Rasa kesungguhan, rasa kejujuran, rasa pantang menyerah, rasa optimis, sampai dengan rasain aja segala rasa yang terasa hingga nantinya kita tersenyum bangga di ujung cerita. Dimana saat kita mampu menyuguhkan hidangan termanis dengan senyum termanis ke hadapan para "masterchef" sambil berucap " this is it.... bon appetit" 😊

Dan gak terasa tinggal hitungan hari kita kan suguhkan masakan buatan kita itu. Sekarang tinggal; hiaslah semenarik yang dibisa, kemaslah seunyu yang dimampu, dan berdoalah sekuat yang didapat. Rapikan segala peralatan karena waktu usaha telah hampir usai. Tinggal pertebal tawakkal. Manfaatkan detik2 terakhir tuk buktikan kita mampu dan bisa.

Sebab, proses adalah satu hal yang harus diseriusi, meski hasil merupakan hal lain yang mesti ditawakkali. Simpelnya, sama aja dengan yang pdkt-in mulu siapa, eh gataunya nikahnya ama siapa. Hehehe.... ya  semuanya sudah selesai di langit kawan. Kontra diantaranya adalah ruang baru untuk belajar...

Akhirnya, selamat mengemasi dan menghiasi apa yang telah dibuat. Dan selamat menyajikan makanan ternikmat dan termantabs yang telah berhasil di buat. Tengoklah sedikit ke belakang, betapa hebatnya kalian telah mampu lampaui segala aral untuk sampai titik ini. Tersenyumlah sebagai hadiah atas segala lelah yang telah tercurah.... bismillah.... 😊

#skripsyik #GoesToSeptemberCeria2016

UK, 110716

lussysf

Jumat, 10 Juni 2016

Diantara terbukti dan tidak terbukti

Apa yang membuat hidup itu indah dan tidak membosankan? Yops benar, karena apa yang kita pikirkan, asumsikan, dan rencanakan tak melulu mewujud serupa sewarna. Selalu saja ada guratan dari taksiran kita yang tak terbukti. Ada saja estimasi kita yang bertekuk lutut di bawah kaki realita.

Rasa apa yang muncul setelah itu? Sedih, iya. Kecewa, pasti. Gondok, banget. Pengen maki2, mungkin. Kekacauan emosi sesaat, ya sesaat. Tidak melulu dan terus. Kenapa? Karena sesungguhnya dari situ kan terbuka pintu pembelajaran baru. Pintu tuk reka rencana, gerbang tuk susun goresan asumsi selanjutnya. Jalan tuk olah "sampah" jadi hikmah. Lagipula apa asyiknya jika yang terjadi selalu sama dengan yang dipikirkan? Tidak ada surprise. Minim kejut. Nir-greget. Ujung2nya yang ada malah malas eksplor, karena toh sudah tahu dan sudah pasti hasil akhirnya....

Pun dengan penelitian yang merupakan salah satu cara yang digunakan manusia tuk menguak dan menyelesaikan misteri hidupnya. Bagaimana manusia belajar tuk menjelaskan, memprediksi, dan mengontrol berbagai fenomena yang ada. Bagaimana manusia belajar bergelut diantara sejumlah barang bukti dan alat bukti. Bagaimana manusia belajar berlapang dada di antara kata terbukti dan tidak terbukti. Bagaimana manusia belajar membahasakan hasil yang berkebalikan dengan sangkaan pikirnya. Bagaimana.... bukan apa...

Namun, justru itulah yang membuat ilmu terus bergerak, selalu ingin diulik, dan penasaran untuk terus digali. Sebab, di ujung hasil selalu sisakan misteri "kenapa begitu?". Satu fenomena tak berdiri sendiri, banyak kait dengan fenomena lainnya.

Di dalam rahasia selalu menyisakan rahasia, itu yang membuat segala peristiwa memiliki romansa dan berwarna... Karenanya, jujur dalam berproses adalah jadi intinya. Baik dalam niatan dan benar dalam tahapan. Karena hasil selalu mengait dengan jutaan tentakel sebab, dan tangan kita tak kan mampu mengontrol semua sebab itu. Bahkan hanya sekedar tuk mengontrol goresan tinta responden di atas kertas instrumen.

Itulah mengapa semakin berilmu seseorang, akan mengantarkan dirinya semakin dekat dengan Tuhannya. Ini dibuktikan dengan tidak sedikit ilmuwan yang kembali ke fitrahnya setelah bergelut dengan penelitiannya.... 😊

UK, 100616_12.35am

lussysf

Sabtu, 21 Mei 2016

50 : 50

Ini bicara tentang probabilitas atau kemungkinan....

Ada yang bilang dunia itu gak adil. Tidak sedikit juga yang ngomong gak punya pilihan hidup, hanya menjalani takdir. Memang begitukah???

Setiap kita memiliki kemampuan yang gak sama. Kuat di satu sisi, tapi kurang di sisi yang lain. Meninggi di satu spot, tapi melemah di spot yang lain. Dengan itu, sebenarnya bukanlah hal yang aneh kala kita seperti diadu dalam bidang yang tak datar. Kadang kita bertarung dengan yang lebih dari kita. Kadang kita beradu dengan yang lebih rendah dari kita. Tidak jarang pula kita berhadap2an dengan yang sama dengan kita. Toh nyatanya, adil bukan berarti sama persiskan???

Saat beradu dengan yang lebih rendah, kita langsung memandangnya sebelah mata. Ketika dengan yang lebih tinggi kita langsung mengkeret ditimpa bayangannya, bahkan jauh sebelum bertanding. Dan kala bertemu dengan yang sama, barulah merasa memiliki kesempatan hasil yang seirama. Apakah mesti seperti itu? Apakah hitungan kita sebagai manusia mutlak hasilnya?

Nyatanya hitungan manusia tidak ada yang deterministik atau pasti. Dengan demikian, selalu ada potensi untuk berkebalikan hasil. Yang secara logika akan menang, ternyata saat pertarungan ada faktor X hingga membuatnya kalah. Di atas kertas lemah, malah jadi kuat karena adanya faktor Y yang seketika tersemat. Jadi, apapun dan siapapun yang ada di hadapan kita, semua serba mungkin keberakhiran berhasilnya, 50:50

Di sanalah kita memiliki pilihan, mau seperti apa dan berada dimana. Jadi rasanya aneh kalau kita melimpahkan kesalahan pada takdir, hanya karena kita malas memilih dengan benar. Atau takut menerima kenyataan atas sebuah konsekuensi pilihan. Padahal, itu semua lebih karena kesalahan cara kita dalam menjemput takdir. Dan juga karena ingin selalu berada di nyaman zone, ngarep zone, atau melas zone...

Lalu gimana dong?

Bila hasil = usaha + doa, maka memaksimalkan usaha dan mengoptimalkan doa adalah dalam rangka memperbesar probabilitas hasil. Semakin tinggi usaha dan doa, diharapkan semakin tinggi pula hasilnya. Lalu gimana bila malah menghasilkan sebaliknya?

Ingat, tidak ada yang deterministik di dunia ini kecuali kematian. Disanalah kekuatan tawakkal harus dilarungkan secara total, karena diantara 99% usaha dan doa kita, masih ada 1% lagi dan itu dapat menjungkirbalikkan semuanya. Itu adalah kekuatan Sang Maha Berkendak, ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala. Itu mengapa jangan cemasi dan urusi hasil, karena sesungguhnya semua sudah selesai di langit. Pena sudah diangkat dan lembaran-lembaranpun telah mengering. Sebab, urusan kita adalah berproses. Memaksimalkan lebar lapangan yang ada dalam rangka memperbesar probabilitas hasil. Pastinya, dengan terus berusaha secara maksimal dan berdoa secara optimal... ☺ #NoteToMySelf

UK, 210516 - malam nisfu Sya'ban: 9.43pm

lussysf

Sabtu, 13 Februari 2016

Belajar dari Murai dan Gagak

Jaman SD saya senang baca buku cerita rakyat atau cerita binatang bermajas personifikasi. Setiap ibu habis gajian, saya sering minta dibelikan minimal 1 buku dengan genre itu (selain minta dibelikan coklat tentunya :D). Ada salah satu cerita yang masih menempel di kepala, yaitu tentang burung murai dan burung gagak. Hikmah cerita ini menurut saya bagus diterapkan saat kita berproses dalam memunguti ilmu. Begini cerita singkatnya....

"Pada suatu hari gagak terbang melintasi sarang burung murai. Setelahnya dia terpana dengan kecantikan sarang murai tersebut. Spontan gagak langsung bilang ke murai: "murai cantik sekali sarangmu, bolehkah kau ajarkan aku untuk membuatnya?" Lalu murai menjawab "dengan senang hati gagak. Datanglah besok ke sini ya". Keesokan harinya gagak menemui murai. Tak lama kemudian, murai memberitahukan cara membuat sarangnya tahap demi tahap. Gagak memperhatikannya dengan seksama. Namun, saat murai baru selesai mempraktekkan setengah dari cara pembuatan sarangnya, gagak langsung bersuara "baik murai cukup sampai sini saja. Aku sudah tau cara membuat sarangmu". Kata murai, "tapi, aku belum tuntas memberitahukan semuanya". "Tak perlu lagi. Pasti caranya sama saja sampai akhir, karena dari tadi kan hanya menyusun ranting demi ranting saja. Baiklah aku pulang. Aku ingin segera membuat sarang cantik seperti milikmu". Lantas murai menjawab, "iya gagak, besok aku akan ke tempatmu untuk melihat sarang yang telah kau buat".

Keesokan harinya murai mendatangi gagak. "Gagak mana sarang baru yang kau buat?". Dengan wajah sedih dan menunduk gagak pun menjawab, "aku hanya bisa membuatnya sampai yang kau ajarkan. Telah ku coba berulang kali tuk selesaikannya, tapi tetap tak tak bisa. Ternyata tak semudah dugaanku. Aku terlalu sombong murai. Maafkan aku..."

Hikmahnya:
Dalam mempelajari sesuatu itu jangan setengah-setengah, harus tuntas. Selain itu, ternyata kesombongan dapat menghalangi kita dapat memperoleh suatu ilmu. Seperti perkataan Imam Mujahid rahimahullah berikut:

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلاَ مُسْتَكْبِـرٌ.

Artinya : “Orang yang malu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu.” [Atsar shahîh: Diriwayatkan oleh al-Bukhâri secara mu’allaq dalam Shahîh-nya kitab al-‘Ilmu bab al-Hayâ' fil ‘Ilmi dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Jâmi’ bayânil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/534-535, no. 879).]

Maksudnya, dijelaskan oleh Habib Zein bin Smith berikut: Seorang yang pemalu tidak dapat mempelajarinya karena ia tercegah oleh rasa malunya untuk mempelajari dan menanyakan apa yang tidak diketahuinya. Sedangkan, orang yang sombong tercegah oleh sikap takaburnya dari mengambil manfaat dan belajar kepada orang yang lebih rendah derajatnya. Tidaklah seseorang menjadi alim sampai ia mengambil ilmu dari orang yang berada diatasnya, dari orang yang sama dengannya, dan dari orang yang berada dibawahnya.

Karenanya perlu adab dalam mencari ilmu, kata Ibnu Al Mubarak “Kita lebih perlu kepada sedikit adab dari pada kepada banyak  ilmu”. Abdurrahman bin al-Qasim berikut ini pun semakin menguatkan hal tersebut, “Aku mengabdi kepada Imam Malik selama 20 tahun, dua tahun diantaranya untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari adab. Seandainya saja aku bisa jadikan seluruh waktu tersebut untuk mempelajari adab (tentu aku lakukan).”

Dan akhirnya, mari belajaaaarrr *gaya bunda Rita Sugiarto* :D

*dicuplik dari berbagai sumber

Rabu, 10 Februari 2016

Jam adalah kita?

Selain tas gemblok dan sendal jepit, jam tangan merupakan salah satu barang kegemaran saya. Bila ditilik ke waktu lampau, ternyata dari jaman putih-merah saya sudah menggunakan barang-barang tersebut. Pokoknya tuh barang gue banget deh :D

Namun saat ini yang ingin saya obrolin adalah yang tersebut terakhir, jam tangan. Sengaja diobrolin karena menurut saya ada filosofis menarik yang menancap di ini barang. Dan saking nancapnya, saya jadi merasa ada yang kurang bila nih barang belum bertengger di tangan bila saat ingin bepergian. Bahkan, terkadang sampai tidur pun ia masih setia memeluk tangan saya :D

Seperti orang kebanyakan, pertama kali saya menggunakannya di pergelangan sebelah kiri. Namun, semenjak awal-awal kuliah saya ubah posisinya jadi di sebelah kanan. Alasannya simpel, agar warna kulit yang terpapar matahari sama dengan  yang tertutup jam. Bahasa simpelnya adalah untuk menghilangkan nyeplak akibat jam tangan. Dulu saya memang senang pakai jam tangan secara junkies gitu alias ngetat dengan tangan :D Yah berhubung dulu model jam tangannya yang perempuan sekali hehehe. Kok sekarang beda? Ya sekarang saya lebih nyaman dan gue banget bila pakai jam di tangan kanan dengan diameter besar. Selain itu, dulu itu masih selera orang lain karena jam masih dikasih, belum mampu beli. Nah sekarang, misalnya pun dibeliin, tapi yang ngasih dah tau selera saya hehhe

Oiya filosofisnya gini menurut saya. Jam identik dengan waktu. Waktu identik dengan sejarah. Sejarah identik dengan perjalanan hidup. Jadi sesungguhnya, jam itu adalah identik dengan perjalanan hidup. Lihatlah posisi saat kita mengenakannya, dekat dengan nadi.

Jam adalah sebutan mudah saat kita ingin menakar waktu. Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk melakukan sesuatu hingga berapa lama lagi kita masih berada di dunia ini. Jam adalah waktu. Waktu adalah saya, kamu, dan kita. Bahkan sebuah kebermaknaan pun diukur dengan waktu. Apa saja yang telah dilakukan dalam satuan kurun waktu. Hasan Al Banna pun pernah berkata, "Kalau saja waktu bisa dibeli, betapa ingin saya membeli waktu milik orang-orang yang menganggur. Agar semuanya menjadi amal yang produktif dalam da’wah. Karena kewajiban kita jauh lebih banyak daripada waktu yang tersedia."

Untuk posisi jam tangan, ini cukup menarik. Menurut yang saya baca, orang yang memakai jam di sebelah kanan biasanya adalah orang kidal  atau left handed person (nyatanya saya nggak tuh :D). Selain itu, kebanyakan orang menggunakan jam di kiri agar lebih memudahkan dalam gerak dan aktivitasnya. Itulah mengapa kebanyakan orang menggunakan jam tangan di sebelah kiri. Ada cerita menarik yang saya ingat (mesti tidak utuh) terkait hal ini. Ada seorang nenek (bukan orang Indonesia, 70 thnan) yang merasa dalam hidupnya tidak memiliki kreatifitas apapun. Akhirnya hingga satu hari dia menemukan titik baliknya dengan melakukan satu hal, ubah posisi jam tangan yang biasa dikenakannya. Ya nenek tersebut, mengubah posisi jam yang dikenakan dari kiri ke kanan. Semenjak itu, dia menapaki hari demi harinya dengan berusaha untuk berkreatifitas.

Intinya saya menggunakan jam tangan karena butuh dan penting, bukan sekedar aksesoris belaka. Sama halnya dengan detik jam yang senafas dengan detak nadi kita. Namun bedanya, saat detik jam berhenti, bukan berarti kita mati. Saat kita berdiam, barulah kita mati. Waktu terus melaju, tanpa pernah mau menunggu. Simplifikasinya adalah pantang mati sebelum ajal. Itulah mengapa waktu adalah hal yang paling tidak setia di bumi ini. Saking pentingnya, ALLAH pun sampai bersumpah atas nama waktu. Demi masa....

Dan menjadi baik itu memang membutuhkan proses yang tidak sebentar, namun keputusan untuk berubah menjadi baik tidak memakan waktu lama. Hanya mau berubah atau tidak, itu saja. Kalau kata Einsten kegilaan adalah "doing the same thing over and over again and expecting different results" :)

Ah, tetiba teringat seorang teman yang pada akhirnya menggunakan jam tangan dan di kanan pula. Itu terjadi, setelah saya mendongengkan hal ini saat beliau bertanya kenapa saya gunakan jam dan di kanan pula. Nah gimana dengan kamu??

UK, 100216

lussysf

Kamis, 31 Desember 2015

Varel bukan hanya milik fitri

Varel.... apa yang terlintas di pikiranmu saat mendengar kata tsb? Cinta fitrikah atau malah teuku wisnunya? Hehe.... tapi, misalpun itu yang terpikirkan, bukan berarti itu yang bakal kita obrolin loh ya 😊

Varel itu kata yg biasa sy pakai untuk menyederhanakan penyebutan validitas dan reliabilitas. Kata2 ini sering tersebut saat kita ngomongin instrumen. Yah, instrumen yg baik minimal mesti punya kedua hal ini. Trs, apa ya jadinya saat kata2 tsb ditautkan dlm kehidupan kita?

Saat bicara reliabilitas, kita pasti memperbincangkan hasil yg cenderung sama dan juga bicara tentang perbandingan. Sama hasil dan memiliki pembanding, iya itu kuncinya. Sama hasil saat dibandingkan antar waktu. Sama hasil saat dibandingkan dgn bentuk lain yg sejenis. Sama hasil saat dibandingkan antara tampakan utuh dgn bagian2 pembentuknya. Stabil, ekuivalen, dan konsisten.... bgitulah reliabilitas.

---------
Manusia adalah makhluk labil. Pagi kita ceria, malam bisa saja menangis. Sekarang rajin, besok malas. Pagi keimanan kita meningkat, sore mungkin saja dah minggat. Itulah makanya diajarkan lbh baik sdkt, tp dilakukan trs menerus drpd mengerjakan hal bsr stlh itu tak mengerjakannya lagi.

Pagi tempe, sore kedelai. Nah istilah ini yg biasa dipakai kala perkataan, sikap, atau perilaku kita sering berubah2 dlm satu hitungan waktu. Kayak gini yg disebut  gak stabil :D

"Lu tu yee.... klo sama atasan aja lu baik banget, tapi coba ama bawahan lu, ampun daaah. Klo berbuat baik tuh jgn milih2. Berbuat baik mah ama siapa aja". Mgkn perkataan td bs jd cara mdh bwt ngegambarin ttg ekuivalensi. Mestinya hal yg sama, akan menghasilkan hal yg tdk jauh beda.

Klo konsisten, ini hal yg sering kita sebut sepertinya. Kita dpt dgn mdh menilai org tsb gak konsisten kala yg diomongin dgn yg dilakukan berbeda.

Intinya, kita sbg org bs dikatakan reliabel kala diberikan hal yg sama, di kondisi yg tdk beda, akan menghasilkan hal yg mirip2 jg. Tp, reliabel blm tentu valid. Bila reliabilitas tinggi, tp bkn pd hal yg bnr. Itu jg sbuah kesalahan.

Bicara validitas adalah bicara kebenaran bkn bicara kesalahan. Krn bicara kesalahan adlh saat kita bicara reliabilitas. Konsisten untuk tidak konsisten, itu contoh hal yg tak valid, gak bener.

Jd intinya sih cuma mau ngomong, smg dipergantian waktu ini yang sudah baik tetap dilanjutkan dan tingkatkan. Yg buruk2 dimusnahkan, plg nggak diminimalisir. Semoga kita semua menjadi manusia yg tdk hanya memiliki reliabilitas yg tinggi, tp jg pny validitas yg baik. Dengan ini, semoga Sang Maha Cinta selalu mencintai kita sampai kapan pun. Gak kayak fitri, yg cuma cinta sama varel sampai sesi 7 doang..... hehehe

Love,

lussysf

*mhn ingatkan saya jika sdh ada kebaikan yg drop dr diri, biar reliabilitasnya jd tinggi gituuhhh :)

Senin, 05 Oktober 2015

Belajar Sederhana dari Sendal Jepit

Jangan lihat dari bentukan dan kesan yang ditampilkannya, tapi telusuri filosofis yang berkembang darinya.
Sungguh, kesederhanaan dan kesimpelan itu mewujud pada sebuah sendal jepit. Bahkan, karena kesederhanaan dan kesimpelannya itulah yang membuatnya terlihat begitu berharga. Mengapa berharga? Coba kita tanya pada diri kita, pernahkah kita merasa begitu takut kehilangan sepatu kita seperti halnya kita takut kehilangan sendal jepit kita? Saking takutnya, kita tak jengah tuk menorehkan nama kita di sana. Dengan sepatu?

Sederhana itu tidak menyakiti, tapi membuat nyaman. Pernahkah kita merasa nyaman beralas kaki seperti halnya saat kita bersendal jepit, bahkan saat kita bercengkrama dengannya dalam waktu yang lama?

Sederhana itu tidak berbatas. Lihat sendal jepit itu, dari tempat yang becek sampai tempat yang bersih, dia hadir. Dari medan basah sampai dengan medan kering, dia ada. Dimana sepatu?

Sederhana itu cara hidup bukan kondisi hidup. Lihatlah sendal jepit, meskipun harganya ada yang terbilang mahal, tapi bentuk dasarnya ya begitu saja. Cukup 1 alas dan dua utas "tali" yang menautkannya.

Percaya diri dan menjadi salah satu solusi. Sendal jepit tak pernah kehilangan auranya bahkan saat berjajar dengan alas kaki lain yang lebih berkelas, karena dia yakin pada akhirnya ia menjadi pelabuhan akhir setelah beraktivitas dengan alas kaki yang lain

Simpel, tidak memakan waktu lama untuk mengoperasikannya. Mungkin hanya membutuhkan satu kedipan mata, sendal jepit sudah bisa diajak tuk arungi peristiwa

Masih banyak yang bisa diulas dari sendal jepit ini. Namun intinya, banyak hal tentang kesederhanaan dan kesimpelan yang bisa kita pelajari dari sendal jepit.

Kesederhanaan dan kesimpelan gak pernah ada matinya. Orang cerdas adalah yang bisa menyederhanakan dan menyimpelkan konsep. Orang hebat adalah yang bisa menyederhanakan gaya hidupnya dan menyimpelkan penampilannya. Begitu sepertinya.... :D

Tribute untuk para pecinta sendal jepit dimanapun kalian berada....

Salam nyendal jepit,

lussysf

Sabtu, 30 Mei 2015

Bukan Tentang Cinta Usang

Kau tatap mataku lekat, dalam, dan agak lama. Perlahan hujan turun dari matamu, walau tak deras. Ku lantas bertanya, "apakah ini tentang cinta usang yang sempat membuatmu mengerang?". Kau jawab "tidak". Ingin ku kembali bertanya, tapi mulutmu masih terbuka, tanda ingin bicara. Ku tahan mau sambil menunggu suaramu mengudara. Sebagai sahabat, ku siapkan hati dan telinga tuk dengar ceritanya. Lantas kau pun berkata, "woy gak nyadar apa, kalo lu nginjek kaki gue dari tadi. Sakit tao...."
#minifiksi #BukanTentangCintaUsang
Pesan moral:
Banyak hal yang dapat menimbulkan multitafsir. Mulai dari sekedar tanda baca sampai dengan mimik wajah. Setiap kita, terkadang memiliki kamus berbeda dalam membahasakan suatu cerita dan fenomena. Karenanya, jangan terlampau reaksioner. Telisik dan dalami dulu sebab yang melatari. Jangan sampai emosimu lebih juara daripada otakmu. Sebab, keputusan yang diambil dalam keadaan emosi lebih tidak akan membuahkan hasil yang optimal

Sabtu, 14 Maret 2015

Ya ALLAH.... aku da mah apa atuh

"Setiap air mata ku mengalir, ALLAH aku lemah dan tak berarti. Setiap derai tangis membasahi, ALLAH jangan tinggalkan aku lagi...." Adalah sepenggal lirik lagu Aku Cinta ALLAH-nya Wali Band.
Benarkah ALLAH meninggalkan kita?  Bukankah sebaliknya? Kitalah yang suka menjauh dariNYA.
Mendekat kalau ada maunya saja. Lagi banyak masalah. Lagi banyak kesulitan. Lagi banyak kenestapaan, dan masih banyak varian lagi lainnya.
Saat dunia bersahabat, kita asyik sendiri mencemili nikmatnya duniawi.  Sampai terlupa status hakiki kita sebagai hamba Illahi. Namun, kala dunia semakin terasa menyempit dan memusuhi. Barulah kembali. Kembali menangis. Kembali meraung2. Kembali menggelepar dan kembali memohon pelukan hangat Illahi....
Sudah terlalu sombongkah kita? Sampai kepada yang menciptakan saja, kita ber"silaturahim" kalau ada maunya saja. Sedangkan, pada makhluk ciptaanNya saja kita betah bercengkrama berlama-lama dengannya. Hamba macam apakah kita ini? Yang menghadap padaNYA hanya situasional saja. Yang tak ubahnya bagai seorang penghutang yang butuh pinjaman. Kerabat jauh yang tak pernah dikunjungi sekalipun akan rela dihampiri demi mendapatkan apa yang diinginkan. Na'udzubillah....
Ya ALLAH, janganlah kau benci ketaatan kami. Janganlah kau benci dengan kedekatan kami, sehingga membuat selalu saja ada aral yang membuat kami jauh dariMU.
Ya ALLAH, jangan KAU hempas diri kami dari pelukanMU. Sungguh, kami bukan apa-apa dan siapa-siapa. Tiadalah berarti kami sama sekali tanpaMU. Tolong dan bantu kami untuk semakin mendekat padaMU, hingga nadi kami terhenti dalam pangkuanMU....
Ya ALLAH kami sungguh rindu dan merindu berlama-lama berduaan denganmu....
UK, 140315
@lussysf

Sabtu, 13 Desember 2014

Merindu Residu

"Aku suka membayangkan kartu pos itu memuat gambarmu, residu dari berapa juta helaan dan hembusan napasku dulu" ~Sapardi Djoko Damono
sumber gambar: gungunst.com

dan inilah kata-kata yang kucoba rajut tuk panjangkan romansanya  ;)

Minggu, 28 September 2014

Apa kata mereka tentang Tes Prestasi?

sumber gambar: alatukurpsikologi.blogspot.com
Tes prestasi adalah tes yang biasa digunakan untuk mengukur seberapa besar derajat pemahaman peserta tes akan materi yang telah disampaikan sebelumnya. Selain itu, hasil dari tes prestasi juga dapat dijadikan bahan evaluasi terhadap proses yang telah terjalani dan juga memotivasi para peserta tes. Namun, diantara sekian banyak keunggulannya, tes prestasi pun hadir dengan segala kontroversinya. Kontroversi ini biasa lahir dari orang yang memiliki paradigma: tes tidak bisa mengukur kemampuan peserta tes secara utuh, tidak adil mengukur segala proses dan kemampuan hanya dari 1 lembar kertas, dan lain sebagainya. Dari pernyataan-pernyataan ini sepertinya tercipta dua kubu "garis keras". Dimana setiap kubu berdiri dengan kekuatan pikiran dan dalilnya masing-masing. Mau tahu bagaimana kekuatan-kekuatan pikiran tersebut bermain? Mau tahu penting atau tidaknya tes prestasi dilihat dari sudut pandang psikologi? Telusuri saja tulisan-tulisan menakjubkan di bawah ini....

Kamis, 05 Juni 2014

HALIMUNMAGZ

Merupakan hasil kerja keroyokan mahasiswa psikologi UNJ kelas A 2014 dalam membahasakan sebuah pendidikan. Begitu kreatif, variatif, dan interaktif :)

halimunmagz - projek kreatif kelas pip A 2014

Mereka Berpeluh, Kita Mengeluh

sumber gambar: voa-islam.com
Keterbatasan banyak melahirkan ksatria dan keterbatasan pun tidak sedikit menghasilkan keterpurukan. Hanya mereka yang tak mau menyerah dan mengalah pada keadaan lah yang kan berhasil keluar sebagai pemenang. Orang berkebanyakan terbit menjadi seorang yang sukses adalah sebuah kelumrahan. Namun, orang berketerbatasan terbit menjadi orang yang berhasil, itu yang mesti disalutkan lebih. 

"orang besar adalah mereka yang melakukan sesuatu di luar ekspektasi kemampuannya"


video link: http://goo.gl/Dk77kI

"Mimpi, Impian, dan Masa Depan

menyuarakan pendidikan bisa melalui medium apa saja. dikatakan tanpa nada ataupun dengan nada. Semuanya senafas untuk menyatakan bahwa pendidikan selalu melekat di setiap lini kehidupan. Pendidikan pun salah satu kunci tuk dapat mewujudkan mimpi untuk mencerahkan masa depan.... 




video link: http://goo.gl/b0DWSW

Rabu, 04 Juni 2014

#Pendidikan

Memperbincangkan pendidikan sama halnya saat kita memperbincangkan cinta. Ya sama-sama tidak pernah ada habisnya. Mengapa demikian? karena banyak hal yang bermain dan tersentuh akan kehadirannya. Tersebab itu pulalah, walaupun satu nama dia bisa muncul dalam seribu macam rupa dan rasa. Itulah #pendidikan ....




video link: http://goo.gl/QkZyAF

"STOP TAWURAN"



bersuara adalah salah satu cara untuk mengkonkritkan apa yang masih bersemayam di kepala. Bersuara pun tidak melulu dengan kata. Bisa pula dengan serangkaian aksi. Silakan menilai mana yang paling mudah ditelan dan memiliki daya dorong yang kuat. Silakan pilih dan nyatakan bahwa kita mampu bersuara....

"STOP TAWURAN"


Sabtu, 26 April 2014

Pendidikan: Dunia Pelangi dan Dunia Kebermanfaatan

Pendidikan adalah dunia pelangi, dunia yang didalamnya hidup berbagai bidang keilmuan. Dimana setiap bidang keilmuan saling bergandengan, saling beririsan, dan bahkan saling “berseteru” guna menampilkan wajah keilmuan yang lebih mempesona kebermanfaatannya. Hal yang tersebut terakhir akan mudah tergelar ke permukaan bila ada ego keilmuan yang terselip di antara interaksinya. Ego yang muncul karena merasa bidang keilmuannya jauh lebih luas, jauh lebih dalam, dan merasa “jauh-jauh” lainnya. Namun apapun ceritanya, pelangi tetaplah pelangi.  Ia tetaplah indah dipandang, walaupun terbentuk dari warna yang tak serupa, meskipun sebelumnya harus terlahir dari sebuah pergulatan yang terkadang sampai memicu badai.
Selain keilmuan yang beraneka warna, sejatinya banyak hal yang menyokong kelangsungan hidup pendidikan, mulai dari tujuan, kompetensi pedagogik, sampai dengan perlu adanya reformasi agar pendidikan tidak berakhir sebagai memorabilia semata.

Tujuan Pendidikan
Seorang ahli hikmah pernah berkata “barang siapa tidak benar permulaan kehendaknya, niscaya tidak akan selamat pada kesudahan akibatnya”. Dari petikan kalimat ini sudah tergambar dengan gamblang, betapa awalan akan berpengaruh pada akhiran atau hasilnya. Begitupula dalam dunia pendidikan, juga menginginkan hasil yang terbaik dalam setiap prosesnya, dan hal tersebut diawali dengan dirancangnya tujuan pendidikan yang kemudian termaktub dalam UU Sisdiknas No. 23 tahun 2003 pasal 1 ayat 1 (yang bersumber dari Pembukaan UUD 1945). Undang-undang tersebut menyebutkan bahwa: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”.
Begitu indahnya tujuan pendidikan tersebut bukan? Bagaimana sejatinya pendidikan di negeri ini dirancang untuk mengembangkan potensi peserta didik agar dapat mengaktualisasikan dirinya di dalam masyarakat, bangsa, dan negara. Sekarang coba kita sama-sama lihat secara de facto, apakah sama indahnya dengan de jure?
Aktualisasi diri adalah istilah yang dikenal dalam bidang pendidikan dan psikologi sebagai suatu keterwujudan perubahan dari potensi ke suatu sikap, sifat, dan perilaku nyata. Dalam rangka usaha mereparasi peserta didik, dua bidang keilmuan inipun saling bersinergi. Psikologi membidik atau melihat perilaku manusia sebagaimana adanya (karena psikologi merupakan ilmu empiris), sedangkan ilmu pendidikan (education) atau pedagogik mempelajari perilaku manusia sebagaimana seyogianya terwujud dan bersifat normatif. Dengan ilmu psikologi, seorang pendidik mengetahui apa yang “salah” dari peserta didiknya dan kemudian juga paham bagaimana membenarkannya dengan ilmu pendidikan yang dikuasainya.
Pendidikan membantu peserta didik dalam mengaktualisasikan dirinya, dalam artian “membantunya” menjadi seseorang yang sedapat mungkin sepenuhnya “human”, yaitu seseorang yang sehat mental dalam berbagai pemikiran dan tindakannya. Biasanya orang semacam itu juga seseorang yang berpotensi kreatif dan orang yang sangat peduli terhadap proses daripada klimaks keberhasilan dan kebanggaan terhadap sukses tersebut. Jadi pendidikan pada dasarnya semakin mengarahkan peserta didiknya kepada hal-hal yang intrinsik (peak experience), bukan kepada pragmatisme yang bertolak dari filsafat “the truth is in the making”, yang artinya kebenaran berkenaan dengan hal-hal yang bermanfaat bagi manusia.
Selain untuk aktualisasi diri, pendidikan juga ingin “mendandani” peserta didik dari segi nilai (intrinsik). Belajar bagaimana yang indah dan jelek, baik dan jahat, belajar apa yang seharusnya menjadi pilihan hidup. Jadi pada dasarnya, pendidikan diposisikan untuk mendandani peserta didik agar dapat bertumbuh, baik dari segi intelektual, emosial, dan terlebih lagi spiritualnya.

Kompetensi Pedagogik
“Man behind the gun” pepatah ini sudah sering dilantunkan (sepertinya) kala sedang membahas tentang keberhasilan sebuah formula. Intinya, sebagus apapun hardware dan software yang ada, bila kapasitas brainwarenya tidak mendukung, maka sangat sulit rasanya untuk menghasilkan bidikan yang sesuai dengan target atau tujuan.
Pendidik sebagai salah satu instrumental input sudah selayaknya memiliki kapasitas yang mumpuni agar dapat mengolah raw input (peserta didik) menjadi keluaran yang unggul. Karenanya undang-undang no. 14 tahun 2005 tentang kompetensi guru dan dosen mengisyaratkan bagaimana seharusnya bentukan dari seorang pendidik. Di sana dikatakan   bahwa seorang pendidik harus mempunyai empat kompetensi, yaitu: kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Sosok yang bisa memahami peserta didiknya, bisa menjadi model bagi peserta didiknya, mampu berinteraksi dan berkomunikasi secara baik, serta menguasai dan mengaplikasikan keilmuan yang dimilikinya. Subhanallah... sebuah sosok yang sangat indah untuk dibayangkan dan sosok tersebut akan menjadi lebih indah perwujudannya jika darinya terbias pula hal sebagai berikut: “Maukah kalian kukabarkan orang-orang terbaik di antara kalian? Mereka adalah yang jika dipandang wajahnya membuat orang mengingat ALLAH” (HR. Imam Bukhori).

Reformasi Pendidikan
Salah satu cara yang membuat kita bisa bertahan hidup di suatu lingkungan yang terus berubah adalah dengan melakukan adaptasi. Hal ini tergerak oleh dua dorongan esensial, yaitu dorongan untuk mempertahankan diri (the drive to survive) pada satu pihak, dan dorongan untuk mengembangkan diri (the drive to grow), yang masing-masing memiliki kecenderungan untuk mempertahankan diri (a self sustaining trend) sebagai suatu eksistensi psikologi sosial dan kecenderungan untuk mengupayakan/mengembangkan diri (a self generating trend) sebagai suatu eksistensi psikologis individual.
Tidak terkecuali dengan dunia pendidikan. Di tengah arus datar yang mengglobal ini, pendidikan secara tidak langsung juga dituntut untuk dapat mereformasi dirinya. Reformasi dalam dunia pendidikan ini terlukis pada paradigma baru dalam UU Sisdiknas yang harus mengacu pada pendidikan multikultural, yaitu adanya kebudayaan beragam dalam satu masyarakat yang tetap merupakan satu kesatuan. Namun, setiap kebutuhan pembelajaran individu berbeda dalam arti realitas sosio historis, sosio ekonomis, suku bangsa, sosio psikologis. Artinya, makin lama akan makin memungkinkan dimunculkannya keberagaman dalam konteks sistem persekolahan. Paradigma multikultural ini harus berkembang seiring dengan hak dan keunikan peserta didik yang belajar bersama dengan yang lain, dalam suasana saling menghormati, toleransi, dan berpengertian terhadap masing-masing kepentingan. Yang akhir dari ini diharapkan nantinya terbentuk basic competences dan advanced competences, atau kompetensi dasar dan kompetensi unggul dalam satu kesatuan standard nasional dengan caranya masing-masing.

Dunia Kebermanfaatan
Dari semua point yang telah digelar sebelumnya, secara implisit ingin mengabarkan bahwa pada dasarnya ilmu itu hadir untuk membuat suatu hal menjadi jauh lebih baik. Dan kebaikan yang sudah terbesut dari sentuhan ilmu itupun mesti dipagari dengan sebuah kebenaran hakiki. Kebenaran ilmu yang dapat mengantarkan individu untuk semakin dekat kepada penciptaNya. Selain itu, dunia pendidikanpun (secara tidak langsung) telah mengajarkan kita untuk tidak bosan saling berbagi dan tidak lelah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Konklusi
Terakhir, dapat dikonklusikan bahwa ilmu pendidikan merupakan wadah yang didiami oleh berbagai macam perspektif, diantaranya adalah perspektif psikologi pendidikan. Dimana seorang individu dilihat dari apa adanya dia dan selanjutnya dibentuk dengan sebagai mana mestinya. Bentukan dari proses yang dilaksanakan itupun tidak terlepas dari tujuan pendidikan yang telah dicanangkan, kompetensi pendidik yang menginstrumentasi peserta didik, dan juga institusi pendidikan yang selalu siap mereformasi dirinya sesuai dengan kebutuhan jaman. Muara dari proses ini adalah terwujudnya individu yang tidak hanya cerdas secara individu, tetapi juga cerdas secara sosial, dan pastinya individu yang juga sadar akan kedudukannya sebagai hambaNya.




[*] Resume (plus modifikasi) dari makalah Conny R. Semiawan “Kajian Ilmu Pendidikan Ditinjau dari Perspektif Psikologi Pendidikan” yang disampaikan dalam kegiatan Program Alih Kepakaran “Conny Semiawan’s Lecture on Education” pada tanggal 16 April 2010 (seri 1)

Senin, 26 Agustus 2013

Terhenti sebelum.....

Kita tak akan pernah tau pasti kan kemana kaki ini melangkah dan terhenti. Yang kita tahu hanya bagaimana berusaha agar kaki ini tak terhenti. Walaupun untuk itu kita harus merelakan diri untuk terseok dan jatuh. Walaupun tubuh ini harus memar, terluka, dan bahkan teramputasi. Semua itu tidak lain (lagi-lagi) agar kaki ini terus melaju sampai temui tempat yang sejatinya dituju.

Diantara itu, tidak jarang (bahkan sering) lelah hati mendahului lelah kaki. Kaki masih kuat melangkah, tapi nyatanya lelah hati sudah mampu lebih dulu menyerimpung kaki hingga mampu mematahkan langkahnya. Dari situ, tak ada pembahasan emosi selain dengan cucuran air yang memancar dari mata. Yang entah hadirnya untuk membahasakan apa. Menahan pedih karena kebodohan diri, tak mampu membawa berat beban hidup, atau memang  hanya itu satu-satunya pembahasaan jiwa yang ditahui. Lemah, kerdil, dan entah apalagi yang cocok untuk melabel itu semua.

Kita tak akan pernah tahu pasti kan kemana kaki ini melangkah dan terhenti. Yang kita tahu hanya bagaimana berusaha agar kaki ini tak terhenti. Dan satu yang mesti tercatat dalam diri agar janganlah sampai kaki yang tergerak adalah hanya sekedar gerak pemenuh mau. Tak ada sejatinya rencana tuk sampai ke sebuah tujuan hakiki. Hanya sekedar mengikuti kemana arah angin kan berhembus. Melulu kita harus tanya pada hati, mau dibawa kemana lelah ini? Mau diganjar kesan apa lelah ini? Mau disandarkan dimana lelah ini? Kita hanya punya satu jawab (semestinya), jika semua langkah timbulkan lelah, maka marilah kita hembuskan harap atas segala usaha agar semua itu dapat menjadi bata-bata pembangun istana di surga. Jika semua langkah menimbulkan "basah", marilah kita berharap agar semua itu tidak hanya berhenti di atas tanah. Biarlah itu semua terus mengepul dan mengalir hingga alam barzah...

Dan (lagi-lagi) kita tak akan pernah tahu pasti kan kemana kaki ini melangkah dan terhenti. Yang kita tahu hanya bagaimana berusaha agar kaki ini tak terhenti. Terhenti sebelum mati.....

Senin, 21 Januari 2013

Hanya Perlu Diam...

gambar diambil dari fimadani.com
Kadang kala kita memang perlu diam guna membaca dan meresapi segala pusaran peristiwa yang telah terlalui. Memang perlu diam, karena bicara yang berlebih malah bisa merusak tatanan hati. Hati yang tak tertata sama saja menyiapkan rintang bagi proses diri dalam pencarian celah dan masa untuk bertumbuh. Dan tak perlu kau takut untuk diam kala yang lain berkoar entah apa. Diam tak melulu tak bergerak. Bila diam mu bukan dalam rangka memenuhi otakmu dengan kabut pilu. Bila diam mu bukan sekedar untuk membuat orang bertanya kenapa kamu tidak bersuara. Bila diam mu bukan karena kau tidak punya suara.  Bila diam mu bukan untuk menegaskan bahwa kamu sedang menarik diri dari peredaran kata. Namun sesungguhnya dalam diam mu kau sedang meracik kata. Kata yang dapat membalikkan kondisi dengan begitu manisnya. Dimana saat kau berkata, mereka balik diam dengan nuansa wajah yang hampir sama. Salute.... :)